The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 6 part 2


__ADS_3

“Apa ini wilayah utara yang selama ini kita tuju?”


Akhirnya, kami sampai di tempat yang selama ini menjadi tujuan, tetapi tempat di mana kami berada sekarang adalah kota mati dengan banyak reruntuhan bangunan. Apakah dulu di sini terjadi gempa bumi sehingga mengakibatkan runtuhnya sebuah kota? Ya, hanya itu kemungkinannya.


“Benar-benar jauh dari bayangan kita, tetapi ini adalah kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterima.”


Perlahan, Darwis berjalan menuju salah satu gedung tua yang tampaknya sangat rapuh. Dia membuka pintu masuk gedung itu dengan perlahan. Lalu, aku mengalihkan pandangan, mengamati sekitar sekiranya ada bahaya yang mengintai.


Sama denganku, Flicker juga semakin waspada, mengingat ini adalah sebuah kota mati, kita tak tahu di mana musuh mengincar. Sesaat kemudian, Darwis melambaikan tangannya ke arah kami, lalu aku dan Flicker pun bergegas menuju ke arahnya. Namun, suara tembakan tiba-tiba menggema. Aku dengan cepat berlari ke arah sebuah dinding yang masih berdiri tegak, di antara reruntuhan kota.


Tampaknya serangan itu tidak diperuntukkan kepada kami. Sekarang, aku masih dapat menghirup napas lega. Lagi-lagi Darwis melambaikan tangannya, menyuruh aku dan Flicker segera mengikuti dirinya masuk ke dalam gedung. Tak mau membantah, kami berdua bertukar pandang selama beberapa saat, kemudian berjalan mendekat ke arah Darwis.


Apakah sebuah gedung tua layak untuk dijadikan sebagai tempat persembunyian? Aku ragu akan hal itu. Akan tetapi, pilihan tersebut masih lebih baik daripada hanya diam di tanah lapang sisa reruntuhan kota. Ya, setidaknya begitu menurutku.


“Hm, kau yakin kalau kita akan aman di sana?” tanyaku kepada Darwis yang sudah berjalan masuk ke dalam gedung.


Dia berhenti sambil melirik ke sana kemari. “Ini jauh lebih baik dibandingkan berdiri tanpa alasan di luar sana, kan?”


Seharusnya aku sudah dapat menebak kalau ia pasti mengatakan kalimat tersebut. Namun, sudahlah, lebih baik aku ikuti saja perintahnya sebagai pemimpin kami. Selain itu, di sini sangat sepi, padahal beberapa saat lalu terdengar suara tembakan. Mungkinkan itu sebuah pertanda?

__ADS_1


“Daripada terus memikirkan beban berat itu.” Di bagian pojok ruangan, yang terdapat tangga untuk mencapai ke atas, terlihat Darwis tengah mengamati apa yang ada di lantai berikutnya. “Lebih baik kau isthirahat dengan tenang. Agar ketika bangun nanti, badanmu sehat seperti sedia kala.”


Mungkin dia ingin aku mengisthirahatkan tubuh dan pikiran, supaya esok hari, jikalau terjadi peperangan, aku dapat menghadapinya dengan tenang. Sebuah saran yang cukup bagus. Ah, baiklah, akan kuturuti saran itu agar dapat menyelesaikan balas dendamku.


Di bagian lain ruangan, Flicker berjalan-jalan seperti sedang mencari sesuatu. Selama ini, ia adalah orang yang paling sedikit berbicara. Mungkin karena dia terlalu malas untuk berdiskusi dengan kami, ataupun tak ingin menghabiskan waktu dan tenaganya yang berharga. Ya, itu hanya perasaanku saja.


“Apa yang kau cari?” Aku langsung bergegas mendekati pemuda itu.


“Sepertinya di sini pernah terjadi suatu insiden.”


Tiba-tiba, sebuah ledakan menghancurkan lantai. Aku dengan cepat berlari ke luar agar dapat selamat. Kemudian, beberapa ledakan terjadi lagi, diiringi suara tembakan yang berasal dari sisi lain gedung.


“Brengsek!”


Tanganku meraih pistol yang ada di balik pakaian, beberapa tembakan aku lancarkan dengan asal ke atas agar teman-temanku tidak terkena serangan. Dinding gedung hancur, aku pun bergegas mencari tempat bersembunyi di antara tembok yang hancur. Suara tembakan tak kunjung berhenti, sejauh mata memandang, hanya debu berterbangan yang dapat terlihat.


“Di mana mereka? Kuharap Flicker dan Darwis baik-baik saja.”


Mendadak, sebuah ledakan super besar langsung menggetarkan tanah. Aku tak kuasa menjaga keseimbangan tubuh hingga akhirnya jatuh terbaring ke tanah. Satu per satu ledakan kembali menggema, tetapi aku tidak tahu dari mana sumber ledakan tersebut. Terlebih, situasi ini sangat tidak menguntungkan, karena sepertnya kami tengah terjebak dalam pertempuran Klan lain.

__ADS_1


Aku bangkit berdiri sambil terus waspada, mata masih melirik ke sekitar di mana asap dan debu menggumpal menjadi satu. Namun, sebuah raungan yang begitu keras, menggantikan suara ledakan. Gendang telingaku juga serasa ingin pecah karena suara-suara tadi, tetapi beruntung kedua tangan kugunakan untuk menutupnya.


“Mustahil ... kenapa bisa seperti ini?” Kedua kakiku melemas, hingga akhirnya aku jatuh berlutut di tanah. Dada kian sesak bersamaan dengan keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuh.


Hanya dengan tekanan yang sangat kuat, tubuhku langsung lelah dan lemas. Apa ini yang namanya perang? Kendatipun hanya berdiri dan mengamati sekitar, sebuah tekanan yang luar biasa langsung menekan mental hingga membuat badanku menjadi seperti ini karena memaksakan kinerja otak.


Langit yang biru tertutup oleh awan hitam, kilatan petir terbentuk di dalam awan itu, mengakibatkan suara seperti ledakan. Saat mataku masih menatap ke atas, petir yang begitu kuat langsung menyambar suatu tempat. Mungkinkah ini terjadi karena ada seseorang yang mampu memanipulasi energi jiwa seperti yang dikatakan Darwis.


Tak lama, sebuah bola api menerjang tubuhku dari belakang, hawa panas langsung menyebar, dinding tempat aku berlindung tadi langsung hancur tertabrak olehku. Aku berguling-guling di tanah, hingga akhirnya berhenti karena menabrak sebuah tembok dari gedung yang tadinya ingin kami tempati.


Napasku begitu sesak, pakaianku sudah habis terbakar bersama dengan hancurnya senapan yang kuselempangkan di punggung. Tulang belakangku begitu sakit seperti akan remuk, tetapi untunglah dapat bertahan karena perubahan wujud hitamku secara mendadak.


Belum sempat aku mengambil napas, tanah mendadak berguncang dan terbelah menjadi dua. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari bencana itu, tetapi gagal sebab tanah menjadi miring dan gedung runtuh.


“Tidak! Aku tak ingin mati!” Sekuat apa pun aku berteriak, tak ada seorang pun yang mau menggubris.


Pistol yang masih ada di gengaman tangan, langsung kulemparkan ke sembarang tempat. Sambaran petir terus muncul dari segala arah, dan gedung serta sisa reruntuhan lainnya langsung jatuh bersamaku ke dalam jurang.


Masuk dalam kondisi putus asa, tubuhku pun berubah wujud menjadi sosok hitam. Tangan kananku terangkat, mencoba menggapai tanah yang mulai runtuh. Namun naas, gravitasi bumi membawaku terus masuk ke dalam jurang yang aku tak tahu seberapa dalam.

__ADS_1


__ADS_2