The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 7 part 4


__ADS_3

Melangkahkan kaki untuk segera keluar dari dalam terowongan, Lize merasa sedikit kasihan kepada Mischie dan Leon yang ditinggalkannya. Namun, ia berusaha agar perasaan itu cepat menghilang.


Semakin jauh berjalan, Lize akhirnya sampai di jalan keluar terowongan. Lize pun lantas melanjutkan langkah keluar dari ruang gelap tersebut. Sebelum sempat melangkahkan kaki lebih jauh, tiba-tiba hatinya merasa tidak sanggup meninggalkan kedua orang yang hendak ia kubur hidup-hidup di dalam terowongan tadi.


“Argh, kenapa juga aku harus kasihan pada mereka berdua? Lagipula, Creeps lebih penting daripada mereka,” gumam Lize sembari menguatkan tekad untuk melangkah pergi. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, kakinya tidak mau bergerak lebih jauh. “Sial, ada apa denganku?”


Berulang kali Lize mencoba melangkah pergi, akan tetapi, semuanya sia-sia. Hati kecilnya sungguh tidak sanggup beranjak lebih jauh meninggalkan Leon dan Mischie. Kemudian, dengan pasrah, Lize berbalik. “Argh, sial! Aku tidak sanggup lagi. Tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan menyelamatkan mereka saja.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, Lize bergegas masuk ke dalam terowongan.


Getaran tanah bertambah kuat, langit-langit terowongan kini runtuh dengan cepat. Tanpa menggubris lingkungan yang dihadapinya, Lize terus berlari masuk menuju tempat Leon dan Mischie pingsan. Namun, setibanya di tempat tujuan, Lize tidak dapat melihat siapa-siapa, hanya tersisa bekas orang berbaring.


“Ke mana mereka pergi?” ucap Lize sambil menerawang sekitar. Meskipun demikian, pandangannya yang berwarna hijau dan dapat melihat menembus ke dalam kegelapan itu, tak bisa melihat tanda-tanda adanya orang di sekitar.


Tidak puas dengan hasil ini, Lize pun memejamkan mata dan mulai mempertajam indra pendengarannya. Bunyi getaran dan bebatuan yang jatuh, kini memenuhi gendang telinganya. Akan tetapi, ia masih tetap menajamkan pendengaran seraya mencari suara langkah kaki. Terdiam selama beberapa waktu, Lize akhirnya menemukan apa yang ia cari.


“Itu dia mereka,” kata Lize sembari bergerak ke depan menuju sumber suara langkah kaki yang didengarnya.


Tiba-tiba saja, sebuah bongkahan batu berukuran cukup besar, jatuh tepat di depan Lize. Namun beruntung, Lize menyadari hal itu dan segera melompat ke belakang. Akan tetapi, sekali lagi bongkahan batu dari langit-langit terowongan kembali jatuh hingga membuat Lize menghindar dengan susah payah.

__ADS_1


“Argh .... menyebalkan!” Lize yang kesal masih terus berlari sambil menghindari reruntuhan.


Beberapa saat setelahnya, Lize berhasil menemukan apa yang ia cari. Dengan napas yang terengah-engah, ia menyapa seorang pemuda yang tengah menggendong pemuda lainnya di atas punggung.


“Hei! Berhenti!” Lize lantas menghalau jalan si pemuda dengan merentangkan kedua tangan tepat di depan pemuda tersebut.


Pemuda yang dihalau oleh Lize itu, tidak lain ialah Mischie yang sedang membawa Leon. Mendengar ucapan Lize tadi, membuat Mischie terkejut dan mundur beberapa langkah sembari menurunkan Leon. Kendatipun dirinya tidak dapat melihat dalam kegelapan, Mischie menatap lurus ke depan lalu berkata pada orang yang menghalangi jalannya. “Mau apa lagi kau di sini, Lize? Jangan bilang kau masih tidak puas menyiksa kami?”


“Ehehe.” Lize sedikit tertawa karena merasa canggung. “Maafkan aku tentang tadi, aku tidak berharap kalian terluka, hanya saja ....”


“Hanya saja apa?” sanggah Mischie dengan nada kasar.


Meskipun Lize mengutarakan isi hatinya dengan tulus, Mischie masih tetap menolak untuk memaafkannya. Malahan, Mischie menendangkan kakinya ke depan dengan asal, tetapi tendangan itu mendarat tepat di kepala Lize sampai membuat Lize terhuyung jatuh ke tanah.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Lize terbatuk beberapa kali sembari menahan rasa sakit yang menyebar di kepalanya.


Walau demikian, Mischie yang masih merasa belum puas, kembali menendang-nendangkan kakinya ke depan, dan semua tendangan itu pun menghantam tubuh Lize beberapa kali.

__ADS_1


“Apa kau tahu keadaan kami berada di ujung tanduk karena ulahmu. Aku sangat tidak menyangka jika dirimu akan sangat tega melakukan hal kejam itu terhadap kami.” Mischie terus melontarkan kalimat-kalimat serupa sembari menendang Lize yang sudah terbaring lemah.


Beralih ke tempat lain, Leon kini sudah siuman dan hendak membuka mata perlahan-lahan. Ia masih tidak dapat melihat dalam kegelapan pekat ini. Bagaimanapun juga, ia masihlah seorang pemuda biasa tanpa kemampuan khusus seperti Lize. Leon lantas berdiri perlahan sembari memegangi kepalanya yang sedikit sakit. “Argh ... di mana aku?” gumamnya sambil melirik sekitar.


Mischie yang tadinya sibuk menghajar Lize langsung berbalik mendengar perkataan Leon. Meski begitu, Mischie tidak dapat melihat dengan jelas di dalam gelapnya terowongan ini. “Leon? Apakah itu kau?” tanya Mischie, ragu.


“Hah ...?” Kata-kata yang terucap dari mulut Leon tiba-tiba terpotong oleh suara gemuruh tanah yang bergetar. Kendati demikian, Mischie yang masih dapat mendengar sedikit suara Leon, lantas bergerak maju menuju sumber suara tersebut.


“Leon!” kata Mischie sambil memeluk erat tubuh Leon.


Mischie melakukan hal itu karena merasa sangat lega saat mengetahui kalau sahabat pertamanya, yaitu Leon, telah sadar kembali. “A-ada apa ini, Mischie?” tanya Leon, bingung dengan situasi yang tengah ia hadapi sekarang.


Sementara itu, Lize yang sudah babak belur dihajar oleh Mischie, kini bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit dari luka-lukanya. Lalu dengan suara serak, Lize pun berkata, “Kalian berdua, sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum terowongan ini runtuh!”


Mendengar perkataan itu, Mischie lantas melepaskan pelukannya dan berbalik. Ia masih tidak senang karena Lize ternyata belum pingsan setelah dihajar olehnya selama beberapa saat, tetapi ia langsung mengabaikan hal tersebut karena keselamatan lebih penting. Dengan sigap menarik tangan Leon, Mischie pun berlari kencang ke depan.


“Hei, tunggu! Di sana berbahaya!” seru Lize, hendak memperingatkan Mischie. Namun, peringatan yang dilontarkan oleh Lize tidak sedikit pun digubris oleh Mischie. Bawasannya, Mischie masih jengkel melihat kelakuan Lize.

__ADS_1


Lize terdiam sejenak, membiarkan Mischie dan Leon berlalu. Sejujurnya ia masih sangat kesal karena peringatannya barusan tidak diindahkan oleh Mischie. Akan tetapi, Lize yang masih kesal itu, dengan segera menyusul Mischie sambil mengeluh, “Dasar tidak berguna.”


Mengabaikan semua rasa sakit yang dideritanya, Lize mengejar Mischie menggunakan kecepatan penuhnya. Ia bertanya-tanya apa yang nanti akan terjadi.


__ADS_2