
Seperti meruntuhkan istana kesunyian, Rias tiba-tiba mengajakku mengobrol. “Hei!” katanya. “Tidakkah kamu pikir kalau kita sebenarnya dikirim ke sini untuk menyelesaikan sesuatu? Seperti mencari jati diri, mungkin?”
Kulirik gadis yang sedang berbicara sambil duduk memeluk kedua kakinya yang berdiri dan menundukkan kepala. Dia tampaknya ragu untuk mengemukakan pendapatnya itu, tetapi semuanya sudah terlanjur diucapkan oleh mulutnya.
Aku tersenyum tipis lalu berkata, “Mungkin apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Namun, tetap saja, mana mungkin kita bisa menemukan jati diri yang baik jika lingkungan ini masih menganut hukum rimba.”
“Ehehe, memang benar sih, tetapi tetap saja, saat kupikirkan kalimatmu itu lebih dalam, hukum rimba juga dapat membuat kita mengerti pentingnya sebuah nyawa untuk dipertahankan.”
Dia memang benar, keadaan kami yang seperti sekarang ini bisa dikatakan, cocok untuk menemukan jati diri. Namun, bukan berarti semua orang dapat mengerti hal paling sederhana itu.
Hujan mulai reda, aku berdiri sambil meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Suhu udara dingin masih terasa, di saat seperti ini, aku memang ingin memakai pakaian agar tubuhku lebih hangat. Akan tetapi, hal itu tidak bisa kulakukan karena pakaianku basah. Dan tentu saja, jika dikenakan, tubuhku hanya akan bertambah dingin.
Mendadak, tangan kananku ditarik oleh seseorang hingga membuat aku mau tidak mau, berjalan di belakangnya. “Hei! Ke mana kamu akan membawaku?”
“Sudah ikuti saja aku! Nanti juga kamu akan tahu,” jawab gadis yang menarikku itu.
Berjalan menyusuri sebuah lorong gelap dan sunyi, mata ini lagi-lagi tidak dapat melihat apa pun selain kegelapan. Tidak mengacuhkan aku yang sedang kesusahan melihat, gadis tersebut masih terus menarik tangan ini hingga sampailah kami di sebuah tempat yang memiliki penerangan berupa api kecil di tengah-tengahnya.
“Tempat apa ini?” Jelas aku heran memandangi tempatku berada sekarang. Sejenak aku termenung, lalu tiba-tiba teringat akan sesuatu hal. “Jangan bilang kalau tempat ini ...” Kupalingkan wajah untuk melirik Rias, gadis anggun yang membawaku ke sini.
Tanpa perlu menanyakan maksudku, Rias langsung saja menjawab, “Ya, di sinilah aku terbangun beberapa waktu lalu.” Menerawang ke sekitar selama beberapa saat, Rias pun menghela napas. “Aku benar-benar tidak tahu kenapa bisa berada di sini tanpa mengingat apa pun. Dan setelah kamu mengatakan kalau di hutan ini masih berlaku hukum rimba, aku menjadi semakin takut.”
Astaga, aku lupa kalau dia baru pertama kali berada di sini. Namun, karena sudah terlanjur, sebaiknya kuberitahu saja dia tentang tempat menyebalkan ini supaya dapat bertahan hidup. “Hm ... baiklah, aku akan memberitahumu bagaimana cara hidup di sini.”
__ADS_1
Setelah berkata demikian, aku mulai menjelaskan tentang semua yang terjadi di hutan ini. Aku juga memberitahunya kalau semua orang mempunyai suatu kelompok yang dibentuk karena memiliki tato serupa di lengan kiri mereka.
Selama aku menerangkan, Rias hanya menatapku sambil menyimak semua informasi dalam ceritaku. Lalu, seusai aku berbicara, Rias pun bertanya, “Jadi, bagaimana jika semua orang bekerja sama dan tidak saling membunuh di sini? Bukankah itu adalah sebuah tindakan bijaksana untuk dilakukan?”
Kugelengkan kepala beberapa kali, karena sebenarnya dari dulu aku juga memikirkan hal yang dipikirkan oleh Rias. Namun, sekarang aku sudah tidak mau memikirkan hal itu, sebab memang ada orang yang jahat bukan karena suatu kebencian, melainkan kesenangan. Dan mungkin salah satunya adalah Andrew, tetapi yang sudah kupastikan adalah Roman dan komplotannya.
Jika mengungkit tentang Roman, sudah jelas dia melakukan tindak kejahatan tak mampu menahan nafsu. Akan tetapi, aku masih belum tahu pasti tentang Andrew, maka dari itu aku belum yakin seratus persen kalau dia adalah orang jahat. Pada kenyataannya, aku hanya melihat Andrew memerintah anak buahnya dengan semena-mena, dan tidak mengerti sifat aslinya seperti apa.
“Kenapa kamu diam?” tanya Rias dengan wajah heran.
“Mm ... dari mana aku harus mulai menjelaskannya, ya?” Aku berpikir sejenak, kemudian melanjutkan, “Sebenarnya aku pun tidak mengerti kenapa mereka mau memberlakukan hukum rimba di hutan ini, tapi hukum itu sudah berlaku sejak aku berada di sini.”
“Tidak mungkin sebuah aturan akan dipakai tanpa suatu sebab akibat. Pasti ada sebuah misteri yang membuatnya berlaku, ya, aku yakin pasti begitu.”
Guncangan itu tiba-tiba saja berhenti. Meskipun begitu, Rias masih menarikku berlari menyusuri lorong gelap sampai akhirnya tiba di pintu keluar gua. Sesaat sebelum diriku merasa lega, suhu udara yang tadinya dingin, kini berubah menjadi sangat panas. Aroma air segar, juga berganti dengan bau tajam yang membuat hidung merasa tak nyaman.
“Cepat lari!” seru Rias sambil menarikku dengan panik.
Ketika menghadap ke belakang, mata ini dapat melihat kobaran api menggelombang melahap semua pepohonan. Melihat hal tersebut, langsung saja aku mempercepat langkah hingga Rias yang tadi menarik tangan ini pun terlewati.
“Awas!”
“Hua!” Aku berteriak ketika kaki ini tergelincir dan menggelinding di sebuah turunan. Sekujur tubuhku kini merasakan rasa sakit yang amat dahsyat.
__ADS_1
“Adu-du-du-duh ....” Aku merintih ketika membuka mata. “Gawat! Harus cepat pergi!”
Sebuah tamparan langsung melesat ke pipi sebelah kiriku setelah mengatakan hal itu. orang yang menamparku itu tidak lain adalah Rias.
“Ada apa?” bentakku, sedikit kesal melihat tingkahnya.
“Kamu yang kenapa!” Rias balas membentak. “Lihat itu!” Ia lalu menunjuk ke belakang. Kuikuti arah pentunjuknya itu dan melihat asap tebal tanpa ada sedikit pun api di sana.
“Ke mana perginya api besar tadi?” tanyaku yang sedang keheranan.
“Tentu saja api itu tidak akan dapat menjangkau tempat ini, karena lahan dan pepohonan yang basah. Jadi, tenangkan pikiranmu itu!” jawab Rias, kesal.
Memang benar kalau tempat ini basah, dan jika dipikir dengan logika, api tidak akan bisa menjangkau kami. Namun, yang menjadi masalahnya adalah, hutan ini sangat aneh, hal-hal yang terjadi di sini tidaklah logis, maka dari itu, logika terkadang meleset di sini.
“Yang benar saja,” ucap Rias sambil membelalakkan mata.
“Sudah kuduga ...! Ayo lari!” kataku sambil kembali berdiri dan menarik Rias berlari sekuat tenaga.
Bau menyengat dan asap kini bercampur menjadi satu dan memenuhi indra penciumanku. Kepala ini menjadi semakin pusing saat berlari menjauh dari kobaran si jago merah yang tengah mengamuk. Walaupun rasa lelah menghantui, aku masih tetap melangkah maju agar dapat bertahan hidup. Namun, tiba-tiba saja, kakiku tersandung hingga membuatku jatuh terjerembab di tanah bersama Rias.
Melirik ke belakang, mata ini dapat melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. “Argh ... bagaimana ini?” Tarikan napasku sudah tak karuan.
Api itu kini semakin mendekat, bahkan tidak sampai 20 meter lagi dari kami.
__ADS_1