
💕
💕
"Ann, kamu kenapa sih? Ada masalah apa kok hari ini kelihatan tidak senang?" Akhirnya Regan bertanya setelah mereka terdiam cukup lama.
Perjalanan ke arah rumah baca memang terasa cukup lambat karena kemacetan mulai terjadi di beberapa ruas jalan utama ibu kota, di mana beberapa pusat keramaian berada.
"Aku lagi bete!" Anandita menjawab.
Wajahnya terlihat masam dan dia benar-benar tampak tidak senang.
"Iya kenapa? Saya bingung jadinya, karena seperti saya yang punya salah. Atau kamu memang seperti ini ya?" Regan menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah.
Ish, dasar cowok nggak peka! Gumamnya dalam hati.
"Ann?"
"Apa?" Gadis itu membentak.
"Duh? Tenang lah. Kenapa kamu ini marah-marah?" Regan menoleh dan menatapnya dengan raut aneh.
"Jadi … itu temen Tante Nna yang namanya Mahira?" Anandita akhirnya melontarkan pertanyaan.
"Iya."
"Dan Om dari pagi udah kerja sama dia?"
"Ya."
"Om juga jemput dia pas berangkat tadi?"
"Iya juga. Kebetulan dari gudang saya lewat ke area rumahnya, jadi …."
"Om jemput Mahira ke rumahnya? Bahkan jemput aku ke rumah aja belum pernah!" Gadis itu merengek.
"Lho? Bukan, bukan begitu maksudnya. Kami bertemu di perapatan dekat rumahnya dan …."
"Kalian janjian ketemu gitu?"
"Ya." Regan bertanya lagi.
"Huaaaaaaa …. Om kejam! Kita belum pernah janjian sebelumnya, tapi sama temennya Tante Nna udah janjian aja!"
"Anandita! Kamu ini kenapa?"
"Om nggak adil, padahal biasanya duluin aku. Tapi setelah kenal cewek lain jadi berubah. Aku nggak suka!" Gadis itu bersedekap, sementara Regan mengerutkan dahi.
"Om pacaran sama Mahira?" Anandita mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.
"Ti-tidak." Yang membuat Regan mundur hingga dia terjebak di sudut dengan punggung benar-benar merapat pada kursi mobil.
"Terus kenapa bisa deket banget sama Mahira?"
"Saya tidak dekat dengan Mahira, hanya sedang menjalankan tugas saja."
"Tugas apa?"
"Tugas dari Pak Daryl."
"Iya, tugas apa?" Anandita terus bertanya.
"Tugas … mengambil parfum untuk jualannya Nania."
Anandita memicingkan mata. Dia seperti sedang menyelidiki sesuatu, sementara Regan menatapnya dengan sedikit panik.
"Jadi nggak pacaran?" Gadis itu bertanya lagi.
"Tidak."
"Bener?"
"Benar. Saya ini masih jomblo, tahu?"
Anandita kemudian kembali pada posisinya semula.
"Huh, aneh sekali." Regan pun melakukan hal sama, dan dia kembali melajukan mobilnya ketika lampu sudah berubah hijau.
"Bagus, pertahankan status jomblonya!" ucap Anandita yang membuat Regan kembali menoleh.
"Maksudnya?"
Anandita tak menjawab.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa saya menjelaskan ini seolah-olah kamu orang penting bagi saya? Itu kan urusan pribadi, terserah saya dong?"
Iya juga, kenapa aku gitu? Batin Anandita. "Aaaa ... Pokoknya Om harus tetap menjomblo sampai nanti!" ujar gadis itu dengan sedikit menghentakkan kedua kakinya.
"Hey, Anandita!!" panggil Regan saat gadis itu yang hari ini bersikap sedikit aneh.
"Udah dekat, Om." Kemudian Anandita pun buka suara.
"Apa?"
"Rumah baca nya udah dekat." Anandita menunjuk ke arah depan di mana sebuah gapura menuju Rumah Baca Nania berada.
Dan Regan segera membelokkan mobilnya hingga akhirnya mereka tiba di tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daryl duduk bersedekap di belakang Nania. Kaca mata hitam sudah bertengger di pangkal hidungnya, melindungi cahaya matahari yang cukup terik pada siang itu.
Wajahnya sudah memerah, dan keringat tampak kentara di dahi dan pelipisnya, dan air di dalam tumbler bahkan sudah hampir habis dia minum.
"Daddy, kalau mau kamu bisa pulang aja." Nania menyadari hal tersebut.
Dia baru saja selesai melayani pembeli yang hari itu memang cukup banyak.Â
"Tidak, aku baik-baik saja." Daryl menjawab.
"Tapi kayaknya kamu kepanasan." Nania tertawa sambil menarik beberapa helai tisu dari tempatnya, lalu mengeringkan keringat di wajah suaminya.
"Memangnya kamu tidak ya?"
"Kepanasan, tapi kan udah biasa."
"Hmm …." Daryl menggumam.
"Kamu mau jus? Aku beliin ya?" tawar Nania kemudian, yang beranjak dari tempatnya menuju ke luar stand.
"Aku ikut." Daryl pun bangkit lalu mengikutinya.
"Jualanmu bagaimana?" Mereka menoleh kepada Mahira yang kembali kedatangan pembeli.
"Biar aja, Mahira juga bisa."
"Dia tidak akan kesulitan?"
"Nggak, kan gampang. Barangnya cuma satu harga dan nggak harus nyiapin banyak hal." Keduanya melenggang ke arah stand makanan.
"Apa saja asal jangan milk tea." Daryl menjawab.
"Kenapa?"
"Setiap hari aku melihatmu meminum itu, jadi rasanya sudah bosan."
"Dih?"
"Sepertinya jus buah akan sangat baik."
"Iya, aku tanya maunya jus apa?"
"Apa saja lah."
"Jus nanas?"
"Tidak mau, itu pasti asam."
"Jus mangga?"
"Di rumah mama sering."
"Jus sirsak?"
"Bijinya suka terbawa."
"Jus jambu merah?"
"Baunya aku tidak suka."
"Terus maunya apa? Tadi katanya terserah!" Nania menggeram kesal.
Namun pria itu menyeringaI ketika dia melihat buah yang sangat dikenalnya.
"Malah senyum-senyum?"
"Eragon fruit ada?" Dia bertanya.
__ADS_1
"Apa?"
"Eee … Maksudku, dragon fruit." Daryl tertawa.
Nania memutar bola matanya, namun dia segera bertanya pada pedagang yang adalah teman sekelasnya.
"Buah naga ada nggak?"
Gadis berkerudung itu tertegun setelah menyimak percakapan mereka.
"Hey, Lia!! Buah jus buah naga ada nggak?" ulang Nania sambil melambaikan tangannya.
"Eee … ada. Mau yang merah, kuning, putih apa ungu?"Â
"Wah, ada macem-macem ya?"
"Gitu deh."
"Dadd, kamu mau yang mana?" Kini Nania bertanya pada suaminya.
"Mana saja sama." Pria itu menjawab.
"Merah aja, Lia." Nania kembali pada teman sekelasnya itu.
"Aku pikir dia nggak bisa bahasa Indonesia?" Lia bergumam pelan.
"Dia orang sini tahu?" Nania menjawab.
"Tapi kayak bukan orang sini."
Perempuan itu mendelik. "Cepet bikinin aja jusnya, jangan lihatin suami aku terus. Nanti kamu jatuh cinta." katanya dengan nada gusar.
"Dih, aku nggak suka bule. Sukanya opa-opa Korea." Lia menjawab ucapan Nania.
"Terserah kamu, Lia."
Teman sekelasnya itu tertawa.
"Mlyshka, sudah belum?" protes Daryl yang ditinggalkan sendiri diluar stand.
"Sebentar." Dan Nania menjulurkan kepalanya dari balik banner yang menghalangi sambil menerima dua cup minuman dingin tersebut.
"Ini." Lalu dia menyodorkan salah satunya kepada Daryl.
"Eh, ayo kita lihat ke sana, sepertinya ramai." Daryl menarik Nania lebih ke dalam ketika melihat keramaian di sisi lainnya.
"Eh tapi aku kan lagi jualan." Nania berjalan tersaruk-saruk mengikutinya.
"Ada Mahira …."
"Tapi kan?"
"Kamu bilang jualan parfumnya gampang. Hanya satu harga dan tidak harus menyiapkan banyak hal."
"Iya, tapi …."
"Sudah, aku belum pernah datang ke tempat seperti ini. Dan sepertinya disini seru."
"Dih?"
"Seperti pasar yang waktu itu ya?" Daryl tertawa, dan dia terus menarik Naia lebih dalam lagi.
"Nah lu … kagak bisa deketin dia kan? Ada pawangnya itu." Dirga menepuk pundak Mahendra ketika temannya itu mengikuti Nania dan Daryl dengan pandangan.
"Udah gue bilangin jangan coba-coba juga."
"Apaan sih lu, Dirga?" Lalu Mahendra menepis tangan temannya dengan perasaan kesal.
"Kalau kayak gini caranya, lu kayak lagi sengaja nyakitin diri sendiri, Mahen."
"Ah, lu banyak omong!" Pria itu berbalik ke arah lain.
"Eh, lu bilang mau patroli? Mahen?"
"Lu aja ah."
"Ini lagi rame, pea! Harus ada pengamanan."
"Yang lain juga ada, gue banyak kerjaan." Mahendra menjauh.
💕
💕
__ADS_1
💕
Bersambung ....