
Hening ....
Waktu seolah berputar begitu lambat, Leon dan Vord masih saling tatap tanpa melakukan gerakan sedikit pun. Suasana cukup menegangkan, tetapi keduanya bisa menghadapi ini dengan tenang.
Leon menghela napas panjang, lirikan matanya lebih tajam dibanding sebelumnya. Seolah menunggu waktu untuk menjawab, tetap tidak terjadi pergerakan selama beberapa waktu.
Akhirnya, Leon membuka mulut dan berkata, "Vord, apa alasanmu membuat kota ini? Apakah demi mendapatkan kekuasaan?"
"Jaga bicaramu, Bocah." Vord menanggapi dengan dingin. "Sebagai Pelahap Energi tingkat 1, aku harus melindungi semua orang, bukan hanya para penduduk Menara Harapan."
"Mungkin itu salah satu caramu untuk mengendalikan mereka."
"Curiga boleh saja, tetapi jangan terlalu berlebihan." Tiba-tiba Vord berpindah tempat dan berada di belakang Leon.
Namun, walaupun begitu, Leon masih bisa tenang tanpa bergerak. "Justru tindakanmu itu yang membuatku curiga. Semisal saja kau tidak menyerangku tadi dan sekarang masih duduk santai di atas singasana itu, aku bisa mengaku salah."
"Haha, kau cukup menarik. Tapi apa rencanamu?" Sebuah pedang cahaya terbentuk di tangan kanan Vord, segera dia menebaskan pedang tersebut secara vertikal ke arah Leon.
Leon hanya bergeming, lalu muncul begitu banyak bayangan dari bawah kakinya dan menahan serangan dari Vord. Keduanya sekarang berada di posisi bertahan, tetapi Leon jauh lebih leluasa daripada Vord.
"Kau mungkin berpikir kalau aku ini jauh lebih lemah darimu, tapi jujur saja pola pikirmu itu dangkal," ucap Leon, santai serta penuh wibawa.
"Heeh ...." Vord segera menghilangkan kembali pedangnya, dia berjalan perlahan menuju singasana kemudian duduk di sana. "Siapa kau sebenarnya? Apa urusanmu datang ke sini?"
"Sebelum itu, aku ingin bertanya, sebenarnya di mana Menara Harapan itu berada?" tanya Leon, menghindari pertanyaan Vord.
"Kau sungguh tak tahu? Aku curiga kalau kau adalah salah satu Mahkluk Fantasi yang menyamar. Tapi, sepertinya bukan."
"Mau percaya atau tidak, sebenarnya aku baru kembali dari dimensi lain."
"Wah? Kau serius?" Mata Vord langsung berbinar-binar kala Leon mengatakan dirinya dari dimensi lain.
"Hah?" Leon hanya bisa melongo, tak tahu harus berbuat apa sebagai respon.
"Jangan bilang kau adalah Pelahap Energi tingkat 1 yang baru lahir."
"Mana aku tahu." Wajah Leon begitu datar, walaupun Vord sangat bersemangat karenanya.
"Hei, hei, bukankah ini artinya kau memiliki kemampuan pindah dimensi seperti milik peringkat ke-lima Pelahap Energi tingkat 1?"
__ADS_1
"Siapa dia? Aku tidak tahu."
Perbincangan mereka terus berlanjut ke arah yang tidak penting. Sementara Leon terus berusaha untuk mengorek informasi, Vord terus saja mengalihkan topik pembicaraan. Kemudian, Leon melontarkan pertanyaan terakhir.
"Vord, aku tahu ini memang agak mendadak. Tapi, aku ingin bertanya."
"Tentang apa?"
"Apakah Pelahap Energi tingkat 1 itu didapatkan di Menara Harapan?"
"Ya, memangnya kenapa?" Vord menaikkan sebelah alis.
"Melalui ujian?"
"Kira-kira begitu. Apakah kau tertarik untuk menjadi Pelahap Energi tingkat 1?"
"Aku ingin tahu apa untungnya." Leon memaksukkan kedua tangan dalam saku celana.
"Kau bisa membuat kota sendiri sepertiku. Membentuk pemerintahan sendiri dan bisa memimpin banyak Pelahap Energi mulai dari tingkat 3 sampai tingkat 2."
"Bagitu ya. Baiklah, sepertinya pembicaraan kita selesai. Akan kupertimbangkan untuk menjadi bagian dari kota ini." Leon segera berbalik kemudian keluar dari ruangan.
Memang benar dia memiliki niat untuk menyelamatkan dunia, tetapi sanggupkah? Semisal dia bergabung menjadi bawahan Vord, posisinya sudah tidak diragukan pasti tinggi mengingat kekuatannya. Namun, itu artinya hanya orang-orang di sini yang akan diselamatkannya.
Tanpa sadar, matanya telah tertutup rapat. Dia kelelahan karena sudah menghabiskan banyak tenaga siang tadi. Akan tetapi, karena banyak hal membuat dia tidak terlalu merasa lelah sebelum berbaring.
***
Leon membuka mata, suhu ruangan terasa cukup pengap. Perlahan dia bangkit, bangun dari tidur kemudian melirik sekitar. Pandangannya gelap, tidak terlihat apa pun olehnya.
Rasa lelah dan kantuknya menghilang, tetapi ada sesuatu hal yang janggal di sini. Selama keluar dari hutan misterius, perutnya masih belum terisi apa-apa. Namun, dengan sangat ajaib dia tidak merasakan lapar.
Kemudian, masalah pun mucul. Ketika mengingat makanan, perutnya mendadak mengeluarkan sebuah isyarat. "Ah, aku lapar. Apakah Vord itu akan memberikanku makanan karena kasihan?"
Leon segera turun dari tempat tidur, berjalan beberapa langkah hingga sampai di pintu keluar. Matanya sudah terbiasa pada gelap, jadi mencari jalan keluar bukan sebuah masalah besar.
Ketika membuka pintu, matanya langsung dibutakan oleh cahaya menyilaukan. "Apa itu?"
Perlahan tapi pasti, Leon mulai membiasakan matanya dengan cahaya. Akhirnya dia menghela napas lega. "Untunglah hanya lampu."
__ADS_1
Meskipun ingatannya masih belum sepenuhnya pulih, benda bercahaya ini masih bisa diingat olehnya. Sebuah senyum mekar di bibirnya, wajahnya terlihat puas untuk sesaat menikmati keadaannya sekarang.
Tak lama, Sun datang mendekat pada Leon. "Baru bangun?"
Bersikap tak acuh, Leon hanya menanggapi dengan mengangguk. Sun tidak mempermasalahkan hal itu, dia lantas mengajak Leon pergi ke suatu tempat.
"Kau pasti lapar, aku akan membawamu ke tempat di mana kau bisa mendapatkan makanan. Ikutlah!" Sun segera berbalik, diikuti oleh Leon.
Melewati lorong dengan sedikit orang berlalu lalang, Sun dan Leon akhirnya sampai di tempat luas. Di sini penuh oleh meja, terdapat beberapa pelayan juga di balik meja berisi makanan.
Mereka berdua duduk pada satu meja kosong, tempat ini jauh lebih sepi dari sebelumnya, karena kebanyakan prajurit sudah kembali ke ruangan masing-masing.
Sun memanggil pelayan, kemudian memesan makanan. Berhubung Leon masih belum akrab di situasi ini, dia hanya menurut pada Sun saja.
"Di sini lumayan juga," ucap Leon, pelan.
"Mau bagaimanapun, tempat ini bukan sebuah istana, melainkan markas kami para prajurit," jawab Sun.
"Kau benar, aku bahkan hampir melupakan itu." Mendadak Leon teringat sesuatu. "Kalau tidak salah, kau bilang tempat ini terlindung karena kekuatan Vord, bukan?"
"Panggil dia Tuan Vord!" Sun hendak membentak, tetapi pada akhirnya hanya bungkam dan menghela napas. "Aku tidak pernah mengatakannya begitu."
"Maksudmu?"
"Tuan Vord memang membuat tempat ini untuk melindungi rakyat, tetapi kekuatannya hanya untuk itu. Soal pelindung, tugas kami para prajurit untuk menjaganya tetap aman."
"Aku tidak mengerti."
"Singkatnya begini. Kami melahap energi Mahkluk Fantasi kemudian menyalurkannya pada pelindung ciptaan Tuan Vord."
"Jadi waktu itu kau melahap energi mahkluk-mahkluk itu untuk memperkokoh pelindung, bukan untuk dirimu sendiri?"
"Seperti perkiraanmu. Aku bukan orang serakah, selagi mereka tetap aman, aku akan terus berjuang."
"Bolehkah aku ikut bertarung bersamamu untuk mengamati lebih lanjut?"
Sun seketika tersentak. "Hah? Kau ingin bergabung? Tidak masalah sih, tapi harus izin pada Tuan Vord."
"Soal izin, aku bisa mendapatkannya besok."
__ADS_1