The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 8 part 1


__ADS_3

Aku berjalan kembali ke tempat sebelumnya, di mana Darwis dan aku terpencar. Tidak ada apa-apa di sini, hanya sisa-sisa serangan dari Roman dan temannya kepada kami. Setelah mengamati lebih jauh, aku menemukan sebuah jejak serangan pada dinding sebuah rumah tua. Segera kuikuti dari mana serangan tersebut berasal.


“Jika tembok itu runtuh seperti ini, sudah pasti pertarungan mereka tak jauh dari sini.”


Tebakanku benar, jauh di depan sana sebuah pertarungan sedang terjadi. Bagaimana aku bisa tahu? Itu karena tampak beberapa kilatan yang saling beradu, dan menurutku hal tersebut sangat wajar sebab Darwis mempunyai Teknik Pengendali Api, lalu mungkin saja lawannya adalah orang yang mampu menggunakan energi murni.


Sebelum melangkah, aku memeriksa sekujur tubuh. Tidak ada satu pun perlengkapan yang tersisa, termasuk jirah bayangan buatanku. Darah yang tadinya menempel juga telah hilang tersiram hujan. Sekali lagi aku menengadah, melihat dua orang tengah bertarung di udara.


“Rupanya Darwis bisa membuat sayap dengan apinya, ya? Menarik.”


Walaupun aku mencoba mengalihkan perhatian dan tidak ingin peduli pada kejadian tadi, tetap saja hati ini merasa hampa. Tidak kusangkan akan seperti sekarang setelah membalaskan dendam seseorang yang kusayangi. Namun, kenapa aku belum juga bisa melupakan gadis itu? Dia seolah hidup dalam diriku meskipun pertemuan kami sangat singkat.


Ah, sudahlah, memikirkannya hanya akan membuat kepala pusing. Segera aku menghela napas, lalu menatap tajam ke arah Darwis. Mahkluk jadi-jadian itu mampu mengimbangi serangan dari lawannya, tetapi belum bisa menjamin kemenangan.


Menurut analisaku, pengendalian energi murni sedikit berbeda dengan merubah energi menjadi bentuk lain lalu memanipulasinya. Kupejamkan mata sejenak, merasakan sekitar termasuk energi jiwa. Beberapa saat lalu, energi murniku tiba-tiba keluar begitu saja tanpa ada sebab, tetapi sebenarnya ada alasannya.


Waktu itu aku sedikit panik, kemudian tanpa sadar melepaskan energi jiwa murni begitu saja. Sepertinya akan jadi masalah jika hal tersebut terulang kembali. Suhu dingin merasuk ke dalam tubuh, energi murni langsung keluar dan melayang di sekitarku. Badan terasa lebih ringan, lalu aku pun melayang ke udara.


“Apakah aku mempunyai kekuatan untuk memanipulasi gravitasi? Tentu saja tidak, karena energi murnilah yang membuatku melayang.” Aku sedikit menggelengkan kepala karena berbicara pada diriku sendiri. Ya, mau bagaimana lagi, aku merasa cukup senang sekarang.


Setelah membuka mata, dengan kecepatan penuh aku melesat ke arah Darwis yang sedang bertarung. Selain bisa menggunakan energi murni, ternyata aku juga masih bisa memakai Teknik Manipulasi Bayangan. Memanfaatkan kesempatan, kubuat sebilah pedang seperti sebelumnya, kemudian menebaskannya secara vertikal pada orang bertopeng putih yang dihadapi Darwis.


Orang bertopeng itu mundur, mengelak dari seranganku dengan mudahnya. Melihat gerakannya, aku menjadi yakin kalau dia lebih hebat dibandingkan Roman. Namun, siapa dia?

__ADS_1


Perlahan aku mundur ke samping Darwis, menjaga jarak dengan lawan yang ada di hadapan. Sekilas, Darwis melirikku. “Jangan lengah!” bisiknya.


“Aku tahu ....”


“Hahaha, sepertinya Roman sangat lemah hingga dapat dikalahkan olehmu.” Orang yang ada di hadapan kami melepaskan jubah hitamnya. Tidak ada apa pun di tubuhnya, dia hanya ditutupi oleh pakaian merah tua dan celana hitam.


Seklias mataku dan Darwis bertemu. Mahkluk jadi-jadian ini tampaknya menyiratkan sesuatu dari tatapannya. Namun, hanya membuang waktu jika aku bertanya padanya. Mau tak mau aku pasrah sambil menghela napas, lalu kembali menatap musuh di depan kami.


“Aku ingin tahu, wajah seperti apa yang kau sembunyikan di balik topengmu itu.” Bayangan mulai menutupi sekujur tubuhku. “Jangan-jangan kalau kau menyembunyikan bekas luka dengan topeng itu.”


“Bagaimana mungkin orang sekuat diriku dapat terluka.”


“Besar juga rasa percaya dirimu sampai-sampai mengatakan hal itu kepadaku.”


Tangan kanan orang itu ditempelkan pada topengnya, perlahan ia menunjukkan wajah di balik topeng tersebut. “Ingat baik-baik namaku sebelum kau ke alam sana, Leon.” Mukanya tidaklah asing bagiku, tetapi bagaimana bisa orang ini jauh lebih kuat daripada Roman. “Aku adalah Verx, salah satu penjaga yang menghadangmu waktu itu,” lanjutnya.


“Tapi itulah faktanya, Roman dan aku memiliki rambut seperti ini karena efek samping penggunaan energi murni.”


Benar juga, rambut Roman juga berubah. Jika mereka berdua ada di sini, itu artinya. Aku langsung menerawang sekitar, mencari tahu apakah ada anggota lain dari Klan Ular.


“Percuma saja.” Verx membuat sebuah pedang cahaya berwarna jingga, kemudian mengarahkannya kepada kami. “Hanya kami berdua yang tersisa.”


“Mati kau!” Tiba-tiba begitu banyak bola api dari segala arah, menyerang Verx.

__ADS_1


Ledakan terjadi, asap langsung menutupi Verx dari pandangan kami. Sedetik pun aku tak mau berkedip supaya bisa melihat serangan kejutan darinya. Namun, apa yang terjadi sangat berbeda dari dugaanku. Ketika asap menghilang seluruhnya, Verx hanya berdiri sambil memegang pedang cahaya jingganya.


“Kau pikir serangan lemah itu dapat melukaiku?”


Darwis menggertakkan gigi, mungkin dia geram karena diejek. Selain itu, Darwis pasti masih kesal karena dulunya diusir dari Klan Ular karena rupanya yang mirip monster.


Kuciptakan pedang di tangan kananku menggunakan Teknik Manipulasi Bayangan. Verx melesat ke arah kami, tanpa peringatan aku langsung maju, lalu melancarkan satu tebasan pedang. Dia berhasil menahan serangan pertamaku, kami pun beradu pedang selama beberapa waktu.


Tidak ada yang mau mengalah, tetapi karena merasa terdesak, aku langsung mundur ke belakang, di mana Darwis berada. “Dia lawan yang cukup kuat. Aku kagum kau bisa menahannya selama ini, meskipun sedikit babak belur.”


“Berisik!”


Jelas Darwis tidak terima ketika aku mengatakan kalau dia babak belur. Namun, itulah faktanya, ia memang terluka—walau tidak parah—saat melawan Verx.


“Mulai dari sekarang,” bayangan yang menyelimuti tubuhku, kini membentuk jirah pelindung, “biarkan aku menghadapinya satu lawan satu.”


“Tapi, kau kan—” Dia hendak menghentikanku.


“Masih lebih baik jika aku menghadapinya daripada kau mati sia-sia.”


“Cih, baiklah.” Mau tak mau dia akhirnya mengikuti permintaanku.


Bagus, jika dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memulihkan tenaga. Setidaknya itu bisa membuat kesempatan menang kami bertambah. Kembali kualihkan pandanganku pada Verx. Orang itu tampak tidak peduli dengan apa yang kami rencanakan, sehingga hanya melihat saja. Kepercayaan diri terhadap kekuatannya sangat tinggi.

__ADS_1


Aku sedikit tersenyum, lalu berkata, “Jangan sesali pilihanmu.”


“Siapa juga yang menyesal.” Dia ikut memasang senyum tipis di bibirnya.


__ADS_2