The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 12 part 2


__ADS_3

Monster kepala banteng dengan bulu abu-abu, kembali berdiri. Tak jauh di sampingnya, terdapat sebuah jurang yang teramat curam. Sementara itu, Mischie masih sibuk memutar otak demi mencari cara mengalahkan monster tersebut.


"Lize, Rias, mundur!" seru Mischie sembari melangkahkan kakinya perlahan, ke belakang. "Monster ini harus segera dibasmi, bagaimanapun caranya."


Memegang pistol dengan kedua tangan, Mischie melancarkan serangan ke arah sang monster. Namun, monster itu hanya bergeming lalu berjalan perlahan menuju ke arah Mischie dan teman-temannya.


Secepat mungkin Mischie mengisi kembali pistolnya dan mulai melancarkan begitu banyak serangan. "Sial, monster itu tidak dapat kulawan hanya dengan pistol kecil ini."


Dari arah belakang Mischie, tampak Rias dan Lize juga ikut menyerang monster besar itu. Satu pun tidak ada serangan yang dapat melukai sang monster. Dan hal tersebut membuat pikiran Mischie dan kawan-kawannya, menjadi kacau serta panik.


"Groarr!"


Monster berbulu abu-abu, mengaum dengan keras hingga menggema di dalam hutan. Burung-burung mulai berterbangan dengan panik, kicauan-kicauan mereka yang menunjukkan kegelisahan, juga dapat terdengar oleh telinga.


"Nampaknya keadaan menjadi semakin buruk," gumam Mischie yang masih mengisi pistolnya. "Sial, hanya dengan bersenjatakan semua ini, kita tidak akan bisa menang."


"Siapa yang peduli!" Lize berteriak kencang sambil terus melancarkan serangan dengan pistol di tangan. Jika kami bertiga saja tak sanggup melawan salah satu monster, bagaimana mungkin Leon bisa, pikir Lize sambil terus berjalan ke depan.


Lize frustasi, dia mengira kalau Leon pasti sudah mati. Isi pikirannya kacau, sebagaimana orang yang telah terkontaminasi oleh rasa putus asa. Apa yang ada di dalam pikiran gadis itu hanyalah hal buruk.


Tanpa ia sadari, air mata telah mengalir membasuh pipinya. Sekarang dia kacau, sebab masuk ke dalam keputusasaan yang mendalam. Ah, mungkin lebih baik aku mati di sini saja, pikir Lize.


"Tidak! Hentikan itu!" Mischie segera berteriak dan menahan Lize dari belakang. Kedua tangannya merangkul tubuh Lize agar tidak bergerak. "Apa yang kau pikirkan?"


"Semuanya telah berakhir, Mischie." Lize bergumam pelan dan hendak mengisi kembali pistolnya. Akan tetapi, peluru yang ada di dalam kantongnya telah habis.


"Lize, tenanglah!" Dengan lembut, Mischie mengatakan kalimat tersebut. "Semuanya akan baik, oke."


"Tapi—"


Kalimat Lize terhenti oleh auman sang monster. Monster tersebut mengangkat kaki dan hendak menginjak Mischie dan Lize. Tercengang, mereka berdua tak mampu berkata apa ketika melihat tapak kaki sang monster semakin mendekat.

__ADS_1


Tiba-tiba, suara ledakan yang begitu nyaring, menggema di luasnya lapangan. Asap hasil ledakan pun menyebar menutupi monster berbulu abu-abu. "Cepat pergi dari sana!" Rias berteriak dengan kencang kepada dua orang remaja yang tengah berada di ujung tanduk.


"Ayo pergi!" Segera Mischie menarik Lize untuk menghindar.


Mischie mengambil pistol lalu menembakki monster besar yang ada di depannya, sembari terus berlari. Setelah cukup jauh melangkah, mereka akhirnya sampai di dekat Rias. Menatap, Rias tak mau mengalihkan pandangannya dari Lize. "Apa yang kau pikirkan sebelumnya?"


"Maaf," lirih Lize.


"Sudah, kita abaikan dulu hal itu." Mischie langsung memotong obrolan. "Apa yang harus kita lakukan adalah menaklukkan monster besar itu."


Usai asap yang menggumpal hilang, monster berbulu abu-abu langsung mengaum dengan lantang. Dia tampak kesal karena hidupnya yang damai telah diganggu. Monster itu sedikit merendahkan tubuhnya, asap mendadak muncul di hidungnya ketika ia menghembuskan napas.


"Groarr!"


Auman sang monster kian nyaring, sehingga membuat Mischie dan dua temannya, harus menutup telinga. Monster itu berlari, tubuhnya yang besar membuat tanah berguncang hebat.


"Lari!" Sontak Mischie berteriak dan berlari secepat mungkin bersama dengan dua temannya. "Pergilah lebih dulu!" Mischie berbalik dan menyuruh dua orang gadis yang saat itu bersamanya, untuk segera pergi.


"Panggil Leon ke sini, dia pasti memiliki rencana untuk melawan monster sialan ini."


Menembakkan beberapa peluru dari pistolnya, Mischie berhenti dan mempertahankan keseimbangan tubuh.


"Cepatlah!" seru Mischie, sekali lagi.


Lize dan Rias yang tadinya ragu, kini bergerak dengan cepat untuk menemukan di mana pemuda yang dimaksud oleh Mischie, berada. Mischie tersenyum tipis, lalu mengisi kembali pistolnya yang sudah tidak berpeluru. "Ini yang terakhir," gumam Mischie sembari berlari ke samping kiri.


Mischie mengarahkan pistol yang ada di tangan kanannya kepada sang monster. Dengan penuh senyuman, ia menembakkan satu buah peluru.


Monster itu terkecoh, lalu mulai berbelok menuju arah Mischie. Ia mengaum, dan semakin mempercepat langkahnya untuk bisa mengejar Mischie.


Kena kau, pikir Mischie sembari berbelok menuju sang monster. Mari kita lihat seberapa kuat dirimu. Mendadak, Mischie menghentikan langkahnya dan menembakki monster yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Cih, hanya tersisa dua tembakan lagi." Melihat tak ada efek yang terjadi pada tubuh sang monster, Mischie langsung berbalik dan mulai berlari.


Tak mau kalah, monster tersebut lantas melompat ke arah Mischie. Tanah bergetar, Mischie terpelanting ke atas. Namun, ini sudah termasuk dalam perhitungan Mischie.


Ini saatnya. Mischie berbalik saat berada di udara dan langsung menembakan satu peluru ke mata monster tersebut. Salah satu mata sang monster pecah dan dipenuhi darah, namun Mischie masih belum puas dengan hasil ini. Dia dengan sigap langsung melemparkan satu buah granat yang telah diaktifkan, kepada monster yang menjadi lawannya.


Wajah monster itu berdarah ketika terkena dampak ledakan. Sedangkan Mischie jatuh berguling-guling ke tanah.


Rasa sakit langsung menyebar di sekujur tubuh Mischie. Ia tidak pernah menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Napas pemuda itu terengah, nyeri yang ia derita sampai tak sanggup membuat dirinya bangkit.


Sekali lagi, suara auman sang monster, terdengar. Mungkin inilah akhirnya, pikir Mischie yang sudah terlanjur pasrah.


***


Tik .... Tik .... Tik ....


Suara percikan air terdengar bagaikan lantunan alat musik. Diri ini terbaring lemah di dalam sebuah tempat sunyi dan gelap. Apa yang terlihat hanyalah warna hitam pekat tanpa ada penerangan.


"Di mana lagi aku ini?" gumamku dengan pelan.


Mendadak, telinga ini mendengar sebuah suara yang memanggil.


"Le-on ...."


Aku menjadi semakin bingung, suara itu sedikit tidak jelas namun penuh emosi. Ah, apakah ada yang memanggilku? Tapi kenapa?


Diri ini telah lelah, tidak ingin lagi menghadapi masalah yang ada di depan mata. Sudahi saja semua hal yang telah terjadi. Jangan pernah terulang untuk kedua kali.


Suara orang yang memanggil namaku, semakin terdengar nyaring di dalam telinga. Namun, tak sedikitpun aku mau beranjak dari tempat ini.


Aku telah damai. Untuk apa lagi aku mengalami mimpi buruk itu? Lelah, tak sanggup lagi aku berhadapan dengan semua hal itu.

__ADS_1


Walau hanya sejenak, biarkan aku beristirahat dari kehidupan yang melelahkan.


__ADS_2