The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kirana's Beauty


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Daddy, aku mau ke FSH, tapi nggak ke kantor kamu ya?" Nania mengirimkan pesan.


"Why?" Dan Daryl membalasnya dengan cepat. "Kenapa kamu ke FSH tapi tidak menemuiku?" Pesan lainnya masuk, lalu pria itu melakukan panggilan.


"Kamunya kan lagi kerja, nanti aku ganggu?"


"No!" Pria itu sedikit meninggikan suaranya. "I mean, nooooo." Namun kemudian dia menurunkan nada, lalu setelahnya tertawa.


"Datang saja, pekerjaanku tidak lebih penting darimu." rayunya, dan itu juga membuat Nania tertawa.


"Aku serius."


"Ah, kamu sukanya gombal melulu!" Nania bangkit ketika mobilnya yang Regan kendarai memasuki area Fia's Secret House yang terkenal.


Suasananya cukup ramai padahal itu sudah hampir sore, dan dia bahkan bisa melihat jika orang-orang sedang sibuk melayani pengunjung.


"Tidak, Malyshka. Come on!" Daryl terdengar mengiba.


"Ya, baiklah. Tapi nanti setelah dari kliniknya Kak Kirana ya?" Perempuan itu akhirnya memberikan jawaban.


"Ke kliniknya Kirana mau apa?" Daryl bertanya.


"Mau ke sana aja, Dadd."


"Ahhh!"


"Apa sih kamu ini? Ahahaha." Nania tertawa lagi.


"Hanya kesal saja, kamu lebih memilih menemui Kirana dari pada aku, padahal tempat kerja suamimu ini masih di area yang sama."


"Kan aku bilang juga nanti. Aku ketemu Kak Kirana dulu, habis itu nemuin kamu. Biar kita pulangnya barengan. Kamu nggak lembur kan?"


"Wait, what? Ini baru jam tiga, berarti kamu lama di sana? Mau apa?"


"Aaaa … kamu banyak tanya! Udahan ah, pokoknya aku mau ke tempat Kak Kirana dulu, baru setelah itu nemuin kamu ke sana."


"But, Malyshka?"


"Udahan ah, aku sampai di klinik nih. Nanti aku telfon lagi kalau sudah ke sana ya?"


"Tidak mau, jangan kamu matikan hapenya." Pria itu berujar.


"Apaan?"


"Jangan kamu matikan sambungan telponnya. Sekalian video call saja, agar aku tahu apa yang kamu lakukan di sana."


"Ngadi-ngadi!"


"Aku serius."


"Nggak mau! Ini urusan perempuan." Namun Nania menolak keinginan suaminya.


"Why? Urusan perempuan apanya? Aku ini kan suamimu."


"Pokoknya ini urusan perempuan, kamu nggak diajak. Hahaha." Dia malah tertawa.


"Oh, please!"


"Nggak!" ucap Nania lagi. "Udahan ya? Aku udah masuk nih. Nggak enak, masa ketemu Kak Kirana tapi masih telponan. Kan nggak sopan."


"Biar saja, itu hanya Kirana."


"Astaga?" Nania berhenti di depan pintu masuk klinik. "Udah ah." Lalu dia mematikan sambungan.


Nania sempat menunggu beberapa detik, namun Daryl tak kembali menghubungi. Itu berarti dia baik-baik saja.


"Selamat sore, selamat datang di Kirana's Beauty?" Seorang resepsionis segera menyapa begitu Nania masuk.


Nania hampir menjawab sapaannya ketika di saat yang bersamaan sang pemilik klinik keluar dari ruangannya.


"Nania?" katanya, yang datang menghampiri lalu memeluk istri dari iparnya tersebut.

__ADS_1


"Wah, aku pikir Kakak nggak ada di sini?" Nania bereaksi.


"Begitu kamu mengirim pesan mau berkunjung ya aku langsung ke sini." jawab perempuan itu.


"Terus pasien Kakak gimana?" Mereka berjalan masuk ke ruangan Kirana.


"Tidak ada pasien. Makanya aku punya waktu." Kirana mempersilahkannya duduk.


"Gitu ya?"


"Ya. Daryl tahu kamu berkunjung?" Lalu percakapan pun beralih.


"Tahu."


"Baiklah, itu bagus."


"Ya, saking bagusnya dia mau aku nggak matiin sambungan telpon." Dua perempuan itu tertawa. "Serius. Kadang kalau lagi nggak mood bikin bt. Darren gitu nggak sih? Jadi penasaran kalau kembar wataknya sama nggak?"


"Seingatku tidak, Darren biasa saja. Dia memberiku seluruh kepercayaan terhadap apa pun yang aku lakukan dan jalani meski itu kadang menyita perhatianku untuknya."


"Wahhhhh … bukankah itu bagus? Jadi Kakak bebas ngelakuin apa aja tanpa merasa was-was atau takut bikin suami marah. Nggak takut terlambat pulang apalagi dengan kerjaan kayak gini."


"Kamu pikir begitu?" Kirana menatap raut wajah Nania yang berbinar. Dia berbicara seolah tengah mencurahkan kegelisahan dan segala isi hatinya.


"Ya. Bukankah kebebasan dan kepercayaan penuh itu bisa bikin kita leluasa? Merasa dihargai sebagai seorang pribadi, dan itu bikin kita percaya diri untuk melakukan apa pun."


"Benarkah?"


Nani menganggukkan kepala.


"Contohnya apa?"


"Nggak harus selalu bilang kita lagi ngapain. Kan udah tahu kegiatan kita sehari-hari. Atau selalu bilang apa aja yang terjadi sama kita, karena udah pasti gitu-gitu aja kan?"


"Hmm …." Kirana melipat kedua tangannya di dada. "Dan kamu merasa jika apa yang Daryl lakukan itu sebagai bentuk pengekangan?"


"Bukan pengekangan juga sih, tapi …."


"Kamu tahu jika saudara kembar itu kadang memiliki sifat yang bertolak belakang?" Kirana melontarkan pertanyaan.


"Iya. Kayak Darren sama Daryl kan?" Nania terkekeh.


"Maksudnya?"


"Kamu bilang jika Daryl begitu sering memperhatikanmu? Dia selalu menelpon dan bertanya tentang apa pun. Selalu ingin tahu segala yang kamu lakukan, semua kegiatan dan bagaimana kamu menjalaninya, percayalah bahwa itu adalah bahasa cintanya." Kirana berbicara.


"Bahasa cinta?" Nania mengerutkan dahi.


"Kamu pikir bagaimana Darren bersikap?" Lalu Kirana bersandar pada kepala kursi.


"Aku nggak tahu. Aku kan belum pernah lihat." Dan Nania sedikit tertawa.


"Dia tidak pernah memperhatikan aku."


"Maksud Kakak?"


"Darren tidak pernah melakukan apa yang Daryl lakukan. Jangankan untuk menanyakan kegiatan, bahkan bertanya aku sudah makan siang pun jarang."


"Masa?"


"Serius. Tapi dia akan tiba-tiba datang dan mengajakku makan atau pergi kemanapun dia inginkan."


Nania mendengarkan.


"Atau di lain waktu ketika aku memiliki banyak kegiatan, dan dia tak pernah bertanya atau menelpon selama seharian. Tapi sore harinya dia sudah ada di depan klinik lalu membawaku pulang. Dia memberiku ruang yang begitu besar untuk melakukan banyak hal sendiri tanpa rongrongannya sedikitpun. Dan dia memberikan seluruh kepercayaannya kepadaku, sehingga aku merasa bebas untuk melakukan apa pun."


"Ya, itu bagus Kak."


Kirana tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.


"Kita ini, para wanita adalah makhluk yang membutuhkan perhatian. Mau semandiri apa diri kita, tetap akan menginginkan hal-hal kecil dilakukan oleh pasangan. Entah itu pertanyaan sederhana, atau obrolan receh yang mungkin tidak terlalu penting. Tapi itu membuat kita selalu berinteraksi dengannya. Bayangkan bagaimana jika suamimu melepasmu begitu saja sementara kamu sebenarnya membutuhkan begitu banyak perhatian?"


Nania mengerutkan dahi.


"Bahasa cinta setiap orang itu berbeda, Nania. Darren kurang perhatian padahal aku sangat senang diperhatikan karena terbiasa diperlakukan seperti itu oleh kedua orang tuaku. Mereka menghujaniku dengan segenap perhatian yang mereka miliki. Tapi berjodoh dengan pria seperti Darren yang tak memperhatikan hal-hal detail yang sebenarnya aku senangi. Meski aku sudah mengatakannya, tapi dia tetap lupa. Hahaha." Kirana tertawa. "Tapi kelebihannya, dia selalu cepat bertindak, dan bahasa cintanya adalah tindakan."

__ADS_1


"Sat set sat set gitu, nggak banyak omong." Nania menyela.


"Ya, benar. Dan Daryl kebalikannya bukan?" sambung Kirana yang membuat Nania menganggukkan kepala.


"Tapi itulah bahasa cintanya. Cara dia menunjukkan perasaannya kepadamu."


Nania terdiam.


"Kita masih sama-sama belajar dalam hal ini. Dan pada kenyataannya, pernikahan adalah proses pengenalan seumur hidup. Jadi, banyak hal yang kita tidak tahu."


"Kita harus banyak belajar untuk bisa memahami satu sama lain, Nania. Agar tidak sering salah paham, salah persepsi, dan salah terima atas sikap orang lain, apalagi pasangan. Bukan salahmu tidak mengerti, dan bukan salahku juga jika tak paham. Karena menyatukan dua kepala di dalam satu ikatan pernikahan adalah memang bukan hal yang mudah. Aku juga kadang masih sulit untuk menyadari bahwa begitulah Darren, suamiku yang tidak perhatian tapi cepat bertindak. Lain dengan Daryl yang suka melakukan hal-hal kecil dan mementingkan apa yang menurut orang lain sepele."


Nania tidak menjawab.


"Aku ingin mengatakan kepadamu untuk bersyukur, tapi sepertinya itu kurang tepat." Kirana tertawa. "Karena aku juga terkadang merasa seperti apa yang kamu rasakan. Dan itu tidak apa-apa karena menunjukkan bahwa kita ini adalah manusia. Iya kan?"


Perempuan itu mengangguk. "Iya, Kak. Aku rasa."


"Oh ya ampun!! Kenapa jadi membahas hal yang lain? Kamu ke sini mau perawatan kan? Ayo aku tunjukkan apa saja perawatan yang cocok untukmu!" Kirana kemudian memberi Nania beberapa buku semacam majalah sebagai referensi penawaran perawatan kecantikan di kliniknya.


"Untuk pengguna awal sepertimu tidak usah terlalu banyak perawatan." Kirana sendiri memeriksa kulit wajah Nania.


"Kamu jarang memakai make up yang tebal kan?"


"Bisa dikurung Daryl kalau begitu." Nania tertawa. Dan dia berbaring di ranjang pemeriksaan.


"Ya, bagusnya begitu."


"Tapi aku juga mau kelihatan cantik."


"Pakai yang tidak terlalu berat saja, apalagi untuk sehari-hari."


"Nggak. Cuma pakai krim siang sama bedak tipis-tipis juga lipgloss doang. Kadang pakai lipcream kalau nggak ketahuan suami aku. Hahaha."


"Aneh sekali Daryl itu ya?"


"Iya, masa aku nggak boleh dandan? Pergi kuliah kayak orang bangun tidur gitu?"


Kini Kirana yang tertawa. "Saking cintanya dia padamu sampai-sampai orang lain tidak boleh melihatmu yang tampil cantik ya?" Dokter kecantikan itu melakukan beberapa hal kepadanya.


"Aku nggak tahu ada orang kayak gitu sampai nikah sama Daryl. Sejak kecil aku disebut jelek, nggak pantas untuk dapat apa-apa selain penghinaan. Mungkin …."


"Kamu cantik." Kirana berhenti sebentar. "Bahkan tanpa dandan berlebihan seperti orang lain pun kamu sudah cantik."


"Tapi aku selalu merasa …."


"Hanya perkataan tidak penting. Buktinya Daryl begitu tergila-gila padamu, dan kamu tahu sendiri dia bagaimana kan?"


Nania mengangguk lagi.


"Tidak usah khawatir, yang penting suamimu segila itu padamu, yang lain tidak usah kamu pedulikan. Tapi jangan sampai membiarkan dia tergila-gila sendirian."Β 


"Maksudnya aku harus sama gilanya kayak dia gitu?"


"Ya kalau perlu. Ingat, rumah tangga kita ini baru setahun. Perjalanan masih sangat panjang untuk melewati banyak hal. Jadi, sama gilanya untuk hal-hal tertentu tidak apa-apa."


"Ish, omongan Kakak ini bikin otak aku traveling tau nggak?" Nania pun tertawa karena pikirannya sendiri.


"Ah, itu sih sudah sewajarnya. Suamimu kan juga begitu." Lalu dua perempuan itu sama-sama tertawa.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...


Maaf gaess, beberapa hari ini Emak nggak update. Awalnya karena ada kerjaan dan urusan dunia nyata yang nggak bisa ditunda. Tapi kenyataan lain yang muncul setelahnya bener-bener bikin shock.


Tau apa? Ini soal keuntungan dan aturan baru Noveltoon/Mangatoon yang benar-benar sangat mengecewakan dan terlebih itu benar-benar merugikan untuk kami para author.


Kesempatan untuk punya pendapatan di sini semakin sulit dengan ditiadakannya reward kontrak sesuai level author, sistem gaji yang semakin susah dijangkau dan bonus-bonus lainnya yang dihilangkan. Terus terang membuat kami kecewa.


Tapi demi kalian reader tercinta, Emak nggak akan melepaskan cerita ini begitu aja. Kita masih akan sama-sama disini sampai cerita ini selesai. Siapa tau dalam jangka waktu selama itu Nt/Mt mau merubah kebijakannya untuk kami, agar apresiasi itu tetap ada dan membuat kami semangat berkarya di platfotm ini. Tapi kalau nggak, mungkin kita stop dulu untuk publish cerita baru ya gaess, maaf.

__ADS_1


Kami cinta kalian tapi harus logis juga, karena seperti yang selalu Noveltoon katakan di tiap notifikasinya bahwa berkarya itu tidaklah mudah, dan kami membutuhkan dukungan, baik itu secara moral dan finansial Karena update cerita itu butuh kuota, dan proses membuat karya itu cukup mengorbadan waktu, juga meninggalkan banyak hal. Jadi, mohon dimengerti.


Alopyu gaess, terima kasih sudah menemani perjalanan beberapa tahun ini. Kalian yang terhebatπŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


__ADS_2