
Walau belum dapat menerima kenyataan pahit yang telah dialaminya, Flicker dengan enggan mau mengikutiku pergi ke tempat di mana Darwsi berada. Setibanya di sana, tubuh Flicker langsung mematung kaku, matanya terbelalak lebar melihat wujud Darwis. Memang ini akan sangat mengejutkan baginya, tetapi tak kusangka ia akan sangat terkejut.
“Ba-bagaimana mungkin mahkluk ini ada di sini?” Flicker mundur beberapa langkah.
Dengan tak acuh, aku langsung duduk di sebelah Darwis, tanpa mau menggubris pertanyaan Flicker. “Lebih baik kau duduk di sini daripada terus merenung melihat sosok Darwis.” Aku pun langsung melemaskan tubuh, menerawang sekitar untuk mencari tahu ada atau tidaknya bahaya di sekitar.
Badan ini sudah terlalu lelah, tetapi masih harus berjaga sebelum akhirnya bergantian dengan Darwis. Benar-benar membosankan.
Perlahan, Flicker duduk di sebelahku, tidak ingin terlalu dekat dengan Darwis. Aku sadar wujud Darwis memang mengerikan, tetapi dia memiliki hati yang baik, jikalau tidak sedang frustasi. Ya, mungkin itu karena sel-selnya yang telah berubah.
“Hei, Flicker!”
Flicker langsung berpaling ke arahku, ketika aku menyebutkan namanya. “Menurutmu, apa yang akan terjadi ketika kita terus berjalan menuju ke arah utara?”
“Tidak tahu .... Mungkin sesuatu yang mengerikan.”
Tampaknya dia tidak peduli akan pembahasan ini, lebih baik aku lupakan saja pembahasan yang tak penting ini. Lagipula, semuanya pasti akan terungkap di sepanjang perjalanan. Apakah itu mengerikan? Atau mungkin menyenangkan? Tidak ada yang tahu....
Malam semakin dingin, tubuhku menggigil karena tak tahan akan rasa dingin tersebut. Flicker sudah tertidur dengan pulas untuk menenangkan pikiran dan menghapus rasa lelah, sedangkan aku masih terus menguap menahan rasa kantuk.
Karena sudah tak sanggup lagi melawan rasa kantuk, aku langsung menggoyang-goyangkan Darwis untuk membangunkannya. Dia masih belum bangun juga, maka aku pun langsung menggulingkannya ke tanah, hingga akhirnya ia bangun.
__ADS_1
Sambil mengusap kedua mata yang masih belum terbuka lebar, Darwis berkata, “Ada apa? Aku masih belum puas isthirahat.”
Mahkluk jadi-jadian itu hendak tidur lagi, tetapi aku langsung menegakkan tubuhnya kembali. “Aku akan tidur, kau yang berjaga.”
Walau enggan, Darwis tetap menyetujui perkataanku itu. “Baiklah.”
Dengan santai, aku langsung berbaring di atas dedaunan kering yang menutup tanah. Mata mulai kupejamkan untuk segera berangkat ke alam mimpi. Sekujur tubuh rasanya sangat nyaman merasakan itu semua, dan rasa lelah telah merasuki pikiran.
Belum sempat aku beristhirahat, seseorang langsung membangunkanku dengan berteriak, “Leon, bangun!”
Mata kembali terbuka, pandangan masih kabur sehingga belum dapat melihat dengan jelas. Ketika pengelihatan kembali normal, aku langsung melompat secara tidak sadar. Beberapa singa terlihat sedang mengelilingi kami, Darwis pun mengambil cambuk dengan tangan kanannya, bersiap untuk menyerang singa-singa tersebut. Sedangkan Flicker hanya dapat bersandar pada pohon yang ada di belakang Darwis.
Darwis menebaskan cambuknya ke kanan dan ke kiri, para singa tadi perlahan mundur sambil sedikit mengerang. Mereka memamerkan taring tajam mereka untuk menakut-nakuti kami. Namun, itu sia-sia, karena aku telah melihat mahkluk yang lebih menakutkan dari mereka, dan salah satunya adalah Darwis.
Tanpa sebuah peringatan, seekor singa langsung melompat ke arah Darwis. Dengan tenang, Darwis mengibaskan cambuknya kepada singa tersebut. Mengejutkan, singa tadi langsung mati dengan kepala yang hancur. Aku tidak tahu seberapa kuat sebenarnya Darwis ini, kalau pun aku bertarung dengannya, sudah pasti ia dapat mengalahkanku dengan mudah.
Beberapa singa yang masih hidup, langsung mundur perlahan melihat salah satu dari mereka telah terbaring mati di tanah. Darwis maju sambil menebas-nebaskan cambuknya tanpa memperhatikan aku dan Flicker. Kalau memang seperti ini pada akhirnya, kenapa dia mau repot-repot membangunkanku? Bukankah mudah saja membiarkan aku tidur dengan nyaman tanpa tahu situasi.
Aku berpaling ke arah Flicker yang masih bergeming sambil bersandar di batang pohon. Matanya tak berkedip sedikit pun memandangi Darwis yang melawan para singa itu seorang diri.
Seekor singa mengaum, sontak aku berpaling ke belakang dan melihat seekor singa melompat ke arahku. Sigap, diri ini langsung menembakkan pistol pada singa tersebut, darah mulai mengalir dari luka-luka yang ia terima. Setelah beberapa peluru menancap pada tubuhnya, singa itu akhirnya terbaring mati di sebelahku.
__ADS_1
Bagaimana mungkin tidak, singa tadi telah menerima luka yang cukup berat dari kepala hingga tubuh, wajar jika ia mati. Sementara itu, Darwis langsung membunuh beberapa singa yang menerjangnya. Ini aneh, kenapa mereka tak pergi saja, dan mau membuang nyawa begitu saja? Ataukah insting mereka sudah tumpul hingga tak dapat digunakan lagi?
Ah, tidak peduli, yang penting kami selamat. Aku langsung mengisi kembali pistolku dengan peluru yang kusimpan di balik pakaian. Beberapa singa yang ada di hadapan, langsung menjauh melihatku mengisi ulang peluru. Mungkin, insting bertahan hidup mereka telah pulih kembali.
Sejenak, aku menghela napas, lalu berdiri di samping Flicker sambil mengawasi sekitar. Setelah beberapa saat, Darwis kembali dengan cambuk yang dipenuhi oleh darah. Apakah dia menghabisi semua singa itu? Jawabannya tidak pasti, karena ada kemungkinan kalau hewan-hewan itu pergi begitu saja.
“Para singa itu sangat pengecut.” Darwis melipat kembali cambuknya.
“Sudahlah. Yang penting kita baik-baik saja.” Dengan tenang, aku memasukkan kedua pistolku ke balik pakaian.
Kulirik Flicker untuk sesaat, ia tampaknya tenang kembali setelah menghela napas. Kejadian ini sangat mengejutkan, bahkan aku pun menjadi tidak mengantuk lagi karenanya.
“Sebaiknya kita segera pergi dari sini!”
Tanpa mau menunggu persetujuan, Darwis langsung berjalan menuju ke arah utara. Dan dari kejadian ini, aku dapat mengetahui satu hal lagi. Flicker telah berevolusi sama seperti aku dan Darwis, meskipun dia belum dapat menggunakan teknik perubah wujudnya. Yah, itu akan terjadi, hanya perlu menunggu waktu saja.
Tiba-tiba, sebelum aku sempat melangkah, suara raungan langsung menggema di dalam hutan. Sontak kami langsung berbalik, melihat ke arah suara tersebut. Wow, apa itu? Aku langsung melangkah ke belakang ketika melihat seekor singa yang berdiri layaknya manusia. Kakinya telihat berotot seperti manusia, dan jari tangannya memiliki cakar yang cukup panjang. Namun, wajah mahkluk tersebut sama seperti singa pada umumnya, lalu lehernya pun dipenuhi oleh bulu lebat.
Aku langsung mengambil dua buah pistol dengan dua tangan, kemudian Darwis datang sambil mengeluarkan cambuk dan pedangnya. Dia membelakangi kami, seolah mengatakan kalau ia akan menghadapi mahkluk tersebut seorang diri.
“Terserah kau saja.” Aku menurunkan kedua pistol, tetapi tetap waspada pada sekitar.
__ADS_1