
“Bagaimana dengan tugasmu? Apakah sudah selesai?” tanya pemuda yang ada di hadapan Lize.
Pemuda tinggi dengan rambut pendek itu, tidak lain adalah Creeps, seorang pemuda yang menjadi teman Lize selama ini. Sebenarnya, Lize adalah sosok seorang gadis yang sangat misterius. Dia dapat dengan mudah berbohong dengan aktingnya yang handal. Tidak ada yang tahu dia berada di pihak siapa, tetapi, Creeps selalu percaya bahwa Lize akan menentukan pilihan yang tepat.
“Oh, hei!” sapa Lize, sambil tersenyum hangat kepada Creeps.
Dengan sangat santai, Creeps duduk di sebelah kanan Lize. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Hahaha, kau memang orang yang terlalu serius dan tidak sabaran.”
“Ya, itulah aku.” Tanpa mau berdebat, Creeps mengakuinya.
“Hanya bercanda.”
“Jadi?”
__ADS_1
Sangat terlihat kalau Creeps sedang tidak ingin bercanda. Melihat situasi ini, Lize menjadi sedikit terganggu, karena belum pernah ia melihat Creeps sangat tidak ingin bercanda, kecuali ada sesuatu yang terjadi.
“Apa ada sesuatu yang terjadi ketika aku pergi?”
“Sudah, jawab saja pertanyaanku!” Creeps membentak Lize dengan kasar. Tindakannya ini sungguh tidak seperti dirinya yang biasa.
“Kenapa denganmu?” Lize membalas sambil menaikan nada suaranya.
“Baiklah, aku tidak peduli jika kau tak mau menjawab.” Dengan sangat kesal, Creeps bangkit dari duduknya, lalu beranjak pergi.
Creeps melepaskan tangan Lize dari bahunya, dan kembali berbalik. “Bukan urusanmu!”
Sejenak, Lize terdiam, tak bergerak sedikit pun, karena tindakan kasar dari Creeps. Dia mulai paham, kenapa Creeps begitu sensitif dan seperti hendak melampiaskan rasa marahnya. Hanya ada satu alasan kenapa dia seperti ini, pikir Lize. Ia kemudian menggenggam erat kedua tangan, lalu berteriak kepada Creeps. “Hei, kau jangan seperti ini. Percayalah, semuanya akan berakhir.”
“Ya, semuanya akan berakhir dengan kehancuran hatiku,” kata Creeps yang kemudian berbalik dan menatap Lize dengan tajam. “Aku bukanlah kau yang hanya sebatang kara dan tanpa ingatan. Kau tidak akan tahu, bagaimana rasanya tiba-tiba terbangun di hutan ini dengan memeluk erat tubuh seorang adik. Namun, hanya dia yang kuingat, tidak ada yang lainnya.”
__ADS_1
“Hehehe, sebatang kara itu bebas, ya?” Lize tertunduk, wajahnya menggelap. “Jika kau pikir begitu, silakan kau pergi dan jangan pernah temui aku lagi.” Dia lantas berbalik dan pergi begitu saja.
“He-Hei!” Dengan tangan terulur hendak meraih punggung Lize, Creeps hanya terdiam mematung dengan semua perasaan bersalahnya. Dia ingin segera menggapai gadis yang beranjak pergi itu, tetapi kakinya seperti tak mau bergerak. Pemuda tersebut akhirnya mengurungkan niatnya sambil mengepalkan kedua tangan, lalu berbalik dan pergi. “Terserahlah.”
Kedua remaja itu berpisah dengan perasaan kesal, terbersit sebuah rasa bersalah, tetapi segera diabaikan. Di jalan setapak yang bersebelahan dengan barisan pepohonan, Lize menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak. Kenapa aku malah terbawa emosi? Ini bukanlah waktunya untuk bertengkar. Tapi, bagaimana caranya memperbaiki semua ini?
Gadis itu berbalik, ia bertekad untuk segera menemui pemuda yang bersamanya tadi. Namun, segera tekadnya itu pupus, ketika menyadari perbuatannya beberapa hari yang lalu. Dia merasa sedikit rasa bersalah karena telah menghianati Leon dan teman-temannya, tetapi masa lalu telah terjadi. Tidak ada yang dapat memutar waktu agar dapat kembali pada masa itu.
Meskipun di luar ia tampak tegar dan tak mau tahu, sebenarnya hatinya begitu sakit ketika melihat orang-orang yang telah menganggap dirinya teman, malah mati karena keegoisannya. “Sia-sia,” gumam Lize sambil menundukkan kepala. Tangannya mengepal erat, dan kedua lengannya bergetar. “Pada akhirnya, hanya ada satu Klan yang selamat. Sedangkan Klan lainnya akan tamat, dan mereka bukan berasal dari Klan Naga, tetapi Klan Ular, yang memang harus kami kalahkan.”
Seketika ia menjadi semakin ragu untuk melangkahkan kakinya. Tapi, apakah hanya keselamatan diri dan agar dapat keluar dari hutan ini yang sangat penting dan berharga? Sebuah komunitas baru serta teman antar Klan itu tidak diperbolehkan. Namun, kenapa harus begitu?
Berbagai pertanyaan memenuhi seisi kepala Lize dalam waktu singkat, kebingungan yang dialaminya belum juga usai. Angin berhembus, membuat rambut gadis itu berkibar seperti sebuah bendera. Kepalanya kemudian terangkat, wajahnya sudah tidak masam seperti sebelumnya. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. “Baiklah ... sudah saatnya untuk melupakan semua kenangan itu. Biarkan hilang dibawa oleh angin.”
Setelah mengalami dilema selama beberapa saat, Lize akhirnya memutuskan untuk berlari mengejar Creeps. Dia melirik ke sekitar, mencari-cari keberadaan pemuda berambut hitam pendek tersebut. Namun, belum juga ia dapat melihat di mana orang yang ia cari itu, berada.
__ADS_1