The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Tentang Seseorang


__ADS_3

💕


💕


Nania memicingkan mata ketika dari kejauhan dia melihat sosok yang seperti dikenalnya. Dan saat mencondongkan tubuh, lalu mobil yang Daryl kendarai semakin mendekat, tampak jelaslah pandangannya.


"Ibu?" Nania bergumam saat dia melihat perempuan sedang duduk di halte bus.


"Apa?" Daryl merespon gumamnya.


"Umm … nggak." Perempuan itu menggeleng sambil melihat spion untuk meyakinkan penglihatan.


Dan benar saja, perempuan dengan pakaian berwarna coklat itu adalah Mirna.


"Kamu mau langsung pulang?" Daryl menawarkan.


"Umm … iya. Aku udah capek." Nania pun menjawab.


"Tidak mau makan dulu?"


"Makannya di rumah aja, Dadd. Aku masak."


"Katanya capek?"


"Ya kalau udah di rumah, capek juga bisa langsung istirahat kan?"


"Hmm … baiklah." Dan pria itu pun memacu Rubiconnya semakin kencang menuju rumah.


***


"Hey, masaknya sudah selesai?" Daryl turun dari kamarnya setelah membersihkan diri.


Nania tampak terkejut karena kebetulan sedang melamun saat kembali mengingat ibunya yang dia lihat di halte bus dalam perjalanan pulang mereka.


"U-udah." Kemudian dia meletakkan piring yang sejak beberapa saat yang lalu ada dalam genggaman.


Sementara Daryl segera duduk di kursinya, dan menunggu perempuan itu menyiapkan makanan untuknya.


Satu porsi nasi dengan potongan daging ditambah sayuran menjadi menu makan mereka malam itu, yang segera Daryl lahap dengan semangat.


"Orang pabrik bertanya lagi, botolnya mau dikirim kesini atau langsung ke pengisian parfum saja?" Pria itu memulai percakapan.


"Langsung aja, biar nggak bolak-balik. Sekalian kirim juga label yang udah aku bikin tadi." Nania menanggapi.


"Bukankah label sudah ada? Kenapa tidak pakai yang itu saja?"


"Kan ini limited edition, Dadd. Jadi harus ada perbedaannya lah. Apalagi target pasarnya anak kuliahan, makanya kemasan harus lebih mencolok biar mereka tertarik."


Muncul lengkungan di bibir Daryl setelah mendengar penuturan istrinya.


"Apaan senyum-senyum? Pikirannya jangan nes*m ya? Kita kan lagi ngobrolin botol parfum." Nania mengacungkan sendok ke arah suaminya.


"Ish, kenapa kamu mengira begitu?"


"Habisnya kamu kalau diam tapi senyum-senyum, pasti lagi mikirin yang mes*m-mes*m."


"Bukan!" sergah Daryl yang menyuapkan satu sendok dari isi piringnya, lalu mengunyah dengan cepat.


"Terus apa?"


"Idemu ada-ada saja untuk penjualan produk kita, membuatku merasa sangat bangga." katanya, lalu dia meneguk air minumnya hingga tandas 


"Ah, itu biasa. Kan aku niru kamu." Nania dengan ekspresi yang membuat Daryl tertawa.


"Makannya lagi?" tawar Nania setelah melihat piring suaminya kosong.


"Tidak usah, aku sudah kenyang." Namun pria itu menolak.


"Masa makan baru sedikit udah kenyang?"


"Segitu cukup untukku. Jangan makan terlalu banyak apalagi sudah malam begini." ucap Daryl yang kembali meneguk air minum yang dia tuangkan sendiri.


"Oh iya ya, nggak bagus juga kan sebentar lagi juga tidur."


"Hmm …."


Lalu perempuan itu pun buru-buru menyudahi kegiatan makannya.


"Lho, kenapa kamu buru-buru? Memangnya sudah kenyang? Kamu makan baru sedikit?"


"Kan udah malem, kamu bilang tadi …."


"Itu aku, kalau kamu masih mau makan ya makan saja."


"Dih, kenapa harus gitu?"


"Iya, makanlah yang banyak, Malyshka."

__ADS_1


"Kalau makan malam kebanyakan nanti aku gendut."


"Tidak akan."


"Beneran ih aku baca di internet."


"Hmm … tapi bagus juga, kamu akan semakin kuat."


"Kuat?"


"Ya, kalau aku ajak bergulat." Pria itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Dih?"


Lalu dia menatap Nania sambil menaik turunkan alisnya.


"Mulai …." Perempuan itu bergumam karena mengerti maksud dari perkataan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Belum tidur, Gan?" Sang ibu datang menghampiri Regan yang masih berada di teras belakang rumahnya.


Dia masih berbaring di kursi malas sambil memandangi langit-langit teras yang temaram.


"Belum ngantuk, Bu." Regan bangkit lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Pekerjaanmu santai hari ini? Tumben sudah di rumah?" Perempuan itu duduk tak jauh darinya.


"Ya Bu. Hanya mengantar keponakannya Pak Daryl."


"Keponakan Pak Daryl?"


"Anaknya Pak Arfan dan Bu Dygta." Dia menganggukkan kepala.


"Yang mana? Amara?"


"Bukan. Yang kembar."


"Adik-adiknya Amara bukannya kembar semua?"


Regan terkekeh pelan. "Maksud aku salah satunya. Anandita."


"Oh yang itu."


Regan mengangguk lagi.


"Tidak juga, Bu. Hanya kalau diperlukan."


"Ya … tapi dobel-dobel."


"Ibu kan sudah tahu."


"Benar. Tapi Ibu sedikit khawatir."


"Khawatir karena apa?" Regan mengerutkan dahi.


"Khawatir kalau kesibukanmu yang seperti ini akan membuatmu tidak punya kehidupan pribadi yang baik."


"Maksudnya?"


"Coba ingat-ingat, berapa usiamu sekarang?"


"Ibu mau membicarakan apa sih sebenarnya?" Dia mulai curiga.


"Tidak, hanya saja teman-teman sebayamu sudah pada menikah lho." 


"Terus?"


"Tapi kamu masih begini-begini saja?"


Regan kemudian tertawa. "Sudah aku duga Ibu akan mengatakan hal itu." katanya.


"Lho, memangnya salah ya?"


"Tidak, Bu. Tapi waktunya kurang tepat."


"Kenapa kurang tepat?"


"Ya Ibu bicara kepada jomblo seperti aku. Jelas tidak akan dapat jawaban pasti."


"Makanya cari jodoh, Gan. Jangan kerja terus."


"Kerja itu penting, Bu. Biar jodohnya nggak lirik-lirik orang lain."


"Tapi jodoh juga penting biar hasil kerja kamu ada manfaatnya."


"Tapi kalau kerjaannya biasa-biasa saja, hasilnya akan biasa juga. Dan itu nggak akan cukup untuk hidup zaman sekarang. Apalagi kalau sudah berkeluarga."

__ADS_1


"Tapi ingat, nggak semua perempuan memandang pekerjaan."


"Masa? Tetap saja kalau kita tidak bisa menghasilkan lebih akan ada banyak tuntutan dari perempuan. Karena kerja saja tidak cukup, tapi harus bisa menjamin hidup di masa depan."


"Hah, memang susah kalau bicara dengan orang yang sudah ketularan gila kerjanya Nikolai Grup?"


"Bukan gila kerja, Bu. Tapi profesional dan rasional. Semua hal harus diperhitungkan dengan baik. Dan konsekuensinya masuk Nikolai Grup ya itu. Harus mendahulukan pekerjaan dari pada urusan pribadi. Semua orang juga tahu itu."


"Ya ya ya, tapi jangan sampai melupakan diri sendiri juga, Gan. Karena yang perlu diurus bukan cuma atasanmu, tapi hidupmu juga."


"Iya Bu. makanya Regan ambil libur setiap hari Minggu dan mematikan semua alat komunikasi, sengaja agar waktu istirahat maksimal."


"Ya, jangan ketinggalan juga untuk cari jodoh."


"Ck! Jodoh terus Ibu yang dipikirkan?"


"Ya apalagi? Kamu sudah cukup umur dan memang seharusnya sudah memikirkan soal itu kan?"


"Belum ah … masih malas."


"Malas atau belum move on?"


"Maksud Ibu?" Regan kembali mengerutkan dahi.


"Masih memikirkan mantan itu tidak apa-apa, tapi harus mencari orang lain untuk memulai hidup baru."


"Ish, Ibu sok tahu."


"Tapi kalau misal mau balikan lagi juga tidak apa-apa, mungkin dia masih menunggu?"


"Apa?"


Sang ibu tersenyum.


"Ibu sebenarnya mau bicara soal apa sih? Terus terang saja, jangan berputar-putar sampai membahas masalah jodoh lah, mantan lah, atau move on."


Perempuan itu tersenyum. "Tadi siang Ibu ketemu Mia di jalan." katanya kemudian.


"Hmm … pantas. Curiga ada persekongkolan?" Regan bergumam.


"Eh, sembarangan!"


"Terus maksudnya apa Ibu mengatakan hal itu?"


"Tidak ada, Ibu hanya mau bilang begitu saja."


"Ah, aku kira ada apa." Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk masuk ke dalam rumah ketika ibunya kembali berbicara.


"Dia juga masih sendiri lho." lanjutnya, yang menghentikan langkah Regan.


"Terus apa hubunganya denganku?" Dia pun berbalik.


"Ya siapa tahu kamu mau …."


"Tidak! Dia yang memilih pergi karena tidak mau menemaniku menjalani proses kehidupan yang satu ini. Dia juga yang mengatakan sudah tidak tahan melewati hari-hari bersamaku. Dan itu dulu, sewaktu aku belum benar-benar mendampingi Pak Daryl. Apalagi sekarang setelah aku benar-benar masuk ke lingkaran staf. Dan Ibu tahu sendiri bagaimana keseharianku."


"Ya … tapi siapa tahu sekarang Mia mengerti, dan paham dengan apa yang kamu lakukan?"


"Mia tetaplah Mia, Bu. Dia hanya akan paham dengan apa yang sesuai keinginannya."


"Tapi Regan, apakah kamu tidak mau mencoba sekali lagi? Mungkin waktu itu dia masih labil?"


Regan terdiam sebentar.


"Ibu rasa tidak ada salahnya untuk mencoba …."


"Apa dia meminta Ibu untuk mengatakan ini kepadaku?" Pria itu lantas bertanya.


"Apa? Tidak. Ibu hanya …."


"Jangan bohong. Baru saja bertemu lagi setelah sekian lama, tapi Ibu sudah bicara begitu kepadaku? Mencurigakan."


"Bicara apa kamu ini? Jangan sembarangan!"


"Aku ini asisten Daryl Stanislav, Bu. Sekilas saja bisa menebak apa yang mungkin terjadi sebelum Ibu mengatakan hal seperti itu. Dan biasanya tebakanku benar."


"Umm …."


"Kalau bertemu lagi, katakan kepada Mia … semoga dia selalu bahagia." katanya, kemudian dia benar-benar masuk ke dalam rumah.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2