
Pagi hari tampak cerah, matahari mengintip dari ufuk timur hendak memancarkan cahaya hangat ke permukaan bumi. Angin bertiupan, tampak di balik jendela seorang pemuda mengintip keluar.
Matanya menatap tajam ke depan, pemandangan dari perumahan sederhana dapat terlihat olehnya. Rambut hitam pendeknya tidak bergoyang, walaupun angin berembus sedikit kencang.
Bagai sedang menjernihkan pikiran, ia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut. Kedua matanya terpejam, pikirannya seketika kosong.
Tak mau berlama-lama, pemuda itu berjalan menuju pintu keluar. Entah kenapa hari ini ia menjadi lebih tenang dari biasanya.
Leon! Terdengar suara seorang gadis memanggil namanya.
Ada apa? Leon bersikap tak acuh saat menanggapi Ellise yang ada di dalam kepalanya.
Aku tidak tahu apa rencanamu kedepannya, tapi menimbang dari percakapanmu dengan Vord kemarin, aku menarik kesimpulan ada beberapa hak istimewa untuk Pelahap Energi tingkat 1.
Lalu? Masih mengabaikan, Leon membuka pintu lalu menyusuri lorong menuju ruangan untuk sarapan.
Tidakkah kau tertarik dengan hak istimewa itu? Bisa saja kau mendapatkan informasi rahasia tentang markas para Mahkluk Fantasi itu.
Ellise jelas ingin membuat Leon mau menjadi seorang Pelahap Energi tingkat 1, tetapi pemuda itu sungguh tidak peduli.
Ya, kau benar. Mungkin aku bisa mendapatkan beberapa informasi penting. Tapi, identitasku akan terekspos sampai ke penjuru dunia. Aku sungguh tak ingin terkenal.
Orang aneh. Apa salahnya kalau kau terkenal? Apakah itu sangat mengganggu?
Ya, sangat-sangat mengganggu. Aku berencana setelah ini untuk hidup damai menikmati masa tua. Kalau aku terkenal, kurasa semua rencanaku akan berubah.
Bukannya kau bebas untuk memilih pensiun atau tidak?
Kau memang benar, tapi tujuanku hanyalah menyelamatkan orang-orang. Aku tidak peduli dengan menjadi terkenal atau tidak, selagi aku melakukan keinginanku untuk menebus kesalahan, maka itu sudah cukup.
Baiklah kalau begitu. Aku tak mau memaksamu.
Percakapan mereka berakhir, kini Leon sudah sampai di tempat tujuan. Di meja dekat jendela, tampak Sun tengah memakan sesuatu dari sebuah mangkok. Leon pun segera mendekati pemuda tersebut lalu duduk di kursi kosong tepat di seberang Sun.
"Di sini ramai juga ternyata," ucap Leon memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Biasanya memang begitu. Tapi ini belum semuanya, itulah mengapa kau bisa duduk di sini sekarang." Sun tak acuh menjawab pertanyaan Leon.
Leon memanggil pelayan, memesan makanan kemudian kembali menatap Sun. "Jadi, ke mana kita akan pergi hari ini?"
"Kita?"
"Ya, kita. Setelah ini aku akan meminta izin dari Vord. Kurasa dia akan dengan senang hati memberikan aku izin." Tentu Leon percaya diri, sebab Vord sedikit penasaran dengannya. Ia hendak memanfaatkan itu untuk mengendalikan Vord.
Waktu berlalu dengan cepat, sinar matahari yang hangat menyelimuti tubuh Leon dan Sun. Mereka segera pergi dari sini setelah makan, karena tidak mau mengganggu semisal ada orang lain yang belum sarapan.
Di percabangan, Leon dan Sun berpisah. Tampaknya Sun tidak bisa menemani Leon ke ruangan Vord karena sesuatu hal.
Leon membuka pintu, di atas singasana tak ada siapa pun. "Hm ..., ke mana orang itu pergi?" Tanpa ragu sedikit pun, Leon mulai mencari di setiap sudut ruangan.
Tiba-tiba, dari belakang singasana, Vord berjalan keluar dan memandangi Leon dengan curiga. "Ternyata ada seorang pencuri di sini," ucapnya, sengaja ingin memancing emosi Leon.
Tak terlalu peduli pada ejekan Vord, Leon melirik Vord untuk sesaat lalu menghela napas. "Hei, Vord! Bisakah kau memberikanku izin untuk ikut bersama dengan Sun memburu Mahkluk Fantasi?" Sungguh tanpa basa-basi terlebih dahulu, Leon seketika memulai topik pembicaraan.
"Kenapa kau harus meminta izinku? Bukankah keputusan tergantung padamu?" Perlahan Vord duduk di atas singasananya.
"OOh ...." Dalam hal ini, Vord tidak menunjukkan ketertarikan khusus. "Baiklah, kau ikut saja dengannya."
"Apakah ada surat perintahnya?"
"Haah ...." Vord menghela napas berat. "Terlalu merepotkan jika harus memakai surat keterangan. Kau bebas melakukan apa pun selama tidak melanggar aturan yang ada."
"Baiklah, aku mengerti." Leon pun segera pergi keluar untuk menemui Sun.
Berjalan di lorong berwarna putih, Leon sampai di sebuah ruangan kosong yang luas. Ini adalah lobi, tanpa mau melirik sekitar, Leon segera keluar dari bangunan.
Pagar besi terlihat berjejer di perbatasan kota dengan padang tandus. Sejenak Leon memandangi pagar tinggi itu, kamudian segera berjalan pergi menyusuri jalanan yang sedikit lebih padat.
"Sepertinya, sebelum berpetualang dengan Sun, aku harus menjelajahi kota ini terlebih dahulu." Leon berjalan dengan semangat, senyum lebar tak kunjung pudar dari wajahnya.
Walau berada di kerumunan orang, karena tidak saling kenal, Leon sepenuhnya diabaikan oleh penduduk. Tapi tak apa baginya, ia tidak terlalu peduli.
__ADS_1
Meski diabaikan, Leon terus melambaikan tangan pada penduduk setempat sambil tersenyum. Entah bagaimana hatinya terasa senang kala melihat kegiatan semua penduduk di kota ini. Ia merasakan kedamaian yang tidak dirasakannya ketika berada di dalam hutan misterius.
"Sepertinya aku memang harus melawan para Mahluk Fantasi itu untuk melindungi mereka semua," gumam Leon, pelan hingga tak didengar oleh orang lain.
Tak jauh di depan sana, beberapa anak kecil tengah berlarian dengan senyuman indah di wajah. Mereka tampak begitu bahagia tanpa tahu kalau di luar sana bahaya sedang mengintai.
Keinginan Leon untuk memukul habis semua Mahkluk Fantasi semakin meningkat kala melihat senyum anak-anak kecil tadi. Ia bertekad untuk melindungi senyuman itu walaupun nyawa menjadi taruhan baginya.
Sudah puas berjalan-jalan melewati bangunan sederhana di kota, kini ia kembali menuju markas. Di depan pintu markas terlihat jelas Sun sedang bersama dengan beberapa pria bersenjata.
Leon segera berlari menghampiri mereka. Beruntung ia masih sempat, karena Sun ternyata tidak memiliki niat untuk menunggunya.
"Kau tidak mau menungguku ya?" Leon menggerutu dengan kesal.
"Memangnya kau sudah mendapatkan izin?" Sun menjawab.
"Dia bilang aku bisa bertindak sesukaku asalkan tak melanggar hukum."
"Begitu. Tampaknya kau sudah menyita perhatian Tuan Vord."
"Aku tidak berniat untuk melakukan itu." Usai mengucapkan kalimat tersebut, Leon melirik beberapa pria bersenjatakan senapan panjang juga granat di samping Sun. "Apa mereka akan ikut dengan kita?"
"Tidak, mereka hanya akan menjadi beban. Mereka akan ditugaskan mengamati dan menahan jikalau di dekat kota terlihat Mahkluk Fantasi."
"Jadi begitu, hanya kita akan berburu?"
"Meskipun kau Pelahap Energi tingkat 2, aku yakin masih perlu beberapa rekan."
Tak berapa lama, muncul dua orang pemuda berseragam merah dan seorang gadis yang juga memakai seragam merah. Leon mengamati sesaat orang-orang itu, ia mencoba menerka seberapa besar kekuatan mereka. Namun, konsentrasinya seketika pecah oleh ucapan Sun.
"Theo, Gild, Sasa, lalu Leon, kalian siap?" tanya Sun, tegas.
"Ya!" Tiga orang lainnya menjawab serempak, tetapi tidak dengan Leon.
"Misi dimulai."
__ADS_1
Mereka langsung bergegas menuju gerbang keluar kota. Mencari energi untuk menopang pertahanan kota agar tidak hancur dalam waktu dekat.