
💕
💕
Regan mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi, dan pikirannya berputar menimbang-nimbang apakah hal ini benar untuk dilakukan atau tidak?
Satu sisi hatinya mengatakan ingin pergi menemui gadis itu, namun di sisi lainnya dia juga ingat bahwa hal ini tidak boleh berjalan terlalu jauh.
Anandita masih sekolah dan tidak dibenarkan juga baginya untuk berbuat lebih. Bayangkan jika hal ini Arfan ketahui, bagaimana pria itu akan sangat marah dan membuat siapa saja yang menyentuh putrinya akan ada dalam bahaya. Apalagi ini di daerah teritorialnya. Kediaman tempat mereka tinggal, dan tidak mungkin dia melonggarkan keamanan begitu saja.
Dan dirinya harus rasional, bahwa mungkin saja pria itu sedang menunggunya lengah dan berbuat di luar batas.
Lalu pandangannya melirik kaca spion di mana dia melihat ada sebuah mobil berhenti belasan meter di belakang. Bisa dipastikan jika itu adalah pengintai yang ditugaskan Arfan untuk mengawasi Anandita atau gerak-geriknya. Dan segera saja membuat Regan mengerti.
"Maaf, Ann. Aku tidak bisa." Lalu dia mengirim pesan.
Regan segera menyalakan mesin mobilnya, kemudian dia pergi dari tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy, stop!!" protes Nania setiap kali Daryl menepuk pantatnya.
Mereka baru saja tiba di rumah setelah menempuh perjalanan pulang dari Fia's Secret House.
Pria itu hanya tertawa, dia begitu menyukai ekspresi kesal istrinya yang semakin hari terlihat semakin menggemaskan saja dalam pandangannya.
"Kenapa kamu seksi sekali, Malyshka? Apalagi kalau pakai baju itu." Daryl menatap Nania yang berjalan di depannya. Dia mengenakan gaun hitam selutut dengan potongan offshoulder yang mengekspos bagian bahu dan punggungnya.
"Apa sih manfaatnya nepukin ****** aku terus?" Perempuan itu mendelik.
"Tidak ada, hanya membuatku senang saja." Daryl kembali tertawa. "Apalagi kalau sambil mendesah*h."
Nania menghentikan langkah kemudian memutar tubuh.
"Kalau begitu, ayo bikin aku mendes*h," katanya, kemudian ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju ke kamar mereka di lantai dua.
Daryl tertegun.
"Kamu sedang menantangku ya? Atau hanya bermain-main?" Pria itu kemudian mengikutinya dengan langkah santai.
"Nggak, aku cuma mau anuan aja." Suaranya pelan di atas sana, tetapi dia mendengarnya dengan sangat jelas.
"Kenapa ya akhir-akhir ini kamu lebih nakal dari biasanya?" Langkahnya terdengar pelan namun dia memang menuju ke arah kamarnya di mana Nania sudah berada.
"Nggak tahu, mungkin lagi mau aja." Dia menjawab dari dalam kamar.
Daryl kembali tertegun di ambang pintu, apalagi ketika melihat perempuan itu yang tengah melepaskan seluruh pakaiannya. Lalu dia berbalik.
"Daddy, come!" Nania menggerakkan jari telunjuknya diiringi senyum nakal nan menggoda.
"Kamu serius?" Daryl masuk lalu menutup pintu, dan dia memutar kunci sebanyak dua kali. Padahal tidak pernah ada yang mengganggu mereka pada jam malam seperti ini.
Nania mengangguk dan senyum belum sirna dari bibir menggodanya.
"Oh, kamu akan menyesal karena sudah menggodaku seperti itu, Malyshka!" ujar Daryl yang tak melepaskan pandangannya sama sekali dari Nania.
"Oh ya? Siapa bilang?" Perempuan itu kemudian naik ke tempat tidur mereka dan duduk bertumpu pada kedua lututnya.
Kedua matanya menatap sayu kepada Daryl, lalu tiba-tiba saja dia menyentuh dadanya sendiri. Nania mengusapnya, lalu memutar dengan perlahan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tetapi membuat pria yang masih berdiri di belakang pintu itu berdebar hebat.
Tentu saja hal itu membuat Daryl yang imannya hanya setipis tisu langsung tergoda. Dan dia dengan susah payah menelan ludahnya sendiri sehingga jakunnya terlihat naik turun.
"Benar-benar, kamu ini ya …." Pria itu segera melesat dan dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri. Dan tanpa menunggu lama lagi dia menerjang Nania yang sudah berada di tempat tidur.
__ADS_1
Mendorong perempuan itu hingga dia terjungkal ke belakang dengan suara jeritan diakhiri tawa yang terdengar nyaring.
Tanpa basa-basi Daryl segera membenamkan miliknya sekaligus, membuat perempuan di bawah mengerang dengan kening berkerut dan mulut terbuka.
"Aaahhh!"
Daryl menekan pinggulnya dengan keras, dan Nania menggeliat ketika merasakan pria itu telah memenuhinya sehingga seolah tak ada ruang yang tersisa di dalam dirinya.
Sementara Daryl menunduk kemudian berbisik. "Diam, dan aku akan menelanmu bulat-bulat, Malyshka!" katanya, lalu dia mulai menghentak perlahan namun begitu dalam.
"Ahh, Daddy!" Nania merintih.
"Do you like it? Hum? This is what you want?" Daryl menatap wajahnya yang memerah dan ekspresinya yang tampak tersiksa. Dan dia menikmati itu.
"You Like it?" ulangnya, dan dia terus menghentak.
Nania tak menjawab, namun rematan tangannya pada pinggang Daryl dan des**annya sudah menjelaskan semuanya.
"You Like it, huh?" Dia kembali berbisik kemudian menggigit kecil ujung telinganya.
"Ngghh!" erangan Nania semakin mengudara ketika pria itu menghentak lebih keras dari sebelumnya.
Kedua tangannya dia tautkan pada jemari Nania, lalu dirematnya dengan erat.
"Aasshhh!" Perempuan itu terus mendes*h dengan kepala yang terdongak ke atas sementara Daryl menyusuri leher dan dadanya dengan mulut dan lidahnya yang hangat dan basah.
Suara erotis terus menggema, membuat Daryl semakin bersemangat untuk memacu dirinya sendiri dalam percintaan kali ini. Dia bahkan tak membiarkan Nania untuk mengambil alih meski hanya sebentar.
"Owwwhhh, Daddy!" Perempuan itu terus merintih seiring semakin cepatnya Daryl menghentak. Ranjang mereka bahkan tampak bergetar hebat saking kerasnya hentakan.
"I told you, Baby. I told you." Daryl kembali berbisik seraya mempercepat hentakan nya.
Tidak peduli Nania merintih atau menggeliat, pria itu tetap pada posisinya dan memegang kendali. Hingga setelah beberapa saat, dia merasakan segalanya bagai berputar di bawah perut, bergulung menguasai kesadaran dan akal sehat dan membuatnya tak lagi bisa mengendalikan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu bulan kemudian …
"Daddy, udah siang banget. Masa kamu nggak akan pergi kerja lagi sih? Udah dua hari lho." Untuk kedua kalinya Nania membangunkan Daryl yang tidak biasanya masih di tidur padahal waktu sudah hampir jam delapan pagi.
"Daddy?" Dia mengusap kepala suaminya yang terbenam di bawah selimut.
"Daddy? Kamu sakit?" Nania kemudian menyentuh keningnya. "Tapi nggak panas. Kamu kenapa sih?" Dia duduk di pinggiran tempat tidur bersamaan dengan Daryl yang bergeser dan segera merangkul pinggangnya.
"Lah? Aku pikir masih tidur?" Perempuan itu mengusap-usap punggung telanjangnya.
"I am." Daryl menjawab.
"Dih? Yang tidur kok jawab?" Nania tertawa.
"Karena kamu berisik jadinya aku bangun." Pria itu menggumam.
"Aku kan lagi bangunin kamu? Lagian ini udah siang, kenapa kamu masih di tempat tidur? Biasanya juga rajin bangun pagi biar begadang semalaman juga? Kamu sakit?"
Daryl malah mengeratkan pelukannya.
"Kamu mau pergi kerja nggak? Masa ambil libur lagi kayak kemarin?"
"Kamu mau pergi kuliah?" Daryl malah balik bertanya.
"Iyalah, masa aku bolos lagi?"
"Jangan lah." Daryl menempelkan wajahnya pada perut Nania.
__ADS_1
"Lho? Kemarin udah izin karena kamu minta juga. Nggak mau ah, nanti aku ketinggalan. Nilai akunya juga dikurangin, sayang kan?"
Daryl mendengus keras.
"Bangun, Dadd. Kamu juga harus kerja kalau nggak sakit. FSH nggak bisa ditinggal gitu aja."
"Ada Regan." Pria itu menjawab.
"Kasihan, sebulan ini dia kerja terus. Ke mana-mana gantiin kamu. Kemarin aja baru pulang dari Surabaya untuk hadir di event kan? Masa hari ini kamu mau dia lagi yang kerjain semuanya?"
"Itulah fungsinya asisten. Dia yang menggantikan jika aku tidak bisa pergi untuk mengurus pekerjaan, dan untuk itulah dia digaji. Sudahlah, kenapa kamu selalu meributkan itu? Aku membayarnya dengan layak."
"Tapi nggak gitu juga. Jangan mentang-mentang kamu atasan terus nyerahin semua urusan gitu aja sama Regan. Tugas dia apa, tugas kamu apa kan udah jelas."
Daryl melepaskan lilitan tangannya dari pinggang Nania kemudian bergeser ke sisi lainnya, dan dia membelakangi perempuan itu.
"Dih, gitu aja ngambek?" Nania bergumam.
"Nna?" Lalu terdengar panggilan dari pantai bawah ketika Nania hampir saja membujuk suaminya.
"Ya?" Dan dia segera keluar dari kamar untuk memeriksa.
Ternyata Sofia dan Satria yang berada di ambang pintu depan sedang menunggu.
"Ya, Ma? Ada apa?" Nania menuruni tangga.
"Apa Daryl sakit? Sejak kemarin dia tidak keluar dari rumah dan kamu juga tidak kuliah? Atau jangan-jangan kamu yang sakit?" Sang mertua bertanya, kemudian mereka masuk.
"Nggak." Nania menjawab.
"Terus?"
"Nggak apa-apa, lagi mau bolos aja." Nania sedikit tertawa.
"Benar?"
"Iya, Ma. Nggak usah khawatir. Kami nggak apa-apa."
"Mama pikir kalian sakit."
Nania tertawa lagi.
"Lalu kenapa Daryl tidak bekerja? Bukankah FSH sedang sibuk-sibuknya bulan ini? Banyak event, juga promosi produk kita kan?"
"Nggak tahu, katanya lagi males."
"Malas? Bagaimana bisa?" Satria bereaksi.
"Malyshka? Bajuku di mana?" Lalu Daryl memanggil dari lantai atas.
"Nah, kayaknya udah bangun." Nania pun mengarahkan telunjuknya.
"Malyshkaaaa!" Daryl menyembulkan kepalanya dari ambang pintu.
"Iya, Dadd. Iya. Kamu mau kerja?" Nania segera kembali ke lantai atas setelah berpamitan terlebih dahulu pada kedua mertuanya.
💕
💕
💕
Bersambung ...
__ADS_1