
π
π
"Non, sudah malam. Masa Non mau tidur di sini?" Untuk ke tiga kalinya asisten rumah tangga memeriksa keadaan Anandita yang berada di halaman belakang.
Gadis itu masih belum mau masuk ke dalam rumah padahal malam sudah semakin larut. Area pantai di belakang bahkan sudah semakin menggelap dan hanya terdengar deburan ombak dari lautan di kejauhan saja.
"Sebentar lagi, Mbak. Masih betah." Anandita melepaskan salah satu earphone nya dari telinga.
"Asik apanya? Masa tiduran sendirian asik? Kalau ada hantu gimana?" Perempuan seumuran Dygta itu tertawa.
"Dih, mana ada hantu di sini? Kalau berani ganggu di rumahnya Arfan Sanjaya, cari mati namanya." ucap Anandita. " Eh, kan mereka udah mati ya? Hahaha β¦."
"Non ada-ada aja. Yuk Non, masuk? Disini dingin."
"Nanti, Mbak. Kalau mau istirahat silahkan, aku disini nya masih sebentar lagi."
"Non yakin?"
"Yakin. Baru jam sembilan."
"Biasanya jam sembilan Non udah masuk kamar?"
"Ya kalau ada papa. Hahaha." Gadis itu tertawa lagi. "Udah, sana kalau mau masuk. Asli, aku sebentar lagi juga masuk."
"Beneran ya?"
"Iya, Mbak."
"Baiklah." Lalu perempuan itu melenggang ke tempatnya istirahat di bangunan samping rumah bersama pegawai lainnya.
"Kamu masih di luar?" Pesan Regan masuk hanya beberapa detik setelah gadis itu mengupload story whats app nya.
"Iya." Anandita membalas.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah malam."
"Baru jam sembilan." balas Anandita lagi.
"Tapi besok kamu sekolah."
"Nggak ada pengaruhnya. Setiap hari aku tidur lebih dari jam sepuluh."
"Kebiasaan jelek!" Pesan Regan diikuti emot cemberut.
"Om juga sering tidur malem banget."
"Itu beda, aku kan bekerja."
"Kerjanya keterlaluan sampai malam-malam begitu."
"Resikonya bekerja dengan anggota keluarga Nikolai ya begitu."
"Iya deh, iya."
"Om kerjanya sampai jam berapa?" Anandita kembali mengirimkan pesan setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Tergantung selesainya acara." Dan pria itu akhirnya melakukan panggilan telpon.
"Bisa sampai malam banget ya?"
"Begitulah."
"Kerjaannya apa sih? Jagain Om Der? Masa ngikut-ngikut ke mana aja Om Der pergi sih?"
"Ya tidak juga." Regan tertawa. "Aku kan memastikan acaranya berjalan lancar. Mengurus beberapa hal sehingga tidak ada yang menghambat antara satu dengan yang lainnya, juga memastikan jika tak ada apa pun yang terlewat."
"Banyak banget kerjaannya?"
"Begitulah seorang asisten."
"Kayak Kak Galang?"
"Level Pak Galang itu paling tinggi, sementara aku hanya β¦ ya, masih di bawahnya."
"Hmm β¦."
"Aku tinggal sebentar ya? Pak Daryl memanggil."
"Tapi kan aku β¦."
Namun panggilan itu berakhir.
"Haihh β¦ gini amat ya pacaran sama orang dewasa? Ketemunya cuma sebentar, komunikasinya seperlunya aja. Banyakan sibuknya." Gadis itu bermonolog.
Dia menatap langit pantai yang kelam, dan sepertinya tempat itu mulai menjadi favoritnya akhir-akhir ini. Dan dia enggan untuk cepat-cepat masuk ke dalam rumah meski malam terus merangkak naik.
***
__ADS_1
"Baik, Terima kasih Pak. Acaranya malam ini berjalan lancar." Perempuan dengan penampilan elegan itu menyalami Daryl.
Dia adalah Sesilia Style yang diketahui sebagai pemilik sekaligus pimpinan majalah fashion ternama di ibu kota. Yang dengan raut puas karena peragaan busana sekaligus pesta yang mereka adakan sepanjang hari itu berjalan sukses.
"Dengan senang hati, Bu. Semoga acara lainnya bisa diadakan juga di FSH. Kami senang menjadi tempat yang dipilih Style." Daryl menjawab.
"Sebaliknya, kami juga Pak Daryl. Semoga dalam. Waktu dekat kita bisa bekerja sama lagi ya?"
"Baik, Bu. Kami akan dengan senang menunggu."
Perempuan seumuran Sofia itu tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit?" ucap Sesilia yang segera masuk begitu mobil miliknya tiba dan Regan membukakan pintu untuknya.
Dan dia menjadi salah satu tamu yang terakhir pergi setelah memastikan segala hal berjalan baik.
"Kita juga pulang, Baby. Aku lelah." Daryl menuntun Nania menuju mobil mereka tak jauh dari tempat sebelumnya.
"Besok kau bisa total libur, Regan. Terima kasih untuk hari ini." katanya, sebelum dia naik ke mobilnya.
"Ya, Pak." Regan pun mengangguk, dan dia merasa lega setelah mendengar ucapan atasannya.
"Setelah ini pulanglah, kau juga butuh istirahat."
Sang asisten hanya menganggukkan kepala. Kemudian setelahnya Daryl segera pergi.
Dan Regan memelankan laju mobilnya ketika memasuki kawasan kediaman Arfan setelah memastikan apa yang harus diurusnya di FSH selesai. Pria itu sengaja mengambil rute lebih jauh agar bisa melewati tempat di mana kekasihnya tinggal. Meski harus menghabiskan waktu lebih lama.
Hampir jam sepuluh malam dan bangunan itu pun tampak temaram, kecuali kamar Anandita di lantai dua. Dari jarak sejauh ini dia bahkan bisa melihatnya dengan jelas tirai jendelanya yang belum benar-benar tertutup rapat.
Regan menghentikan kendaraan roda empatnya begitu sudah melewati rumah di pinggir pantai tersebut, kemudian memeriksa ponsel keduanya untuk melihat story Anandita.
Lima detik yang lalu gadis itu memperbarui statusnya. Yang hanya menampilkan pagar area belakang dengan latar kehelapan yang cukup pekat.
"Kamu masih di luar?" Regan mengirimkan pesan.
"Masih." Anandita segera membalas.
"Di belakang?"
"Iya."
"Kenapa belum masuk ke dalam rumah juga?" Lagi-lagi dia menelponnya.
"Lagi nunggu siapa tahu ada yang datang." Gadis itu menjawab.
"Siapa?"
"Hantu?"
"Mana ada?"
"Ada. Tidak tahu ya kalau tempat gelap itu sarangnya hantu?" Terdengar kekehan dari seberang sana.
"Aku nggak percaya hantu, tapi kalau setan iya."
"Ya, hantu itu kan jelmaan setan yang mau menakuti manusia." ucap Regan lagi.
"Dan aku nggak takut sama hantu."
"Yakin?"
"Yakin. Seumur-umur sampai segede ini belum pernah diganggu hantu. Mau kena hajar Arfan Sanjaya apa?"
"Alah, memangnya papamu bisa menghajar hantu apa?"
"Bisa lah. Apa yang papa nggak bisa? Setan aja takut."
Regan terbahak-bahak.
"Om udah pulang? Kok bisa nelpon lagi?" Anandita bertanya.
"Sudah."
"Udah di rumah?"
"Belum."
"Lho, terus ini di mana? Di FSH?"
"Bukan."
"Terus lagi di mana?"
"Di sekitar rumahmu."
"Hum? Di mana?" Gadis itu mengulangi pertanyaan.
"Aku di sekitar rumahmu."
__ADS_1
"Masa?"
"Serius."
"Om mau ke sini?" Anandita terperanjat.
"Tidak." Pria itu menjawab.
"Terus kenapa ada di sekitar rumah? Habis dari mana? Mau ngapain?"
Regan tertawa lagi setelah mendengar pertanyaan gadis itu.
"Jangan ketawa! Om bikin aku kegeeran nih."
"Hahaha." Namun pria itu belum berhenti.
"Ish!"
"Konyol sekali aku ini, Ann. Padahal tahu kalau datang ke tempat ini tetap saja tidak akan membuat kita bisa bertemu. Hanya saja β¦."
"Siapa bilang?"
"Apa?"
"Om mau ketemu aku? Kenapa? Kangen ya?" Gadis itu berujar.
Regan tak segera menjawab, namun hembusan napasnya terdengar jelas.
"Om?" panggil Anandita seolah dia bisa mencapai pria itu.
"Hum?"
"Mau ketemu sebentar aja." Katanya dengan suara manja.
"Sudah malam, Ann." Regan menjawab.
"Ya emang. Yang bilang masih siapa siapa?"
Regan tertawa lagi. "Maksudku, tidak mungkin kan kamu keluar? Mau dengan alasan apa? Karena walau Papamu tidak ada tetap saja dia tidak akan membiarkan anaknya bebas begitu saja."
"Sebentar aja, biar aku bisa tidur karena kangennya udah terobati."
"Tidak bisa. Masa aku bertamu ke rumahmu jam segini? Mau bun*h diri ya?"
"Lewat halaman belakang aja, Om."
"Apa? Halaman belakang bagaimana? Tetap saja β¦."
"Pantai."
"Hah?"
"Kalau Om lihat belokan setelah rumah ini, sebenarnya itu bisa sampai ke sini juga."
"Masa?"
"Serius."
"Ini maksudnya kamu mengundangku untuk bertemu ya? Hahaha. Bahaya, Ann. Bahaya!"
"Yeee β¦ udah dibilangin pengen ketemu. Sebentar juga nggak apa-apa."
Regan terdiam.
"Ada yang ngikutin di belakang nggak?" Gadis itu bertanya lagi. Membuat Regan menoleh ke arah belakang mobilnya yang benar-benar sepi.
"Sepertinya tidak ada."
"Apa itu aman?"
"Tunggu, Ann. Kamu benar-benar mengajakku untuk bertemu?" Pria itu setengah tidak percaya.
"Om pikir aku iseng?"
"Ummm β¦."
"Mau ketemu nggak? Kalau mau aku turun sekarang juga."
Regan terdiam.
"Om? Aku mau ketemu, aku tungguin di bawah benteng." Terdengar bunyi gemerisik dalam sambungan telpon mereka. Dan itu sudah dipastikan Anandita yang mungkin tengah berlari menuju tempat yang dia sebutkan. Sementara Regan masih tertegun di dalam mobilnya sendiri.
π
π
π
Bersambung ....
__ADS_1
duh, malam-malam, Neng? π€
awas, pantai setannya banyakπ