
Dalam waktu singkat, semuanya menghilang. Mulai dari rasa sakit yang kuterima serta kehangatan tadi.
Seolah kembali tersusun setelah terpecah, pikiranku kembali menyatu. Namun, kala membuka mata, apa yang terlihat adalah air.
Bergegas aku berenang menuju permukaan. Pantas saja dadaku terasa sesak, ternyata saat ini aku berada di dasar danau.
Setelah berenang selama beberapa waktu, akhirnya aku mampu keluar ke daratan. Napasku terengah, lelah usai berenang sekuat tenaga.
Sekujur tubuh telah basah, dan ketika menerawang sekitar, mahkluk besar berkepala sembilan tadi sudah menghilang entah ke mana. Masih tak percaya, sekali lagi kuterawang sekitar, mengamati dengan saksama hingga yakin tidak ada bahaya lagi.
"Ke mana sebenarnya dia pergi?" Aku terheran-heran, tetapi juga bersyukur mahkluk itu kini telah menghilang. "Mungkin tadi itu hanya mimpi, tapi kenapa aku bisa berada di dasar danau? Tidak mungkin aku pingsan di sana kemudian bermimpi, kan?"
Jelas tidak logis semisal aku tertidur di dalam danau lalu bermimpi hingga akhirnya dapat keluar. Jika memang benar seperti itu? Rasa sakit yang aku rasakan tadi apa artinya? Bukankah kalau sedang bermimpi hal seperti itu mustahil dirasakan?
Terus menerus memutar otak, satu pertanyaan pun tidak terjawab olehku. Dan yang paling aneh, kenapa orang itu berkata memerlukan bantuanku? Apakah mereka tidak tahu kalau aku sangatlah lemah?
"Ah, memikirkannya hanya akan membuat kepala pusing sampai 7 desa. Lebih baik aku sekarang pergi berburu mencari makanan." Sejenak aku terdiam, kemudian lanjut berjalan. "Tapi, hari sudah sore, bisakah aku berburu tanpa adanya penerangan?"
Aku menghela napas panjang. "Mari kita pikirkan itu nanti, hal pertama yang harus disiapkan adalah sebuah keinginan untuk berburu. Sebab kalau tanpa keinginan, mungkin semuanya akan susah dilalui."
__ADS_1
Beberapa langkah kemudian, aku telah berada di tempat diriku terpental tadi siang saat hendak kabur dari kejaran monster berkepala sembilan. Ada sedikit keraguan di hati, tetapi kuberanikan diri untuk menerobos. Dan ... bum! Aku dapat lewat tanpa halangan.
***
Di atas sana, seseorang yang mengenakan jubah tak terlihat sedang melayang. Dia mengamati seorang pemuda yang sudah pergi meninggalkan danau dengan keadaan basah.
Terlihat dari kepalan tangannya, sekarang dia tengah kesal karena sesuatu hal. "Kau yang sekarang tidak lebih dari sampah! Kenapa Ayah menyuruhku untuk menjemputmu dari sini?" Giginya gemeretak. "Terlebih harus mengatakan kalau kami perlu bantuan."
***
Sebelumnya, saat ketika Leon menutup mata karena pasrah menghadapi serangan monster berkepala sembilan, sebuah pintu muncul, membawanya pergi ke suatu tempat. Di dalam tempat tersebut terdapat kekuatan yang membuat dia cepat lelah serta sakit kepala.
Kejadian itu tidak lain adalah perbuatan si orang berjubah yang kini tengah melayang di udara mengenakan jubah tak terlihat. Awalnya dia sengaja memunculkan monster berkepala sembilan untuk menguji Leon, tetapi Leon malah terus melarikan diri.
Ketika itu, orang berjubah pun mencoba memanggil Leon, membuatnya lelah menunggu lalu menyerang. Lagi dan lagi, ini masih belum dapat membuat Leon bertarung.
Sekarang keadaan jadi terbalik, saat Leon masih cukup tenang, orang berjubah sudah kehabisan kesabaran. Segera orang berjubah itu menyerang Leon menggunakan sedikit kekuatan, tetapi, apa yang dilakukan Leon setelahnya hanya mengarahkan senapan.
Dari sini, orang berjubah tersebut sudah kehabisan kesadaran dan mau membunuh Leon saja. Akan tetapi, dia tidak diperintahkan untuk itu.
__ADS_1
Sebisa mungkin dia menahan kekuatan lalu menyerang Leon, dan masih saja, tidak ada hal istimewa yang dilakukan oleh Leon. "Aktifkan kekuatanmu ...," katanya, pelan, tetapi masih menggema dalam lorong ini.
Orang berjubah langsung mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Leon. Sejujurnya sekarang kesabarannya hampir habis jikalau Leon bukanlah orang penting baginya, bagi misinya.
"Seandainya orang tua itu menyuruhku segera membunuhmu saat tahu kekuatanmu lemah, maka ini adalah akhir bagimu. Tapi ... seistimewa itukah dirimu di matanya?"
Dia mengarahkan tekanan kuat pada Leon, meskipun begitu, Leon hanya dapat menahan semuanya tanpa dapat melawan lagi. "Cih!" Dengan berat hati dia membatalkan tekanannya, kemudian bergegas mendekati Leon sembari memasukkan pemuda itu ke dalam tempat penyembuhan alami.
Di tempat ini hanya terdapat warna putih, cahaya hangatnya dapat langsung menyembuhkan orang terluka yang dibawa ke sini. Perlahan orang berjubah tadi menarik jubah lain dari balik jubahnya. Itu adalah sebuah jubah yang dapat membuatnya tidak terlihat lagi.
Mata Leon sedang tertutup di sini, sebuah kesempatan pun datang bagi orang berjubah untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Orang berjubah itu menyentuh bahu Leon, walaupun ada sedikit rasa enggan dalam hatinya. Perlahan dia mengucapkan sebuah kalimat. "Leon ... segeralah kembali, kami memerlukan pertolonganmu."
Usai kalimat itu diucapkan oleh orang berjubah, Leon langsung jatuh pingsan. Untuk memulihkan kondisi Leon, orang berjubah membiarkan Leon beristirahat sejenak di dalam tempat penyembuhan ini.
Matahari sudah hampir terbenam, Leon sudah hampir sadarkan diri. Sebuah pintu terbuka, lalu Leon dimasukkan ke pintu tersebut oleh orang berjubah.
Setelah itu, orang berjubah membuat pintu lain dan memasukinya.
__ADS_1
Di dalam danau, sebuah pintu bercahaya putih terbuka. Leon yang sudah sadarkan diri pun keluar dari sana.
Sementara itu, sebuah pintu lain tiba-tiba terbentuk di langit. Orang berjubah langsung keluar dari sana dengan keadaan kesal.