The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Resort Dan Kisah Cinta


__ADS_3

🍂


🍂


"Der?" Ketukan di pintu menginterupsi aktivitas pada petang itu, dan Nania mendorong tubuh suaminya yang tak mau lepas sejak kembali ke kamar mereka.


"Der, ayo kita makan. Semuanya sudah ke bawah." 


"Ck!" Dan Daryl hanya bisa berdecak kesal karena kesenangannya terganggu.


"Kan aku udah bilang, jangan ngamar dulu. Keganggu lagi kan?" Sementara Nania buru-buru mengenakan pakaiannya yang sudah berserakan di lantai.


"Daryl?" orang di luar kembali mengetuk pintu.


"Iya, duluan aja. Sebentar lagi nyusul." Kini Nania menjawab.


"Ayo Dadd?" Kemudian perempuan itu menarik suaminya yang masih enggan turun dari tempat tidur mereka yang berantakan, apa lagi kalau bukan karena pergumulan yang hampir terjadi jika saja ajakan Darren tak mengganggunya.


"Sudah aku katakan untuk tidak ikut, kan? Mereka mengganggu terus. Tidak tahu apa kalau aku …."


"Jangan gitu. Kumpul keluarga itu baik, dan aku memang mau ikut. Kalau kamu merasa terganggu kenapa malah ikut juga? Aku kan nggak maksa." Nania menyerahkan kaos dan jaket untuk Daryl kenakan.


"Dan membiarkanmu ke sini sendirian, begitu? No way!" Akhirnya pria itu menurut juga.


"Ya nggak sendirian, kan ada keluarga kamu."


Daryl mendengus keras.


"Jangan begitu lah, masa nggak ngerti sih kalau hal kayak gini bisa bikin aku seneng? Kita kan jarang pergi, jadi sekalinya ada acara keluarga ya aku mau ikut."


"Kalau kamu minta pergi aku pasti mengabulkannya. Mau pergi ke mana?" ujar Daryl yang memastikan pakaian mereka cukup hangat untuk berlindung dari udara yang sangat dingin di tempat itu.


"Kapan?"


"Ya … kapan saja."


"Tapi nggak pernah. Kerjaan kamu banyak dan hampir nggak ada waktu bahkan untuk santai-santai. Sekalinya libur kita tetep di rumah aja dengan alasan istirahat karena capek. Jadi kapan?"


"Eee … ya kalau kamu minta kan aku bisa mengatur waktu untuk …."


"Lama." Nania mengenakan topi woll nya. "Menyesuaikan waktu, geser jam kerja sama mindahin acara. Dan itu nggak mudah."


Daryl terdiam.


"Please, Dadd. Aku juga mau kayak mereka. Nggak berlebihan kok, cuma ngumpul sama keluarga kamu dan itu seru." Perempuan itu mendekat dan menempelkan wajah di dada suaminya.


"Kamu senang bisa begini, heh?" Daryl merangkul tubuhnya yang kini tak semungil dulu.


Nani menjawabnya dengan anggukkan.


"Tapi Eragonnya tidak bisa langsung tidur." Pria itu mengarahkan pandangannya ke bagian bawah tubuhnya, di mana alat tempurnya jelas menegang.


Nania tertawa dengan wajah yang mendongak seraya menyentuh benda yang mengeras di balik jogger pants suaminya itu.


"Sabar ya, Eragon. Akunya mau ngumpul dulu sama orang-orang. Nanti dilanjut ya?" katanya, yang kemudian menepuknya pelan-pelan.


"Dengan begitu kamu malah membuatnya menjadi semakin keras." Daryl mengeratkan pelukan dan sedikit menggesek-gesekkan bagian itu kepada Nania.


"Makanya jangan nakal! Sore-sore udah mau anuan." Namun Nania segera menjauh dan merapikan hoodie yang sudah daryl kenakan hingga menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Kamu tidak mengerti. Ini rasanya sangat menyiksa …." Daryl sedikit merajuk.


"Ya gimana, masa kita mau di kamar terus sementara orang-orang pada ngumpul?"


Daryl mengerucutkan mulutnya.


"Ayo Sayang." Nania tertawa kemudian mengecup bibir pria itu sekilas. Dan dia menariknya keluar dari kamar.


Dan area makan luar ruangan di bagian bawah villa itu memang sudah cukup ramai. 


Selain para pengunjung yang sudah memenuhi sisi sebelahnya, dengan live music yang dimulai sejak sore, juga karena keberadaan para anggota keluarga pun sudah berada di bagian VVIP resort tersebut.


Meja besar, kursi-kursi yang nyaman dan suasana menyenangkan sudah tampak. Ditambah lampu-lampu hias yang menambah semarak area di tengah hutan itu.


"Kayak ada pesta ya?" Nania merapatkan jaketnya ketika rasa dingin terasa menusuk hingga ke tulang.


"Ya, pesta keluarga Nikolai." Dayl menjawab asal.

__ADS_1


Nania terkekeh kemudian menghentikan langkah suaminya.


"Now what?" Dan pria itu menatap wajahnya.


"Eragonnya udah tidur lagi?" Nania melihat ke bagian yang dimaksud.


"Aku rasa ya. Kenapa?" Daryl hampir menyentuh miliknya, namun Nania segera menghentikannya.


"Ya udah jangan diganggu. Nanti dia bagun lagi. Ahahahaha." Perempuan itu tertawa.


"Ada-ada saja kamu ini." Daryl memutar bola matanya, kemudian mereka melanjutkan langkah.


"Ya kan malu kalau kelihatan. Jadi ketahuan deh kalau kita …."


"Ssstt! Jangan dibahas." ujar Daryl yang merangkul tubuh perempuan itu kemudian menyeretnya ke arah kerumunan keluarganya.


"Mesra-mesraan terooooosssss!" ucapan Amara menarik perhatian pasangan yang baru saja muncul setelah mereka berkumpul.


"Eh, ada Ara?" Nania segera bereaksi melihat keponakan yang dulunya adalah mantan atasannya itu. 


"Kapan datang?" tanya nya kemudian.


"Tadi sore, langsung dari Bandung."


"Oh … pantesan. Anak-anak mana?" Nania segera mendekat sambil mengedarkan pandangan untuk mencari kebenaran balita kembar  yang dimaksud.


"Sama Papa dan Mommy, apalagi?" Amara menunjuk ke arah tenda di samping di mana Arfan dan Dygta sedang mengasuh anak-anak balitanya. Bersama Kirana yang membiarkan Lev ikut bermain juga.


"Aduh … mau ke sana ah …." Yang membuat Nania segera menghampiri dan ikut bergabung dengan mereka.


"Jangan sering-sering peluk dan cium anak-anak, Malyshka!" Daryl terpaksa membiarkan istrinya memisahkan diri.


"Dih, pengantin basi maunya ngamar terus?" Amara memulai percakapan yang segera membuat Daryl memalingkan wajah.


"Apa katamu?"


"Orang-orang pada ngumpul ini malah di kamar terus?" katanya lagi.


"Bukan urusanmu." Daryl bergumam.


"Lagi program kehamilan ya?" goda Nania kemudian.


"Iya juga nggak apa-apa, aku ngerti. Hahaha." Perempuan itu tertawa.


"Galang di mana?" Lalu Daryl mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya di mana lagi? Sama bapak-bapak lah." Amara menunjuk sisi lain di mana Satria, Dimitri, Darren dan Galang suaminya sedang berkumpul.


"Duh, para petinggi Nikolai Grup sedang rapat." gumamnya yang menatap ke arah yang ditunjuk Amara.


"Bukannya Kakak juga ada saham di sana ya? Jadi itu artinya Kakak juga petinggi Nikolai Grup."


"Hanya punya saham, tapi tidak bekerja di sana. Aku kan di Fia's Secret." Daryl menjawab.


"Oh iya, emang beda ya? Bukannya sama aja?"


"Untukku beda." Daryl mengambil sebuah cangkir kemudian meminta Amara menuangkan minuman di dalam sebuah wadah kaca.


"Ini bandrek, bukan kopi. Kayaknya nggak akan Kakak suka deh." Ucap Amara yang hampir menuangkan minuman tersebut.


"Bandrek?"


"Iya. Air jahe dicampur gula aren."


"Sebut saja air jahe kenapa harus bandrek? Aneh sekali." Pria itu masih meletakkan cangkir di dekat Amara.


"Orang emang namanya bandrek."


"Rasanya bagaimana?"


"Ya hangat kayak jahe."


"Ya sudah, tuangkan untukku!" pinta Daryl yang kemudian Amara turuti.


***


"Kakak, aku mau sosisnya lagi!" Asha menyodorkan piringnya yang sudah kosong.

__ADS_1


Anandita yang belum berhenti memanggang makanan favorit adik-adiknya itu mendelik.


"Satenya juga, Kak. Ini enak." Aksa pun melakukan hal yang sama.


"Kalian jangan cuma makan terus dong, tapi bantu aku juga. Ini masa bakar-bakar dari tadi nggak kelar-kelar?" Gadis itu menggerutu.


"Itu kan tugasnya Kakak." Asha mengambil sosis bakar yang sudah matang.


"Tugasnya kamu juga, tahu!" Sang kakak menjawab.


"Ogah, tugas aku cuma makan." Kemudian adiknya tersebut kembali melahap sosis bakar dan kembali ke tempat duduknya lagi.


"Aksa?" Anandita menatap adik bungsunya itu dengan pandangan mengintimidasi.


Namun Aksa dengan cepat mengambil makanan yang dia inginkan kemudian cepat-cepat pergi seperti ssudaranya.


"Aaaaa … kalian nyebelin!" pekik Anandita yang melemparkan penjepit makanan ke arah dua adiknya tersebut, sementara Arkhan tertawa sambil menikmati makanan yang tersisa.


"Jangan ketawa, tapi bantuin aku bakar sosisnya!" Kemudian dia menepuk punggung saudara kembarnya.


"Nggak mau." Dan jawaban yang sama pun diucapkan oleh pemuda itu.


"Arkhan!"


"Kan tadi kamu yang punya ide bakar-bakar kayak gini? Jadi ya udah resikonya dong kalau kamu yang ngerjain semua. Lagian aku udah bantu bawain barang-barangnya."


"Tapi kalian semua ikut makan."


"Ya emang tugasnya gitu kan."


"Bantuin aku lah …."


"Nggak mau, kerjain aja sendiri."


"Ah, Arkhan!" Gadis itu merengek.


"Jangan bersikap kayak gitu, jelek! Kamu bukan bayi. Minta tolong Om Regan sana!" ujar Arkhan saat melihar Regan yang sedang berjaga dengan tiga staf pria lainnya.


"Hah? Om Regan? Mana, mana?" Anandita sedikit panik, lalu dia mengedarkan pangan.


Nampaklah pria itu berada di dekat Daryl yang sesekali terlihat berbincang dengan rekannya sesama staf.


"Umm …."


"Om Regan?" Tiba-tiba saja Arkhan memanggil asisten dari pamannya tersebut.


Regan menoleh kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Bantuin Ann bakar sate." katanya yang kemudian meninggalkan Anandita yang wajahnya memucat.


"Eee … Arkhan?" Gadis itu mulai panik.


Regan terdiam sebentar, lalu dia melirik ke arah Daryl yang memberinya isyarat untuk melakukan permintaan keponakannya.


"Baik, apa yang harus saya kerjakan?" Pria itu segera mendekat.


Anandita terdiam menatapnya dengan mata berbinar. Masih segar dalam ingatannya kejadin tadi siang dibalik air terjun yang sempat membuatnya mengurung diri di dalam kamar selama beberapa jam untuk merenung. Dan kini pria itu malah ada di hadapannya dan mereka begitu dekat.


Biasanya dia merasa senang dengan kedekatan tersebut, namun kali ini dia malah merasa gugup.


"Besikaplah yang normal, Ann." Regan bergumam pelan namun Anandita masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kalau kamu begitu nanti orang-orang curiga." lanjutnya yang mengambil beberapa tusuk daging lalu meletakkannya di pemanggangan.


Anandita tersadar, dan dia berusaha untuk bersikap normal seperti yang pria itu katakan. Namun kenyataannya dia tidak bisa.


Beberapa barang berjatuhan dari meja tempatnya berkreasi sejak tadi, membuat perhatian semua orang beralih kepadanya.


"Santai, Ann." bisik Regan yang memunguti beberapa barang di dekat kakinya.


Gimana aku bisa santai sementara tadi siang kita ciuman? batin gadis itu yang tertegun di belakangnya.


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2