The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 10 : Titik Darah Penghabisan


__ADS_3

Aku berdiam, menatap lurus ke depan, di mana pertempuran sengit tengah terjadi. Ya, kuakui kalau tadi adalah pertarungan yang hebat, tetapi masih belum bisa menjelaskan kejadian beberapa waktu lalu, ketika petir dan tanah berguncang hingga menjadi bencana. Menimbang dari sisi ini, aku dapat yakin kalau retakan di waktu itu terjadi sebab perbuatan hutan ini sendiri.


Energi yang terkumpul dalam kristalku sudah cukup banyak. Walaupun, sejak tadi tampaknya Darwis hanya memulihkan tenaga tanpa bisa mengumpulkan energi. Itu bukan salahnya, karena memang kristalnya hanya bisa menghisap energi panas. Berbeda denganku yang dapat menyerap energi dingin di malam hari.


Setelah ledakan besar, seseorang menatap lurus ke arah kami. Aku tahu dia adalah Andrew. “Sepertinya kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan mulai sekarang, Darwis.”


Darwis yang sedari tadi duduk bersila di atas papan kayu bayang melayang ciptaanku, kini berdiri, siap untuk menghadapi serangan. Kualirkan energi ke sekujur tubuh, kemudian mengubahnya menjadi jirah dan sayap bayang. Tak lama, bola-bola hitam melayang di sekitarku.


“Mari kita siapkan diri untuk menyelesaikan masalah paling besar sekarang,” kata Darwis. Seketika, bola-bola api melayang di sekitar mahkluk jadi-jadian itu.


“Sebaiknya kau tidak lari terbirit-birit ketika menghadapinya,” ejekku.


“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu.”


Aku sedikit tersenyum, lalu mengangkat tangan ke atas. Sebilah pedang bayang langsung terbentuk di genggaman tanganku, tanpa aba-aba, aku langsung menebaskan pedang tersebut ke depan. Sebuah garis hitam melesat cepat ke arah pemuda yang tengah melayang perlahan mendekati kami.


Sebuah ledakan terjadi karena benturan serangan, aku dan Darwis langsung berpencar untuk mengepung pemuda tadi. Namun, sebuah hal tak terduga pun terjadi. Dinding tebal langsung membentang di kedua sisi pemuda itu, membuat aku dan Darwis tak bisa menyerangnya dengan sembarangan.


“Ternyata tidak hanya Andrew yang bertahan setelah pertarungan tadi,” aku menggerutu sambil terus melayang di udara.

__ADS_1


Mendadak, begitu banyak bola cahaya menyerangku dari berbagai arah. Akan tetapi, aku langsung membuat pelindung menggunakan bayangan. Sehingga serangan tersebut dapat kutahan.


Tak lama, serangan berhenti, aku membuat sedikit celah di pelindung, kemudian mengintip ke luar. Tidak ada siapa-siapa, tetapi setelah mengamati, di depan sana terlihat Andrew yang tengah melayang mendekat ke arahku. Ini kesempatan emas untuk mengalahkannya, karena kalau masih ada Klan lain yang tersisa selain aku dan Darwis, pelindung yang mengelilingi tugu tak akan memudar.


Begitu juga sebaliknya, jika kami tidak berhasil mereka bunuh, maka pelindung pun tak akan memudar. Jelas ini tampak seperti hubungan yang saling membutuhkan, karena kami perlu nyawa mereka untuk selamat, sedangkan mereka perlu nyawa kami untuk hal yang sama. Seandainya kami dan mereka bisa bekerja sama, sudah jelas akhirnya tidak akan seperti ini.


Pelindung bayang kuserap kembali ke dalam tubuh. Andrew yang melayang tanpa sayap atau apa pun di punggungnya, masih tetap mendekat ke arahku. Baiklah, sekarang aku harus menyiapkan diri supaya dapat mengalahkan bos terakhir ini. Awalnya aku berharap tidak pernah bertarung dengannya, tetapi takdir berkata lain.


“Yo, Leon. Kita bertemu lagi untuk terakhir kalinya.” Andrew berhenti tepat beberapa langkah di hadapanku.


Aku telah siap untuk bertarung kapan saja, jadi tak terlalu berpengaruh jika dia ingin mengalihkan perhatianku sekarang. “Andrew, kau begitu kuat, bisakah kita tidak bertarung dan menyelesaikannya dengan cara lain.” Tanganku menggenggam erat pedang bayang yang aku pegang.


“Meskipun begitu, aku tetap yakin dengan gabungan kekuatan kita semua, pelindung itu pasti hancur.”


“Mustahil! Dulu kami pernah mencoba cara itu, tetapi hasilnya tetap nihil. Satu-satunya cara untuk keluar hanya dengan membantai habis Klan lain.” Beberapa bola cahaya mulai mengambang di sekitar Andrew. “Sejujurnya, aku sangat tidak suka dengan akhir ini. Karena waktu tidak mengizinkan aku menyiksamu sesuka hati, Leon.”


Dalam satu jentikan jari Andrew, bola-bola cahaya tadi langsung melesat ke arahku. Tentu aku tidak tinggal diam dan langsung membuat sebuah pelindung energi murni di sekitar. Tekanan dari serangan bola cahaya ini ternyata lebih kuat dibanding sebelumnya. Selain itu, apa-apaan dengan keinginan anehnya yang mau menyiksaku sepuas hati. Benar-benar menyebalkan.


“Hia!” Aku langsung melancarkan bola-bola bayang sebagai balasan. Namun, Andrew dapat dengan mudah menghalaunya menggunakan pelindung cahaya. Ya ampun, ternyata nasibku sesial ini.

__ADS_1


“Oh tidak, kesialan itu malah bertambah ketika aku mengeluh.”


Sebuah bola cahaya besar, melesat cepat dari langit, menuju ke arahku. Dengan cepat aku membuat pelindung bayang agar tidak terkena dampak serangan, tetapi bola-bola cahaya kecil juga ikut menyerang dari berbagai arah. Gawat, apakah aku akan tamat sekarang?


Tidak! Mana mungkin aku mati! Kekuatanku meluap-luap, berkobar bagaikan semangat hidupku saat ini. Dengan satu kejapan mata, sebuah bola pelindung bayang bercampur energi murni langsung melindungiku. Tekanan dari serangan Andrew sangat kuat sampai membuat tulangku terasa remuk.


Beberapa saat, tekanan menghilang, mulutku mengeluarkan darah yang tidak sedikit, tetapi karena sistem evolusi di tubuhku, semua luka dapat pulih dengan cepat. Kuusap darah dari mulut, pelindung bayang raksasaku pun pecah.


Ketika mengalihkan pandangan ke tempat lain, aku dapat melihat Andrew yang sedang menjulurkan tangannya ke depan. Napasnya juga tampak terengah, sepertinya dia memiliki batas juga.


“Kenapa kau belum mati, Sialan?” serunya sambil menyesuaikan tarikan napas.


“Haha, tidak kusangka orang seangkuh dirimu dapat mengeluh, Andrew.”


Dilihat dari situasi ini, dia mungkin memperkuat tekanan serangannya kepadaku agar pelindung bayangku pecah. Namun, hasilnya seimbang, tidak ada yang menang ataupun kalah. Itulah kenapa napasnya dapat terengah sekarang, benar-benar musuh yang merepotkan.


“Akan sangat merepotkan membuat pertarungan ini panjang. Ayo kita selesaikan sekarang juga agar sama-sama senang, Leon.” Sebuah senyum terbentuk di bibir Andrew. Tubuhnya langsung berubah menjadi penuh sisik coklat, bagaikan manusia setengah naga. Sepasang sayap muncul di punggung pemuda itu, lalu wajahnya juga berubah menjadi kepala naga.


Kuhela napas sejenak, untuk menghadapi monster maka perlu menjadi monster juga, tetapi akan sangat merepotkan kalau aku memiliki cakar panjang di kedua tangan, karena itu akan membuatku kesusahan saat menggenggam pedang. Jadi, kuputuskan untuk melindungi tubuh menggunakan jirah banyang dan atribut lainnya saja. Ya, ini juga setara dengan monster, kan?

__ADS_1


__ADS_2