
Seminggu telah berlalu semenjak pertarungan melawan Jahad dan kelompoknya. Pada saat itu, mereka segera melarikan diri ketika melihat seseorang yang menegur dengan suara datar.
Entah karena apa, Night waktu itu langsung membawa Jahad dan Prison tanpa berkata apa-apa. Padahal Prison tengah menikmati pertarungan bersama Sun.
Tepat setelah kepergian mereka, Sun kehabisan tenaga dan jatuh. Beruntung Vord dapat menangkapnya saat itu juga. Vord berpaling ke atas, menatap sosok berjubah hitam panjang di atas sana. Ia mengenalinya, bahkan mungkin sebagian besar tahu namanya.
Dia adalah salah satu dari Pelahap Energi tingkat 1 terkuat, Nozel Klaurius. Dikatakan bahwa dia sanggup berduel dengan dua Ti sekaligus.
“Jangan hanya diam, ayahku memberi perintah untuk membawa kalian ke Menara Harapan. Cepat masuk ke dalam ruang dimensiku.”
Segera sesudah mendengar perintah itu, Vord membawa Sun dan yang lainnya melayang memasuki lingkaran hitam buatan Nozel. Dalam sekejap mata, mereka telah berada di dalam sebuah ruangan berisikan beberapa tempat tidur berwarna putih.
“Baringkan mereka di sini, lalu pergilah.”
“Apa maksudmu?” Vord hendak menolak perintah Nozel.
Nozel menoleh, menatap tajam mata Vord seolah hendak membunuhnya. “Lakukan, jangan membantah!” Dia berbalik, membuat Vord sedikit gentar. “Aku tidak akan keberataan membakar habis kalian semua.”
Tiba-tiba Vord merasa dirinya berada di tempat lain. Sebuah lorong yang memiliki tekanan tinggi hingga membuat kaki lemas. Tepat di dua sisi lorong terdapat api membara, dan akan melahapnya seketika.
Napas Vord terengah, keringat membasuh habis tubuhnya. Ia sungguh tak menyangka, perbedaan kekuatannya dengan Nozel sangatlah jelas.
“Baringkan mereka lalu pergi.” Nozel berbalik, berjalan menuju pintu keluar.
Tidak memiliki kemampuan untuk menolak, Vord terpaksa harus menuruti perintah Nozel begitu saja. Menurutnya, melawan hanya akan membuat situasi kian rumit.
***
Kini, Leon berada dalam sebuah tabung besar, berisikan cairan hijau yang dibuat khusus untuk menambah kekebalan tubuh. Ia tidak bernapas, tetapi juga tidak mati. Aliran kekuatan dalam tubuhnya semakin lancar, dan tentu semua lukanya pulih tanpa bekas.
Sama seperti Leon, Sun, Sasa, dan Ni juga ditempatkan dalam tabung. Pemimpin Menara Harapan, Profesor Silver Klaurius telah menyadari hal tidak normal dari mereka bertiga, sehingga memutuskan untuk melakukan penelitian.
Mereka bertiga diberikan sel DNA Leon, dan ternyata cocok. Dan, ini adalah sebuah keajaiban besar, karena akhirnya yang dinanti akan tiba.
“Tim pemburu terbaik kita akan segera kembali,” ucap Profesor Silver, pelan.
***
Satu bulan kemudian, Leon dan teman-temannya telah keluar dari laboratorium. Tubuh mereka semakin kuat, dan kekuatan dalam diri mereka meningkat pesat. Tentu saja ini membuat bahagia, tetapi karena belum diperbolehkan pergi ke luar, mereka harus tinggal di sebuah ruangan luas. Tempat itu disebut Ruang Putih Rehabilitasi.
Hanya ada mereka bertiga di sini. Sementara Vord telah menghilang tanpa pernah terlihat di sekitar laboratorium. Namun, mungkin saja dia kembali ke kotanya.
“Ruangan ini kosong, sangat membosankan,” Sun mengeluh sambil berkeliling.
__ADS_1
Seragam Leon dan teman-temannya sama, yakni seragam berwarna putih.
“Mengeluh hanya akan menghabiskan tenagamu. Katanya besok kita sudah boleh keluar dari sini. Jadi, akan lebih baik menunggu dalam diam saja.” Leon lantas duduk santai sambil bersandar di dinding.
Sasa dan Ni pun ikut duduk bersamanya, begitu pula dengan Sun.
Suasana begitu tenang. Tidak ada angin dari luar, benar-benar seperti sebuah penjara. Atau mereka memang sedang dipenjara dengan dalih rehabilitasi? Itu mungkin saja.
Setelah ketenangan panjang, Leon melirik Sun untuk sesaat. Sun menyadarinya, lalu bertanya, “Ada apa?”
“Tidak ....” Leon melirik Sun lagi. “Aku hanya penasaran, kenapa kau begitu marah kepada orang bernama Night itu?”
Tampak jelas kalau Sun tidak senang mendengarnya.
“Yeah, kalau kau tidak ingin cerita, ya bukan masalah,” ucap Leon, pelan.
Sun menghela napas panjang. “Kurasa bukan masalah kalian mengetahuinya sekarang. Tentang masa laluku, Sasa, dan Night.”
“Kau yakin?” tanya Leon.
“Ya, mungkin lebih baik seperti ini. Dan juga, kau sudah menyelamatkan kami berulang kali.” Sun tersenyum tipis. “Di saat-saat terakhir, aku dapat melihat, kau hampir mengorbankan nyawa agar kami selamat.”
“Sebenarnya, aku tidak melakukan apa pun.”
“Leon, maaf ....” Mendadak Sun menundukkan kepala.
“Apa kau ada membuat masalah padaku?”
“Maafkan aku, Leon ....” Sun kian menundukkan kepala.
“He-hei, kau ini kenapa? Tegakkan kepalamu.”
“Tidak. Leon, sebenarnya aku pada awalnya ingin memanfaatkanmu. Kupikir kau nantinya akan terus berkembang kemudian dapat membalaskan dendamku. Itulah kenapa aku bersikap seolah baik kepadamu.”
Bukannya marah, Leon malah tersenyum tulus mendengar pengakuan Sun. “Tegakkan kepalamu, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Dulu aku juga seperti itu, jadi, tidak perlu khawatir.”
Tubuh Sun terlihat kaku, perlahan dia menegakkan tubuh dan memandang heran pada Leon. “Kau benar-benar tidak mempermasalahkannya? Padahal, aku memiliki niat buruk kepadamu ....”
“Haha, setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Kupikir tidak akan masalah sekarang karena kau sudah berani jujur. Lagipula, kita sudah menjadi teman.” Senyum lebar mengambang di wajah Leon.
Tangan Sun terkepal, raut wajahnya seolah berkata akan melindungi orang yang sekarang bicara padanya. Sun kembali menundukkan kepala. “Aku sungguh tidak menyangka ada orang sepertimu di dunia ini.”
Leon berpaling, menatap heran pada Sun. “Apakah aku seaneh itu?”
__ADS_1
Di sisi lain, Sasa tersenyum tipis melihat ini. Sedangkan Sun sedikit tertawa. “Hahaha, ya, kau adalah orang paling aneh di planet ini.”
Raut wajah Leon berubah. “Heeeh? Begitukah?”
“Ya. Tapi, kau adalah orang yang paling bisa kupercaya sekarang, Leon.”
“Ekhm!” Tiba-tiba Sasa berdeham.
“Tentu saja setelah Sasa,” Sun melanjutkan ucapannya.
“Hmph!” Sasa tampak bahagia mendengarnya.
Leon dan Ni saling pandang. “Aku baru tahu kalau Sun sama seperti suami takut isteri ketika berhadapan dengan Sasa.”
“Hmph! Hmph!” Ni mengangguk setuju.
“Apa katamu!” Kening Sun berkerut. “Setidaknya, kalau ingin membicarakan orang lain, di belakangnya, bukan malah di depannya.”
“Kalau begitu, aku dan Ni pergi ke sana saja untuk membuat gosip.”
Kepala Sun berasap, jari telunjuknya menunjuk Leon karena kesal. “Apa yang akan kalian gosipkan?”
Terlihat jelas senyum mengejek di bibir Leon. Ia pun mendekatkan mulutnya ke telinga Sasa, sementara Sun tengah berbicara sendiri.
“Sasa, sepertinya Sun cemburu melihatku dengan Ni.”
Sasa seketika membunyikan jari. Sun menyadari ada aura aneh di dekatnya. Seketika itu wajahnya pucat melihat raut wajah Sasa. Sun menelan ludah, tidak dapat berkata apa-apa.
“Sun, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“I ... iya?” Diam sejenak, kemudian, “Adu-du-du-duh!”
“Ni, tutup telinga dan mata, kita tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.”
“Baik.”
“Leon! Apa yang kau katakan padanya?”
“Tidak tahu, aku tidak dengar!”
***
Maaf kalo bagian akhirnya gaje 😂
__ADS_1
Btw, aku bikin channel youtube, disubscribe ya. Siapa tahu kalian suka dengerin kisah horor atau thriller.
[Nama Channelnya : Careless Boy]