The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 22 : Prince of Shadow


__ADS_3

Angin berdesir, dedaunan melayang menghiasi udara. Cahaya matahari senja membuat suasana semakin indah. Di atas hamparan padang rumput, terlihat dua orang remaja tengah berbaring menatap angkasa.


Pemuda berseragam putih menutup mata. Pikirannya begitu tenang menikmati hari cerah ini. Di sebelah kanannya, terdapat seorang gadis yang juga berbaring menatap langit. Keduanya hanya diam, tanpa menunjukkan tanda untuk memulai percakapan.


Tenang, tidak ada suara berisik di sekitar. Embusan angin membuat suara merdu layaknya musik bagi si pemuda. Ia bahkan tak mempedulikan keberadaan gadis di sebelahnya meski sesaat.


Perlahan, pemuda itu akhirnya membuka mata. Pupil hitamnya menatap lurus ke depan, dan tangan kanannya terulur seperti hendak menggapai langit yang berada jauh di sana. Ia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut.


“Ellise ... berapa lama kiranya keadaan kita akan seperti ini?”


Si gadis bangun, rambut hitam panjangnya terurai oleh embusan angin kencang. Dia menghela napas, lalu menunjukkan wajah dengan senyum lebar pada sang pemuda. “Suatu hari. Saat kau mengakhirinya ....”


“Haah ....” Si pemuda bersikap tak acuh, tetap menatap angkasa sambil menyatukan kedua tangan untuk dijadikan bantal. “Aku bukanlah orang hebat. Harapanmu terlalu tinggi padaku.” Ia melirik sejenak wajah Ellise.


“Tapi aku yakin ... kau pasti sanggup.” Ellise menunjukkan senyum lebarnya pada si pemuda. “Tuan Muda Klaurius.”


“Tuan Muda Klaurius apanya? Jangan mengejekku.” Si pemuda mendengus.


“Ehe.”


Orang sepertiku ... tidak pantas menyandang gelar itu .... Si pemuda lantas bangun sambil terus menatap ke depan.


***


Di tempat yang begitu gelap, Leon berhasil menyentuh satu-satunya cahaya yang terlihat oleh matanya. Pemuda itu seketika menghilang terhisap oleh cahaya. Tidak berapa lama kemudian, ia kembali melihat cahaya berwarna jingga.


Tarikan napasnya begitu pelan. Ketika melirik ke samping, terlihat Sun dan teman-temannya tersandar di dinding. Ia mencoba menggerakkan kaki, tetapi kakinya tidak bisa merespon. Kedua tangannya begitu berat untuk diangkat.


“Aku ...?” Leon berkata dengan pelan.


“Kau sudah sadar?” Tiba-tiba Vord—yang baru saja masuk—mendekati Leon setelah menggantungkan lentera ke dinding.


“Di mana ...?” Suara Leon terdengar sangat pelan.


“Hanya di bangunan tua yang terbengkalai.”

__ADS_1


Mendadak Leon mengingat sesuatu. “Lalu, ke mana musuh yang menyerangku?”


“Sayang sekali, mereka berhasil melarikan diri. Itu salahku.” Vord menundukkan kepala. “Tidak kusangka kalau dia memiliki trik lain.”


***


Beberapa waktu lalu, pedang Vord dan Jahad saling berbenturan. Kekuatan mereka setara, tetapi Jahad nampaknya belum dalam kondisi terbaiknya. Ketika Vord menambah tekanan pada Pedang Zero-nya, tiba-tiba Jahad tersenyum lebar.


Vord tidak mengerti maksud dari senyuman tersebut, sehingga masih menambah kekuatan menekan Jahad. Akan tetapi, dalam sekejap mata, Jahad menghilang dari pandangannya.


Sedikit panik, Vord langsung melirik sekitar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Jahad. Tak lama, ia berhasil merasakan aura Jahad dan melesat secepat mungkin mengejarnya. Namun, tepat di sebelah Jahad terdapat pemuda lain.


Menyadari kalau Leon terbaring di depan kedua orang itu, Vord tak bisa bergerak seenaknya. Jika tidak, mungkin Leon akan tamat sekarang juga.


“Jangan bergerak ....” Jahad mengancam. “Atau kami akan menghancurkan kepala temanmu ini.”


Vord menggertakan gigi, tak tahan untuk menghajar Jahad. “Kau ....”


Sebuah lubang berwarna hitam mendadak muncul di belakang Jahad dan temannya. Teman Jahad masih mengarahkan tangan kanannya pada Leon, karena Vord tidak bisa bergerak bebas, Jahad juga temannya menghilang di dalam lubang hitam.


***


“Maaf ... aku seharusnya ....” Yang terlihat menyesal adalah Leon, sebab karena dirinya, Vord melepaskan musuh begitu saja.


“Yeah, kau sebaiknya jangan memikirkan itu. Jujur saja, kekuatanmu jauh di bawah mereka.” Dengan tenang, Vord berbalik arah, mengambil lentera di dinding lalu keluar.


Leon mengepalkan kedua tangan. “Kenapa aku tetap saja lemah ...?” Giginya gemeretak. “Apa bedanya aku dari yang dulu? Wolf ... katakan padaku, apa tindakanku benar?”


Senyum Wolf terbayang jelas di kepala Leon. Wolf adalah orang yang rela mengorbankan nyawa agar bisa melindungi Leon, bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Tentu saja, Leon tak mampu melupakan senyum terakhir Wolf kala itu.


“Wolf ....” Leon tiba-tiba saja mengingat sesuatu. “Api?” Saat mengatakan kata itu, Leon melirik ke samping. “Kekuatan Wolf adalah api. Mungkin saja, Sun memiliki kesamaan kekuatan dengan Wolf?”


Di hutan misterius, Wolf merupakan salah satu orang terkuat, yang bahkan bisa menandingi Andrew. Ia tidak yakin, tetapi entah kenapa rasanya Sun mampu menjadi sosok pengguna api seperti Wolf. Namun, tetap ada satu masalah.


“Meskipun dia salah satu orang terkuat di hutan misterius. Tetap saja, bukan jaminan kalau dia juga kuat di dunia luar ini. Bahkan, aku saja tetap kasusahan menghadapi Tan seorang diri.”

__ADS_1


Tidak. Kau salah, Leon.


Ellise? Leon akhirnya teringat pada Ellise yang berada di Alam Bawah Sadar-nya.


Kau masih tidak lupa, kan? Pertarungan hebat itu?


Ya, mana mungkin aku lupa.


Menurutmu, apakah orang-orang di hutan misterius itu lebih lemah dari Pelahap Energi tingkat 1?


Mungkin ... kurasa ....


Haah .... Ellise menghela napas panjang. Jika memang begitu, bagaimana mungkin mereka berhasil bertahan hingga akhir?


Tapi, aku yang satu-satunya selamat pun, masih belum bisa mengalahkan Tan seorang diri. Bagaimana bisa sebanding dengan Pelahap Energi tingkat 1? Hahaha. Leon hanya bisa tertawa masam, menerima keadaan dengan pasrah.


Siapa yang tahu. Apa benar kekuatan Pelahap Energi tingkat 1 sungguh di atasmu, orang yang berhasil pindah dimensi menggunakan kekuatan sendiri?


Itu .... Ucapan Ellise membuat Leon merasa ragu. Tapi, kita masih belum tahu seberapa kuat kekuatan Pelahap Energi tingkat 1.


Bukankah kau sudah pernah menahannya sendiri?


Saat itu hanya sebuah keajaiban.


Kalau begitu, jadikan keajaiban itu sebagai kekuatan.


Percakapan mereka berakhir. Kata-kata Ellise membuat Leon berpikir lagi tentang seberapa besar kekuatannya? Kalau benar luar biasa, kenapa ia tidak bisa merasakannya? Jangan bilang kalau hanya keajaibanlah yang bisa membuat kekuatannya keluar seluruhnya?


Leon belum dapat menjernihkan kembali isi kepalanya, karena berbagai pertanyaan masih terngiang tanpa ada jawaban. Perlahan ia mengangkat kedua tangan lalu memandanginya sejenak. “Bagaimana caranya menjadikan keajaiban sebagai kekuatan? Sudah jelas itu mustahil.”


Matanya mendadak terbuka lebar. Walau hanya sekejap, Leon dapat melihat kilatan berwarna biru muncul dari telapak tangannya. “Apa tadi?” Menggelengkan kepala beberapa kali, ia melanjutkan kalimatnya, “Mungkin bayanganku saja. Kurasa aku perlu isthirahat agar pikiran kembali tenang.”


***


Di Alam Bawah Sadar Leon, Ellise duduk sambil menundukkan kepala. Wajahnya menggelap, lalu mulutnya mengucapkan sesuatu, “Prince of Shadow akan segera muncul. Setelah itu, tugasku selesai.” Ia terdiam sejenak. “Alat tetaplah alat. Maafkan aku, Leon.”

__ADS_1


__ADS_2