The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 6 part 3


__ADS_3

Suara ledakan kian menggema di dalam telinga seorang pemuda yang tengah berlarian dengan panik menuju sebuah lapangan luas. Dia adalah Flicker yang berhasil keluar hidup-hidup dari banyaknya serangan beberapa saat lalu. Sekujur tubuhnya dilapisi oleh debu dan kotoran, membuatnya tampak lusuh dan kacau.


Napasnya terengah sebab memaksakan diri untuk terus berlari, lelah tubuh ia tahan agar dapat selamat dari serangkaian serangan yang berasal entah dari mana. Mengandalkan sisa-sisa tenaga, pemuda itu masuk ke dalam hutan demi menghindar dari maut.


“Sial! Sepertinya ada yang lebih dulu sampai di sini daripada kami. Kami sangat lengah karena keadaan sunyi tadi.”


Kaki pemuda tersebut sedikit pincang karena terkena beberapa batu. Namun, dia masih tetap memaksakan diri untuk berlari menyelamatkan nyawa. Andai dulu kejadian seperti ini dapat ditebak, mungkin sekarang mereka sudah lolos sejak awal.


Di tempat lain, Darwis juga susah payah mengindari reruntuhan dengan berlari menuju ke tanah lapang terdekat. Ia tahu kalau ini sangat beresiko, tetapi hanya itu yang menjadi satu-satunya pilihan agar dapat selamat. Beruntung, di ujung lapangan sudah daerah perbatasan kota dengan hutan, jadi persentase keselamatan Darwis meningkat.


“Dari mana datangnya serangan mengerikan ini? Mungkinkah Klan Singa dan Klan Naga telah memulai pertempuran? Tapi ini masih sangat awal.”


Klan Naga dan Klan Singa adalah dua Klan yang sangat kuat di hutan ini. Jadi, sangat wajar kalau Darwis curiga pada kedua Klan tersebut. Bahkan, menurut rumor yang beredar, kekuatan masing-masing pemimpin dari dua Klan itu mampu menghancurkan sebuah gunung seorang diri. Dan mungkin saja, guncangan dan retakan tanah ini adalah ulah mereka.


Mendadak, di sebelah kanan Darwis, sebuah bola energi meledak, mengakibatkan pemuda itu berguling ke samping kiri. Debu berterbangan, sosok seseorang tampak dari dalam kumpulan debu itu, berjalan menuju ke arah Darwis.


Segera Darwis bangun dan memandangi sosok itu dengan waspada, meskipun napasnya sangat berat setelah berlarian. Sosok tersebut menghentikan langkah, ia masih terdiam menatap Darwis yang berpenampilan kumuh.

__ADS_1


“Sepertinya kau cukup tangguh,” ucap sosok tersebut.


Angin berhembus, membuat kumpulan debu tadi berterbangan searah mata angin, dan menghilang. Di sana terlihat seorang pemuda berpakaian serba hitam, tengah tersenyum melihat Darwis yang sangat lelah. Darwis mengenal siapa orang yang ada di hadapannya, meskipun dia sangat tidak ingin bertemu untuk kesekian kali dengan orang itu.


“Andrew, sudah kuduga kau yang membuat ini terjadi.” Darwis begitu geram, sampai tak mampu menahan amarahnya yang memuncak. “Apakah kau benar-benar ingin membuat semua ini?”


“Hahaha,” Andrew tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Darwis. “Kau pikir ada cara lain untuk keluar dari hutan ini? Tidak, kan?”


Beberapa saat kemudian, petir kembali menyambar. Sudah sangat jelas kalau itu bukannya perbuatan Andrew. Darwis menjadi bingung melihat situasi ini, karena Andrew terlihat benar-benar tenang dan juga bahagia, seperti tujuannya telah terwujud. Namun, semuanya sangat tidak masuk akal. Dalam situasi perang antar Klan, seharusnya Andrew tak lengah sedikit pun hanya untuk bermain-main.


Andrew tahu apa yang hendak dilakukan Darwis, tetapi ia masih tenang memperhatikan dalam diam. Pikirannya kemudian terarah pada apa yang tengah terjadi, dia tidak pernah tahu kalau di dalam kelompoknya ada yang mampu menyulut api peperangan antara Klan Naga dengan Klan Singa. Awalnya dia mengira kalau ini adalah ulah Zanik. Namun, itu salah, karena Zanik tak pernah berniat menyulut perang ini.


Untuk menyelidiki penyebab dari pertarungan ini akan sangat lama, maka dari itu, Andrew memutuskan untuk segera bertindak dan menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi, pandangannya tiba-tiba terarah pada Darwis yang tengah berlari, dan itu entah bagaimana membuat dia tertarik. Karena pada dasarnya Andrew tidak begitu peduli pada rekan atau Klan-nya, yang ia mau hanya keluar dengan selamat dari hutan misterius tempatnya kini berada.


“Jika kau ingin menyerang.” Sebuah bola cahaya kecil seukuran klereng, dilemparkan Andrew ke arah Darwis. “Sebaiknya urungkan saja niatmu itu.”


Meskipun diserang secara mendadak, Darwis dapat menangkis bola cahaya kecil dari Andrew dengan cambuk dan repleksnya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Darwis memutar-mutarkan cambuknya ke atas, lalu menyalurkan energi jiwa yang telah terkumpul ke sekujur tubuh hingga ke cambuknya.

__ADS_1


Orang ini tidak bisa diremehkan, pikir Darwis. Serangannya beberapa saat lalu sangat cepat dan kuat, jika saja aku tidak kalah cepat, mungkin aku telah tamat sekarang. Kini Darwis menjadi lebih waspada daripada sebelumnya, ia tak mau lengah sedikit pun lagi.


Andrew memalingkan pandangan ke arah lain, dengan segera Darwis memanfaatkan kesempatan ini untuk melesat dan melancarkan serangan. Namun, seketika setelah Andrew menjentikkan jari, begitu banyak bola cahaya melayang di udara, kemudian melesat ke arah Darwis. Dengan sangat panik, pemuda itu mengayunkan cambuknya ke sana-sini agar dapat menangkis semua serangan Andrew.


Ledakan besar lagi-lagi menggema, fokus Andrew kini teralihkan ke tempat lain. Meskipun dia sangat tak mau tahu akan keadaan orang lain, tetapi ia masih tetap memaksakan diri untuk menolong mereka yang dibutuhkannya. Sebelum pergi, pemuda tersebut lagi-lagi memberi Darwis kejutan.


Sementara Darwis tengah sibuk menangkis begitu banyak serangan yang tak kunjung usai, Andrew mundur beberapa langkah, lalu menjentikkan jari. “Nikmatilah ini.” Sebuah bola cahaya besar, datang dari langit menuju ke arah Darwis.


Mengabaikan apa yang selanjutnya akan terjadi, Andrew berbalik dan berlari menuju sumber kekacauan. Dia sangat yakin kalau serangan bola cahayanya dapat membakar Darwis dengan sempurna tanpa harus repot-repot menunggu.


Darwis menjadi panik, serangan bola cahaya kecil telah sedikit berkurang, tetapi sebuah masalah baru kembali datang. Bola cahaya yang teramat besar itu kian dekat dengannya. “Andrew sialan.” Darwis memaksa keluar seluruh energi jiwa yang terkandung dalam kristal di dadanya.


Kobaran api memenuhi tubuh Darwis, cambuk di tangan ia buang dan diganti dengan pedang. Dalam sekejap, api langsung menyelimuti pedang itu, kemudian ia mengangkatnya ke atas, sembari terus menguras semua energi yang tersimpan dalam kristalnya.


Ketika bola cahaya besar itu mendekat, Darwis langsung menebaskan pedangnya secara vertikal. Kobaran api setengah lingkaran langsung terbentuk di depan pemuda itu. Api yang tadinya menyelimuti tubuhnya, langsung menghilang berasamaan dengan serangan yang ia lancarkan.


Napasnya terengah, tatkala ledakan akibat dua benturan serangan langsung terjadi. Darwis pikir ini adalah akhir bagi kehidupannya yang suram, dia menyesal karena belum juga dapat keluar dari hutan misterius ini walau telah melewati banyak hal. Bahkan, sebelumnya dia pernah dalam keadaan hidup dan mati ketika bertikai dengan Klan Naga tanpa adanya Andrew. Lalu sekarang, hanya dengan Andrew seorang, dia kalah telak.

__ADS_1


__ADS_2