
💕
💕
"Melamun saja, sudah malam!" Daryl merangkul tubuh Nania dari belakang.
Dia menemukannya sedang berada di galeri dengan banyak kertas bergambar dan laptop menyala di meja belajarnya.
"Tugasmu sudah selesai?"
Nania tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kenapa tidak segera kamu bereskan?"
"Iya, ini juga mau." Perempuan itu menumpuk kertas lalu membereskan meja. Sementara Daryl mematikan laptop setelah menyimpan file yang telah dibuatnyadibuatnya terlebih dahulu.
"Sepertinya besok aku akan sangat sibuk. Jadi, mungkin tidak akan bisa menjemputmu." Mereka keluar dari galeri dan segera menuju lantai dua di mana kamar berada.
"Iya, nggak apa-apa. Mungkin Regan yang jemput?"
"Ya."
"Oke."
"Kamu ada kegiatan lain di kampus?"
"Nggak ada. Cuma kuliah biasa aja."
"Baiklah, itu bagus." Daryl menarik pergelangan tangannya sehingga langkah Nania terhenti, dan dia segera mengangkatnya dalam gendongan.
Perempuan itu tertawa.
Daryl berjalan tergesa menuju kamar mereka kemudian membaringkannya di tempat tidur. Dia pun merangkak naik lalu menindih tubuh Nania dan menyurukkan wajah di ceruk lehernya lalu terdiam.
"Dadd?" Nania mengerutkan dahi.
Tak ada pergerakan seperti biasanya, dan pria itu hanya memeluknya dengan nyaman. Padahal biasanya tak akan ada hal semacam ini jika mereka sudah berada di tempat tidur dalam keadaan sedekat ini.
"Dadd, apa kamu tidur?" Nania membingkai wajahnya.
"I'm trying." Daryl menjawab.
"Tumben? Kamu nggak sakit kan?" Dia bertanya.
"Tidak."
"Terus kenapa?" Nania menatap wajahnya.
"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin tidur saja." Pria itu menjawab.
"Mmm … aneh banget deh? Apa ada masalah?" Nania bertanya lagi.
"Tidak ada, hanya ingin tidur saja." Dan Daryl kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu yang membuatnya merasa begitu nyaman.
Ini mengkhawatirkan! Batin Nania.
"Umm … tunggu sebentar." katanya yang mendorong pria itu kemudian bangkit.
Nania menyentuh keningnya, namun tangannya segera Daryl singkirkan.
"Apa sih?"
"Kamu nggak panas ah." Perempuan itu kembali menatap wajahnya.
"Kamu pikir aku sakit?"
"Nggak, tapi kan biasanya nggak begini."
"Tidak begini bagaimana? Aku mau tidur." Daryl membenahi bantal kemudian kembali merebahkan kepalanya di sana.
"Kamu aneh. Biasanya tangannya nakal terus nggak mau diem. Dan akhirnya kita anuan."
"Haih …." Pria itu membalikkan tubuhnya hingga dia tengkurap menghindari istrinya.
"Daddy?" Namun Nania terus mengajaknya berbicara.
"Dadd? Udah mau tidur?" Dia menusuk-nusuk punggung Daryl dengan jari-jarinya.
"Daddy?"
"Hmm …." Kini Daryl membenamkan wajah di bantal.
"Kamu beneran mau langsung tidur?"
__ADS_1
"Iya."
"Nggak mau sayang-sayangan dulu?" Nania menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan suara tawanya.
"Tidak, nanti kamu kelelahan."
"Duh? Ngambek?"
"Tidak, aku hanya ingin tidur."
"Beneran?" Nania menunduk kemudian mendekatkan mulut pada telinga suaminya.
Dan pria itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Serius?" Nania tampak tidak percaya.
"Ya, tidurlah."
"Umm … gitu ya?"
Daryl tak menjawab lagi, sementara Nania terdiam. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di samping pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Regan turun begitu mobil yang mengantarkan Anandita pergi. Itu adalah hari pertama sekolah setelah kurang lebih tiga minggu lamanya libur.
Kedua sudut bibir Anandita tertarik membentuk lengkungan senyum saat melihat kedatangan pria itu. Tentu saja dia tahu, karena seperti biasa story what's app lah yang menjadi penghubung.
"Malah beneran ke sini?" Anandita dengan hati riang.
"Aku bilang ingin bertemu kan?" Regan tetap memeriksa keadaan meski tahu bahwa siapa pun yang mengawasi gadis itu tidak akan bertindak apa-apa selama dirinya masih bersikap normal.
"Oke, terus udah ketemu mau apa? Aku harus masuk." Anandita menatap wajahnya yang hari ini tampak lebih ceria dari terakhir kali mereka bertemu seminggu yang lalu.
Tentu saja, dengan kesibukannya sebagai asisten Daryl dan staff Nikolai Grup, pria itu hanya sedikit memiliki waktu untuk kehidupan pribadinya. Hanya story di whatsapp app lah yang menjadi sarana berkomunikasi agar mereka bisa tetap terhubung.
"Tidak mau apa-apa, kan tempatnya tidak memungkinkan. Hahaha." Regan tertawa. " Hanya …." Lalu dia merogoh ponsel dari saku jasnya.
"Ambillah ini agar kita bisa berkomunikasi," katanya yang menyodorkan benda tersebut pada Anandita.
"Apaan?"
"Ini hape, masa kamu tidak tahu?"
"Agar kita bisa berkomunikasi. Masa setiap waktu membuat story terus? Kalau begitu kita bisa ketahuan."
Gadis itu terdiam.
"Aku juga punya satu lagi, ahahaha." Lalu Regan menunjukkan ponsel lainnya yang sama seperti untuk Anandita.
"Ck! Ribet amat sih pakai dua hape? Yang biasa aja kenapa?"
"Hape kita disadap, dan itu berbahaya. Setidaknya untukmu."
Anandita memutar bola matanya.
"Ayo, ambil. Agar aku bisa menelpon walau kita tidak bertemu. Alasan apa pun tidak bisa aku gunakan sekarang ini." Dia menjejalkan benda pipih itu pada genggamannya.
"Emangnya yang ini nggak disadap?" Gadis itu menyalakan ponsel barunya dan dia tertawa ketika melihat wallpaper. Tampak gambar dirinya yang tengah menatap hutan di tebing resort pada liburan di minggu sebelumnya.
"Tidak, itu kan masih baru. Aku sendiri yang menyetingnya agar bisa langsung kamu gunakan."
Anandita tersenyum. " Manis banget sih Om ini." Dia memasukkan ponsel tersebut kendalam tasnya.
"Memang, kamu baru tahu ya?" Regan mengedikkan bahu.
"Iya. Kan kemarin-kemarin sering jutekin aku." Anandita menjawab.
"Umm …." Namun percakapan itu harus berakhir ketika bel sekolah berbunyi.
"Aku harus masuk, Om." Anandita menatap ke dalam area sekolah.
"Ya, baiklah."
"Sampai nanti ya?" Gadis itu segera berlari namun pandangannya belum dia lepaskan darinya.
"Call me." Dan Regan berbisik sambil memberikan isyarat dengan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu ada tugas lagi setelah ini?" Nania bertanya ketika mobil yang dikendarai Regan sudah meluncur keluar dari area kampus dan membelah jalanan kota.
"Tidak, hanya kembali ke Fia's Secret setelah mengantarmu pulang." Pria dibalik kemudi itu melihat lewat kaca spion di atas stir.
__ADS_1
"Kalau gitu langsung ke Fia's Secret aja." ucap Nania yang membuat Regan kembali melirik.
"Boleh nggak?" tanya nya saat melihat asisten suaminya itu tampak keterangan.
"Boleh." Regan pun menjawab, dan tanpa banyak bicara dia segera memacu mobilnya ke arah yang dituju setelah melirik sekilas ke arah kiri di mana sekolah tempat Anandita berada.
Dan hanya dalam waktu setengah jam saja mereka sudah tiba di depan gedung Fia's Secret yang cukup ramai pada menjelang sore tersebut.
"Pak Daryl tidak di atas, tapi ada di ballroom." Regan menunjukkan tempat di mana atasannya berada. Dan Nania segera mengikuti ke mana arah tangannya menunjuk.
Memang di sanalah dia, tampak sedang berdiskusi dengan stafnya dengan raut serius. Sesekali Daryl mendengarkan satu-persatu dari mereka berbicara dan mengemukakan pendapat, dan pria itu mengangguk-angguk setelahnya.
Nania tak berani mendekat, dia hanya duduk di kursi dekat pintu dan menunggu hingga setelah beberapa saat pria itu menyadari keberadaannya.
"Baik, itu cukup. Aku rasa acaranya akan sangat bagus apalagi ditambah ide-ide brilian kalian. Jadi, siapkanlah dengan baik." Daryl mengakhiri percakapan.
"Baik, Pak. Kami akan mulai pengerjaannya sekarang."
Daryl menganggukkan kepala, kemudian beralih dan menghampiri Nania.
"What are you doing?" Pria itu segera memeluknya seperti biasa.
"Dari kampus langsung ke sini?" tanya nya.
"Iya."
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa, cuma mau aja."
"Ohh …."
"Kamu masih sibuk ya? Beneran nggak akan bisa pulang cepet?" Nania melihat sekeliling ruangan besar itu.
"Sepertinya ya. Akan ada acara besar akhir pekan nanti dan aku harus tetap ada di sini." Daryl menjawab.
"Acara apa?"
"Ulang tahun majalah Style. Mereka ingin mengadakannya di sini."
"Kan bisa diawasi sama staf, kenapa kamu juga harus turun tangan?"
"Tidak mengawasi, hanya berusaha untuk tidak mengabaikannya saja. Style sangat berpengaruh di dunia fashion dan mereka ingin menjalin kerja sama dengan Fia's Secret. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai pimpinan."
"Ohh …."
"Pergilah ke atas, istirahat. Sebentar lagi aku selesai di sini." ujarnya seraya menggiring perempuan itu keluar ballroom.
"Nggak, aku ke sini cuma …." Nania menahan langkahnua.
"Apa?"
"Aku sengaja datang ke sini cuma mau minta izin." lanjut Nania, meski agak ragu.
"Minta izin untuk apa?"
"Aku mau lihat ibu. Boleh?" Akhirnya apa yang sepanjang dipikirkannya terlontar juga, dan dia merasa takut akan mendengar penolakan.
"Lihat ibu?"
Nania mengangguk.
"Aku sebenarnya udah tahu mungkin kamu akan larang, tapi aku cuma mau coba sekali lagi."
Pria itu terdiam.
"Aku tahu kamu marah dan benci sama ibu, tapi itu nggak akan bisa merubah kenyataan kalau dia ibu aku. Dan mungkin ridho istri ada pada suaminya, tapi aku juga masih punya keluarga. Dan dia adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Gimana pun dia adalah ibuku." Nania memberanikan diri.
"Jadi aku mohon sama kamu untuk ngizinin aku pergi menemui ibu. Aku janji nggak akan sendirian, dan kamu boleh suruh siapa aja untuk nemenin aku ke sana. Asal izinin aku untuk pergi."
Daryl tak segera menjawab.
"Dadd?" Nania mendekat kemudian menyentuh lengan pria itu. "Aku mohon. Sekali aja kamu izinin aku untuk pergi. Cuma mau memastikan kalau keadaan ibu baik-baik aja. Setelah itu aku nggak akan minta lagi." katanya dengan raut penuh harap.
💕
💕
💕
Bersambung ....
ayooo ... diizinin atau nggak nih? 😄😄
__ADS_1