
💞
💞
"Papa?" Anandita mencoba untuk memberanikan diri mendekati Arfan 6ajg tengah menyiram tanaman di halaman samping rumah mereka.
Hari masih sangat pagi tetapi pria itu memang tidak pernah bermalas-malasan meski setiap hari dia berada di rumah.
"Apa?"
"Papa lagi sibuk nggak?" Gadis itu berbasa-basi.
"Kamu lihat Papa sedang apa?" Arfan membalikkan pertanyaan.
"Lagi siram tanaman, hahha."
"Terus, kamu pikir menyiram tanaman itu sibuk?"
"Ya, nggak juga sih. Hehe."
"Lalu kenapa bertanya begitu?"
"Nggak apa-apa, cuma basa-basi doang."
"Hmm …." Arfan hanya menggumam.
"Kalau misalnya aku mau ngomong boleh?" Anandita kembali bertanya.
"Soal apa?"
"Soal … lari pagi." Gadis itu memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya dengan tangan untuk menghindari reaksi sang ayah yang mungkin akan sangat keras. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya dia meminta izin untuk pergi keluar dan itu sendirian.
"Lari pagi?" Arfan menoleh.
Anandita mengintip dengan sedikit membuka matanya kemudian mengangguk pelan.
"Lari saja, apa masalahnya?" Sang ayah menjawab.
"Boleh?"
"Boleh, kenapa tidak boleh?"
"Serius?" Anandita seolah tidak percaya.
"Ya, lari saja. Kenapa harus minta izin segala? Tinggal ke belakang rumah."
Anandita mencebik setelah mendengar ucapan ayahnya.
"Maksud aku maunya lari keluar gitu lho." Gadis itu memperjelas maksud ucapannya.
"Keluar ke mana?"
"Ya keluar, bukan di dekat sini." ucap Anandita lagi.
"Apa?" Arfan pun kembali menoleh dan menatap wajah putrinya.
"Sekali-kali kek perginya keluar gitu kayak orang-orang. Jangan disekitar rumaaaaaah terus!" Gadis itu menjatuhkan bokongnya di atas kursi malas terdekat yang bisa dia capai.
"Untuk apa pergi jauh-jauh keluar untuk lari? Di pantai juga bisa, lebih dekat ke rumah pula."
"Ah, Papa nggak ngerti!" Anandita mulai merengek.
"Lho?"
"Aku tuh mau sesekali keluar."
"Kan kalau akhir pekan kita memang biasanya keluar. Nanti agak siangan ke rumah Opa kan?"
"Itu bukan keluar, tapi pindah tidur pindah makan!"
"Sama saja. Di sana kamu bisa lari juga kan? Apa bedanya?"
"Beda Papa!"
Arfan menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya.
"Giliran Arkhan aja bisa pergi. Mana udah dari semalam lagi ke Bogor. Papa nggak adil!" Dia mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya. "Padahal aku mau pergi sama temen-teman sekolah aja. Mereka udah janjian mau ketemu di GBK!!"
"Astaga, Ann. Kenapa tidak mengatakannya dari tadi? Kenapa juga harus berputar-putar?"
Anandita terdiam. "Emangnya kalau aku langsung bilang Papa bakal ngizinin?" Anandita menyeka matanya yang sedikit basah karena drama rengekannya.
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Hah? Serius?"
"Ya, kenapa tidak langsung bilang mau joging ke GBK."
"Eheheh, ya udah. Kalau Papa ngizinin, aku pergi sekarang ya mumpung pagi?" Dia dengan begitu semangat.
"Hmmm tunggu sebentar Papa selesaikan ini dulu."
"Apa?"
"Tunggu Papa sampai selesai menyiram taman, baru kita pergi."
Anandita tertegun.
"Hanya sedikit lagi." Pria itu tersenyum.
"Maksudnya aku pergi sama Papa?"
"Ya dengan siapa lagi? Kamu kira Papa akan membiarkanmu pergi sendiri? Tidak mungkin."
Anandita mendengus keras.
"Jadi, tunggu sebentar ya sampai Papa …."
"Nggak usah!" Gadis itu bangkit dari kursi. "Mendingan nggak jadi aja!" Lalu dia segera kembali ke dalam rumah dalam keadaan gusar.
"Huh, enak saja mau pergi sendiri? Mau curi start kebebasan sebelum waktunya ya? Dalam mimpi saja!" Arfan bergumam pelan sambil menggelengkan kepala. Kemudian dia meneruskan kegiatan menyiram tanaman kesayangan Dygta.
***
Regan menghembuskan napas setelah membaca pesan dari nomor khusus Anandita soal rencana bertemu mereka yang gagal total pada Minggu pagi itu.
__ADS_1
"Ya sudah, apa boleh buat?" Dia mengirim balasan.
"Papa lagi nyebelin sekarang." Kemudian Anandita mengadu pada pria itu yang membuatnya tersenyum gemas.
"Nanti juga tidak kalau kita sudah memberi tahu orang-orang. Sabar saja dulu." Dia menenangkan.
"Sampai hari kelulusan ya? Habis itu Om ke rumah?" Pesan dari Anandita lagi.
"Baik."
"Emangnya berani?"
"Berani lah, masa tidak berani?"
"Kalau Papa marah gimana?"
"Tidak apa. Papamu hanya marah, bukan mau memakanku." Regan tertawa ketika mendapat emot kesal dari gadis itu.
"Jadi kita masih harus bersabar ya? Hanya beberapa bulan lagi."
"Hu'um." Anandita mengirimkan foto dirinya yang tampak murung dengan bibir mengerucut.
"Jangan begitu, nanti aku semakin tersiksa karena begitu merindukanmu." Regan kembali mengirimkan pesan sambil tertawa. Dia tidak percaya mampu menulis kalimat sekonyol itu.
"Om gombal!" Gadis itu membalas lagi.
"Tidak apa-apa, pada kekasihku ini. Kalau pada orang lain itu jadi masalah."
Anandita membalasnya dengan mengirimkan emot muntah.
"Itu romantis, tahu? Bukannya perempuan sangat senang kalau dikirim kata-kata seperti itu?"
"Masalahnya itu kayak bukan Om. Aneh!"
"Hmm …."
"Jadi gimana nih? Om nggak ada ide biar kita bisa ketemu?" Percakapan itu terus berlangsung meski sepertinya mereka sudah kehabisan bahan bahasan.
"Ide apa? Masa aku tiba-tiba datang ke rumahmu tanpa alasan? Bisa curiga papamu."
"Ke rumah Opa aja gimana?"
"Tidak ada alasan juga karena Pak Daryl masih di rumah mertuanya sampai sore"
"Ah, nggak asik!"
Regan tertawa. Dan percakapan pesan tersebut terus berlanjut hingga dia tak ingat lagi bagaimana seterusnya.
"Ayah, Regan sedang dengan siapa? Kok dia ketawa terus dari tadi?" Mella menyingkap tirai jendela dari dalam rumahnya ketika mendengar sang putra yang hari itu libur dan memutuskan untuk tetap di rumah tampak semringah dan sering tertawa.
"Tidak tahu, mungkin pacarnya."
"Memangnya dia sudah punya pacar lagi? Siapa? Orang baru?"
"Tidak tahu, Bu. Mungkin saja orang baru."
Pasangan suami istri itu kemudian sama-sama terdiam sambil memperhatikan putra mereka.
***
"Baby, bisakah kamu mulai hati-hati sekarang ini? Aku ngeri kalau ingat kandunganmu!" Daryl memprotes apa yang dia lihat.
"UPS. Lupa, Dad. Haha." Namun perempuan itu malah tertawa.
"Lupa terus. Nanti mereka kagetan." Daryl pun naik ke tempat tidur kemudian mengusap perut Nania yang mulai terlihat menonjol karena kehadiran tiga janin milik mereka.
"Alah, aku kalem aja malah kamu kok yang bikin mereka kagetan." Nania menjawab.
"Hum?"
"Kalau kita anuan, memangnya mereka nggak kaget? Guncangannya aja lebih keras."
"Haih!"
Nania tertawa seraya bergeser ke dekat suaminya untuk dia peluk. "Daddy, kangen banget deh padahal semalaman kita tidur sama-sama ya?" Dia merapatkan dagunya di dada pria itu.
"Hmm … tepatnya kamu yang tidur sementara aku hampir begadang." Daryl pun membalas pelukannya.
"Emang kamu nggak tidur?" Nania tak bosan menatap wajahnya yang semakin hari terlihat semakin tampan, dan dia sangat menyukainya. Dan pemandangan ini sungguh sangat menyenangkan untuk dinikmati setiap hari.
"Tidur, tapi sebentar-sebentar."
"Kenapa? Nggak enak ya? Rasanya aneh? Nggak nyaman? Rumahnya ibu emang kecil sih, jadi kayaknya …."
"Bukan begitu, Malyshka."
"Terus kenapa?"
"Aku hanya tidak terbiasa tidur di rumah orang."
"Masa? Emang waktu kecil kamu nggak pernah nginap di rumah siapa gitu?"
"Tidak pernah. Siapa?"
"Temen kamu."
Daryl tertawa. "Aku tidak punya teman untuk menginap. Lagipula kalau punya, Papi sudah pasti tidak akan mengizinkannya."
"Oh, iya aku lupa." Nania kini yang tertawa. "Tapi kamu bisa tinggal di Moscow sampai bertahun-tahun? Bukannya itu nggak di rumah ya?"
"Rumah juga dong. Mansionnya Ded kan masih rumah kami, jadi rasanya ya sama saja seperti rumah besar."
"Hmm … tapi di sana enak ya?"
"Di mana? Moscow?"
"Iya, mansionnya Ded. Dingin."
"Memang. Kenapa? Mau ke sana lagi?"
"Emang boleh?"
"Ya boleh. Itu rumah kita juga kan?"
"Maksudnya sekarang-sekarang."
__ADS_1
"Sekarang?"
Nania menganggukkan kepala.
"Kamu mau ke Moscow sekarang?"
"Iya, kalau boleh."
"Boleh sih, tapi kan kamu sedang kuliah. Kalau libur baru bisa."
"Yaah …."
"Sayang kalau kuliahmu dilewatkan, bukannya kamu sangat ingin kuliah? Lalu kenapa sekarang malah mau bolos?"
Nania terdiam.
"Nanti kalau libur aku akan membawamu ke Moscow."
"Beneran?" Perempuan itu dengan mata berbinar.
"Ya."
"Habis UTS ya? Kan ada libur."
"Boleh."
"Serius?"
Kini Daryl yang menganggukkan kepala.
"Aaaa … seneng banget!" Lalu Nania kembali mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Tapi mau kayak waktu bulan madu, Dadd." Perempuan itu dengan keinginannya.
"Apa? Salju?"
"Iya."
"Oh, kalau itu sepertinya tidak bisa karena di Eropa sedang musim gugur sekarang ini." Pria itu menerangkan.
"Jadi nggak ada salju?"
"Tidak ada. Hanya saja daun-daun sedang berguguran dan mulai memasuki persiapan untuk musim dingin."
"Jadi kapan musim dinginnya?"
"Antara Minggu terakhir November biasanya dimulai."
"Masa?"
"Iya. Jadi di sana kamu hanya akan melihat daun kering saja di sepanjang jalan."
"Ohh … aku kira di Moscow saljunya sepanjang tahun. Hahaha."
"Bercanda ya? Memangnya kutub Utara?"
"Ya kan aku nggak tahu, Dadd."
"Nah sekarang kamu tahu, kan?"
"Iya."
"Jadi kita ke Moscow nanti saja ya kalau mau melihat salju?"
"Berarti masih lama dong. Minggu depan uts nya, habis itu libur. Kita nggak pergi dong."
"Ya habisnya kamu kan maunya lihat salju?"
Nania mengerucutkan mulutnya.
"Iya, Sayang. Kalau niatnya mau melihat salju ya harus pergi di bulan November. Sebelum itu kamu hanya akan merasa cuaca dingin saja."
"Ya udah, kalau begitu liburannya ke tempat lain aja." ucap Nania kemudian.
"Ke mana?"
"Yang deket aja nggak apa-apa."
"Baik. Ke Bandung, mungkin? Kita mengunjungi nenek dan Abah?"
"Oh iya. Kapan terakhir ketemu ya? Kalau nggak salah waktu nikah. Itu juga cuma sekilas."
"Ya, benar."
"Aku udah pernah ke Moscow, Swiss, tapi ke Bandung belum pernah. Dasar cucu ngeselin. Bisa-bisanya kita lupa soal ini."
"Nah, makanya kita ke Bandung saja. Di sana dinginnya hampir seperti di Moscow. Hanya saja tidak ada salju. Hahaha."
"Masa?"
"Ya, kalau di tempat Abah. Tidak tahu di tempat lain."
"Apa di tempat Abah banyak pohon?"
"Lumayan. Pertaniannya kan ada di bukit. Pinggirannya pohon-pohon, nah di tengahnya ditanami sayuran. Aku dulu sering ikut kalau panen."
"Masa?"
"Ya, seru sekali."
"Oke, kalau gitu kita ke Bandung dulu aja, nggak apa-apa."
"Benar?"
Nania menganggukkan kepala.
"Baiklah, tidak ke Moscow Bandung pun jadi." Daryl mengeratkan pelukan sementara Nania tertawa.
💞
💞
💞
Bersambung ....
__ADS_1