The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Menginap #2


__ADS_3

πŸ’ž


πŸ’ž


Tangan Nania merayap mencari tubuh hagat Daryl yang semalaman memeluknya. Tetapi tak dia temukan sehingga membuatnya membuka mata.


Pria itu memang tak ada di tempatnya, bahkan tempatnya semula berbaring sudah terasa dingin. Itu artinya Daryl sudah lama meninggalkannya.


Nania tertegun dengan pikirannya yang berputar. Mana mungkin pria itu mau tidur di rumah sederhana milik ibunya? Karena meski dia membawa barang-barang yang dibutuhkan pun, tidak mungkin akan merasa nyaman jika dibandingkan dengan apa yang dimilikinya di rumah besar.


Sampai kapan pun, Nikolai akan tetap menjadi Nikolai meski ada orang lain yang masuk dalam kehidupannya, dan itu tampak sangat jelas. Memang dirinya yang harus menyesuaikan diri, dan bukan sebaliknya.


"Dia pasti pulang ke rumah besar," gumamnya yang bangkit sambil menyugar rambut panjangnya.


Mana mungkin juga pria itu mau tinggal di sana meski hanya semalam?


Nania kecewa, tetapi dapat dipahami juga karena memang begitu kenyataannya. Tetapi perhatiannya beralih ketika mendengar tawa renyah dari bagian belakang rumah.


Dia mendengarkannya dengan seksama kemudian mengenali siapa pemilik suara itu. Yang adalah Daryl juga Mirna yang sepertinya tengah berbincang-bincang di belakang rumah.


"Nania memang dekat sekali dengan ayahnya, jadi tidak heran kalau dia memilih pergi ketika kami berpisah." Mirna sedang membersihkan peralatan dapur yang biasa digunakannya untuk mengolah ayam dan makanan yang dia jual.


Hari masih sangat pagi tetapi perempuan itu memilih untuk beraktifitas karena memang begitulah kegiatannya setiap hari. Dan Daryl hanya duduk di teras dengan segelas kopi dari cangkir keramik yang ada di rak dapur rumah tersebut.


"Salah Ibu juga karena memang tidak mengurusnya dengan baik, ditambah dengan Sandi dan kehadiran Hendrik." Mirna meletakkan panci besar di atas sebuah meja dan itu menjadi barang terakhir yang dia bersihkan.


"Ah, astaga! Ibu sudah tua rupanya? Mengerjakan ini saja sudah merasa lelah." Dia menyeka keringat di dahi sambil berjalan kemudian duduk tak jauh dari menantunya.


"Untung ketemu kamu, ya?" Dua orang itu menatap bangunan rumah yang merupakan milik tetangga. Area itu memang padat tetapi pada jam seperti ini masih terasa sepi.


"Sepertinya bukan suatu kebetulan?" Daryl menyesap kopi miliknya yang sudah mulai dingin.


"Sepertinya begitu. Tidak mungkin Tuhan mempertemukan seseorang denganmu tanpa tujuan yang jelas."

__ADS_1


Pria itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Dan Ibu rasa dia juga sangat berpengaruh padamu, ya?" Mirna tertawa sambil menoleh ke arah menantunya. Dia tidak akan lupa bagaimana interaksi yang terjadi diantara Daryl dan Nania sebelum tidur.


Mereka berdebat sangat lama dan terkadang seperti dua orang yang sedang berselisih. Tetapi setelahnya Daryl mengalah kemudian bertingkah seperti anak kecil. Dan hal itu kerap kali membuatnya menahan senyum.


"Ya begitulah. Anak ibu itu memang sedikit banyak mempengaruhi aku. Bayangkan saja, setiap hari dia berulah apalagi sejak dia hamil. Ada saja yang mau dilakukannya."


Mirna tertawa. "Bersabarlah. Perempuan hamil memang biasanya begitu." Dia sambil menepuk pundak menantunya.


"Ya, aku rasa Nania memang dikirim Tuhan untuk menguji kesabaranku yang setipis tisu dibagi tujuh. Sejauh mana aku bisa belajar menahan diri untuk tidak mudah terpancing dan lebih tenang dalam melakukan sesuatu. Buktinya, memang seperti itu."


Mirna tersenyum.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau tidak bertemu dengannya. Ibu tahu? Mungkin aku masih asyik saja dengan duniaku sendiri tanpa menghiraukan apa pun." Pria itu berbicara dengan matanya yang tampak berbinar, dan meski dalam pencahayaan yang sedikit remang-remang, namun Mirna masih dapat melihatnya dengan jelas.


Dari raut wajahnya saja Daryl menyimpan rasa cinta yang begitu besar untuk putrinya, dan itu sangat melegakan. Setidaknya, dia yakin jika Nania tidak akan sendirian lagi menjalani hidupnya jika suatu saat dia pergi.


"Titip Nania, ya?" ucap Mirna secara tiba-tiba. "Sekarang rumahnya adalah kamu, jadi sudah pasti segala hal akan dia lakukan denganmu. Jaga dia dengan baik dan pastikan hidupnya bahagia. Karena selama ini Nania sudah cukup menderita."


Daryl memalingkan wajah ke arah mertuanya dengan kening berkerut.


"Ibu tidak bisa melakukannya, jadi Ibu harap kamulah yang akan melakukannya. Selalu perlakukan dia dengan baik dan jangan pernah meninggalkannya untuk alasan apa pun. Dia tak punya siapa-siapa lagi selain kamu."


"Ke apa Ibu bicara begitu?" Daryl menanggapi ucapannya.


"Tidak apa-apa, hanya … ingin saja." Perempuan itu tertawa lagi. "Dan terima kasih sudah menjadi tempat pulangnya yang paling menyenangkan. Sehingga Ibu merasa tenang karena sudah mengetahuinya."


Daryl terdiam.


"Nah, setelah ini Ibu harus ke pasar untuk mengambil ayam. Jadi kalau mau tidur lagi, sana, temani Nania."


"Ah, aku sudah minum kopi, jadi tidak mungkin bisa tidur lagi." Pria itu meneguk habis kopinya yang sudah dingin.

__ADS_1


"Ya terserah saja, tapi Ibu harus tetap pergi ke pasar. Ayam sudah menunggu." Mirna bangkit dari duduknya, dan hal itu membuat Nania bergegas kembali ke tempat tidur yang digelar di tengah rumah setelah mendengarkan percakapan tersebut secara diam-diam.


"Ibu mau diantar? Aku akan menelpon sopir kalau mau?" tawar Daryl kepadanya.


"Tidak usah, ada angkot ini kan?" Mirna bersiap-siap dengan pakaian yang cukup tertutup untuk menghalau udara dingin pada subuh itu.


"Serius?"


"Iya. Tidur lagi saja lah, masih subuh ini kan?" Perempuan itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Kemudian dia pergi setelahnya. Sementara Daryl pun kembali ke tempat tidur di mana Nania berada yang masih tampak terlelap di bawah selimutnya, dengan air purifier yang tetap menyala sepanjang malam, membuat ruangan di tengah rumah itu terasa sejuk.


Dan Daryl baru saja merebahkan tubuhnya di samping Nania ketika perempuan itu merangsek dan memeluknya.


"Hey, apa kamu sudah bangun?" Dia membalas pelukannya, namun Nania tak menjawab.


"Sepertinya menginap di sini tidak buruk juga, aku bisa tidur lho. Tapi karena mendengar ibu sudah melakukan sesuatu sepagi ini jadi membuatku ikut bangun juga." Daryl mengeratkan pelukan.


"Baby?"


Nania tetap tak menjawab, tetapi dia mengulurkan kedua tangannya sehingga bisa merangkul pundak pria itu. Kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya yang membuat Daryl tertegun untuk beberapa saat.


"Bobok lagi, Daddy. Aku ngantuk." Lalu Nania membenamkan wajahnya di dada pria itu dengan perasaan haru yang memenuhi dada.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Bersambung ....


hai gaess, maaf baru bisa up lagi, dunia nyata emak bener-bener rempong untuk bulan ini, jadi jarang up. tapi semoga setelah ini bisa lancar lagi ya? minta doa nya aja.


alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2