
💕
💕
"Daddy?"
"Hum?"
"Aku ingat-ingat, kbnya udahan besok." Tubuh mereka masih saling berpelukan setelah pergumulan panas beberapa saat yang lalu.
"Terus?"
"Waktu itu kamu pernah bilang kalau setelah ini boleh kalau nggak kb lagi."
"Ya, lalu?"
Nania mendongak untuk menatap wajah suaminya.
"Kalau besok nggak di kb lagi boleh?"
Daryl berpikir sebentar.
Â
"Kan katanya boleh." Perempuan itu mengingatkan.
"Kegiatanmu bagaimana?" Lalu Daryl bertanya.
"Setelah bazar cuma kuliah biasa aja."
"Hmm …."
"Boleh nggak?" Nania bertanya lagi.
"Boleh."
"Beneran?" Dia bangkit dan menatap wajah suaminya lebih lekat.
"Ya." Daryl pun menganggukkan kepala. "Aku rasa ini sudah cukup."
Nania tampak tersenyum lebar.
"Asal kamu janji untuk selalu berhati-hati, karena kita tidak tahu kapan kehamilan itu akan terjadi. Bisa minggu depan, atau bisa bulan depan." Daryl mengusap punggung telanjang istrinya dengan lembut.
Nania mengangguk cepat. "Aku janji."
"Baik."
"Aaaa … makasih!" Perempuan itu memeluk Daryl dengan erat. "Aku janji nggak akan berbuat sembarangan lagi. Nggak akan pergi sendirian atau melanggar aturan. Cuma pergi kuliah terus pulang ke rumah."
"Ya ya ya, baiklah." Daryl mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa.
Nania kembali menatap wajahnya sebentar, lalu dia menciuminya secara bertubi-tubi.
"Malyshka!" Pria itu tertawa.
Dia pun balas memeluk tubuh Nania tak kalah eratnya sehingga tubuh mereka benar-benar menempel saat perempuan itu mendaratkan kecupan terakhir pada bibirnya.
"Kamu membuat Eragon bangun lagi, Malyshka." Daryl berbisik, dan membuat Nania membelalakan mata.Â
Lalu dia menarik diri, namun Daryl menahannya dengan cepat.
"Udah Dadd, jangan lagi. Aku capek." Nania merengek.
Daryl tertawa tapi dia tidak melepaskannya.
"Daddy!"
"Baiklah, baik." Dan setelah beberapa saat dia pun melepaskan lilitan tangannya, namun tak membiarkan perempuan itu menjauh. "Salahmu malah memancingku terus?"
"Dih kamu, aku diem aja juga gampang terpancing. Apalagi kalau aku pancing?"
Daryl tertawa lagi. "Ya kan kamu bilang mau punya anak?"
"Hu'um tapi, hahaha." Nania pun tertawa. "Udah ah, tidur. Besok kan harus datang ke bazar pagi-pagi." Lalu dia mencari tempat ternyamannya untuk tidur. Dan seperti biasa, Nania menemukannya di bawah ketika suaminya.
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu bilang lapar ya? Mau makan dulu?" Daryl mengingatkan percakapan mereka sebelumnya.
"Nggak ah, udah kenyang." Nania menjawab.
"Kenyang makan apa?"
"Eragon fruit."
"Hah?"
"Iya kan sampai nambah dua kali, jadi udah kenyang."
"Duh …." Daryl pun tertawa lagi saat mengerti apa yang Nania maksud.
"Bobo, Daddy!" Perempuan itu kemudian meletakkan tangannya di wajah sang suami dan dia pun memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anandita mengintip dari balik jendela ruang tengah, atau sesekali melihat ke arah pintu dan jam besar di bawah tangga secara bergantian. Dia seperti menanti kedatangan seseorang.
"Tumben kamu sudah bangun? Baru juga jam setengah tujuh?" Satria dan Sofia turun dari kamar mereka.
"Ee …."
"Mau ikut jogging?" tanya sang nenek yang sudah siap dengan pakaian olah raganya seperti biasa.
"Mm … nunggu Aksa sama Asha dulu, Oma." Gadis itu menjawab.
"Memangnya mereka sudah bangun?"
"Kayaknya tadi udah deh." Lalu dia beralih menatap tangga saat kedua orang tuanya juga turun.
"Mommy sama Papa juga mau jogging?" Dan dia pun bertanya kepada mereka.
"Ya, kamu kok sudah turun? Tumben sekali." jawab Arfan setelah keduanya berada di lantai bawah.
"Eee … mau ikut jogging. Hehehe."
"Oh … bagus."
"Kalian mau ke mana?" Sofia lantas bertanya.
"Ke bazar, Mom."Â
"Pagi-pagi begini?"
"Ya, hari Minggu memang bukanya pagi. Kan suka ada yang jogging." Nania menjawab.
"Oh …."
"Bazar di kampus?" Anandita menyela percakapan.
"Iya."
"Mau ikut." Gadis itu berujar.
"Apa?" Semua orang yang ada di ruangan itu bereaksi serentak.
"Eee …."
"Tidak bisa, nanti siang kita kan akan pulang." Arfan kemudian menjawab.
"Pulangnya bisa nanti sore aja nggak? Atau Papa sama Mommy pulang aja duluan, terus aku nyusul sore." katanya lagi, beralasan.
"Memangnya mau apa? Belanja?" tanya Arfan lagi.
"Ee …."
"Nggak cuma belanja, jajanan juga di sana banyak kok. Jadi, ayo kalau mau ikut." ajak Nania, yang membuat kedua bola mata Anandita berbinar.
"Tidak, kalau mau kita bisa ke sana nanti siang. Sambil pulang kan bisa." Namun Arfan setengah tak mengizinkan.
"Ya … Papa!" Dan hal tersebut membuat Anandita merengek.
"Apa?"
__ADS_1
"Kalau siang udah panas."
"Sama saja. Sekarang kamu ikut pun nanti siang tetap panas." Arfan menjawab lagi.
"Umm …."
"Sekarang, ayo kita jogging dulu? Mumpung masih pagi." Arfan menatap jam tangannya.
"Tapi Papa …."
"Udara masih sejuk dan bersih. Bagus untuk kesehatan." katanya lagi, dan dia melenggang ke arah pintu.
"Benar, Ann. Sana, lebih baik kamu ikut jogging dari pada ikut dagang. Panas." Daryl pun melangkah keluar sambil menarik Nania.
Gadis itu mendelik, namun tak urung juga dia mengikuti mereka dan memutuskan untuk menurut. Karena jika tidak, maka akan menimbulkan kecurigaan bagi sang ayah.
"Selamat pagi?" Regan segera menyapa semua anggota keluarga Nikolai yang keluar berurutan.
"Pagi, Regan. Apa kabarmu?" Satria menjawab.
"Sangat baik, Pak." Pria itu menjawab.
"Bagus sekali. Semangat ya, walau bekerja di hari Minggu?" Satria menepuk pundak asisten dari putranya itu.
"Ya Pak. Sudah biasa." Dan Regan mengangguk lagi saat Arfan dan Dygta melewati mereka.
"Begitulah …." Satria pun tertawa. "Baik, selamat bekerja, dan jaga dirimu baik-baik." Dia kembali menepuk-nepuk pundak Regan sebelum akhirnya meneruskan langkah untuk berolah raga seperti biasanya.
"Terima kasih, Pak." Regan menyunggingkan sedikit senyum pada keluarga atasannya tersebut.
"Kau sudah memindahkan parfumnya?" Daryl bertanya sebelum dia memasuki mobilnya.
"Sudah, Pak."
"Baiklah." Lalu dia segera mendekati mobil dan membukakan pintu untuk Nania.Â
Dan Regan hampir saja mengikutinya ketika Anandita juga melintas di depannya. Gadis itu mengarahkan pandangan dengan bibirnya yang melengkung membentuk senyuman.
"Pagi, Om?" Gadis itu berhenti sebentar.
"Pagi." Regan menjawab sapaannya.
"Tadinya aku mau ikut, tapi nggak diizinin sama Papa."
Regan tak menyahut.
"Mau maksa tapi takut Papa curiga juga."
"Ya sudah, jangan." Regan melirik ke arah jalan setapak di mana Satria da Arfan berjalan beriringan.
"Hu'um."
"Ann?" Terdengar panggilan Arfan dari depan sana, dan pria itu berhenti berjalan untuk menunggu putrinya.
"Iya, Pah." Anandita meneruskan langkah, namun dia berhenti saat sang ayah juga kembali berjalan di samping Satria. Lalu gadis itu mundur dua langkah ke hadapan Regan.
"Om?" Dia memalingkan wajah ke arah pria itu.
"Ya?"
"Saranghae …." katanya, lalu dia segera berlari mengikuti kedua orang tuanya.
"Hah?"
"Regan? Ada yang terlinggal?" Daryl memanggil dari dalam mobil.
"Eee … tidak, Pak. Maaf." Lalu pria itu pun bergegas menuju Rubicon milik atasannya, dan mereka segera pergi meski sebelumnya dia melirik sekilas pada Anandita yang tersenyum sendirian.
💕
💕
💕
Bersambung ...
__ADS_1
Ecie cieee cieee ... Yang digombalin abegeðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤