
💕
💕
"Daddy, kamu belum selesai?" Nania meletakkan ponsel di atas nakas.
Dia sudah berada di tempat tidur sementara Daryl masih sibuk dengan laptop dan ponselnya. Sesekali dia menghubungi seseorang untuk memastikan beberapa hal.
"Belum, Sayang. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga." Pria itu menjawab.
"Padahal pulangnya udah malam banget, tapi tetep aja di rumah juga masih kerja. Coba kalau aku yang gitu, pasti udah kamu gangguin terus." keluh Nania yang turun dari tempat tidur kemudian menghampiri suaminya yang berada di sofa dekat jendela.
Daryl tertawa.
"Ngerjain apaan sih?" Dia melihat layar laptop.
"Ingat jika akhir minggu ini akan ada acara di FSH?" Daryl memalingkan perhatiannya sejenak ketika perempuan itu duduk di sampingnya.
"Iya." Nania menganggukkan kepala.
"Itulah yang sedang aku kerjakan."
"Kan ada Kak Dinna sama Regan. Apa gunanya mereka dibayar?"
"Ada beberapa hal yang tidak bisa aku serahkan kepada mereka, terutama jika berhubungan dengan pimpinan perusahaan yang bekerja sama dengan kita. Harus aku sendiri yang menangani. Masa mereka saja pimpinannya yang turun tangan, sementara aku menyuruh Regan atau Dinna? Itu namanya tidak saling menghargai, kecuali jika aku memang ada halangan yang tidak bisa ditinggal. Menemani istriku melahirkan, misalnya." Daryl terkekeh.
"Hmmm …." Nania mengerucutkan mulutnya.
"Tidurlah duluan, aku nanti menyusul." Ucap pria itu yang mengecup bibirnya kemudian kembali pada pekerjaannya.
"Tapi aku belum ngantuk."
"Baik, mau menemniku menyelesaikan pekerjaan?"
"Nggak juga sih, males." Lalu Nania kembali ke tempat tidurnya.
"Kamu nggak mau nanya emang apa aja yang aku kerjain tadi sore?" Dan dia kembali berbicara untuk mempertahankan perhatian suaminya.
"Oh iya, jadi lupa." Daryl terkekeh namun tak memalingkan perhatian dari pekerjaannya.
"Sudah bertemu dengan ibumu?" Lalu dia bertanya.
"Udah."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Baik. Ibu juga jualan di rumah."
"Oh ya? Bagus dong. Jualan apa?"
"Nasi ayam."
"Benarkah?" Daryl menoleh.
"Ya. Ayam bakarnya enak, dan itu masakan pertama yang dikasih ibu setelah berapa tahun ya? Aku lupa."
Daryl tersenyum.
"Kamu sebenernya udah tahu ya gimana keadaan ibu? Tapi nggak mau bilang sama aku." Nania melanjutkan percakapan.
"Sebut saja begitu." Sedangkan Daryl kembali pada layar laptopnya.
"Kamu juga sengaja nebus rumah itu kan?" ucap Nania lagi.
"Bukankah waktu itu kamu yang memintanya? Lupa ya?"
"Kan aku bilang mau nebus pakai uang yang aku punya, nggak minta kamu nebus sendiri."
"Sama saja, uangku juga uangmu."
"Tapi kamu nggak ngasih tahu aku."
"Well … surprise! Hahaha." Pria itu tertawa.
"Lalu bagaimana rasanya bertemu dan bicara dengan ibumu?" Lalu dia bertanya.
"Seneng. Apalagi ibu udah berubah."
"Wow? Benarkah?"
__ADS_1
"Iya."
"Syukurlah." Sesekali pria itu menulis sesuatu di kertas.
"Ibu juga cerita kalau ide jualannya muncul karena setiap bulan Regan antar uang sama kebutuhan rumah."
Daryl tersenyum.
"Tapi nggak mungkin dia melakukan itu tanpa perintah kan?"
Daryl melirik sekilas.
"Makasih, semarah-marahnya kamu tapi tetap peduli sama ibu." ucap Nania kemudian kepada suaminya.
Pria itu tersenyum lagi.
Nania akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya setelah yakin suaminya tak menginginkan hal lain darinya. Dia menarik selimut kemudian mencoba untuk tidur.
Tapi rasa kantuk tak kunjung datang, dan dia hanya berguling-guling lalu berbalik ke kanan dan ke kiri.
"Baby, stop! Kamu membuatku merasa terganggu!" protes Daryl.
Nania terdiam untuk sejenak. Dia menatap langit-langit kamarnya yang terang benderang.
"Daddy, aku nggak bisa tidur. Lampunya terlalu terang." Nania mengeluh.
"Bukannya kamu memang tidak pernah bisa tidur kalau ruangannya gelap?" Daryl kembalikan ucapannya.
"Tapi nggak seterang ini juga, Dadd."
"Lalu harus bagaimana? Aku kan sedang bekerja, Malyshka. Aku harus pindah ke ruang sebelah?" Daryl mulai kesal.
"Nggak juga sih. Nggak apa-apa, aku ke dalam selimut aja." Nania menutupi wajahnya dengan selimut, dan Daryl kembali pada pekerjaannya.
Namun setelah beberapa saat perempuan itu kembali pada posisinya semula. Dia menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidurnya, kemudian melenggang ke arah ruang ganti.
"Sekarang apa lagi?" Daryl bergumam dengan pandangannya yang mengikuti.
Nania keluar dengan hanya mengenakan celana pendek dan tanktop, tidak seperti biasanya. Lalu dia kembali ke tempat tidurnya.
Daryl memutar bola mata.
Daryl menatapnya dalam diam dan pikirannya mulai terganggu.
Bagaimana tidak? Perempuan itu bolak-balik di depannya dengan hanya mengenakan pakaian tidur tembus pandang yang bahkan tidak mampu menyembunyikan apa-apa selain yang tertutupi segitiga mini di bagian bawah perutnya. Itupun hanya sebagian kecil saja.
Dadanya indahnya bahkan terlihat sangat jelas dari arah sini dan Daryl mulai kehilangan konsentrasi.
Sial!! Apa yang dia lakukan? Batinnya bergumam lagi.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar, namun mencoba untuk tetap fokus. Meski rasa di dadanya meronta-ronta ingin menyudahi pekerjaan yang hanya tinggal sedikit ini, tapi Daryl tetap berada di tempatnya.
Dia sesekali melirik ke arah Nania yang membelakanginya. Memamerkan punggung mulusnya yang tanpa cela.
Lalu dia berpura-pura fokus lagi pada pekerjaannya ketika Nania kembali bangkit.
"Daddy, masih lama?" Perempuan itu bertanya.
"Hmmm …." Daryl hanya menjawab dengan gumaman.
"Kamu nggak mau ngapa-ngapain dulu gitu? Sebentar aja. Aku nggak bisa tidur." Akhirnya Nania tidak tahan untuk meminta perhatian.
Ini diluar kebiasaan. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini walau bagaimanapun keadaan mereka. Dan berinteraksi sebelum tidur menjadi rutinitas yang membuatnya tetap merasa saling terhubung.
"Apa?" Daryl terkesiap ketika perempuan itu kembali ke arahnya, dan dia tak dapat mengelak ketika Nania merebut ponsel di tangan.
"Hey, Malyshka?"
Lalu Nania menduduki pahanya dalam posisi mengangkang sehingga gaun transparan yang sangat pendek itu tertarik dan semakin menunjukkan paha mulusnya.
"Kamu masa sih nggak tergoda sama aku yang udah kayak gini?" katanya kemudian seraya mendekatkan dadanya kepada pria itu.
Daryl hanya menatapnya dengan takjub. Dari mana semua sikap ini berasal? Kemudian dia tertawa.
"What's wrong with you?" katanya yang segera menyimpan file agar apa yang sudah dikerjakannya tak menghilang sia-sia.
"Kamu cuekin aku!" Nania mulai merengek.
"Aku kan sedang menyelesaikan pekerjaanku, Malyshka!"
__ADS_1
"Biasanya juga nggak bawa kerjaan ke rumah?"
"Ya, agar aku tidak pulang terlalu malam."
"Tapi kamu jadi cuekin aku."
"Ini baru pertama kalinya, biasanya juga kan …."
Tiba-tiba saja Nania menarik tengkuknya sehingga bibir mereka segera bertemu. Dia memagutnya dengan penuh gairah yang membuat tubuh Daryl segera memanas.
"Malyshka …." Pria itu sempat mendorong pundak kecilnya, namun Nania segera meraih tangannya dan meletakkannya di dadanya sendiri.
"Umm …." Yang tentu saja membuat Daryl kehilangan akal.
Dia lantas meremat gundukkan menggoda itu dengan gerakan sensual yang membuat Nania mengerjap dan mulutnya terbuka perlahan.
Daryl menatap wajahnya dengan dada berdebar keras. Hasratnya tentu saja bangkit dengan cepat dan dia memang mulai terbawa suasana.
Dia mengetatkan rahang hingga giginya bergemeletuk, dan segera saja kedua tangannya menarik tubuh perempuan itu sehingga kini mereka merapat.
Bibir keduanya segera saling memagut dengan ganas dan mereka sama-sama membiarkan gairah mengambil alih kendali.
Daryl manarik lepas gaun tembus pandang tersebut dari tubuh Nania dan melemparkannya ke lantai, kemudian dia segera menikmati apa yang terpampang di depan mata.
Dadanya yang semakin indah tentu saja menjadi hal yang paling pertama dia nikmati, menjadikan perempuan di pangkuannya tersebut menggeliat-geliat tak karuan.
Bibirnya yang lembut mengecupi setiap inci kulitnya, dan lidahnya yang hangat dan basah menyapu apa pun yang ditemukannya. Tidak lupa dia menyesapnya secara bergantian tanpa menghentikan sentuhan tangannya sama-sekali.
"Aahhh!" Nania mendongak dengan tangannya yang menekan belakang kepala pria itu sehingga sesapannya menjadi semakin dalam.
Daryl beralih mengusap-usap punggungnya yang membuat Nania terus menggeliat, dan suara erotis dari mulutnya semakin terdengar lirih.
Dengan mudah dia bangkit seraya mengangkat tubuh perempuan itu kemudian membawanya ke tempat tidur.
Pakaiannya segera dilepaskan dan tanpa menunggu lama Daryl pun mengungkung tubuh Nania di bawahnya. Lalu sebelah tangannya merayap ke bawah untuk melepaskan kain terakhir yang menutupi pusat tubuh perempuan itu.
Daryl menarik kedua tangan Nania ke atas kepala kemudian mengikatnya dengan cel*na dal*m yang baru saja dilepasnya.
"Umm …."
"Ini kan yang kamu mau?" Pria itu berujar, lalu Nania mengangguk sambil tertawa.
"Baiklah, you get what you want." katanya lagi yang tanpa apa-apa segera membenamkan alat tempurnya pada milik Nania.
"Ahhh!" Perempuan itu mengerang keras saat Daryl memenuhunya sekaligus.
"You get what you want, honey." bisiknya, kemudian dia menghentakkan pinggulnya.
"Ah, Dad!" Nania sempat menahan dadanya dengan kedua tangan yang terikat, namun Daryl segera mengembalikan posisinya seperti semula.
"Then let me do it in my way!" ucap pria itu lagi yang menekan alat tempurnya lebih dalam.
"Aaahhhh!" Nania kembali mengerang.
Dia menahan kedua tangan Nania agar tetap pada posisinya, sementara bagian bawah tubuhnya bergerak intens.
"Ssshhhh … aahhh, Daddyyyy!" Perempuan itu terus mengerang dan dia berusaha melepaskan tangannya, namun tak Daryl biarkan. Pria itu malah semakin keras menghentakkan pinggulnya.
Dia kemudian menunduk, lalu kembali melahap bulatan di bawahnya yang membusung indah.
"Uummhhh …." Napas Nania terdengar menderu. Tubuhnya semakin memanas dan wajahnya kian memerah. Geliatannya juga semakin tak terkendali.
Suara-suara erotis menggema memenuhi kamar pada hampir tengah malam itu dan menambah gejolak hasrat di dada.
Keduanya semakin tenggelam oleh lautan gairah yang menggulung tanpa ampun, mengaburkan akal sehat sehingga mereka tak mengingat apa pun kecuali penyatuan tersebut.
Hingga akhirnya kedua tubuh yang saling bertautan itu bergerak cepat, lalu di detik berikutnya mereka sama-sama mengejang ketika pelepasan datang bersamaan.
"Aaarrggghhh!!" Erangan keras pun mengudara, dan mereka seperti melebur jadi satu.
💕
💕
💕
Bersambung ....
aahhh anuan lagi 😆😆😆
__ADS_1