
Jauh di depan kami, pemandangan yang begitu berantakan karena dedaunan yang terpencar ke sana sini, dapat terlihat. Aku tak ingin membahas kenapa hal itu dapat terjadi, sebab jelas penyebabnya adalah putaran angin yang begitu kencang tadi. Warna daun yang tadinya hijau, kini bercat merah karena asap tebal yang membumbung tinggi beberapa saat lalu.
Kami berdua masih bergeming, menatap lurus kawasan yang kacau balau tersebut. Kemudian, Darwis melirik sekitar, mencoba mencari-cari sesuatu yang tidak aku ketahui. Tanpa alasan yang jelas, aku ikut menerawang sekitar, mengamati apakah ada kejanggalan di sini.
Nihil, tak ada yang salah dengan tempat ini, hanya saja, udara yang terhirup begitu menyesakkan, hingga aku harus menutup hidung dengan kedua tangan. Walau tak banyak, asap berwarna merah masih melayang di sekitar, membuat pencemaran udara. Namun, asap tersebut bukanlah racun atau apa pun yang berbahaya, hanya asap biasa dengan warna merah.
Hm, mungkin kita dapat menyebutnya sebagai serbuk atau semacamnya. Karena apa yang melayang-layang di udara ini memang tidak seperti asap, tetapi lebih seperti debu.
Perlahan, Darwis melangkahkan kakinya ke depan, tak ada tanda-tanda kehadiran orang atau binatang di sekitar kami. Namun, di sini aku merasakan sesuatu hal yang membuat tempat ini berbeda, bahkan bisa dibilang aku sedikit takut karenanya. Hanya sedikit saja.
Tiba-tiba tubuhku menggigil dengan sendirinya, mata masih menerawang untuk mengawasi. Hari sudah senja, dan awan hitam menutupi langit yang tadinya cerah. Bukan tanpa sebab kami dapat sampai di tempat ini pada saat yang tidak tepat. Karena sebelumnya, aku merengek dan terkadang membuat Darwis kesal, hingga terus berdebat, sampai tak terasa waktu berlalu dengan cepat.
Jika dipikir-pikir lagi, waktu selalu berjalan dengan cepat ketika kita menghabiskannya dengan melakukan sesuatu seperti mengobrol dan sebagainya. Ya, ini sudah bukan rahasia lagi, jadi tak perlu aku untuk membahasnya.
__ADS_1
“Hm ....” Tiba-tiba, Darwis berhenti, merendahkan tubuh, lalu mengamati tanah di sekitarnya. “Ini aneh.”
Aku berhenti sambil menjaga jarak dari mahkluk aneh berkulit coklat itu. Sebenarnya apa yang dia pikirkan sampai-sampai sangat tertarik untuk menyelidikinya.
Darwis menegakkan kembali tubuhnya, tangan kanan mahkluk setengah manusia itu ditempelkan di kening. Ia menerawang ke sana kemari, hingga akhirnya menurunkan tangan kembali, dan menengadah.
Tingkah lakunya aneh sekali. Apa ada yang salah dengan situasi ini. Kalau aku tak salah dengar, dia juga mengucapkan: ini aneh. Akan tetapi, apa artinya itu? Jalan pikirannya sangat sulit untuk ditebak.
Aku menghela napas, tak mengerti dengan apa yang ia maksudkan. “Tidak, aku tidak merasakan ada sesuatu yang aneh.”
Memang benar aku sedikit takut dengan siatuasi ini, tetapi itu karena suasananya terasa begitu menyeramkan. Namun, apakah ini yang dimaksud 'aneh' olehnya, aku rasa tidak demikian. Pasti ada sesuatu yang membuatnya merasa kalau ini memang ‘aneh’.
“Tapi kenapa aku merasa kalau ini aneh, ya? Heran.” Dia kemudian kembali menghadap ke arah lain, memandangi sekitar.
__ADS_1
Sudahlah, tak perlu dipikirkan, yang aneh di sini hanya dirimu, sisanya tidak ada yang aneh. Kenapa juga kau harus memikirkannya lebih jauh.
Dia melangkahkan kaki, berjalan memutari pepohonan, seperti sedang mencari harta karun terpendam. Ah, terserahlah ... tidak peduli. Segera aku menjauh darinya, menerawang sekeliling, berharap menemukan lubang besar di sebuah pohon.
Tak lama kemudian, aku menemukan apa yang kucari. “Itu dia.” Kaki pun melangkah ke depan, menuju sebuah pohon yang memiliki lubang besar. Aku tak percaya kalau di sana tidak ada sepotong roti pun seperti yang dikatakan oleh Darwis. Dan sekarang aku akan membuktikannya.
Langsung aku mengulurkan tangan kanan ini ke dalam lubang, segera setelah sampai di sana. Kuraba apa yang ada di dalam, terdapat sesuatu yang permukaannya sedikit kasar. “Ah, ini mungkin hanya pembungkus roti saja.”
Tiba-tiba, tanganku digigit, rasanya sakit, dan segera aku mengeluarkannya dari dalam sana. Sialan, isi lubang itu adalah ular berwarna hitam dengan bintik putih di bagian leher. Dengan sembarang aku menarik ular itu agar gigitannya terlepas. Darah mulai mengalir dari luka akibat gigitan ular tadi.
Aku pun langsung berbalik kemudian berlari, ular tadi masih mengejarku. Tangan kananku rasanya begitu sakit, lalu tangan kiri menggenggam erat lengan yang sakit itu. Napas mulai terengah ketika memaksakan diri untuk berlari, kepala rasanya sakit luar biasa.
Ini situasi terburuk yang pernah ada, bahkan lebih buruk daripada terjebak dalam mimpi buruk yang mengingatkanku pada kematian. Astaga, aku sudah muak dengan semua ini, segera keluarkan aku dari hutan sialan yang tidak jelas ini!
__ADS_1