
Di atas lapangan luas, aku berlari dengan napas yang tak karuan. Kepala sakit, pandangan berkabut, karena lelah yang dirasakan tubuh. Seperti ingin terbakar, paru-paru terasa begitu panas.
Kian lama, oksigen semakin sulit untuk dihirup. Namun, kaki masih harus melangkah, demi keselamatan diri.
Jaraknya sudah tidak terlalu jauh, sebuah gerbang besar itu, kini kian dekat. Lari, jangan kalah oleh rasa lelah. Masih ada hal yang perlu kulakukan.
Mendadak, segerombolan remaja datang dari arah belakang, berlari dengan cepat demi menghindari serangan. Tidak ada yang peduli dengan sekitar, mereka terus melangkah, meski napas sudah terengah.
"Gawat ...!" Walau terasa tidak akan sanggup, aku masih tetap berlari, menahan semua rasa lelah yang menghampiri.
Kepala kian sakit, tak sanggup rasanya diri ini untuk melangkah. Sekuat apa pun aku menahan semua itu, raga benar-benar tidak bisa menanggapi tekad.
"Eh!"
Badan terhempas di tanah, pandangan menggelap, dan keputusasaan menghisi hati yang kosong. Hampa, aku sudah pasrah akan semua ini. Tidak ada hal yang bisa dilakukan lagi.
__ADS_1
Semua emosi dilahap oleh sesuatu, ada mahluk di dalam tubuh yang memakannya. Masuk ke sebuah ruang hampa, kulit tiba-tiba berubah menjadi hitam. Perhitunganku sebelumnya ternyata benar, perlu suatu hal untuk membangkitkan sosok hitam. Ya, itu adalah keputusasaan.
Mata kembali terbuka, seberkas cahaya langsung menyinari. Kumpulan asap kini menyelimuti tubuh, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua rasa sakit telah menghilang, tubuh berdiri tegak, dan kaki sudah sangat siap untuk berlari.
Menyadari ada yang mendekat, aku langsung melangkah dengan cepat ke depan. Benar saja, sebuah misil meledak, tepat beberapa langkah di belakang. Namun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, diri ini sudah menghindarinya dengan selamat.
Kaki melangkah dengan cepat, melewati beberapa orang yang ada di depan mata. Kumpulan asap telah berhasil dihindari, tetapi kaki masih harus bergerak, agar dapat selamat.
Sudah lama waktu berlalu, ketika diri ini tinggal beberapa langkah dari gerbang, dua buah pintu raksasa perlahan mulai menutup. Aku mendengus kesal, lalu kembali mempercepat langkah.
Sebelum diri ini semakin memperpendek jarak, seekor mahluk setinggi manusia dewasa, dengan badan kekar dan rambut putih panjang. Makhluk tersebut sedikit bungkuk, kulitnya berwarna coklat kehitaman berbintik, kakinya sedikit kurus, tapi terlihat kuat. Celana dan pakaian yang mahluk itu gunakan, terlihat lusuh serta robek, jirah berwarna putih keabu-abuan melekat di kedua pundaknya. Sedangkan tangan kanannya memegang sebuah cambuk.
Pakaiannya yang terpotong setengah, memperlihatkan otot di perutnya yang berkulit coklat kehitaman. Makhluk itu mengerang sejenak, lalu melangkah dengan cepat ke arahku.
Jadi, ia ingin bertarung denganku.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan makhluk aneh itu, segerombolan remaja langsung bergerak ke arah gerbang. Saat salah satu di antara mereka, tinggal selangkah lagi dapat masuk ke dalam gerbang, makhluk berjubah tadi lantas berbalik dengan kecepatan tinggi dan mencambuk pemuda yang menyelinap itu. Sungguh sadis, pemuda tersebut terkapar ke tanah, dia mati tanpa meninggalkan darah setetes pun.
Semua orang hanya dapat bergeming, menghentikan langkah dan berdiri mematung menatap makhluk itu. Dengan tenang, makhluk tersebut berbalik, lalu mengaum sambil menengadah.
Dari situasi ini, aku dapat menebak apa yang harus dilakukan. Cara agar selamat adalah masuk ke gerbang yang ada di depan sana. Namun, tidak semudah itu, perlu mengalahkan si makhluk tanpa nama tadi supaya dapat masuk.
Selain itu, waktu yang tersisa juga tidak banyak, dengan kata lain, hanya ada dua pilihan, berjuang sekuat tenaga atau mati konyol. Menerawang ke sekitar, aku dapat melihat para remaja itu menatap makhluk di depan sana dan diri ini, dengan tatapan aneh.
Dari lirikan mereka, sudah terbukti ketakutan menyelimuti hati mereka semua. Aku dengan cepat melangkah ke depan, mendekati makhluk itu. Sebuah misil tiba-tiba meledak tak jauh di belakang, membuat kerumunan remaja kembali panik.
Kedua tangan terentang, jari panjang tampak bersinar terkena sinar matahari. Melesat dengan kecepatan tinggi, kini aku telah berada tak jauh dari sesosok makhluk yang ada di depan. Sambil mengaum, makhluk tersebut menebaskan cambuknya secara vertikal ke arahku.
Sontak diri ini melompat ke samping kanan ketika menyadari serangan tersebut. Makhluk itu meleset, cambuknya menghempas tanah dengan keras. Sekali lagi aku melesat, lalu melancarkan serangan menggunakan cakar di tangan kanan, ke arah leher makhluk itu, dari samping kirinya.
Makhluk itu melompat ke samping kanan, menghindari seranganku, lalu menebaskan cambuknya secara horizontal. Sontak, tangan kiri terangkat untuk menahan serangan tersebut.
__ADS_1
Serangannya sangat kuat, bahkan sanggup membuatku sedikit bergeser ketika menahannya. Sungguh sakit, kibasan cambuknya seperti hendak menghancurkan tulangku.
Sialan, bagaimana aku menghadapinya?