The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 10 part 2


__ADS_3

Menapakkan kaki di lorong gelap tanpa dapat melihat apa-apa, Rias dan Lize menggiringku untuk berjalan mengikuti mereka. Dengan membawa Mischie di atas pundak ini, tetap kulangkahkan kakiku meskipun tak tahu apa yang ada di depan sana. Detik demi detik pun berlalu, hidung ini mendadak mencium aroma yang sudah tidak asing lagi.


Menyangga Mischie dengan tangan kanan, lalu menutup hidung dengan tangan kiri, aku masih terus berjalan di dalam gelapnya lorong. Suara tapakan kaki menggema, tidak ada suara lain yang dapat didengar oleh telinga ini.


Napasku sedikit tersengal, karena berjalan sambil membawa beban berat di atas punggung. Namun, aku tidak menggubris hal itu, sebab orang yang sedang kuangkat saat ini adalah Mischie, yang sudah kuanggap sebagai sahabatku. Pertemuan kami memang tidak biasa dan jangka waktunya juga masih belum lama. Walaupun begitu, banyak hal yang telah kami lalui bersama membuat kami menjadi sangat akrab.


Keluar dari ruang pikiranku, tiba-tiba langkah ini terhenti ketika orang yang ada di depanku berhenti. Aku tidak tahu pasti siapa yang kutabrak, tapi yang jelas, dia adalah salah satu gadis yang sedang berjalan bersama denganku.


“Kenapa berhenti?” tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku. Ketika sesaat melirik ke depan, mata ini dapat melihat sebuah tempat yang terang. “Jangan bilang kalau kita hanya berputar?”


“Ini bohong ‘kan?” Dari belakangnya, aku dapat melihat sosok Lize yang berjalan dengan kaku.


Aku tahu dia sangat terkejut akan hal ini, tapi yang jelas, semuanya sudah terjadi. Apa yang kami alami ini memang mengejutkan dan juga sangat aneh, sampai-sampai aku tidak dapat memikirkan alasan yang jelas kenapa ini bisa terjadi. Namun aku sadar, logika tidak terlalu berfungsi di dalam hutan ini.


Tak kalah terkejut, Rias berdiri mematung memandangi gubuk tua yang berada di tengah-tengah tempat yang diterangi oleh cahaya dari obor itu. Dari sebelah kanannya, aku dapat melihat kalau dia benar-benar tidak meyangka kalau keadaannya akan seperti ini.


Mengesampingkan bagaimana keadaan mereka, aku juga sangat terkejut karena situasi ini. Sebab, dengan kemampuan Rias dan Lize yang bisa melihat dalam kegelapan, mana mungkin mereka bisa salah arah dalam gelapnya lorong.


Ah, sudahlah, tidak ada gunanya aku memikirkan hal itu.


Menepis pemikiranku tadi, aku kini berjalan mendekati Lize yang berdiri mematung memandangi gubuk tua nan jauh di sana. Aku tidak begitu memperhatikan raut wajahnya, bahkan tatapan mataku hanya lurus ke depan menatap ke arah gubuk.

__ADS_1


“Memikirkan kesalahanmu beberapa waktu yang lalu hanya akan menyita waktumu beberapa saat kemudian, yang seharusnya bisa kau manfaatkan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna.”


Tiba-tiba Lize memalingkan pandangannya ke arahku, sorot matanya begitu dingin sampai membuatku sempat menggigil karenanya. Dia mendengus kesal lalu menjawab perkataanku. “Kau pikir aku adalah orang yang selemah itu?” Lize semakin mendekatkan wajahnya ke depanku. “Aku hanya sedang memikirkan jawaban kenapa kita bisa seperti ini, hum.” Dia memalingkan wajahnya ke arah lain karena kesal.


Melihat kelakuan Lize itu membuatku sedikit tersenyum, karena aku sangat tidak menyangka dapat melihatnya seperti itu lagi. Ini mengingatkanku pada hari di mana aku pertama kali bertemu dengannya. Entah kenapa, aku jadi merindukan masa itu.


“Haha ... baiklah, baiklah, haha ....”


“Hm ....” Lize memelototiku lalu kembali memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Ekhm ....” Rias berdeham saat melihat kami berdua sedang asik sendiri seolah melupakan kehadirannya.


Aku langsung berpaling ke arah Rias. “Mm, ada apa, Rias?”


Rias berjalan dengan santai menuju ke arah gubuk, aku tidak mengerti kenapa dia ke sana. Tak peduli akan alasan, aku pun ikut berjalan mengekor di belakang gadis berambut pirang itu. Kemudian, Lize juga berjalan di sebelah kananku.


Beberapa saat pun berlalu, kami bertiga akhirnya sampai di depan gubuk reyot dan rapuh itu. Di teras gubuk itu, tampak seorang kakek tua yang tengah tidur lelap sambil bersandar di dinding kayu. Air liur mulai keluar dari mulutnya dan mengalir sampai ke jenggut putih kakek tua tersebut.


Seolah tidak tahu akan keadaan sang kakek, Rias dengan lantang berteriak pada kakek itu. “Hei! Tua bangka! Bangun!” seru gadis berambut pirang itu.


“Eh? Hah? Apa?” Kakek tua tadi terbangun dan melirik ke kiri dan ke kanan dengan bingung mendengar teriakan Rias.

__ADS_1


Gadis ini benar-benar tidak berperasaan. Untung saja kakek itu tidak langsung jantungan akibat ulahnya. Kalau dia sampai mati, kami pasti akan terus dihantui oleh rohnya yang gentayangan.


Lelah menggendong beban di punggungku, aku pun menurunkan Mischie lalu membaringkannya ke tanah. Keringat mulai bercucuran dan membasahi sekujur tubuh ini, walau demikian, aku tidak mau mengeluh karena rasa lelah yang kuterima.


Duduk bersila sambil menatap lurus ke depan, mata ini dapat melihat sosok seorang kakek tua yang tengah mengusap air liurnya. Dia tampak bahagia karena kami kembali bertemu dengannya.


“Oh, ternyata kalian.” Kakek tua itu dengan cepat berlari ke arah Rias yang ada di depanku. “Apakah aku akhirnya dipertemukan dengan pasanganku?” Ia menutup matanya memonyongkan bibirnya ke depan dengan tangan yang siap merangkul sembari berlari.


Dengan gerakan yang begitu cepat, Rias menunduk dan menghindar ke samping kiri. Melihat kakek itu semakin mendekat ke arahku, tanpa menunggu lama, aku lantas berdiri dan menahan wajah kakek itu dengan tangan kananku.


Hiks ... air liur si tua ini membasahi telapak tanganku, dasar sialan.


Tak mau tahu apa yang akan terjadi berikutnya, aku langsung mendorong kakek itu dengan sekuat tenaga hingga membuat ia jatuh terduduk. Melirik sekilas telapak tanganku, aku lantas menunduk dan mengosok-gosokkan telapak tangan itu ke tanah.


Si tua ini sungguh menyebalkan.


Dalam waktu singkat aku langsung membenci tua bangka yang mesum itu. Aku begitu ingin mencoba pistol yang baru saja kudapatkan beberapa saat lalu kepadanya. Siapa tahu, setelah terkena serangan dari pistol tersebut, otaknya menjadi waras.


Kakek tua tadi menggosok pantatnya yang sakit karena terjatuh. Bukannya kasihan, melihatnya itu membuatku tambah getir. Namun, aku berhasil menahan emosiku agar tidak meluap, mengingat dia adalah seorang kakek tua yang sangat kesepian.


“Kau kasar sekali kepada Zanik,” ucap kakek tua itu sembari berdiri.

__ADS_1


Sebenarnya aku sangat ingin menghajarnya sampai hatiku puas. Tingkah lakunya yang seperti anak-anak ini membuat hatiku kesal, sangat kesal.


Tiba-tiba saja Rias datang mendekat ke sampingku lalu menatap kakek tua bernama Zanik itu. “Hei, kakek tua. Bisakah kau memberitahukan sesuatu hal kepadaku?” tanya Rias dengan serius kepada sang kakek.


__ADS_2