
Senapan panjang terarah lurus pada seekor bhabi hutan yang cukup besar. Kaki masih terus berlari, berusaha untuk mengejar bhabi tersebut. Tanpa sebuah peringatan, jari telunjuk menarik pelatuk, dan senapan pun melontarkan sebuah peluru dengan kecepatan tinggi.
Bhabi tersebut berteriak ketika peluru mengenai bagian perutnya. Darah mulai bercucuran dari luka tersebut, dan bhabi itu menggeliat di tanah. Langkahku kian pelan mendekati si bhabi.
"Haah .... Apa yang harus kulakukan dengan bhabi ini?"
Saat aku termenung memikirkan apa yang harus kulakukan padanya, bhabi itu malah menyeret dirinya untuk pergi. Sontak, satu peluru melesat dari senapan yang ada di tangan, membuat sebuah luka lain pada si bhabi.
Dia masih berteriak, lalu mulai merangkak lagi. Perjuangannya membuat terharu. Namun, akan lebih baik kau mati saja, bhabi sialan. Suara tembakan kembali menggema, akhirnya satu peluru yang meluncur tepat ke kepala si bhabi, dan berhasil membuatnya mati.
"Baiklah, waktunya untuk makan." Aku mengangkat tubuh bhabi yang telah berlumuran darah itu, lalu meletakkannya di bawah pohon ketika diri ini mencari kayu bakar.
Meskipun telah mengumpulkan banyak kayu, aku masih belum terpikir bagaimana cara untuk menyulut api. Akan tetapi, keberuntungan masih menyertai, aku menemukan sepotong kayu yang cukup besar. Kayu tersebut kuletakkan di tanah, lalu mulai mencari sepotong ranting.
Sepotong ranting seukuran ibu jari dengan ujung lancip, terus kuputar di atas dahan kayu tadi. Waktu semakin lama berlalu, keringat kini membasahi sekujur tubuh. Bunyi gesekan antara kedua kayu, menggema dan mulai membuat percikan api.
Akhirnya, api berhasil dinyalakan setelah berusaha sekuat tenaga. Napasku terngsengal, tetapi tangan masih harus menumpukkan kayu bakar di atas perapian.
__ADS_1
"Untunglah tempat ini berdekatan dengan sungai." Aku kembali menengadah. "Tapi, bagaimana cara untuk membersihkan kulit bhabi ini? Apakah bisa kupanggang begitu saja? Ah sudahlah, lebih baik langsung kumasak."
Setelah beberapa saat membersihkan bhabi di sungai, aku langsung mendirikan beberapa potong kayu untuk memasak bhabi ini. Tanpa mau memikirkan bentuknya, sepotong kayu kutusukan dari mulut si **** hingga menembus perutnya.
Singkat cerita, aku telah melahap seperempat tubuh **** itu, setelah memasaknya. Rasanya begitu hambar, terlebih diri ini harus membersihkan sisa-sisa bulu yang menempel di sana.
Api yang menyala, kini telah padam. Sisa daging bhabi itu kubungkus dengan dedaunan, lalu memasukkannya ke balik pakaian.
Seusai minum dari air sungai, aku duduk bersandar di bawah sebatang pohon. "Mungkin hidup seperti ini cukup. Namun ... keinginanku masih belum tercapai."
Tiba-tiba tanah bergetar, diri ini tanpa sadar telah berdiri. Asap tebal membumbung tinggi, suara ledakan yang begitu banyak, mulai mengisi telinga. Melirik ke arah selatan, mataku dapat melihat hujan misil menghantam permukaan tanah.
Segala halangan satu persatu kulewati. Tangan menyilang di atas kepala, dan daun-daun kini bertebaran. Langkah ini semakin cepat, napas yang tersengal dan rasa lelah, telah kalah oleh ketakutan.
Tarikan napas yang tak menentu, menghiasi setiap langkah yang kuambil. Berat, dada ini sesak, tak sanggup lagi untuk melakukan pelarian.
Saking lelahnya, kaki ini mendadak melemas dan membuat tubuh jatuh tersungkur. Mengabaikan sekitar, aku kembali berdiri, memaksa diri melampaui batas, agar dapat selamat.
__ADS_1
Sebuah ledakan yang begitu besar, menggema dalam telinga. Masih tetap mengabaikan apa yang terjadi. Dengan sempoyongan, kaki ini kupaksa untuk terus melangkah.
"Ga ... haah ... wat!" Sebuah kata, yang terpotong oleh helaan napas, kembali terlontar.
Dada ini sesak dan mulai panas. Sudah tak sanggup lagi kaki untuk berlari. Namun, demi bertahan hidup, ini harus dilewati.
Tiba-tiba, sebuah gelombang udara menghempas tubuhku dari arah belakang. Aku terhuyung, berguling beberapa kali di tanah sampai merobohkan semak-semak yang ada di depan.
Tepat di balik semak-semak tersebut, terdapat sebuah lapangan luas yang di ujungnya terdapat sebuah dinding raksasa. Di bagian tengah dinding tersebut, ada sebuah jalan masuk yang cukup luas.
Segera diri ini bangkit, lalu memaksa tubuh untuk kembali berlari. Jatung memompa darah dengan kecepatan tinggi. Napas kian cepat, dan kepala mulai pusing.
Dari arah belakang, asap dengan cepat merambat mendekatiku. Pandangan ini mulai tak karuan, rasa lelah benar-benar menyiksa.
Tidak! Aku menolak untuk menyerah! Aku harus tetap hidup! Tujuan masih belum juga kuraih.
"Aku, tidak akan menyerah!"
__ADS_1
Tekad yang begitu kuat, membuatku mengabaikan semua penderitaan yang kualami.