
Sebuah nama yang tidak familiar, terdengar oleh Leon. Ia tak tahu tempat seperti apa itu, tetapi teman-temannya terlihat mematung kaku.
Ketika melihat ke depan, hanya nampak sebuah lembah biasa. Lalu, kenapa dengan itu? Berapa kali pun Leon memikirkannya, itu hanyalah sebuah lembah biasa tanpa hal istimewa.
Akhirnya Leon menghela napas, kemudian melirik wajah teman-temannya, terutama Sun. “Kalau lembah ini memang menakutkan, kenapa tidak lewat di atasnya saja?” Dengan tenangnya Leon mengatakan kalimat tersebut.
“Yeah, kebanyakan akan berpikir begitu. Tapi, bagian atasnya adalah tempat paling berbahaya. Jika Tuan Vord seorang, mungkin mudah untuk melewatinya. Tapi, kita berbeda darinya.” Sun menjeda kalimatnya. “Terlebih kini kita hanya sekumpulan sampah.”
“Yeah, satu-satunya harapan kita adalah Tuan Vord.” Sasa menyetujui ucapan Sun.
“Kalian pikir aku benar-benar akan melindungi kalian hingga mempertaruhkan nyawa?” Vord menoleh sambil menatap tajam ke arah Leon dan yang lainnya. “Aku bebas untuk memutuskan. Jika kalian memang ingin pergi ke Menara Harapan, maka tunjukkan padaku tekad kalian.”
Bagai angin, Vord menghilang begitu saja dari pandangan. Namun, ekspresi Leon tetap datar. Ia percaya kalau Vord bukan tipe orang yang akan membiarkan orang lain mati di depannya begitu saja.
“Ke mana dia pergi?” Sontak Sasa mencari keberadaan Vord. Akan tetapi, Vord telah benar-benar menghilang tanpa jejak.
“Orang itu memang susah ditebak. Aku sudah tak mengerti lagi tentang apa yang dia pikirkan,” Sun juga mulai menggerutu.
“Mungkin dia berpikir kalau melewati Lembah Evolusi ini tidak terlalu berbahaya. Lagipula, dia bisa saja hanya bersembunyi sambil mengawasi.” Tanpa terlihat gelisah, Leon kembali melanjutkan ucapannya, “Sebaiknya kita segera saja masuk.”
“Kau benar.” Akhirnya Sun kembali tenang.
Mereka semua melanjutkan perjalanan memasuki Lembah Evolusi. Tempat ini begitu tenang dan gelap, tetapi Leon telah terbiasa. Ia tidak pernah membayangkan kalau pengalamannya memasuki banyak gua gelap akan bermanfaat sekarang.
Sunyi, hanya suara langkah kaki yang terdengar. Leon dapat merasakan sebuah nostalgia walaupun sebenarnya ia tak ingin mengingatnya lagi. Ia sungguh berharap kalau kejadian di hutan misterius hanyalah sebuah mimpi buruk.
“Seberapa panjang Lembah Evolusi ini?” tanya Leon.
“Sekitar satu kilometer, mungkin,” jawab Sasa, tak acuh.
“Bukan jarak yang cukup dekat ternyata.”
Tiba-tiba mereka berhenti, sedikit terasa aura yang samar-samar bersembunyi di balik sesuatu. Hanya Leon yang bisa melihat dalam gelap, tetapi masih belum menemukan dari mana aura tersebut berasal.
“Sun, nyalakan apimu.” Leon berbisik sepelan mungkin.
__ADS_1
“Kau yakin? Bukankah itu akan membuat kita dalam masalah?”
“Tanpa menyalakan api pun kita pasti dalam masalah. Pertimbangkan untuk memilih resiko terkecil.”
“Baiklah.”
Dengan sedikit enggan, Sun membuat kobaran api kecil tepat di telapak tangan kanannya. Kini mereka dapat melihat ke sekitar lebih jelas, jauh berbeda dari sebelumnya yang hanya mengandalkan intuisi untuk bergerak maju.
Sesaat, tepat di depan mereka melintas sosok kecil berwarna hitam seperti bayangan. Ini membuat mereka semakin waspada terhadap situasi sekitar.
“Lembah Evolusi itu kosong, tidak ada Makhluk Fantasi di sini karena terdapat sedikit energi.” Ni menyampaikan informasi berharga pada rekannya. “Tentu itu bukan tanpa alasan. Dulunya pernah terjadi medan perang di Lembah Evolusi, tetapi seseorang membuat pelindung serta membakar habis energi yang diperlukan oleh Makhluk Fantasi.”
“Jadi pada dasarnya, hanya manusia seperti kita yang bisa memasukinya?” Sedikit demi sedikit Leon mulai mengerti.
“Yeah, tapi akibatnya area di atas sama memiliki energi berlimpah sehingga Makhluk Fantasi berkembang begitu cepat.”
“Siapa orang yang mampu melakukan hal itu? Aku yakin kalau dia pastilah orang hebat.” Tak lama, Leon teringat pada sesuatu. “Oh iya, bukankah Vord juga membuat pelindung untuk kota, apakah pelindung tersebut dapat berfungsi seperti ini juga?”
“Jangan mengarang.” Seketika Sun menyela. “Bahkan Pelahap Energi tingkat 1 pun sangat jarang yang bisa melakukan ini. Dan kudengar juga, orang yang berhasil menciptakan Lembah Evolusi ini telah menghilang.”
Kau pasti berpikir dunia akan lebih baik, kan?
Yeah, seperti yang kaupikirkan, Ellise.
Kurasa dia masih ada, hanya saja kau mungkin harus membayar mahal untuk itu.
Haha, apakah satu nyawa saja cukup sebagai jawaban? Kurasa itu harga yang murah, hutan misterius sungguh membuatku putus asa.
Entahlah ....
Seketika Ellise mengakhriri pembicaraan.
“Sun, apakah kita hanya akan berdiam saja?” Leon telah bosan untuk menunggu lebih lama. “Terus menerus waspada pada tempat yang tidak berbahaya hanya akan membuatmu terlihat bodoh.”
“Baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan. Jangan sampai terpencar, ikut saja di belakangku.” Tanpa basa-basi lagi, Sun memimpin perjalanan keluar dari Lembah Evolusi.
__ADS_1
Namun, sedari tadi Leon merasakan hal aneh. Ada semacam aura tak dikenal di sekitar, tetapi apa? Jika bukan Makhluk Fantasi, itu artinya hewan biasa.
Apakah hewan biasa memiliki aura semacam ini?
Aku tidak tahu. Lagipula, apakah kau tak bisa membedakan aura hewan dengan makhluk lainnya?
Nampaknya pengalamanku di alam liar masih belum cukup.
Bukan belum cukup, melainkan kau mengabaikan semuanya.
Mendadak saja, bongkahan batu jatuh dari tebing. Secara refleks Leon melindungi teman-temannya menggunakan pelindung bayang. Akan tetapi, batu-batu besar semakin banyak saja jatuh seperti hujan.
“Apakah Vord yang melakukan ini?” Leon mulai menggerutu karena kesal.
“Leon, biar aku bantu!” Saat Sun hendak membuat pelindung api, api pada telapak tangannya langsung menghilang dalam sekejap mata. “Eh?”
“Kau bodoh ya? Energi di lembah ini sangat tipis, jangan sembarangan menggunakannya untuk hal tak perlu.”
“Tapi kalau terus begini, kita pasti tertimbun!”
Leon mengeluarkan energi di dalam kristal hitamnya agar bisa mempertahankan pelindung. Namun, bebatuan kian banyak jatuh menimpa pelindungnya.
Mau tak mau, Leon harus memaksakan diri sedikit lagi. “Hia!” Ia berteriak kencang sambil menepukkan kedua telapak tangan.
Ledakan terjadi, bebatuan yang tadinya menimpa pelindung seketika bertaburan ke sana sini. Tidak cukup sampai di sana, pelindung bayang Leon juga membuat semacam tombak, menghancurkan semua batu menjadi kerikil serta debu.
Setengah jam berlalu, napas Leon begitu terengah, dan batu berhenti jatuh dari tebing. Akibat memaksakan diri, cedera pemuda itu menjadi semakin parah. Bahkan mulutnya sekarang memuntahkan darah segar.
“Leon! Bertahanlah!” Sasa lantas mengobati Leon menggunakan teknik penyembuhannya.
“Uhuk! Uhuk!” Sekali lagi Leon memuntahkan darah. “Sebaiknya kita bergerak lebih cepat.”
Sun mengangguk, kemudian menyalakan api lagi di telapak tangan dan menuntun perjalanan.
Sekarang pun, Leon tak habis pikir, apakah benar yang menjatuhkan bebatuan tadi ialah Vord? Tapi, akan sangat berlebihan jika memang dia pelakunya. Meski demikian, belum ada petunjuk yang jelas untuk saat ini. Jadi, menyimpulkan sesuatu tanpa bukti hanya bisa menimbulkan masalah.
__ADS_1