
π
π
"Ceria bener?" Nania menatap Anandita yang segera masuk begitu Regan membukakan pintu untuknya.
"Terus harus cemberut gitu?" Lalu keponakannya itu sedikit mendelik saat duduk di sampingnya. .
"Ya nggak juga. Tapi senyum-senyum kayak gitu bikin orang curiga."
"Curiga apaan? Tante ngaco deh. Hahaha."
Nania mencebik.
"Lagian tumben banget kamu minta pulang bareng. Biasanya dijemput papa kan?"
"Tadi Papa nelpon harus ke Bogor, soalnya Arkhan kecelakaan. Hampir aja ngirim sopir untuk jemput aku. Tapi aku pikir mending ikut Tante aja biar nggak lama." Anandita melirik sekilas kepada Regan yang sudah melajukan kembali mobilnya.
"Kecelakaan kenapa?"
"Biasalah, lagi latihan dia jatuh dari motornya."
"Hmm β¦ parah?"
"Nggak tahu, kan baru juga mau dilihat."
"Ya kalau orang di Bogor sampai ngabarin ke sini udah pasti parah." Nania menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian menyalakan ponsel.
"Mungkin." Dan Anandita pun melakukan hal sama.
***
"Yakin nggak mau nginep di sini?" Nania kembali bertanya sebelum dia menutup pintu mobil.
Anandita menganggukkan kepala.
"Kamu sendirian dong di rumah?" Lalu perempuan itu melirik ke arah Regan yang kembali ke Bali kemudi.
"Nggak, kan ada bibi sama penjaga rumah." Sang keponakan menjawab.
"Nggak mau mampir juga ke rumah Oma?"
"Nggak usah, udah sore banget aku capek."
"Biasanya mama papa kamu nitipin kamu di sini kalau pergi lho."
"Kayak bayi aja dititip-titip?" Anandita tertawa sambil menutup mulutnya.
"Ya untuk orang tua emang kamu masih bayi." jawab Nania yang kini benar-benar menutup pintu mobilnya.
"Iya deh iya." Dan Anandita melambaikan tangan. "Dah Tan β¦." ucap gadis itu saat mobil yang dikemudikan oleh Regan mulai melaju.
Mesin beroda empat tersebut sudah keluar dari area kediaman Nikolai ketika tiba-tiba saja Anandita pindah ke kursi depan lewat celah di tengah. Membuat Regan sedikit terkejut karenanya.
"Ann, apa yang kamu lakukan?" Dia memelankan laju mobilnya agar Anandita bisa pindah dengan Aman.
"Pindah duduk." Gadis itu menjawab.
Regan hanya mencoba menstabilkan kecepatan laju kendaraannya setelah Anandita benar-benar telah duduk di kursi penumpang.
"Benarkah orang tuamu pergi?" Lalu dia memulai percakapan.
"Beneran."
"Lalu bagaimana ceritanya papamu menurut untuk tidak mengirimkan sopir dengan alasan kamu ikut Nania?"
"Ya bilang aja kebetulan Tante Nna pulang sore."
"Dan Pak Arfan percaya begitu saja padamu?"
__ADS_1
Anandita menganggukkan kepala.
"Bagaimana bisa? Aneh sekali." Dan Regan bergumam pela, meski gadis itu masih bisa mendengarnya.
"Yeeee, ya percaya lah. Orang sama anaknya. Lagian kan apa yang aku bilang itu bener? Emang bohong ya?"
"Ya tidak juga, maksudku β¦."
"Om langsung pulang nggak?" Anandita memotong ucapannya.
"Tidak, aku harus kembali ke FSH."
"Yaaahhh β¦."
"Kenapa?"
"Ini kan udah sore, masa balik lagi ke sana? Lembur?"
"Iya. Besok ada acara besar di sana, kamu tidak tahu ya?"
"Acara apa?"
"Majalah Style."
"Apaan, fashion show?"
"Ya, semacam itu lah."
"Hmm β¦."
Mereka sudah memasuki jalan menuju kediaman Arfan Sanjaya, dan kedua orang itu sedang memikirkan topik pembicaraan lain. Dan beberapa saat kemudian mobil tersebut tiba di pekarangan rumah di pinggir pantai tersebut namun Anandita tak segera turun.
Dia bahkan menahan Regan yang hendak membuka pintu. "Tunggu!" katanya.
"Ada apa?"
"Kamu jangan macam-macam. Lupa ini di mana? Mau bun*h diri ya? " Pria itu sedikit terkekeh.
Anandita baru saja ingat, sehingga dia melepaskan tangan Regan yang kemudian benar-benar turun dan berputar ke arah kiri untuk membukakan pintunya.
"Om mau masuk dulu?" Gadis itu bertanya.
"Sebenarnya mau."
"Ya udah, ayo β¦."
"Tapi tidak mungkin." lanjut Regan yang menutup pintu.
"Kenapa?"
"Pertama, orang tuamu sedang tidak ada. Kedua ini akan membuat siapa pun curiga. Ingat, papamu tidak pernah memalingkan perhatian walaupun sekarang sedang ada di tempat yang jauh. Lagipula β¦." Regan mengedarkan pandangannya ke arah rumah dan sekeliling halaman.
"Tidak mungkin rumah Arfan Sanjaya tidak ada CCTV kan?" sambungnya.
"Kan cuma mampir." Sementara Anandita memutar bola matanya.
"Tetap saja akan mengundang kecurigaan."
"Hah, ribet amat sih. Apa pacaran sama orang dewasa seribet ini?"
Regan hanya tertawa.
"Dahlah, sana kalau mau pergi lagi." Lalu gadis itu melenggang ke arah rumahnya.
"Ann?" Namun Regan memanggil untuk menghentikannya.
"Sana, jangan lama-lama di sini. Nanti ditangkap satpam." Dia tidak menoleh sama sekali.
"Ann?"
__ADS_1
"Apaan lagi sih? Katanya mau pergi?" Lalu sesaat kemudian Anandita berbalik.
"Kamu belum mengucapkan sarangheo." ucap Regan yang masih berdiri di samping mobilnya, dan dia membuat gadis itu tertegun.
"Kamu belum mengucapkannya lagi sore ini. Biasanya kan β¦."
"Sarangheo." ujar Anandita yang setelahnya segera berlari ke dalam rumah dengan pipi bersemu merah.
Regan tertawa kemudian masuk ke dalam mobil, dan dia pun pergi untuk kembali ke tempatnya bekerja.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Daryl berjalan mengendap ketika dia memasuki rumahnya. Tampak Nania yang tengah berada di dapur memasukkan wadah berisi makanan ke dalam lemari penyimpanan.
Malam sudah larut dan dia baru saja tiba di rumah. Dan tampaknya perempuan itu sudah menunggunya untuk makan malam.
"Kenapa kamu bereskan?" Daryl segera memeluknya dari belakang dan membuat Nania terlonjak kaget.
"Daddy!" Dia memekik kemudian tertawa ketika pria itu menciumi tengkuknya yang terbuka karena rambutnya digulung ke atas.
"Aku pikir kamu pulangnya masih lama." Lalu Nania berbalik sehingga mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat bahkan hampir tak ada celah di antara mereka.
Daryl bahkan dengan mudah mengangkatnya, lalu mendudukkannya di counter dapur sehingga tinggi mereka sejajar. Kemudian dia kembali memeluknya dengan erat.
Pria itu terdiam untuk beberapa saat menikmati momen ini tanpa kata-kata.
"Kenapa?" Nania balas memeluknya.
"Nothing. Just β¦."
"Ada masalah?"
Daryl menggelengkan kepala.
"Terus kenapa? Nggak biasanya pulang kerja kamu begini?" Nania mengusap punggung kokohnya.
Lalu Daryl sedikit menarik diri sehingga dia dapat menatap wajah Nania.
"Aku hanya merindukanmu, kenapa memangnya?"
Perempuan itu tertawa.
"Kamu tidak?" Dia memindai wajahnya.
"Gimana ya? Dibilang kangen, kita kan ketemu tiap hari. Tapi dibilang nggak juga nggak mungkin."
"Lalu?"
"Nggak tahu deh." Nania tertawa lagi, lalu dia menarik pundak suaminya sehingga mereka bisa berciuman.
"Kamu lapar nggak? Mau makan sekarang atau nanti?" tawarnya ketika cumbuan itu terhenti.
"Ya, makanya aku cepat pulang karena rindu masakanmu. Boleh sekarang? Karena setelah ini aku mau langsung istirahat. Aku lelah sekali." katanya.
"Boleh, tapi aku harus turun dulu." Nania menjawab.
"Oke." Sekali lagi Daryl mengecup bibir Nania sebelum akhirnya dia membantu perempuan itu turun dari counter dan kembali mengeluarkan makanan yang sudah dia bereskan dari tempatnya.
"Terima kasih, Baby!" Pria itu mengecup puncak kepalanya, lalu dia duduk di kursi setelah melepaskan jasnya terlebih dahulu.
π
π
π
Bersambung ...
uuuu sweet banget sih kalian iniπππ
__ADS_1