
Mischie berjalan semakin jauh ke dapan terowongan untuk mencari Leon. Sejauh mata memandang hanya terdapat pemandangan berwarna hitam pekat. Kepala Mischie yang awalnya terasa pusing sekarang sudah tidak lagi, karena matanya telah terbiasa pada keadaan gelap ini. Langkah demi langkah ia tempuh. Tiba-tiba saja tanah berguncang hebat hingga membuatnya terhuyung.
“Argh, sial!” Mischie menggerutu sambil menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Bebatuan kecil serta debu kini menghujani tubuhnya. Pakaian lusuhnya kian bertambah kotor. Namun, tanpa mempedulikan semua itu, Mischie terus berjalan ke depan walau tidak tahu apa yang ada di sana. Pada saat Mischie kebingungan, telinganya mendengar sebuah suara menggema di dalam terowongan.
“Ellise! Wolf!” seru suara tersebut.
Sontak Mischie melirik sekitar, mencari tahu sumber suara tersebut. Namun naas, berapa kali pun ia mencari, tidak ada yang dapat terlihat selain kegelapan. Meskipun tahu kecil kemungkinan ia akan menemukan Leon, Mischie masih tak mau menyerah dan terus bergerak maju. Berharap semuanya berjalan lancar tanpa kendala, Mischie melangkahkan kaki perlahan sambil merentangkan kedua tangan ke depan.
Guncangan hebat kembali terjadi hingga membuat Mischie jatuh tersungkur ke tanah. Hanya bermodalkan sebuah tekad, ia berdiri lagi dan terus melangkah. Ada apa dengan diriku? tanya Mischie dalam hati. Bukankah sudah cukup banyak aku membantunya? Kenapa aku masih harus bersusah payah menyelamatkannya sekarang?
Bergelut di dalam pikiran, Mischie masih terus terheran-heran tentang mengapa ia mau membantu Leon. Ia tahu kalau jauh di lubuk hati, ia masih berterima kasih kepada Leon karena mau menolongnya di saat sedang kesusahan. Mengerti betapa baiknya hati Leon. Namun, semua itu serasa sudah dibayar impas oleh Mischie. Tidak peduli seberapa banyak utang yang dimilikinya, jika seluruhnya sudah dilunasi, maka utang tersebut akan hilang.
“Tapi ....” Mischie terdiam sejenak, mencerna isi pikirannya. “Dia juga menolongku di saat aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun dirinya tak memiliki utang sedikit pun padaku.” Menghapus semua pikiran buruknya dengan beberapa kata, Mischie kembali berjalan menyusuri lorong tanpa tahu arah.
Tiba-tiba telinga Mischie mendengar suara langkah kaki. Ia lantas bergerak perlahan menuju sumber suara tersebut. Guncangan tanah kian meningkat, sampai-sampai Mischie tersandung kakinya sendiri hingga jatuh terjerembab di atas tanah.
Di saat bersamaan, Leon yang sedari tadi berjalan tanpa arah juga ikut jatuh hingga membuat dirinya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mischie bangkit berdiri, tetapi lagi-lagi ia tersandung hingga jatuh. Kali ini mulutnya mulai komat-kamit memaki-maki apa yang baru saja membuat ia tersandung. Namun, ia tersadar akan sesuatu, Tunggu dulu! pikir Mischie, matanya memandang ke sana kemari, kebingungan, mencoba mengingat apa yang salah dengan semua ini. Ah, aku ingat. Tubuhku tidak sakit sama sekali ketika terjatuh, dan apa yang aku tindihi saat ini tidaklah terlalu keras.
Mischie kemudian meraba sesuatu di bawahnya. “Wow, mayat!” Mischie berteriak histeris sambil melompat ke belakang. “Tidak, ini bukanlah mayat,” gumamnya sembari kembali mendekat dan meraba tubuh yang baru saja ia tindihi. “Mungkinkah dia Leon?”
Berlandaskan sebuah intuisi tanpa dapat melihat dengan jelas, Mischie mengangkat tubuh orang itu lalu mulai berjalan. “Kuharap dia adalah Leon.” Mischie terus melangkah maju.
“Groar!!”
Mendadak Mischie menghentikan langkahnya. “Eh?” katanya dengan raut wajah konyol ketika suara dari dua ekor monster besar di hadapannya menggema di dalam telinga. Itu benar, saat ini Mischie tengah berada di jalan keluar terowongan, tetapi ini adalah sisi di mana dua monster yang mengincar Leon dan Lize tadi. Monster berbulu abu-abu merendahkan tubuh lalu mendekatkan wajahnya ke depan terowongan.
Tubuh Mischie menjadi kaku, gemetaran hingga cairan hangat membasahi celananya. Monster di depannya saat itu, mendengus sampai membuat Mischie diterpa oleh angin yang terasa hangat. “Ha ... halo ..., Bung.” Kini Mischie sudah tak kuasa menahan rasa takut.
“Aduh,” ucap Mischie saat terjatuh. “Adu-du-du-duh. Sakit.” Walau sebenarnya tubuh Mischie tidaklah terlalu sakit, ia tetap saja merintih kesakitan. Kenapa ia tidak merasa sakit? Sudah jelas itu karena ia jatuh menimpa Leon yang sekarang digendongnya.
“Hei! Lihat-lihat kalau jalan!” bentak gadis yang ditabrak Mischie.
Mischie memasang wajah masam kemudian berdiri. “Bagaimana mungkin aku bisa melihat di dalam keadaan gelap ini!” Sudah pasti ia tidak senang.
Gadis itu menatap Mischie dengan tatapan dingin, tidak ada satu pun rasa belas kasihan diperlihatkan oleh sorot matanya. “Tidak ada yang menyuruhmu masuk ke dalam sini!”
__ADS_1
“Hei! Sepertinya aku mengetahui suara itu,” jawab Mischie sembari mengingat-ingat, “Ah, aku tahu, kau Lize, ya?”
Tidak berniat untuk menutupi identitasnya, gadis tersebut lantas menjawab, “Iya, aku adalah Lize, lalu kenapa?”
“Syukurlah kau ada di sini ....” Belum sempat Mischie menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan berhasil mendarat tepat di perutnya sampai membuat tubuhnya melemas. “Apa yang ....” Kali ini sebuah tendangan dilancarkan ke pipi kiri hingga wajahnya berpaling ke arah kanan.
Salah satu giginya terlepas, darah mulai mengisi mulutnya, bahkan ada yang tertelan olehnya. Mischie tanpa sadar menjatuhkan tubuh Leon dari gendongnya. Lalu, karena sangat kesal akan apa yang baru saja dialaminya, Mischie melesatkan pukulan ke depan, berharap dapat mendarat di wajah si gadis. Namun, tidak berhasil, karena gadis bernama Lize itu langsung menghindar setelah menyadari serangan tersebut.
Terus melancarkan serangan tanpa peduli rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya, napas Mischie kini terengah-engah karena kelelahan. Semakin lama waktu berlalu, serangan yang dilancarkan Mischie menjadi pelan. Memanfaatkan situasi tersebut, Lize melancarkan tendangan pada kaki kiri Mischie sampai membuat Mischie terjatuh.
Dada Mischie sesak, napasnya kian berat bersamaan dengan nyeri yang menyebar ke sekujur tubuhnya. Walaupun begitu, Mischie masih mencoba berdiri dengan sangat gigih. Tidak ada rasa putus asa dari tatapan matanya.
Lize menaikkan sebelah alis, bertanya-tanya kenapa Mischie dapat sangat gigih.
Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Lize terus menatap Mischie. Sebuah perasaan iba dan tidak tega pun merasuk dalam hatinya. Perasaan yang dirasakannya ini hampir mirip dengan perasaan yang dirasakannya saat bersama Leon. Namun, apa yang ia rasakan ini ternyata berbeda, karena saat di mana ia berada di sebelah Leon, hatinya yang kosong dapat merasakan sebuah kehangatan dari kebaikan Leon.
Menggelengkan kepala beberapa kali untuk menepis semua perasaan itu, Lize lantas menendang kepala Mischie sampai membuat pemuda tengah jatuh pingsan.
Tidak peduli seberapa keras seseorang berjuang, selalu ada saat di mana mereka tidak mencapai suatu kesuksesan, pikir Lize sembari berlalu pergi meninggalkan Mischie dan Leon yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Tanah kembali bergetar, langit-langit terowongan mulai runtuh satu per satu pada saat Lize berlalu.