
Lize menurunkan tasnya lalu mulai membongkar isi dari tas tersebut. Di dalam sana terdapat berkotak-kotak peluru dan beberapa pistol serta sebuah senapan hitam. Tanpa berkata apa-apa, Lize langsung menuangkan semua isi tas itu ke tanah.
“Kurasa akan lebih baik jika kita membaginya seperti ini,” kata Lize sembari menggeser tas hitam—yang sudah tak berisi—ke samping.
Dengan tak acuh, aku langsung mengambil sebuah pistol hitam dan sekotak peluru. Kubuka kotak peluru tersebut lalu memasukkan isinya ke dalam pistol.
“Hm ... apakah aku bisa menggunakan alat ini?” gumamku sembari mengarahkan pistol ke sebatang pohon.
“Dengan berlatih sedikit demi sedikit, aku yakin kau akan bisa,” sahut Mischie menanggapi gumamamku.
Melirik sesaat pada pistol di tangan kananku, diri ini masih belum yakin apakah bisa menggunakan senjata tersebut. Namun, entah mengapa ada bagian lain dari diriku yang merasa sudah tidak asing lagi menggunakannya. Aku sungguh tak dapat mengerti kenapa itu bisa terjadi.
Sejenak aku melamun, memikirkan mampu atau tidak aku menggunakan pistol yang ada di tanganku ini. Terbersit sebuah keraguan dari lubuk hatiku yang terdalam untuk memakai alat berbahaya ini. Dalam seketika, tangan ini entah bagaimana gemetar.
Muncul lagi—sebuah ingatan yang menampilkan wajah tak dikenal—napasku mendadak menjadi tak karuan, keringat mulai menetes membasahi sekujur tubuh. Aku gemetar, rasa takut pun mulai menguasai seisi hati ini.
Sebuah pukulan di bahu tiba-tiba membuatku kembali tersadar. Dengan terheran-heran, aku melirik orang yang memukulku itu.
“Kenapa wajahmu terlihat menakutkan begitu?” tanya Lize yang nampaknya terkejut karena tak menduga keadaan ini.
Aku benar-benar merasa lega ketika dia membuatku kembali ke kenyataan. Masih dengan napas yang terengah, aku pun berkata, “tidak ... bukan apa-apa. Lupakan saja.”
__ADS_1
Bukan hanya Lize yang terkejut, Rias dan Mischie yang sedari tadi sibuk memilih senjata juga ikut tersentak melihat tingkahku itu.
“Hei! Kau benar-benar tidak apa, kan?” tanya Rias yang khawatir.
Walau berat, aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Ya, jangan khawatir, aku baik-baik saja,” jawabku.
Seolah tidak terjadi apa pun, Mischie langsung mengambil senapan hitam panjang yang belum disentuh sedari tadi. “Jadi, siapa yang akan menggunakan senjata ini?” kata Mischie sembari menyodorkan senapan panjang itu ke arah kami.
Tak sedikit pun aku tergiur untuk mengambil senjata itu dari tangannya. Sebab, hanya dengan mengambil sebuah pistol saja—yang ukurannya jauh lebih kecil—dapat membuatku takut setengah mati. Semua senjata ini seperti sedang mengingatkanku pada apa yang pernah kulakukan sebelum diri ini terdampar di hutan misterius dengan ingatan yang hilang.
“Apakah tidak ada yang ingin menggunakannya?” Sekali lagi Mischie bertanya kepada kami.
Lagi-lagi aku menjadi dilema karena pertanyaan yang sudah jelas tidak dapat kujawab sendiri. Berdiri mematung dengan bingung, mulut ini terkunci rapat tak dapat melontarkan kata-kata.
“Bagaimana kalau Leon yang memegangnya?”
Sontak aku terkejut ketika Mischie mengatakan kalimat tersebut. “Ke-kenapa aku?” Kutunjuk diriku sendiri karena bingung.
Mischie mengangkat sebelah alisnya lalu menjawab, “ya, itu memang kau. Siapa lagi yang memiliki nama ‘Leon’ selain dirimu?”
Tidak ... mana mungkin aku bisa menerima tawaran ini. Pokoknya tidak boleh.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala beberapa kali. “Kau saja,” kataku menunjuk Mischie. “Kurasa kau lebih menggunakannya daripada aku.”
“Cih ....” Mischie lalu menarik tangan kiriku yang kosong lalu memberikan senapan panjang itu dengan paksa kepadaku. “Aku lebih suka menggunakan pedang daripada sebuah senapan.”
Berdiri mematung sambil memandangi senapan di tangan kiriku, diri ini sangat tidak menyangka akan mendapatkan senjata tersebut. Mengabaikan aku yang bergeming, Mischie mengobrak-abrik kotak peluru lalu menemukan beberapa granat di antara kotak tersebut. Setelah mencari lagi, ia akhirnya menemukan granat asap yang juga terselip di sana.
“Hehehe, kurasa kita akan menjadi pembunuh monster di sini,” gumam Mischie yang tengah girang.
***
Sementara itu, di lain tempat pada waktu yang sama. Di atas sebuah tebing tinggi yang memiliki lapangan luas. Tampak seorang pemuda dengan rambut coklat pendek yang acak-acakkan. Kaos berwarna putih yang ia kenakan juga sedikit kotor.
Bermodalkan sebuah teropong jarak jauh, pemuda—yang tidak lain adalah Zanik—menerawang jauh ke dalam hutan di saat hujan gerimis sedang berlangsung. Dia tersenyum tipis memandangi beberapa remaja yang sedang asik membagi-bagikan senjata untuk tetap bertahan hidup.
“Heh ... jadi mereka ingin segera mengalahkan kami, ya?” gumam Zanik sambil meurunkan teropongnya. “Mari kita lihat ... apakah kalian mampu berhadapan dengan kelompok kami ini.”
Zanik berbalik lalu berjalan lurus ke depan menuju ke arah hutan. Memasukkan teropong di balik pekaian, ia lantas mengambil sebuah pistol hitam dan mengarahkannya ke atas. Tanpa ada rasa ragu sedikit pun, Zanik menarik pelatuk pistolnya.
Suara tembakan menggema di sepanjang hutan, burung-burung kian panik karena tembakan tanpa arah yang dilakukan oleh Zanik. “Ayo kita mainkan, game menyenangkan ini, Leon.” Zanik memancarkan wajah jahat di mukanya. Sambil terus berjalan, ia memasukkan pistolnya kembali ke balik kaos.
Manapakkan kaki di tanah lapang dan dibarengi oleh hujan. Pemuda tadi kian masuk ke dalam hutan sampai akhirnya mengilang tertelan lebatnya pepohonan.
__ADS_1