The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Cerita Di Sabtu Pagi


__ADS_3

💕


💕


Nania merapatkan dadanya, sementara Daryl menekan bokongnya hingga milik mereka saling bergesekan. Dan meski masih terhalang pakaian namun keduanya  merasa sudah siap.


"Umm … Daddy, aku mau mandi dulu." Perempuan itu hampir saja turun dari pangkuannya, namun Daryl segera menahannya.


"Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, Malyshka." Pria itu meremat pahanya dengan keras.


"Tapi aku belum mandi …." Jari-jari Daryl merayap dibalik rok hitam perempuan itu dan dia menemukan pusat tubuhnya yang menghangat.


"Aku juga belum mandi, so …." Pria itu mendekatkan wajah mereka lalu kembali meraih ciuman Nania.


Nania mendes*h pelan dengan matanya yang mengerjap-ngerjap. Tubuhnya semakin memanas dan dia tak dapat menahan diri ketika jemari pria itu bermain-main di bawah sana.


Sehingga segera saja, dia melucuti pakaiannya dan kemudian menyerahkan diri.


***


"Hari ini kamu libur, Nna?" Sofia muncul dengan penampilannya yang sudah siap untuk jalan pagi.


Pakaian dan sepatu olah raga, ditambah topi yang begitu serasi melekat di tubuhnya. Yang meski sudah menginjak di kepala lima, dia masih tampak sehat.


"Iya, ospeknya udah selesai." Nania yang tengah menyirami tanaman di tamannya menoleh.


"Jadi, hari senin nanti kamu sudah mulai kuliah?" Satria pun muncul tak lama kemudian. 


Pria itu pun masih tampak bugar meski usianya sudah tak semuda dulu lagi.


"Iya, Pih."


"Baiklah, jangan lupa jaga kesehatanmu. Kuliah di awal semester biasanya akan sangat sibuk." Sang mertua mengingatkan.


"Iya."


"Kamu tidak mau ikut jogging hari ini?" Sofia dan Satria mulai mengatur langkah mereka.


Seperti biasa, menghabiskan waktu untuk berjalan santai mengitari track hingga ke hutan buatan di belakang rumah mereka.


"Kayaknya nggak. Daryl belum bangun, nanti dia teriak-teriak lagi kalau aku nggak ada. Berisik!"


"Ah, iya benar juga. Ya sudah, nanti kalau yang lain datang, katakan saja Mama dan Papi jalan pagi ya?" Dan Sofia mempercepat langkah mengikuti suaminya.


"Iya, Mama."


Lalu Nania melanjutkan kegiatan dengan tanaman-tanaman kesayangannya.


"Malyshkaaaaa!!!" Seperti biasa, teriakan tak asing itu terdengar dari lantai atas di mana kamarnya berada.


"Nak kan, baru aja diomongin udah kejadian?" Nania menggumam.


"Malyshkaaaa, … di mana kamu?"


"Malyshkaaaaaaa!!"

__ADS_1


"Haihh! Bisa nggak sih kalau bangun tidur itu bangun aja kayak orang normal lainnya? Bukannya teriak-teriak?" Perempuan itu mematikan aliran air dari kran kemudian meletakkan selangnya di atas rumput dan segera berlari ke dalam rumah.


"Malyshkaaaaa!!!"


"Iya, apaaaa?" Dia segera naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar. Lalu menemukan suaminya yang masih berada di bawah selimut.


"Bisa nggak sih berhenti teriak-teriaknya? Kamu kan tahu kalau aku nggak akan pergi ke mana-mana? Paling di depan aja, kenapa mesti teriak-teriak gitu?" protes Nania dengan nada kesal.


Daryl tertawa sambil menggeliat, kemudian mengusak rambutnya yang berantakan.


"Bukannya ketawa, tapi bangun!" Lalu Nania menarik selimut yang menutupi tubuh telanjang suaminya.


"Hey!" Daryl menutupi pusat tubuhnya dengan kedua tangan, namun percuma karena benda yang agak menegang itu tetap terlihat menyembul disela tangannya.


"Ditutupin juga tetep kelihatan." Perempuan itu mendelik dengan pipi yang merona.


"Ayo, Daddy. Hari ini aku mau ke rumah baca." Nania merapikan sebagian tempat tidurnya ketika Daryl bangkit.


"Mau mulai aktif lagi? Kan kamu kuliah?" Dia menurunkan kedua kaki panjangnya.


"Cuma mau lihat doang. Lagian kuliah kan Senin sampai Jum'at. Sabtu kadang libur."


"Hmm … baiklah." Pria itu bangkit kemudian melenggang ke arah kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat. Sementara Nania memutar bola matanya ketika melihat hal tersebut.


***


"Mau berangkat jam berapa?" Daryl menyesap kopi yang sudah Nania sediakan di meja makan.


"Nanti nunggu Ann. Soalnya tadi subuh udah janjian, kan." Perempuan itu melahap sarapan yang sudah dia buat sejak pagi.


"Itu bagian Lisa. Kalau camilan kita beli sambil pergi aja ya?"


"Oke."


"Tante Nna?" Suara yang mereka kenal menjeda pembicaraan. Siapa lagi kalau bukan Anandita yang memang selalu datang setiap Sabtu pagi bersama kedua orang tua dan adik-adiknya.


"Nah, itu udah datang." Nania menghentikan kegiatan makannya. "Temben banget nggak bareng Regan? Biasanya datangnya barengan?" Lalu dia menatap ke arah pintu.


"Oh ya? Om Regan belum datang? Biasanya udah di sini dari pagi?" Anandita pun melakukan hal yang sama.


"Mungkin dia sedikit kelelahan. Beberapa hari ini kan cukup sibuk." Daryl yang tengah menikmati kopinya pun menyahut.


"Sibuk bantuin kamu ya?"


"Ya, membantumu juga."


"Bantu apaan? Aku larang dia kalau pas mau bantuin ngerjain tugas juga?"


"Antar teman barumu pulang?"


"Hah? Mahira?"


"Ya … itulah."


"Cuma antar doang masa?"

__ADS_1


"Ya memang, kan lebih dari jam kerjanya."


"Dih, biasanya bantuin kamu juga sampai tengah malam nggak dibahas. Giliran cuma nunggu di sini sama anter Mahira pulang aja jadi masalah. Lagian itu nggak sengaja nganterin, tapi jalan pulangnya emang searah." Nania menjawab panjang lebar.


"Sebentar, sebentar. Tante Nna sama Om Der lagi bahas siapa sih? Mahira, Mahira siapa?" Anandita menyela percakapan.


"Temen kuliah aku."


"Duh, baru ospek udah dapet temen kuliah aja? Keren lah."


"Ya lumayan lah, nggak sendirian-sendirian amat." Nania tertawa.


"Hmm … kok udah dianter-anter Om Regan emangnya habis dari mana?" Anandita mulai antusias.


"Kemarin sempat ada tugas kan, terus ngerjainnya di sini, sampai malam pula. Ya terpaksa pulangnya bareng Regan aku nggak tega dia pulang sendirian."


"Mahira itu … cewek atau cowok?" Lalu Anandita bertanya.


"Bercanda ya? Cewek lah. Bisa digorok om kamu kalau aku temenan sama cowok dan dibawa pulang ke sini." Nania tertawa.


"Oh …." Gadis itu tertegun.


"Ehm … selamat pagi?" Lalu suara lain menginterupsi percakapan itu. Dan mereka bertiga oleh serentak ke arah asal suara, lalu sosok Regan lah yang mendominasi.


Pria itu berdiri di ambang pintu dan mengangguk pelan sambil memasang senyum sekilas.


"Hey? Selamat pagi. Masuk dulu, Regan? Mau ikut sarapan?" Nania menawarkan.


"Ah, tidak terima kasih. Saya sudah sarapan tadi di rumah." Pria itu menolak.


"Hmm … kalau gitu, tunggu sebentar ya?" ucap Nania yang melanjutkan kegiatan makannya.


"Kamu udah sarapan, Ann?" Daryl beralih pada keponakannya.


"Udah dong tadi di rumah." Anandita pun duduk di sofa tengah ruangan sambil memainkan ponselnya tanpa menyapa Regan seperti biasanya.


"Tumben tidak di rumah Opa?"


"Kebetulan aja Mama tadi bereksperimen." jawab gadis itu dengan pandangan fokus pada ponselnya.


"Eksperimen apa?"


"Ya eksperimen masakan lah, apa lagi?"


"Hmm …."


"Ya udah sih, cepetan kenapa? Keburu siang nih ah!" Anandita bereaksi setelah beberapa saat.


Kemudian mereka segera pergi begitu menyelesaikan sarapan. Dibawah raut masam nan cemberut Anandita yang pagi itu tiba-tiba saja tak terlalu banyak bicara seperti biasanya.


💕


💕


💕

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2