
Seperti biasanya, kami memulai kembali perjalanan. Tadi malam kami sempat menemukan seekor bhabi hutan untuk menjadi santapan malam. Dan tentu saja masih ada yang tersisa untuk sarapan di pagi hari. Seandainya kehidupan di sini damai, aku yakin kalau akan ada banyak orang yang betah bahkan tak mau pergi dari hutan ini. Namun, entahlah, manusia mempunyai sifat yang berbeda satu sama lain.
“Apa kau yakin kita akan segera sampai di wilayah utara yang misterius itu?” tanya Flicker yang ada di sebelah kiriku, kepada Darwis yang menuntun di depan.
“Aku bisa yakin kalau prediksiku itu benar. Lagipula, insting yang kumiliki telah terasah dengan baik selama berada di sini.”
Aku ingin tahu apa hubungannya jarak dengan insting yang dia asah. Mungkinkah dia hendak mengatakan kalau jarak kami dengan wilayah utara sudah dekat hanya sekedar firasat? Ya, tidak masalah sih, karena firasatku juga sering mengatakan hal yang benar. Jadi, tak masalah melakukan pertaruhan, hanya keberuntungan yang menentukan hasil.
Semakin jauh berjalan di dalam hutan, kabut tebal tiba-tiba melingkupi sekitar. Tanah di sini lebih lembab dari tempat yang sebelumnya, meskipun tidak aneh, sebab tadi malam hujan begitu lebat. Namun, karena berada di bawah pohon yang begitu rindang, aku dapat tidur pulas. Meski sedikit basah karena terkena percikan hujan.
Mendadak, firasatku merasa ada yang aneh di sini. Aku menghentikan langkah, melihat ke sekitar untuk mencari tahu keanehan itu. Tiba-tiba, sesuatu yang berlendir menyergapku dari belakang. Lendir yang licin pun langsung membasahi sekujur tubuh.
“Tolong!”
Aku meronta, kemudian Darwis datang dengan pedangnya, lalu melepaskanku dari sergapan. Tarikan napasku begitu terengah seperti lekas berlari. Apa yang menyergapku adalah tumbuhan aneh yang sangat besar.
“Tumbuhan macam apa ini?” Aku menggerutu sambil memebersihkan lendir licin yang menjijikan dari tubuh.
Darwis menerawang sekitar. “Ini adalah tumbuhan pemakan serangga yang telah berevolusi menjadi lebih besar dan kuat.”
“Jangan bilang kalau bau aneh yang ada di sini karena aroma busuk mereka.”
“Sulit untuk mengakuinya, tetapi itu adalah kebenaran.”
Belum sempat aku menjawab, teriakan Flicker tiba-tiba menyela. “Hei! Di sini!”
__ADS_1
Sontak aku dan Darwis berlari ke arahnya. Sekali lagi aku membelalakkan mata, kaki tanpa sadar telah mundur beberapa langkah. Tubuhku langsung mematung kaku, melihat lahan luas yang dipenuhi oleh tumbuhan karnivora berukuran besar.
Aku menelan ludah, tak mampu berkata-kata melihat situasi mengerikan ini. Jika salah bergerak sedikit saja, mungkin kami bertiga akan dilahap habis oleh tumbuh-tumbuhan tersebut. “Mustahil untuk melewatinya tanpa berubah wujud.” Sepertinya itu adalah satu-satunya cara sekarang.
“Tidak! Kau salah.” Dengan tenang dan penuh percaya diri, Darwis menarik keluar pedangnya. “Ada satu cara lagi untuk keluar dari sini, yaitu menebas habis mereka.”
“Apa yang ingin kau lakukan?” Sontak aku melontarkan pertanyaan itu.
“Jangan bilang kalau ada rahasia lain dari pedangmu itu,” sahut Flicker.
Darwis menghela napas berat. “Kalau kalian dapat dengan mudah berubah, maka keadaan mungkin bisa lebih aman terkendali. Tapi, untuk melakukan perubahan wujud itu tidaklah mudah, makanya aku memilih cara ini karena sangat efisien dan tidak memakan banyak waktu serta tenaga.”
Seperti perkiraanku sebelumnya, pedang yang ia pakai memiliki suatu rahasia tertentu. Dan sekarang adalah waktu aku melihat dengan jelas rahasia apa yang tersimpan di sana. Mungkin saja perkiraanku tentang sihir dapat aku lihat. Selain itu, keabnormalan kekuatannya yang bisa menghancurkan kepala singa dengan cambuk masih belum terungkap kebenarannya.
Dalam diam, Darwis menghela napas panjang sambil menatap lurus ke depan, di mana tanaman karnivora berada. Apakah pedangnya itu dapat memunculkan api? Atau mungkin yang lain. Mari kita saksikan.
“Sebenarnya, siapa dia ini?” kata Flicker menanggapi kejadian aneh ini.
“Manusia dengan penuh rahasia di dalam dirinya,” aku menjawab dengan tak acuh.
Darwis mengangkat pedangnya ke atas, lalu memasang kuda-kuda untuk menebaskan pedang. Api yang ada pada pedangnya semakin membara seperti disulut oleh sesuatu. Suhu udara kian panas, membuat keringat keluar dari pori-pori tubuh, membasuh habis badan.
Tanpa sebuah aba-aba, Darwis menebaskan pedangnya ke depan secara vertikal, dari atas ke bawah. Gelombang api yang ganas langsung membakar habis semua yang ada di hadapan Darwis saat ini. Jalan lebar akhirnya terbuka karena tumbuhan karnivora telah terbakar habis oleh api yang dihasilkan oleh pedang Darwis.
“Di-dia sungguh manusia, kan?” Dengan tangan yang gemetar, Flicker mununjuk Darwis.
__ADS_1
Aku masih melongo, tak percaya semua ini benar-benar terjadi. Namun, sebenarnya tidak aneh lagi, berhubung kami berada di tempat antah berantah yang sangat aneh. Saking anehnya, segala hal 'ada' di sini.
“Sepertinya, kalian menganggap ini mimpi.” Tiba-tiba Darwis angkat bicara sambil menyarungkan kembali pedangnya. “Namun, apa yang kalian lihat itu nyata. Di hutan ini terdapat sebuah energi misterius, atau biasanya disebut sebagai energi jiwa.”
“Itu artinya ....” Aku jadi teringat pada sesuatu.
“Ya, semuanya saling berhubungan karena energi ini.”
Aku tak ingin percaya, tetapi semuanya telah jelas sekarang. Kenapa hutan ini dapat terbentuk, dan yang menyebabkan pertempuran Klan telah sangat jelas alasannya. Kendatipun demikian, aku harus tetap tenang agar tetap bertahan hingga akhir.
“Kita sudah tak punya waktu lagi, kan?” Sambil menghela napas aku berdiri. “Ayo selesaikan semua masalah ini sesegera mungkin.”
Darwis memalingkan pandangannya padaku. Matanya menatap dengan tajam mataku yang kini dipenuhi oleh semangat.
“Tampaknya kau menjadi lebih kuat dan berambisi sekarang.” Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Darwis. “Jika itu maumu, maka mari kita selesaikan dengan cepat, kemudian tidur pulas.”
“Mungkin ketika kau bangun sehabis tidur pulas, dirimu telah sampai ke alam lain dengan tenang.”
“Hehe, itu lebih baik daripada harus menetap di hutan aneh ini selamanya.”
Langsung saja aku melangkahkan kaki ke depan, mengikuti Darwis yang sudah berjalan sejak tadi. Mungkin ini akan menjadi perjalanan paling berbahaya selama aku tinggal di sini. Namun, sekarang semua itu sudah bukan masalah lagi bagiku. Karena jalan menuju akhir dari tujuanku semakin dekat.
Balas dendam? Sudah pasti akan kuselesaikan bersamaan dengan akhir hutan ini. Haih, aku menjadi semakin bersemangat menuju akhir dari hutan sekaligus tujuanku. Akan tetapi, setelah semua itu, apa yang ada kulakukan? Ah, pikirkan saja hal tersebut setelah masalah di sini selesai.
“Menurutmu, berapa lama semua ini akan berakhir, Leon?” Sebuah pertanyaan mendadak, dilontarkan oleh Flicker yang ada di sebelah kiriku.
__ADS_1
“Entahlah ....” Tatapan mataku masih lurus ke depan. “Tapi tak lama lagi akan terlihat.”