The Dark Slayer

The Dark Slayer
S3 Chapter 30 : Sun dan Night


__ADS_3

Bebeberapa tahun lalu, tepatnya ketika Sun masih berusia 8 tahun. Di sebuah perkampungan di mana ia tinggal dengan aman dan damai bersama para penduduk. Ini semua terjadi karena adanya penjagaan dari seorang Pelahap Energi tigkat 1 yang begitu kuat. Sun begitu mengagumi orang itu, bahkan sampai membuatnya bertekad akan menjadi Pelahap Energi suatu hari nanti.


Masa kecil Sun sangatlah bahagia, ia juga memiliki seorang teman perempuan sejak kecil yang diadopsi oleh keluarganya, namanya Sasa. Setiap hari tawa selalu menghiasi wajah, walau sederhana, tetapi sangat menyenangkan bagi Sun memiliki keluarga seperti ini. Ia bahkan berjanji melindunginya seumur hidup.


Pada suatu sore, ada seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di perbatasan kampung dengan sungai besar. Tanpa lama-lama, Sun langsung mendekati pria tersebut. Senyum girangnya merekah kala itu.


"Paman Night!" Sun melambaikan tangan sembari memanggil nama pria paruh baya tersebut.


Pria paruh baya yang dikenal bernama Night berpaling. "Oh, Sun. Ada apa kau ke sini?"


"Hihi, aku hanya sedang berjalan-jalan."


"Sebaiknya kau segera pulang, nanti ibumu mencarimu."


"Dia tidak akan khawatir jika aku bersama paman ...."


"Haha, baiklah, paman akan mengantarmu pulang sekarang."


"Ayo berangkat!" Segera Sun naik ke bahu Night, lalu Night pun berjalan menuju rumah Sun.


Sesampainya mereka di tempat tujuan, ibu Sun membukakan pintu dengan senyum hangat. "Tuan Night, maafkan anakku karena terus merepotkanmu."


"Haha, itu bukan masalah besar." Night menurunkan Sun dari punggungnya, kemudian dia mengelus kepala anak itu perlahan. "Dia adalah seorang prajurit yang akan membawa kedamaian bagi kampung ini. Iya, kan, Sun?"


Sun begitu senang mendengar pujian Night padanya. "Ya! Suatu hari nanti, aku akan menjadi seperti paman."


"Semangat yang bagus." Perlahan Night menegakkan kembali tubuhnya. "Baiklah, aku akan segera kembali."


"Apa Anda tidak ingin mampir untuk sejenak makan malam bersama kami?" tawar ibu Sun.


"Ayo, Paman. Masakan ibu sangat enak." Penuh semangat Sun mengajak Night.

__ADS_1


"Maaf, Sun ...." Sekali lagi Night mengelus kepala Sun. "Puteriku sudah menunggu kedatanganku. Mungkin lain kali saja." Akhirnya Night berjalan pergi sambil melambaikan tangan.


"Yeah ...." Terlihat jelas kalau Sun sedikit kecewa.


"Ayo masuk, Sun. Sasa sudah menunggumu di dalam."


"Baik, Bu."


***


Leon mendengarkan dengan tenang kala Sun memulai kisahnya. Semua yang ada di dalam ruangan putih ini pun diam, masih menanti Sun melanjutkan cerita tentang masa lalunya. Namun, pada saat mengucapkan kalimat terakhir, Sun tampak murung dan menutup mulut.


"Jadi, begitulah bagaimana kau mengenal Night pada awalnya?" tanya Leon, tidak tahu harus berkata apa.


"Yeah, sosoknya sudah seperti pahlawan sejati bagiku."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya ...?" Walau sedikit ragu, Leon tetap menanyakan hal tersebut."


"Aku rasa kau sudah bisa menebaknya, tetapi aku akan tetap menceritakan kejadian selanjutnya."


***


Sun keluar dari rumah bersama Sasa, mereka berdiri mematung, tidak dapat menggerakkan tubuh. Tiba-tiba mereka didorong oleh seorang pria hingga terbaring di tanah. Sedangkan orang yang mendorong mereka itu lantas ditimpa oleh batu besar, kemudian tewas.


"A ... yah ...." Tangan Sun terulur, air matanya menetes.


Mendadak satu potongan kayu besar melesat ke arah Sun. Seketika Sasa memeluk anak laki-laki itu dengan erat. Namun, apa yang menyentuh tubuh mereka berdua adalah tetesan darah, bukan kayu.


Sun melihatnya, senyum hangat dari seorang wanita yang ia cintai. "I ... bu ...." Dada Sun sesak, matanya terbuka lebar, sekujur tubuhnya gemetar. "Ibu!" Ia mencoba berdiri, tetapi Sasa tidak membiarkannya begitu saja.


"Jangan, Sun!"

__ADS_1


"Sasa, minggir! Jangan menghalangiku!"


"Tidak!" Tubuh Sasa juga gemetar, air mata jelas membasuh habis wajahnya. "Sun ... jangan pergi ...."


"Tapi, Ibu ...."


Sun mendongak ke atas, matanya melihat sosok seorang pria paruh baya yang sangat dikenalinya. Namun, ekspresi orang itu berbeda. Sun berharap kalau dia akan menyelamatkan semua orang, tetapi kenyataan dia menyerang penduduk dan menghancurkan rumah mereka.


"Paman ..., kau ...." Mulut Sun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Pria paruh baya yang ditatap Sun menarik sebuah pedang di punggungnya. Tanpa peringatan apa pun, pedang tersebut dia lemparkan pada Sun dan Sasa. Akan tetapi, sebelum pedang tersebut berhasil menembus tubuh mungil kedua anak itu, seseorang datang dan menahan serangan tersebut.


Sun masih sangat ingat, pria berambut merah yang telah menyelamatkan hidupnya kala itu. Dan di saat bersamaan, pria paruh baya yang ia lihat atas tadi telah menghilang.


Pria dengan rambut merah berpaling pada Sun, kemudian berkata, "Nak, apa kau hanya akan diam saja dan membiarkan gadis di pelukanmu tetap menangis?"


Sejenak Sun melirik Sasa yang ternyata menangis tidak berdaya di pelukannya. Ia tak bisa mengerti maksud perkataan si pria berambut merah, tetapi ia ingin menjadi kuat.


"Tekad yang bagus, Nak. Aku akan memberikan kekuatan agar kau bisa melindunginya." Senyum merekah di bibir pria berambut merah sebelum akhirnya menghilang untuk sementara waktu.


***


Mendengar cerita masa lalu Sun membuat Leon tidak dapat berkata-kata. Ia masih belum dapat mengerti alasan mengapa Night menghianati Sun dan menghancurkan desanya. Dan, ini mengingatkan Leon kalau dirinya juga melakukan hal sama, membuat orang-orang saling bertarung hanya untuk bersenang-senang.


Sekarang Leon menjadi lebih mengerti, betapa menyakitkannya kehilangan orang yang sangat dicintai. Itu semua membuatnya sangat ingin menuntaskan semua Makhluk Fantasi dari dunia tanpa sisa sedikit pun.


Leon mengepalkan tangan dengan erat, lalu berdiri. "Kau pasti sangat ingin membalas dendam demi desamu, kan, Sun?"


"Ya ...."


"Baiklah, aku akan membantumu. Kita akan mengejar Night hingga kita berhasil mendapatkannya."

__ADS_1


Sun sedikit tersentak. "Kau yakin?"


"Tentu." Leon tersenyum, kemudian mulutnya mengucapkan kalimat yang sangat kecil hingga tak dapat didengar oleh siapa pun, "Lalu, tolong bunuh aku saat semuanya berakhir ...."


__ADS_2