The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Marahnya Nania


__ADS_3

💕


💕


"Udah ah, aku mau pulang!" Dengan sekuat tenaga Nania mendorong dada Daryl yang tengah berusaha meraih ciuman darinya. Meski pria itu sudah mencengkramnya dengan kuat tapi dia bisa lolos juga.


Nania meraih tas gendongnya yang semula diletakkan di sofa lalu segera berlari keluar.


"What? Malyshka!" Dan Daryl bereaksi karena hal itu.


"Kak Dinna?" Perempuan itu segera menghampiri meja sekretaris di mana Dinna bertugas.


"Ya?"


"Regan di mana?" Lalu dia bertanya.


"Tadi sih ada di bawah sedang memeriksa …."


"Malyshka …."


"Ya udah …." Lalu Nania mempercepat langkahnya ke arah lift.


"Astaga!" Daryl melewati Dinna sambil mengusap wajahnya, dan membuat perempuan di balik meja itu melongo untuk beberapa saat.


"Malyshka, stop! Kamu mau ke mana?" Daryl mencengkram lengan Nania, lalu mencoba menariknya menjauh dari lift, namun perempuan itu menyentakkan tangannya sehingga genggaman itu terlepas.


"Hey, what's wrong with you?" Dan hal tersebut tentu saja membuatnya mulai merasa kesal.


"Aku ingat terus waktu mereka meluk sama cium kamu. Kayak lagi lihat suami aku sendiri mesra-mesraan sama cewek lain. Dan itu rasanya sakit." Nania bergeser dua langkah ke samping, lalu melipat tangannya di dada.


"Astaga, masih soal itu? Bukankah sudah aku jelaskan kalau itu bukan berarti apa-apa?"


"Iya aku tahu."


"Terus kenapa menjadi masalah?" Mereka mulai berdebat.


"Nggak tahu, pikiran aku malah bilangnya hal lain. Kalau banyakan aja bisa begitu, apalagi kalau cuma berdua …." Nania meremat kepalanya sendiri.


"Stop! Whats wrong with you? Kamu berlebihan!"


Nania memegangi kepalanya sendiri, lalu dia mondar-mandir di depan lift.


"Aku tahu, aku overthinking. Jadi kayaknya aku harus pulang." Lalu dia kembali ke depan lift dan menekan tombol-tombol itu.


"Ah, sialan! Kenapa lama?" Nania terus menekannya berkali-kali, tapi seperti sengaja pintu lift itu tidak mau terbuka.


"Arrrgggh!" Nania menggeram, lalu dia beralih pada tangga darurat di sisi lainnya.


"Malyshka!" Dan Daryl segera mengejarnya ke arah tangga.


"Aku pulang, kamu kerja aja kalau sibuk. Aku nggak apa-apa." Nania yang berjalan tergesa.


"No, bukankah sudah rencanamu mau ke mari, lalu nanti pulang denganku? Come on! Kenapa hal sepele seperti itu bisa mempengaruhimu?" Daryl berhenti di tangga paling atas, dan ucapannya membuat Nania menghentikan langkah.


"Apa?" Lalu dia memutar tubuh. "Hal sepele kamu bilang?"


"Ya. Jika kamu lihat, di dunia modeling atau entertain hal seperti itu adalah hal biasa. Bukan berarti di antara kami ada apa-apa."


Nania menatap wajah suaminya, lalu dia naik dua tangga. "Aku tahu hal semacam itu. Aku juga pernah denger."


"Terus, kenapa itu menjadi masalah bagimu? Seharusnya kamu mengerti. Apalagi aku ini adalah pimpinan sebuah perusahaan dan majalah fashion terkenal. Tentu saja semua orang akan bersikap baik kepadaku."


Nania terdiam.


"Jadi, hal semacam itu tidak usah dipermasalahkan."


"Ya, seharusnya begitu." Nania menjawab, membuat salah satu sudut bibir Daryl tertarik membentuk sebuah senyuman samar. 


"Tapi masalahnya kamu adalah suami aku." lanjut perempuan itu dengan raut sendu.


"Bukankah suami istri itu saling memiliki? Aku milik kamu, sementara kamu adalah milik aku. Dan itu berarti nggak ada orang lain yang boleh menyentuhnya?"


Daryl bungkam.


"Dan ya, aku cemburu melihat suamiku berakrab-akrab kayak gitu sama cewek lain meski dengan alasan fotmalitas. Karena otak aku nggak nyampai di konsep kayak gitu. Aku pikir kalau kita udah nikah, maka nggak boleh ada celah sedikitpun bagi orang lain agar bisa mendekat meski itu hanya alasan formalitas. Tapi mungkin dalam hal ini pemikiran kita beda ya?" Nania menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


"Malyshka, it's just …."


"Aku tahu, coba keadaannya dibalik." Nania naik satu tingkat lagi sehingga jaraknya lebih dekat kepada suaminya.


"Gimana kalau misalnya aku kayak gitu sama temen-temen kampus, atau kakak senior? Nggak peluk sama cium. Jalan aja deh yang sederhana. Ngobrol akrab gitu sama mereka yang selama ini kayak mau mendekat. Apalagi senior cowoknya."


"Apa?"

__ADS_1


"Dan aku nanggepin mereka. Bersikap ramah, menerima ajakan mereka untuk datang ke acara-acara kampus yang penting di kalangan mahasiswa biar aku lebih dikenal gitu? Biar tanpa bergaul kayak gitu juga aku udah terkenal sebagai model iklan parfum FSH."


"No way!" Daryl tentu saja menolak.


"Kenapa?"


"Konsepnya tidak begitu. Ini beda, sayang!" Daryl sedikit terkekeh.


"Bedanya di mana?"


"Umm … ya … beda saja."


"Aku tanya bedanya di mana?" ucap Nania yang tak dapat Daryl jawab dengan segera.


"Karena kamu laki-laki ya? Dan kamu merasa punya hak untuk tebar pesona, dan itu sah-sah aja. Sementara aku perempuan yang nggak boleh ngelakuin apa-apa selain apa yang kemu perintahkan?"


"Tidak, karena kamu adalah istriku!"


"Kamu juga suami aku, terus di mana perbedaannya? Apa seorang suami boleh nyentuh perempuan selain istrinya karena alasan formalitas, tapi perempuan nggak boleh pakai alasan yang sama?"


Daryl membuka mulutnya untuk berbicara, namun Nania segera mendahuluinya.


"Eh aku lupa, temen-temen kamu itu perempuan bukan sih? Kok mereka bisa nyentuh kamu gitu aja? Sementara aku nggak bisa meski cuma bersikap ramah aja sama orang lain? Atau cuma karena aku aja yang nggak boleh, sedangkan orang lain bebas-bebas aja?"


"Ya … maksudnya …."


"Tapi waktu aku kenalin kamu sama Mahira, salaman aja nggak mau. Apa karena dia bukan temem kamu?"


"Itu ...."


"Atau mereka yang lebih dari sekedar temen?"


"No!!"


"Aku pusing ah. Ini kayak ada teka-tekinya dan otak aku nggak bisa nemuin jawaban, jadi …." Nania mundur lalu berbalik lagi. "Aku mau ke kampus lagi aja!" katanya, yang dengan cepat berlari menuruni tangga hingga ke lantai bawah dan Daryl segera mengikutinya.


"Regan, aku mau balik ke kampus!" Ucap Nania setelah dia berhasil keluar dari gedung.


Regan belum sempat menjawabnya, tapi perempuan itu sudah mendahuluinya dengan tergesa ke arah mobil. Diikuti Daryl di belakang.


"Hey, wait! Kenapa kamu begitu?" Pria itu kembali meraih tangannya.


"Aku salah datang ke sini, seharusnya nggak kan? Jadinya lihat apa yang seharusnya nggak aku lihat, jadinya begini kan? Aku overthinking kan?"


"Iya aku tahu, Maaf." Dan Nania menarik tangannya dengan keras. "Regan!" Lalu dia berteriak.


"Ya?" Dan pria itu segera menghampiri mereka.


"Aku mau pulang, eh jangan! Ke kampus aja. Kalau ke rumah nggak ada temen, nanti aku overthinking lagi. Kalau ke kampus kan ada Mahira, jadi …." Nania menggantung kata-katanya. 


"Ke kampus aja." ucapnya, kemudian dia masuk ke dalam mobil milik Regan setelah pria itu menekan tombol buka pada kunci jarak jauhnya.


"Malyshka?" Dan Daryl hampir saja ikut masuk ke dalam mobil saat Nania menahannya.


"Kamu kerja aja, nanti kita berantem kalau sama-sama terus." katanya sambil menahan pria itu agar tak ikut masuk.


"Tapi …."


"Aku cuma butuh sendirian biar tenang. Udah, kamu balik lagi aja ke dalam. Kerjaan kamu nunggu. Masa pimpinan FSH malah pergi padahal lagi sibuk?"


Daryl melirik kepada Regan yang terpaku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. 


"Regan!" Nania berteriak lagi, dan hal tersebut membuat dua pria itu terkejut.


"Cepet! Nanti bazarnya keburu tutup. Kasihan Mahira clossing sendirian!" katanya lagi, dan hal itu membuat Regan cepat-cepat masuk dan menyalakan mesin mobilnya.


"Aku pergi." Nania berpamitan tanpa memalingkan pandangan.


"Malyshka?"


"Ayo Regan?" teriak Nania lagi yang akhirnya membuat Daryl menyerah dan mengalah. Dia membiarkan mobil yang dikendarai oleh asistennya melaju keluar membawa Nania kembali ke kampus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu baik-baik saja?" Regan memutuskan untuk bertanya setelah mereka tiba apkampus.


"Ya, aku nggak apa-apa." Nania turun dan membanting pintu mobil.


"Kalian bertengkar?" tanya pria itu lagi.


"Nggak, cuma …." Nania menatap ke arah lapangan di mana bazar diadakan. "Tuh kan, jam segini malah rame? Kasihan Mahira jualan sendirian." katanya, dan dia segera berlari ke tempat tersebut.


Dan benar saja, sore itu acara bazar berlangsung cukup ramai. Hal tersebut berdampak pula pada stand miliknya di mana Mahira tengah melayani beberapa pembeli.

__ADS_1


"Maaf! Harusnya aku nggak pergi." Nania pun segera masuk ke tempatnya berjualan.


"Nggak apa, ini baru kok. Aku juga …."


"Mau yang mana? Ini bagus, wanginya enak. Tapi semuanya best seller kok, jadi recomended banget." Perempuan itu segera melayani pembeli.


"Aku saranin sih yang ini Kak kalau untuk perempuan, wanginya enak banget. Tapi semuanya bagus juga sih, hehehe." Dan dia berubah seketika menjadi pribadi lain yang bukan dirinya.


"Gini aja, kalau Kakak beli dua aku kasih bonus satu. Mumpung lagi promo, Kak." katanya lagi yang tentu saja membuat pembeli tersebut saling berebut produk yang ditawarkan. 


Dan begitulah seterusnya ketika pembeli kainnya kembali datang ke stand mereka. Sementara Mahira menatap Regan dengan raut tanya.


"Ada apa?" Lalu dia mengirimkan pesan ke nomor pria itu.


"Masalah rumah tangga." Regan menjawab.


"Apa?"


"Entahlah, mungkin."


"Mereka berantem?"


"Tidak tahu."


"Bapak kan asisten Pak Daryl?"


"Memangnya aku harus selalu tahu ya?"


"Yang aku tahu di novel-novel begitu."


"Cih, memangnya aku ini apa?"


"Asistennya Pak Daryl."


Regan menatap Mahira, lalu memutar bola matanya.


"Bukan urusanmu."


"Lah, terus Nania?"


"Biarkan saja dia begitu."


"Serius?"


"Ya."


"Oke."


"Regan?" Nania berteriak lagi.


"Ya?" Sedangkan Regan menyahut dari tempatnya berdiri.


"Beliin milk tea."


"Apa?"


"Beliin milk tea!" Nania mengulang ucapannya.


"Baik."


"Empat cup!"


"Empat?"


"Iya."


"Untuk siapa?" Regan terlebih dulu bertanya.


"Satu Mahira, yang tiga untuk aku. Kalau kamu mau boleh tambah satu."


"Ap-apa?"


"Cepetan ih, aku haus!" Nania menghentakkan kakinya ke tanah.


"I-iya, baik." Membuat Regan segera pergi untuk melakukan apa yang dia perintahkan.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


Duh, kok bisa begitu sih?🤣


__ADS_2