The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Jodoh


__ADS_3

💞


💞


"Wait, Malyshka!" Daryl setengah berteriak ketika Nania hampir saja melewati gerbang kampus.


"Apa lagi?" Perempuan itu menoleh dan mendapati jika suaminya berjalan ke arahnya.


"Sepertinya Mahira belum datang? Aku antar kamu saja sampai ke dalam." Pria itu meraih tangannya, kemudian menggandeng Nania masuk ke dalam area kampus.


"Nggak usah, Dadd. Aku nggak apa-apa sendiri juga, udah biasa." Nania berujar.


"Diamlah. Yang ada di dalam perutmu itu anak-anakku. Masa iya aku harus membiarkanmu sendiri?"


"Nggak sendiri." Nania terkekeh mendengar ucapannya. " Setiap hari juga ketemu orang kan?"


Daryl tak menanggapi, dia hanya berjalan menarik Nania menuju fakultas tempat dia menerima pelajaran selama kuliahnya.


"Kenapa jalannya sejauh ini? Membuat lelah saja." Dan sepanjang jalan dari gerbang masuk hingga ke tangga fakultas pun dia terus menggerutu.


"Setiap hari kamu begini?" Katanya, yang menoleh ke belakang.


"Kan kamu waktu itu udah pernah nganter aku, waktu hari pertama kuliah sama antar desain aku, ingat?"


"Benarkah?" Daryl sedikit menjengit.


"Iya."


"Hmm … sepertinya waktu itu tidak sejauh ini." Dia menggendikkan bahu, sementara Nania hanya tertawa.


"Sepertinya kamu cukup terkenal di sini ya?" Daryl berbicara lagi ketika mereka melewati ruangan-ruangan kelas sebelum mencapai kelasnya Nania.


"Nggak juga. Memangnya kenapa?"


"Itu mereka melihat ke arah kita terus. Sepertinya karena kamu terkenal." Daryl melirik orang-orang di sekitar mereka dengan raut tak suka.


Nania mengerutkan dahi, dan dia juga melihat ke sekeliling mereka. Dan perempuan itu mencebik ketika dia menyadari sesuatu.


"Itu bukan karena aku yang terkenal, Dadd." katanya.


"Lalu kenapa? Padahal kita biasa saja, tidak ada yang mencolok sama-sekali?" Daryl melihat penampilannya sendiri dan juga Nania.


"Ya karena kamu." Mereka tiba di depan pintu kelas.


"Aku?" Daryl menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya gimana mereka nggak lihatin, orang aku diantar sama kamu?"


"Maksudnya? Memangnya tidak boleh ya kalau suami antar istrinya ke dalam kampus? Ada larangannya begitu?"


"Bukan."


"Lantas?"


"Ngerasa nggak sih kalau kamu itu selalu menjadi pusat perhatian?" Nania menatap wajah suaminya.


"Masa?"


"Ish, nggak nyadar apa?"


"Kenapa bisa begitu?"


"Nggak tahu, mungkin …."


"Pasti karena aku tampan kan?" Daryl menyentuh dagunya sendiri sambil tersenyum.


Nania menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Pasti benar karena itu, ahahaha." Pria itu tertawa.


"Narsis." Nania memutar bola matanya.


"Sudah pasti benar, memangnya apa lagi? Karena aku Nikolai? Itu juga bisa, dan sebentar lagi akan menghasilkan Nikolai-Nikolai kecil dari sini." Daryl mendekat sambil menyentuh perut Nania dan mengusap-usapnya dengan lembut.


Dan meski mahasiswa lain memperhatikan, itu tak ada pengaruhnya bagi dia.


"Selamat pagi, Nania?" Seorang pria kira-kira berusia 35 tahun melewati mereka.


"Eh, selamat pagi, Pak?" Nania menjawab sapaannya.


Pria itu hanya tersenyum seraya melenggang ke dalam kelas.

__ADS_1


"Siapa itu? Teman sekelasmu?" Daryl menatap curiga.


"Bukan."


"Lalu siapa?"


"Dosen. Hahaha." Nania tertawa karena menangkap gelagat curiga dari suaminya.


"Dosen?" Daryl membeo.


"Ya. Dosen desain yang baru."


"Serius dia dosen?"


Nania menganggukkan kepala.


"Masa ada dosen semuda itu?" Daryl masih menatapnya dengan curiga.


"Emangnya dosen harus udah tua? Kamu ada-ada aja deh." Nania tertawa lagi. "Usah ah, aku masuk dulu. Malu sama dosen yang udah datang." Nania hampir saja masuk ke dalam kelas.


"Tunggu!" Tetapi Daryl menahan tangannya.


"Apalagi Dadd? Masa kamu mau antar aku sampai ke tempat duduk juga? Malu lah."


"Bukan!"


"Iya, terus kenapa?"


"Apa dia tahu kalau kamu sudah menikah?" Pria itu bertanya.


"Belum." Nania mengulum senyum.


"What?"


"Bercanda, Dadd. Jangankan nikah, aku hamil aja orang sekelas pada tahu. Hahaha." Nania tertawa lagi.


"Hufthh …." Pria itu meniupkan napasnya di udara.


"Udah ya? Aku kuliah dulu. Kamu juga harus kerja kan? Sana pergi!" Nania mengusap wajah Daryl sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kelas yang hampir memulai mata kuliahnya pada pagi itu.


***


"Apa Dokter mau mengatakan jika ibu saya tidak memiliki harapan?" Regan menoleh ke arah ibunya yang tengah berbaring di ranjang pemulihan untuk beristirahat setelah menjalani sesi kemoterapinya siang itu.


"Bukan tidak memiliki harapan, Pak Regan. Hanya saja dibutuhkan kesabaran lebih untuk menunggu hasilnya."


Regan terdiam.


"Percayalah, tidak ada yang mustahil jika kita mengerjakannya dengan tekun. Hanya harus sabar."


Pria itu menghela dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Baik, Pak. Anda bisa membawa ibu kembali besok di jam yang sama, ya? Pastikan semua obatnya diminum sesuai anjuran, dan ingat untuk memperhatikan asupan makanannya."


Dan sesi kemoterapi pada hari itu pun berakhir.


***


"Sepertinya Ibu sudah tidak kuat, Gan." Mella menatap keluar mobil dalam perjalanan pulang mereka dari NMC.


"Apa yang Ibu bicarakan? Tidak kuat apa?" Sementara Regan membagi konsentrasinya antara sang ibu dan lalu lintas yang padat seperti biasa.


"Pengobatannya. Sudah sejauh ini tapi masih begini-begini saja?" Perempuan itu dengan raut sendu.


"Sabar, Bu. Semuanya sedang kita usahakan. Hanya saja waktunya memang tidak sebentar. Ini cukup rumit."


"Sebut saja sulit disembuhkan, Gan." Mella menoleh kepada sang putra.


"Siapa bilang?" Regan kemudian terkekeh. "Penyakit apa pun ada obatnya, dan bisa disembuhkan. Ini zaman modern dan apa pun bisa dilakukan untuk menyembuhkan Ibu."


"Tapi biayanya besar, Gan."


"Memang."


"Apa kamu mampu?"


"Kita mampu, Bu."


"Jangan sampai menjual rumah peninggalan nenekmu. Itu hasil perjuangannya selama bekerja, Gan." Mella meremat lengan putranya.


"Ibu ini bicara apa sih? Jangan khawatir soal itu karena aku cukup mampu untuk mengobati Ibu. Lagipula, NMC memang khusus untuk keperluan kesehatan staff Nikolai Grup, jadi kita mendapatkan kemudahan soal ini."

__ADS_1


"Kami tidak bohong, Gan? Jangan sampai sakitnya Ibu ini jadi memberatkan kamu." Mella meyakinkan dirinya sendiri.


"Tidak, Bu. Percayalah."


Perempuan itu terdiam.


"Untuk sekarang, hanya fokus saja pada pengobatannya. Soal biaya dan yang lainnya biar aku yang memikirkan."


"Seharusnya saat ini kamu sudah tenang dengan hidupmu, bukannya malah mengurus Ibu. Maafkan Ibu ya, Gan?" Mella berbicara lagi setelah beberapa saat.


"Kewajiban anak ya merawat orang tuanya. Kenapa Ibu minta maaf?" Regan membelokkan mobil ke jalan menuju rumah mereka.


"Ya, tapi tidak seharusnya sampai begini."


"Mungkin sudah jalannya."


"Mengapa kamu tidak segera menikah saja, Gan? Usiamu sudah cukup untuk …."


Regan tertawa.


"Ibu serius. Mungkin umur Ibu tidak akan lama lagi, dan kita tidak tahu apakan Ibu akan mampu melihatmu menikah nanti. Atau …."


"Ibu pasti sembuh, aku yakin."


"Jodohmu sudah ada?" Mella terus bertanya, sementara Regan kembali tertawa.


"Jawablah agar Ibu tenang."


Pria itu terdiam sejenak.


"Gan?"


"Ada, tapi belum bisa aku bawa kepada Ibu." Akhirnya dia menjawab.


"Kenapa?"


"Keadaannya yang tidak memungkinkan."


"Sebabnya apa?"


"Dia … masih sekolah dan orang tuanya bekuk mengizinkan untuk punya pacar."


"Apa?"


"Ya. Aku sedang berhubungan dengan anak sekolah sekarang ini." Regan menoleh kepada sang ibu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Anak sekolah?"


"Ya."


"SMA?"


Regan menganggukkan kepala.


"Kenapa bisa?"


"Tidak tahu. Begitulah."


Mella terdiam lagi.


"Kalau memang sudah waktunya aku pasti akan membawanya kepada Ibu. Sementara itu, kita usahakan dulu untuk penyembuhan ya? Dan Ibu harus bertahan demi aku, dan calon jodohku nanti." Dia menghentikan laju mobilnya ketika sudah tiba di pekarangan rumah.


"Kalau dia masih SMA mungkin masih lama kalian untuk menikah." Mella dengan nada sendu.


"Mungkin. Karena dia harus kuliah dan segala macamnya. Tapi jangan khawatir, karena seperti yang aku katakan tadi, kalau Ibu pasti akan sembuh dan melihatku menikah."


Mella menatap sang putra.


"Atau Ibu mau bertemu dia dulu sekarang?" ucap Regan kemudian.


"Memangnya bisa?"


"Nanti akan aku usahakan. Sekarang, ayo kita masuk? Ibu harus banyak istirahat, bukan?" Dia kemudian turun dan berjalan memutar untuk membukakan pintu penumpang, dan membantu Mella keluar dari mobil. Dan selanjutnya mereka berdua masuk ke dalam rumah.


💞


💞


💞


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2