
Terowongan yang kami masuki sekarang, sangatlah gelap, sehingga Lize harus menarik tangan ini dan membimbingku berjalan mengikutinya. Kepala terasa sedikit pusing, karena mata belum terbiasa melihat di dalam kegelapan. Namun, aku akhirnya berhasil menyesuaikan diri dengan situasi, dan kepala sudah tidak pusing lagi menghadapinya.
Saat kupikir diriku sudah baik-baik saja, mataku tiba-tiba disilaukan oleh sebuah cahaya dari pintu keluar terowongan. Sial, sekali lagi kepala ini menjadi pusing hingga aku menutupi kedua mata menggunakan tangan kanan agar tidak dihampiri oleh sinar matahari yang menyilaukan.
Langkahku terhenti, perlahan-lahan aku menurunkan tangan kanan dan mulai membuka mata serta menyesuaikannya dengan cahaya. Mata ini sedikit berkedip ketika dihadapkan dengan sinar, tetapi perlahan-lahan dapat beradaptasi.
“Sudah selesai?” tanya Lize yang sedari tadi memperhatikanku.
“Aku iri denganmu yang mempunyai mata untuk dipakai di dalam gelap maupun terang, sungguh menyebalkan.” Aku mengeluh, sedikit kesal memang.
“Haha, kau sepertinya sangat iri dengan keistimewaan yang kumiliki.”
“Ya, aku memang iri, karena aku tidak memilikinya.”
Jika kemampuan itu bisa didapatkan melalui sebuah ujian, kemungkinan besar aku pasti akan mendapatkannya juga. Namun, sepertinya kemampuan milik Lize ini bukanlah kemampuan yang bisa didapatkan dengan suatu ujian saja. Mungkin itu adalah sebuah keistimewaan sejak dia lahir sehingga tidak dimiliki oleh orang lain.
Ah, tidak, sepertinya aku salah, karena bukan hanya Lize yang memiliki kemampuan mata ini, tetapi orang-orang di dalam terowongan waktu itu juga memilikinya. Jadi, pertanyaannya, dari mana semua itu berasal? Apakah memang merupakan anugerah dari dewa?
Tidak dapat memikirkan jawaban yang logis, aku akhirnya menanyakan tentang kemampuan mata tersebut pada Lize, “Sebenarnya, dari mana kemampuanmu itu berasal?”
“Hah?” Lize nampak terkejut. “Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau kemampuan ini kudapatkan begitu saja saat terbangun di hutan?”
“Eh?” Aku merasa bodoh sebab bertanya padanya, benar-benar membuatku nampak seperti seorang pemuda yang sudah pikun layaknya orang tua. Sungguh memalukan.
“Aku tahu kau malu, tapi memang pada dasarnya kau pikun, Leon.”
Sial, dia malah mengejekku. Gadis ini terus saja memprovokasi, dan dia benar-benar bisa melakukannya, sangat menyebalkan.
Mengabaikan ejekannya, aku memalingkan wajah, melirik ke sekitar. Dari sini aku dapat melihat sebuah taman bunga yang begitu indah. Membuatku berpikir kalau taman ini merupakan tempat di mana pertama kali aku dan Lize bertemu. Namun, setelah kuamati lebih jauh, di sini berbeda dari sebelumnya.
Ya, karena apa yang ada di sini bukanlah sebuah ilusi, melainkan taman sungguhan.
__ADS_1
“Taman yang indah.”
“Taman ini memang sangat indah, makanya aku suka pergi ke sini untuk menghilangkan lelah,” Lize membalas gumamanku.
Lize pun berjalan memasuki area taman sembari menyentuh bunga-bunga yang dia lalui. Memandangnya dari kejauhan, entah kenapa membuatku tersenyum hangat ke padanya. Tanpa sadar, kaki ini melangkah mengikutinya berjalan.
Saat ini, aku kembali merasakan sebuah perasaan aneh, tidak dapat dijelaskan. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkannya. Namun, hatiku merasakan sedikit kehangatan dari perasaan tersebut.
Ah, perasaan ini kembali mengingatkanku kepada Ellise. Akan tetapi, aku segera menepis ingatan itu, karena tiba-tiba diriku kembali teringat pada mimpi buruk yang pernah kualami.
“Hei, Leon!” Sontak teriakan Lize membuat aku terperanjat.
“Apa?” Aku sedikit menaikan nada suara.
“Coba lihat ini!”
Aku bergegas mendekati Lize, melirik sebuah benda yang ditunjuk olehnya. Benda itu berbentuk segitiga, terbuat dari logam, di tengah-tengahnya terdapat sebuah lampu kecil bercahaya hijau. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengulurkan tangan meraih benda tersebut. Akan tetapi, Lize menarik tanganku agar tidak menyentuh benda berbentuk segitiga itu.
“Kenapa? Apa kau tahu benda apa ini?” Sebuah pertanyaan aku lontarkan sebagai tanggapan atas larangannya.
“Karena tidak tahu, makanya aku menghentikanmu.”
“Aneh, kenapa kau terlihat sangat khawatir? Bukankah ini hanya sebuah benda biasa yang tidak memiliki fungsi khusus?”
"Haah ...." Lize menghela napas. “Kau ini bodoh atau apa? Sudah tahu kalau hutan ini menyimpan begitu banyak misteri, tetapi tetap saja kau tidak mengerti betapa mengerikannya hal itu.”
Memang benar kalau tempat yang mengandung banyak misteri sangat mengerikan, terlebih hutan ini. Namun, apa salahnya jika kita mengabaikan semua misteri dan mencari tahu sedikit demi sedikit sebuah pengalaman baru dari petualangan penuh ketegangan seperti sekarang? Lagipula, kita tidak tahu bisa atau tidak keluar dari sini.
“Memang benar semua hal yang terjadi di sini sangat mengerikan.” Aku melepaskan tangan kanan ini dari genggaman Lize. “Tapi, bukan berarti kita harus selalu waspada, kan?”
“Hm ....” Lize meletakkan tangan kanannya ke dagu, nampak tengah berpikir. “Ya, kau ada benarnya juga, terus menerus waspada hanya akan membuat kita tidak mendapatkan informasi apa pun. Mengambil suatu resiko untuk mengetahuinya, tidaklah buruk.” Lize menyetujui perkataanku.
__ADS_1
Tidak kusangka, ternyata dia paham maksud perkataanku. Maka dari itu, aku tanpa ragu langsung menjulurkan tangan kanan ini untuk meraih benda segitiga yang tidak dapat kujangkau sebelumnya. Namun, lagi-lagi Lize menahanku melakukannya.
“Mungkin lebih baik kita tidak menyentuhnya.” Dia memaksakan sebuah senyum di bibirnya.
"Haah ...." Aku menghela napas, menatap wajah Lize dengan sedikit kesal. “Kenapa lagi?”
“Ehehe, kurasa kita tidak perlu mengambil benda itu, mungkin.” Dia menjawab sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, mencoba menghindari tatapanku.
Astaga, gadis ini sangat merepotkan, tidakkah dia tahu kalau aku begitu penasaran dengan benda itu. Kalau saja dia bukan seorang gadis, aku pasti sudah membentaknya.
“Apa kau tidak penasaran mengenai benda apa ini sebenarnya?”
Lize masih terus mengalihkan pandangan matanya dariku. “Ya, sebenarnya, ya, aku juga penasaran, tapi, itu, aku takut kalau ternyata benda itu sangat berbahaya, ya, kira-kira begitu.”
“Ah, baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?”
Lize lantas melepaskan tanganku. “Hm, kita tinggalkan saja di sini. Lagipula, tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari sana.”
Mengabaikan ucapan Lize, aku langsung menyambar benda berbentuk segitiga tersebut. Lalu tiba-tiba saja, tidak terjadi apa-apa.
Kutunjukkan benda itu kepada Lize. “Sudah kubilang, tidak akan terjadi apa pun.”
“Ehehe, sepertinya aku salah.” Lize menggaruk pipinya menggunakan jari telunjuk.
Ketika aku membolak-balik benda itu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah tombol kecil berwarna merah. “Apa ini?” gumamku sembari menekan tombol tersebut.
Sontak sebuah gelombang suara yang sangat tajam keluar dari benda itu hingga membuat gendang telinga serasa ingin pecah. Aku langsung membuang benda yang kupegang, lalu menutup telinga menggunakan kedua tangan.
Beberapa saat kemudian, suara tersebut akhirnya reda. Gendang telinga sebelah kananku sepertinya sudah pecah hingga membuat darah keluar bercucuran dari sana.
Angin berembus, burung-burung mulai berterbangan tak karua. Dan kemudian, suara lolongan samar-samar dapat terdengar oleh telinga kiriku.
__ADS_1