
Hari yang teramat dingin di waktu subuh, itulah saat kami berdiam sejenak di bawah pohon untuk menunggu Flicker sadar. Kata Darwis, keadaan Flicker tidaklah buruk, ia hanya perlu isthirahat sebentar agar dapat memulihkan tenaganya yang hilang. Mungkin kasusnya sama sepertiku dulu, ketika pertama kali menggunakan perubahan wujud.
Ah, terserahlah. Aku berdiri, meregangkan otot tubuh dan melirik ke sana kemari. Tidak ada ancaman di sekitar, jadi kami bisa beristhirahat dengan tenang di sini tanpa ada satu pun pengganggu.
Usai melakukan peregangan, aku kembali duduk bersandar di batang pohon. Kaki kutekuk, dan pandangan masih waspada karena tidak dapat tidur lagi. Sangat merepotkan, setelah menghadapi bahaya, rasa kantukku jadi menghilang tanpa sisa. Akan tetapi, tetap saja sekujur tubuh sangat kelelahan.
***
Matahari mulai terbit dari ufuk timur, memancarkan cahayanya yang hangat ke tubuh kami. Aku bangkit berdiri, menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kesegaran udara di pagi hari begitu terasa, walaupun sebenarnya tubuhku tidak benar-benar bugar sekarang.
Ketika melirik ke samping kanan, aku dapat melihat sosok Flicker yang tengah duduk dengan kaki ditekuk, dan menerawang ke sekitar. Langsung kudekati pemuda itu, kemudian duduk di sebelahnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
Flicker hanya diam, tak mau menjawab pertanyaan sederhana dariku. Apakah dia masih memikirkan tentang apa yang terjadi tadi malam?
Sebelum aku sempat berkata, Flicker terlebih dulu menyela, “Apakah kita sudah aman?”
“Ya, seharusnya begitu.”
Tiba-tiba, Darwis menghampiri kami dari belakang. “Ayo pergi!” ajaknya.
Aku dan Flicker langsung berdiri, lalu berjalan mengekor di belakang Darwis tanpa memprotes. Sebenarnya, aku sangat ingin tahu apa yang ada di wilayah utara. Apakah itu daerah perbukitan, atau pesisir pantai? Entahlah, tidak ada yang tahu. Namun, yang sudah pasti, daerah utara adalah wilayah yang aman, karena sejauh ini, bahaya selalu datang dari selatan.
“Sebenarnya, apa yang terjadi padaku semalam?” Flicker dengan ragu melontarkan pertanyaan tersebut. Matanya masih terus melihat ke bawah.
Aku sedikit tersenyum ke arahnya. “Tidakkah kau ingat, kalau kau adalah orang yang telah menyelamatkanku?”
“Tidak ....” Flicker memandangi kedua tangannya. “Yang kuingat hanyalah amarahku terhadap para singa itu ... tidak ada yang lain.”
__ADS_1
Kasus yang sama sepertiku saat itu. Apakah semua orang yang berevolusi pertama kali, selalu mengalami hal yang serupa. Mungkin ini adalah akibat dari terbentuknya suatu sel baru. Bisa saja seperti itu, tetapi entahlah. Aku hanya bisa menduga tanpa tahu cara membuktikannya.
Darwis mendadak berhenti, ia menerawang ke sekitar seperti sedang mencari sesuatu. Aku pun ikut waspada, seandainya ada bahaya yang bersembunyi dan bersiap untuk menyergap. Besar kemungkinan kalau bahaya memang ada, tetapi yang menjadi masalah, kami tak tahu di mana bahaya tersebut.
Perlahan, Darwis kembali berjalan, aku menghela napas lega karena tidak ada yang terjadi. Sementara itu, Flicker sedari tadi hanya diam, tidak berekasi sedikit pun akan keadaan kami saat ini.
“Ayo lanjutkan perjalan.” Aku langsung melangkah ke depan setelah mengajak Flicker. Pemuda itu pun berjalan bersebelahan denganku.
Langkah demi langkah kami tempuh. Di depan terdapat sebuah sungai yang cukup lebar, tetapi terdapat banyak batu untuk berpijak agar dapat sampai ke seberang. Kami pun bergantian menyebrangi sungai tanpa ada masalah, hingga akhirnya sampai di tepian.
Terik matahari begitu menyengat, tubuh kami lelah karena terus berjalan. Kemudian kami memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang rindang. Tampaknya, tidak ada bahaya di sekitar, sehingga kami bertiga dapat beristhirahat dengan tenang.
“Sepertinya, tak lama lagi kita akan sampai di tempat tujuan,” Darwis bergumam pelan, menatap langit biru tanpa awan, sambil menyandarkan tubuh pada sebatang pohon.
“Mungkin ....” Aku membalas gumamannya.
“Semuanya berharap begitu.” Aku berdiri, lalu berjalan mencari buah-buahan di sekitar kami.
Lumayan, setelah berkeliling selama beberapa waktu, aku dapat menemukan pohon apel yang berbuah lebat. Kupetik beberapa buah, kemudian membawanya kembali ke tempat Flicker dan Darwis berada.
“Tangkap!” Kulemparkan sebuah apel kepada Darwis. Dengan cepat, Darwis menangkap apel tersebut, lalu mulai memakannya tanpa berkata apa pun.
Setidaknya, berterimakasihlah padaku.
Aku duduk di sebelah Flicker, dan memberikan beberapa apel kepada pemuda itu. Dia mengambilnya sambil berterimakasih, tidak seperti Darwis yang hanya terus diam walau sudah diberikan makanan dengan gratis.
“Hanya beberapa buah apel, sepertinya tidak akan cukup,” kataku, sembari melambung-lambungkan beberapa apel yang ada di tangan.
“Memang benar,” sahut Darwis, “Tapi kalau kita adalah manusia normal pada umumnya.”
__ADS_1
Baiklah, aku paham. Kita memang kaum manusia yang tidak lagi menjadi manusia, makanya disebut spesies langka. Namun, aku tidak yakin kalau manusia yang telah berevolusi itu langka atau jarang ditemui. Terlebih, masih ada Andrew yang belum menunjukkan kemampuan sesungguhnya.
“Saatnya kita melanjutkan perjalanan.” Darwis langsung berdiri, diikuti olehku dan juga Flicker.
Kami akhirnya melanjutkan perjalanan panjang dengan melewati semak-semak, jalan yang dipenuhi penghalang, dan juga lumpur. Tidak aneh, karena cuaca sedang musim penghujan. Bukan masalah sih, asalkan jangan badai salju saja.
Menerobos tumpukan bambu yang patah dan menghalangi jalan, kami bertiga sampai di sebuah lapangan yang sangat luas. Mengingat tempat ini adalah sebuah hutan misterius yang begitu mengerikan, lapangan dengan rumput pendek ini pasti menjadi lahan untuk makan oleh beberapa hewan seperti kambing maupun sapi. Dan tepat seperti perkiraanku, di sisi lain lapangan, terdapat beberapa ekor sapi yang tengah berbaring di bawah pohon agar dapat berteduh.
Di lapangan, cuaca memang sangat panas, jadi pantas saja mereka berteduh. Namun, terkadang sapi-sapi ini akan mencari tempat teduh, tidak jauh dari sungai, danau, ataupun tempat lain yang mempunyai air. Yang aku tahu seperti itu. Ternyata benar kata orang, ilmu yang kita terima akan terus melekat, sampai akhir hayat.
Aku menghela napas berat, tepat seperti perkiraanku, ketika kami berjalan memutari lapangan, terdapat sebuah parit yang berisi air. Dan sepertinya, air yang ada di sana juga bersih.
“Kenapa kita tidak langsung berjalan memotong di tengah lapangan saja?” tanya Flicker, bingung karena Darwis malah menuntun kami memutari lapangan untuk mencapai sisi lain lapangan.
Tanpa berpaling ke belakang, Darwis menjawab, “Akan berbahaya jika kita berjalan di tengah-tengah lapangan saat ini.” Dia menjeda kalimatnya. “Kau tahu kenapa?”
Serentak, aku dan Flicker menggelengkan kepala. “Tidak tahu,” jawab Flicker.
“Ketika melihat musuh dari sebuah tempat yang jauh, dan musuhmu itu sangat lengah, apa yang akan kau lakukan?”
“Tentu saja menghabisinya dengan satu serangan.”
“Itulah yang akan terjadi jika kita berjalan memotong melewati lapangan.”
“Oh, aku mengerti.”
Kesimpulannya, berjalan di tengah lapangan hanya akan meningkatkan risiko kami untuk terbunuh. Bisa saja seorang penembak handal membunuh kami bertiga dalam hitungan detik.
***
__ADS_1