
Aku masih belum memalingkan pandangan dari kotak kayu yang dipegang oleh Darwis. Rasa penasaran jelas menghantui benakku. Terlebih, sejak kapan benda itu dikubur, turut menjadi pertanyaan.
Seketika aku bergeming, menatap takjub pada apa yang ada di dalam kotak tersebut. Benda yang ada di sana memang terlihat seperti sebuah pedang berwarna hitam dengan garis merah di tengah-tengahnya. Namun, di antara gagang dan batang pedang, terdapat sebuah bola kristal merah. Aku tak tahu apa fungsinya, tetapi firasat mengatakan kalau pedang itu sangatlah bagus.
Bagus bukan dalam pengertian penampilannya saja, tetapi juga dalam fungsinya. Melihatnya sekilas mungkin pedang itu tampak biasa, padahal kalau diteliti lebih jauh, ada sebuah aura yang dipancarkan olehnya. Tidak mustahil sihir dapat digunakan di hutan ini, dan bisa saja aura panas yang terpancar dari pedang bergaris merah tersebut, dapat memancarkan api saat digunakan.
Ini memang terlihat seperti sebuah ekspektasi belaka. Walaupun demikian, aku tetap yakin kalau ada alasan kenapa Darwis mau menyimpan benda seperti ini di sini.
“Kapan kau mengubur pedang ini?”
Darwis mengusap batang pedang tersebut, lalu membuang kotak kayu tadi ke samping. “Sudah sangat lama. Kapan pastinya aku tidak ingat. Hanya saja, tempat ini dulu merupakan markas Klan Ular yang akhirnya dihancurkan begitu saja.”
Markas Klan Ular? Dihancurkan? Apa maksudnya semua ini? Jika ini memang tempat di mana Klan Ular bernaung sebelumnya, maka tempat pertama kali aku dan Wolf bertemu adalah markas Klan Ular yang baru. Akan tetapi, ini masih belum logis. Waktu itu, tak satu pun orang yang mempunyai tato di lengan mereka. Termasuk aku pun mempunyai tato setelah kejadian mengerikan itu.
“Jadi maksudmu, pembagian Klan berlangsung bukan saat pertama kali kita datang di hutan ini, melainkan ketika mendapatkan tato?” Aku mencoba mengkonfirmasi kebenaran dari semua ini kepada Darwis. Karena ia tampaknya tahu banyak hal tentang hutan misterius di mana kami berada sekarang.
Darwis menunduk, masih mengelus pedang di tangannya. “Sepengetahuanku, pembagian Klan di hutan ini terjadi ketika kita mendapatkan tato.”
__ADS_1
Dengan kata lain, informasi yang dikatakan Wolf padaku, kebenarannya masih belum dapat dipastikan. Apakah dia berbohong atau mungkin dia tak tahu dengan pasti akan kenyataannya. Dua pilihan yang membingungkan, mana jawaban yang benar atas semua ini? Satu-satunya cara adalah memastikannya dengan melihat tato di lengan setiap orang yang kutemui pertama kali.
Namun, cara itu sangat merepotkan untuk dilakukan. Jadi, apakah kutinggalkan masalah tidak penting ini begitu saja. Ah, mungkin ini adalah pilihan yang tepat dan kembali beralih ke tujuanku sebelumnya. Membalas dendam, lalu keluar dari hutan ini dan menghajar wajah pembuatnya.
Darwis berdiri sambil memegang pedang di tangan kirinya, lalu mengambil cambuk yang diikatkan pada pinggangnya dengan tangan kanan. “Sepertinya kita harus bersiap-siap menghadapi masalah di masa depan.”
Aku mengangguk, lalu berdiri sambil meregangkan tubuh. “Kuharap semuanya cepat berakhir agar aku dapat beristirahat dengan tenang.”
“Masalahnya sekarang, kita harus mencari sesuatu untuk dimakan, kalau tidak ingin mati kelaparan.” Darwis mulai memetik beberapa jagung.
Sebuah helaan napas, terdengar dari mulut Darwis. “Seandainya semuanya akan semudah dulu. Aku takkan mau repot-repot memetik jagung ini.”
Dulu? Mungkinkah itu berarti, kami harus berburu atau memetik buah-buahan agar dapat makan? Jika tidak begitu, maka lambat laun pasti akan mati kelaparan. Perkara yang ada di hutan ini semakin rumit saja.
“Daripada kau terus melamun.” Darwis melemparkan salah satu jagung padaku. “Lebih baik membantuku memetik jagung-jagung ini. Jangan terus menerus memakan roti saja, karena itu sangat membosankan.”
Kutangkap jagung yang ia lemparkan. “Salah satu alasan kenapa di sini terdapat jagung karena kalian bosan memakan roti, ya?”
__ADS_1
“Ya, tepat seperti yang kau katakan.”
Mentari semakin tinggi ketika kami selesai memetik beberapa jagung. Dan sekarang, Darwis tengah membuat api dengan memutar-mutarkan sepotong ranting pada sebuah dahan kayu kering yang cukup besar. Sebuah metode biasa untuk menyalakan api tanpa adanya korek api di hutan ini. Seandainya saja ada sebuah supermarket gratis di sini, maka masalah sepele seperti ini dapat diselesaikan dengan mudah.
Setelah berjuang keras selama beberapa saat, Darwis akhirnya berhasil menyalakan api untuk membakar jagung yang telah kami petik. Memang sangat menyebalkan membuat perapian di saat hari panas seperti ini, tetapi hanya itu yang dapat dilakukan agar dapat makan.
Kenyang mengisi perut dengan jagung bakar, kami segera berjalan menuju ke arah utara. Sejujurnya aku juga masih belum tahu apa yang sebenarnya ada di sana. Namun, karena segala bahaya berasal dari arah selatan, aku pun menyimpulkan kalau daerah utara adalah tempat yang paling terakhir dihancurkan. Tidak ada salahnya ‘kan, mencoba bertahan hidup lebih lama.
“Hei!” Aku berusaha mencairkan suasana sunyi yang menimpa kami.
“Apa?”
“Apakah kau mengetahui seperti apa daerah utara yang hendak kita tuju?”
Orang yang kuajak bicara, masih terus berjalan di depanku tanpa mau berpaling. “Karena tidak tahu, makanya aku ingin ke sana dan mencari tahu.”
Nampaknya dia marah, karena aku menanyakan hal yang sangat tidak penting padanya. Sebaiknya aku diam dan terus mengekornya saja agar tak dapat masalah. Kenapa orang-orang yang kutemui memiliki sifat serius seperti Wolf? Benar-benar nasib yang menyebalkan.
__ADS_1