
Sun dan teman-temannya kecuali Leon segera menjauh, mereka tidak berpaling ke belakang untuk melihat apakah ada Leon di antara mereka. Terus berlari tanpa mau berbalik, mereka sekarang sudah berada cukup jauh dengan Leon.
Akhirnya, Sun yang berada di paling depan segera menoleh ke belakang, dari sini dia sadar bahwasanya Leon tidak mengikuti. Dia langsung berhenti, teman-temannya seketika bingung melihatnya.
"Ada apa, Sun?" tanya Theo segera setelah berhenti.
"Leon, di mana orang itu berada?" Sun melirik sekitar, sedikit maju ke depan menerobos temannya.
"Sepertinya dia berniat menghabisi para Chimera itu seorang diri, tetapi lihatlah hasilnya. Dia terlalu sombong!" Tampak jelas kekesalan di raut wajah Gild.
"Sebenarnya siapa orang itu? Kenapa dia begitu sombong pada kekuatannya? Memang benar dia mungkin seorang Pelahap Energi tingkat 2, tapi pengetahuannya cukup sedikit," potong Sasa.
"Orang itu tampaknya memang Pelahap Energi tingkat 2, dan ada kemungkinan dia berada di tingkat 2 akhir." Sun menghela napas panjang. "Namun, asal usulnya mencurigakan. Ditambah pengetahuannya ini ...."
Itu benar, Leon tidak terlalu paham akan dunia ini akibat ingatannya belum pulih sepenuhnya. Terlebih, sifat sombongnya kabuh kembali seiring berjalannya waktu.
Tentu ini membuat dia tidak tahu bahwasanya selalu ada Mahkluk Fantasi lain yang menggiring para Chimera. Jika diibaratkan, para Chimera hanyalah pelihara bagi mereka dan akan selalu menurut pada perintah tuannya.
Kini, Leon dihadapkan pada situasi buruk itu. Tepat di hadapannya, ada seekor Mahkluk Fantasi. Ia mengenali nama mahkluk ini setelah mencari berbagai informasi saat di kota. Tan, itulah sebutan orang-orang kepada mahluk tersebut.
Tan itu menatap lurus ke mata Leon, sementara si pemuda hanya bergeming tanpa ada rasa takut atau apa pun di lubuk hatinya. Walaupun Tan terlihat ganas, Leon dengan mudahnya memancarkan aura yang jauh lebih ganas.
"Manusia ...," ucap Tan, "pergilah dari bumi sekarang. Bawa semua kaummu dan carilah planet lain." Suara mahkluk itu sedikit serak, terdengar lebih mengerikan di telinga.
"Bukankah seharusnya tamu tak diundang seperti kalian ini yang pergi?" Begitu tenangnya Leon menyampaikan kalimat tersebut.
__ADS_1
"Hah? Kami adalah kaum suci di alam semesta. Kalian para mahkluk hina sebaiknya menurut saja." Masih belum juga terprovokasi, Tan malah hendak memprovokasi Leon terlebih dahulu. "Kami diberkati kekuatan mutlak dan ditakdirkan untuk menguasai alam semesta, tetapi kalian para manusia hanyalah mahkluk lemah yang hina."
"Jadi, kalian menganggap diri kalian dewa? Ataukah sekelompok Alien bodoh yang kehilangan wilayah akibat keegoisan?"
"Manusiawi brengsek!"
Dalam sekejap, tubuh Leon menjadi kaku. Ia merasa tengah dihimpit oleh dua buah kubus besar dan kuat pada kedua sisinya.
"Argh!" Teriakan Leon menggema, kekuatannya seperti ditekan oleh sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sekuat tenaga ia mencoba menyalurkan seluruh energi dalam kristalnya ke sekujur tubuh. Namun, nihil, tekanan pada tubuhnya kian kuat saja.
Leon! Bertahanlah! Di dalam kepala Leon, Ellise sudah mulai panik. Dia ingin menolong pemuda itu, tetapi tak tahu harus bagaimana. Wajahnya seketika pucat pasi, Leon sudah hampir kehabisan tenaga untuk memberontak.
Sebelum semuanya berakhir mengenaskan, keajaiban tiba. Serangan dari bola api kecil seketika melesat ke arah Tan, mahkluk itu pun segera mundur dengan melompat ke belakang. Leon sudah sangat lemas, tarikan napasnya pelan dan wajahnya pucat.
"Dia masih hidup," ucap Sasa, pelan. Akan tetapi, bahaya yang harus dihadapi oleh mereka sekarang sangatlah tidak terbayangkan sebelumnya.
Tiga pemuda yang saat ini menatap Tan sedikit gemetar. Tangan mereka mengepal, terbersit dalam lubuk hati mereka rasa ketakutan menghadapi mahkluk di depan mereka.
"Tampaknya kita sedang sial, Sun." Gild menggaruk kepala. "Untuk lari darinya sangat sulit bahkan hampir mustahil, apalagi bertarung dengannya. Keputusanmu untuk menjemput Leon adalah sebuah kesalahan."
Dengan gagah berani Sun berjalan dua langkah ke depan. "Ini adalah salahku, sudah sewajarnya aku menebusnya. Kalian pergilah, bawa Leon juga," kata Sun penuh wibawa.
"Jadi, kau berniat untuk mengorbankan diri?" Yang sekarang menanggapi ialah Theo. "Sebagai Pelahap Energi tingkat 3 kita memang lemah. Dan tampaknya pemuda bernama Leon itu berhasil menghabisi 20 Chimera begitu mudahnya. Namun, sifat sombongnya itu sungguh menganggu, kau tak pantas mengorbankan diri untuknya!"
__ADS_1
"Meskipun begitu ...." Sun menoleh ke belakang, dari raut wajahnya dapat terlihat betapa kuat tekadnya. "Aku berhutang satu nyawa padanya. Sudah cukup wajar bagiku membalas kebaikan itu."
Tak mau mendengarkan ocehan teman-temannya, Sun lantas kembali menatap Tan. Mahkluk Fantasi itu terlihat hanya membiarkan mereka mengobrol untuk sesaat. Sun tahu batas kemampuannya sendiri, dia mengerti seberapa jauh perbedaan antara dirinya dengan Tan.
Kendati demikian, bukan berarti dia akan langsung menyerah. Sekali lagi Sun menoleh ke belakang. "Pergilah!"
Namun, reaksi teman-temannya kepada dia berbeda dari yang diharapkan. Mereka tersenyum hangat, lalu Gild berkata dengan lembut, "Kami akan bertarung sampai titik darah penghabisan dengamu!"
"Bodoh! Kalau begitu apa artinya kita mati bersama! Biar aku saja, ini demi membalas budi!"
"Tidak! Kami bukan orang yang hanya akan berdiam diri melihat teman kami mengorbankan diri!" sahut Theo.
"Pergi kalian!" Api membara dari tubuh Sun, seekor burung besar terbuat dari api berkobar seketika mengambang tepat di atas kepalanya. Dengan sekujur tubuh dipenuhi oleh kobaran api, perlahan Sun mendekat ke arah Tan.
Tan itu hanya tersenyum, dia kemudian berkata perlahan, "Tunjukan padaku sekuat apa kalian para mahkluk hina ...!"
"Kaulah yang hina, Mahkluk Fantasi sialan yang mengaku sebagai dewa!" Sorot mata Sun begitu tajam, memperlihatkan amarah di dalam lubuk hatinya.
Sementara Sun hendak bertarung dengan Tan, teman-temannya juga bergerak. Akan tetapi, dinding api sebuah kotak api besar segera melingkupi Sun dan Tan.
Sun dan Tan hanya berdua sekarang, tidak ada pengganggu dari luar. Tan semakin tersenyum lebar melihat ini, posisi Sun di matanya hanya seperti mangsa yang menyerahkan nyawa untuk diburu. Burung api di atas kepala Sun seketika melesat ke arah Tan, akan tetapi Tan dengan mudah menahan serta menghancurkan burung tersebut menggunakan tekanan energi.
Sun sedikit tersentak, itu tadi adalah serangan terkuatnya, tetapi bukan apa-apa dibanding kekuatan Tan. "Hia!" Masih belum menyerah, beberapa bola api terbentuk di kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Seketika itu, Sun melemparkan bola api tersebut sekuat tenaga ke arah Tan. Namun, lagi dan lagi, seperti sebuah pelindung tak terlihat dan tak terkalahkan tengah mengelilingi Tan, serangan Sun sia-sia sahaja.
"Brengsek!" Dua bilah pedang api terbentuk di tangan Sun. Dia langsung melesat ke depan hendak menebas Tan.