The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 3 part 1


__ADS_3

Orang yang mengarahkan pedangnya padaku saat ini adalah salah satu pemuda yang bertarung tadi, yaitu pemuda berambut pendek. Setelah kuperhatikan lagi, kondisinya sekarang tidaklah baik. Di tubuh pemuda ini terdapat luka, mungkin disebabkan oleh pertarunganya beberapa saat lalu. Selain itu, di pipi sebelah kiri, dan di lehernya juga terdapat luka.


Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki kiri ke belakang. Namun, dengan cepat pemuda itu mendekatkan ujung pedangnya ke wajahku.


“Ja ... jangan bergerak!” katanya sambil menyesuaikan tarikan napas.


Pedang yang diarahkan oleh pemuda itu, sedikit bergetar karena tangannya yang gemeteran. Meski demikian, ketegangan masih menyelimutiku.


“Te— Tenanglah kawan!” Aku tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk diucapkan.


“Berikan aku perban dan obat-obatan! Jika tidak, pedang ini akan menancap di wajahmu!”


Sebenarnya aku sangat ingin mengeluh karena tingkah orang bodoh ini. Akan tetapi, keadaan tidak mendukungku.


“Anu, itu ... maaf, tapi aku tidak memilikinya saat ini.”


Pemuda itu semakin mendekatkan ujung pedangnya padaku. “Jangan berbohong! Aku tidak percaya kalau kau tidak memilikinya. Lihat, tanganmu itu diperban!”


“Eh?”


Dalam sekejap aku merasa kalau diriku bodoh. Aku pun menghela napas, mencoba menenangkan pikiran.


Setelah tarikan napas kembali normal, rasa takut pun hilang, aku menegakkan tubuh dan menatap lurus ke arah pemuda itu.


“Ah, baiklah,” kataku sembari mengangkat kedua tangan. “Aku akan mengobati luka-lukamu.”


Jujur saja, aku mengatakan itu bukan karena takut atau semacamnya. Namun, lebih karena merasa kasihan.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Pemuda itu terbatuk.


Pedang yang diarahkan padaku terlepas dari gengaman tangannya dan terjatuh ke tanah. Kedua tangan pemuda tersebut langsung digunakan untuk menutup mulut saat terbatuk.


Setelah berhenti batuk, pemuda itu menurunkan kedua tangannya. Namun, kesialan yang dialaminya sepertinya belum berakhir. Luka besar di dadanya tiba-tiba kembali mengeluarkan darah.


Pemuda tersebut menunduk, kemudian tersungkur ke tanah sambil memegangi luka di dadanya. Dilihat dari reaksinya, aku sangat yakin kalau sekarang dia tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.

__ADS_1


Aku menghela napas, mendekat ke arah pemuda itu. Kuletakkan tangan ke pundak si pemuda, lalu menegakkan tubuhnya untuk membantu dia bersandar di bawah pohon di dekat kami.


Darah yang mengalir dari luka di dada pemuda itu, semakin banyak hingga membasahi pakaian dan kedua tangannya.


Bau amis yang begitu menyengat pun memenuhi indra penciuman. Namun, hal itu tidak kupedulikan saat melihat betapa kesakitannya pemuda di dekatku ini.


Padahal aku sudah bertekad untuk tidak bersimpati kepada siapa pun, tetapi kenapa aku tidak sanggup melihat orang lain menderita?


Kuhela napas, segera pasrah pada perasaan ini. Aku sadar, jauh di dalam lubuk hati seseorang yang sangat kejam sekalipun, pasti masih ada sebuah perasaan iba dan simpati.


“Kau tunggu saja aku di sini!”


Tidak ada jawaban. Pemuda itu hanya menggertakkan gigi dengan tubuh yang gemetar karena terluka.


Baiklah, di mana aku dapat menemukan kotak medis untuk mengobati lukanya?


Selagi bertanya-tanya dalam pikiran, aku berjalan menuju ke sebuah batu besar. Di sana aku melompat dan berdiri di atas batu sambil melirik sekitar. Aku sangat beruntung, bulan masih bersinar begitu terang, sehingga penglihatan menjadi lebih jelas.


Setelah beberapa saat mengawasi sekitar, aku melompat turun dari atas batu, melanjutkan pencarian kotak medis. Berjalan lurus ke depan, aku akhirnya berhenti ketika melihat beberapa rumpun bambu yang menghalangi jalan.


Dalam sekejap, mataku berbinar melihat apa yang ada di sana. Pada awalnya, aku hanya iseng memeriksa, akan tetapi keberuntungan menyertaiku.


Ya, itu memang benar. Aku telah menemukan sekotak alat medis yang dapat digunakan untuk mengobati pemuda tadi. Namun, aku terdiam sejenak sebelum mengambil kotak tersebut. Entah kenapa, aku menjadi heran terhadap diri sendiri.


Kenapa aku mau menolongnya? Bukankah seharusnya kami ini musuh?


Ah, sudahlah. Tidak baik jika aku sendirian menantang semua orang di hutan ini.


Sesegera mungkin aku menenangkan pikiran dan mengambil kotak medis di depanku, lalu mundur perlahan-lahan. Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku berbalik, kembali ke tempat di mana pemuda—yang kutinggalkan tadi—berada.


Sesampainya di sana, aku melihat pemuda tersebut terbaring lemah sambil memegangi lukanya. Melihat itu, aku langsung bergegas mendekat, memeriksa kondisinya. Darah mengalir dari luka di dadanya, kedua tangannya pun sudah penuh oleh darah.


“Gawat. Jika terus begini, dia tidak akan bisa bertahan.” Aku dengan panik membongkar kotak medis yang kubawa.


Kuambil perban berwarna putih, lalu menggeser kedua tangan yang menempel di luka si pemuda, menegakkan tubuhnya, dan mulai membersihkan lukanya itu.

__ADS_1


Setelah bersih, aku mulai memperban lukanya hingga tertutup rapat. Tubuh pemuda tersebut lemas, basah oleh keringat serta darah hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Kubaringkan tubuhnya ke tanah dengan keadaan terlentang, kemudian berdiri, mulai berjalan mencari air untuk membersihkan tubuh.


Ketika mataku melihat sebuah parit di depan sana, langkah kaki langsung kupercepat agar dapat segera sampai. Parit itu jauh lebih kecil, keadaannya juga sangat berbeda dari sungai sebelumnya. Danau ini memiliki sisi yang terbuat dari beton.


Kucondongkan tubuh ke arah parit, bergegas untuk menyelupkan tangan ke dalam air. Namun, sebelum sempat melakukannya, udara tiba-tiba bertambah dingin dan tubuhku menjadi kaku. Aku mundur beberapa langkah, kemudian menengadah.


Bulan yang tadinya bersinar terang, tiba-tiba tertutup oleh awan hitam. Perlahan-lahan, cahaya menghilang sehingga membuat tempatku berada sekarang menjadi gelap.


Angin malam berembus, mengantarkan udara dingin ke sekujur tubuh. Kualihkan pandangan ke arah angin berembus. Beberapa saat kemudian, kepulan asap tebal berwarna putih merambat perlahan di antara pepohonan.


“Apa itu?” Aku lantas mendekati asap tersebut.


Kujulurkan tangan agar bisa menyentuh kepulan itu. Dalam sekejap, tanganku gemetar dan segera kutarik keluar.


“Astaga, ini sangat dingin,” kataku sembari menjauh dari kupalan asap putih tersebut.


Kumpalan asap itu merambat dengan cepat hingga berada tepat di depanku. Tanpa sadar, aku menghisapnya. Aroma yang begitu segar memenuhi hidung, tetapi seketika itu pula kepala ini menjadi pusing.


Sesegera mungkin aku menutup hidung dengan kedua tangan, berbalik dan menjauh. Meskipun begitu, posisiku masih belum aman. Asap putih itu perlahan-lahan mendekat.


Tubuhku gemetar ketika diselimuti oleh udara yang begitu dingin. Kupercepat langkah sambil terus menutup hidung. Dada ini begitu sesak, keringat mulai bercucuran, dan napas begitu tak karuan.


“Argh ....” Mendadak perutku terasa nyeri, kaki gemetar dan keseimbangan tubuh mulai goyah.


Kakiku tergelincir hingga badan ini jatuh terjerembab ke tanah, rasa nyeri langsung menyebar ke sekujur tubuh. Kupaksa kedua tangan untuk merayap ke tanah dengan perlahan. Namun, aku terlambat, karena di ujung kaki, kini terasa sangat dingin.


Udara dingin merambat ke sekujur raga perlahan-lahan. Tak lama kemudian, kumpalan asap putih menyelimuti diriku.


Napas ini kutahan agar asap itu tidak terhirup. Akan tetapi, kepala menjadi pusing karena kehabisan oksigen, dan terpaksa aku harus bernapas.


Segarnya aroma asap segera merasuk ke dalam tubuh. Sekali lagi kepalaku terasa pusing, dan pandangan bergoyang.


Perlahan-lahan, aku menjadi lelah dan mengantuk. Tapi, sebisa mungkin aku membuka mata agar tidak pingsan. Beberapa saat kemudian, rasa lelah mengalahkanku, dan akhirnya mata ini tertutup rapat serta tak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


__ADS_2