The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Mommy Dan Daddy


__ADS_3

💞


💞


Tak bosan-bosannya Daryl menatap foto hasil pemeriksaan USG hari ini. Di sana begitu jelas ada tiga kantung janin yang salah satu di antaranya berukuran lebih kecil dari pada dua yang lainnya. Dan dia sudah merasakan kasih sayang yang besar bagi mereka.


"Udah, Dadd. Dilihatin terus. Mereka memang ada, nih?" Nania yang keluar dari ruang ganti menyentuh perutnya yang sudah kelihatan menonjol.


Apalagi dengan gaun tidur kekurangan bahannya yang akhir-akhir ini sering dia kenakan setiap malam, membuat perutnya yang berisi tiga janin itu lebih terlihat jelas.


Dia naik ke tempat tidur di mana Daryl berada dan duduk bersila di sisinya.


"12 Minggu, Malyshka. Dan mereka sudah sangat sempurna." Pria itu bergumam tanpa melepaskan pandangan dari foto di tangannya.


"Iya. Tapi kenapa yang ini tetap kecil ya? Kan kasihan kegencet saudaranya." Nania menunjuk satu foto dengan tiga kantung itu.


"Mungkin karena dia bungsu?" jawab Daryl yang membuat Nania tertawa.


"But, are you okay?" Pria itu kemudian beralih menatapnya.


"Oke."


"Tidak ada hal aneh yang kamu rasakan?"


"Selain mual muntah di pagi hari? Iya. Biasa aja, kan kamu yang gantiin." Nania tersenyum.


"Oh iya, astaga. Itu masih saja aku rasakan sampai sekarang." Daryl mendengus keras dan membuat perempuan di depannya kembali tertawa.


"Tertawa terus. Senang sekali ya kamu melihat suamimu ini tersiksa?" Pria itu meraup pinggangnya kemudian menarik Nania agar mereka lebih dekat.


"Bukan seneng karena kamu tersiksanya, tapi bahagia karena kita sama-sama dalam hal ini. Bayangin kalau aku yang ngalamin semua gejalanya sendirian? Apa kamu akan semanis ini?"


Daryl menatap wajahnya lekat-lekat. "Manis, heh?"


Nania menganggukkan kepala. "Mana ada suami yang ngerasain ngidam juga kayak kamu? Kata dokter hanya satu diantara ribuan kasus kehamilan yang suaminya ikut juga merasakan, jadi kita ini spesial."


"Begitu?'


Perempuan itu mengangguk lagi.


"Saking spesialnya aku ikut merasakan semua gejalanya ya? Sementara kamu biasa saja selain muntah dan mual di pagi hari."


"Iya." Nania tersenyum.


"And it's good?"


"Good, Daddy." Dia merangkul pundak suaminya.


"You happy with that?"


"Iya dong, gimana nggak happy? Walau ngidam berat gini juga kamu tetep selalu bikin aku seneng kan?"


Daryl pun tersenyum senang.


"Sabar, Dadd. Kata dokter mungkin gejalanya akan berhenti kalau kandungan akunya udah tiga atau empat bulan. Dan ini udah 12 Minggu kan? Artinya sebentar lagi dong?"


"Yeah, you right." Daryl kemudian menyentuh perut Nania pelan-pelan, kemudian ia menunduk.


"Look, babies! Sudah sampai Daddy saja kalian berulah, jangan menyusahkan Mommy ya? Tumbuhlah dengan baik dan jadilah bayi-bayi yang sehat. Karena sejauh ini, Mommy dan Daddy sudah mengalami kesusahan." Dia berbicara seolah tengah berhadapan dengan makhluk yang sudah berwujud.


Nania kembali tertawa sambil menepuk punggung suaminya.


"I mean it! Jangan membuat Mommy susah! Kalau iya, nanti kalian akan berhadapan dengan Daddy!" katanya lagi sambil menempelkan wajahnya pada perut Nania yang terlihat lebih besar dari sebelumnya.


"Kamu apa sih? Kenapa ngancam-ngancam begitu?" Nania tertawa lagi.


"Agar mereka mengerti, hehe. Kata dokter di umur segini bayi sudah bisa mendengar kan?" Daryl mendongak.

__ADS_1


"Iya, tapi jangan pakai ancam-ancam segala. Nanti …." Nania menggantung kata-katanya ketika dia merasakan getaran keras di perut.


"What? I'm just kidding, Mommy!" Daryl kemudian menempelkan wajah di dada perempuan itu yang sekarang juga tampak lebih besar dari sebelumnya.


"Coba ngomong lagi sama mereka." pinta Nania.


"Apa?"


"Ngomong lagi, kayaknya mereka udah bisa ngerespon deh."


"Realy?"


"Iya, coba."


Lalu Daryl kembali mendekatkan wajahnya pada perut perempuan itu.


"See? Daddy tidak pernah mengikuti perkataan siapa pun sebelumnya. Tapi demi mommy dan kalian, sekarang Daddy menurut."


Nania terkekeh ketika dirasakannya lagi getaran itu.


"Mommy senang, and that's enough." Pria itu kembali mendongak dan melihat kebahagiaan di wajah istrinya.


"So … be good to Mommy, okay?" Lagi-lagi getaran itu terasa dan kini lebih jelas.


"Kamu senang?" tanya nya kepada Nania.


"Iya." Dia mengangguk lagi, kemudian menarik tangan suaminya dan meletakkannya di area di mana dia merasakan getaran.


"Mereka juga senang mendengar suara kamu." ucap Nania.


"Benarkah?"


"Iya. Kalau kamu ngomong kayak barusan, mereka merespon lho."


"Masa?"


Nania mengangguk lagi.


"Iya dong. Kata dokter, denger suara daddynya bagus untuk perkembangan otak mereka."


"Ya?"


"Iya."


"Kalau bertemu bagaimana?" Lalu pria itu bertanya.


"Ketemu apanya?"


"Ketemu Daddynya?"


"Hum?"


"Aku mau ketemu mereka, boleh tidak?" Pria itu tersenyum, dan Nania mengerti sesuatu.


"Jangan bilang mau ketemu baby, bilang aja mau anuan."


"Haih! Kamu mengucapkannya lagi, ahahaha." Daryl tertawa.


"Halah, betele-tele."


"Boleh?" Pria itu bertanya lagi.


"Emangnya selama ini nggak boleh? Tiap malam begitu kan? Kapan nggaknya?"


"Kemarin-kemarin?" Daryl mengingatkan.


"Ya itu karena dokter yang bilang juga kan. Katanya masih rentan."

__ADS_1


"Tapi sekarang boleh?" Daryl bangkit dan menegakkan tubuhnya.


"Kalau aku bilang nggak boleh emangnya kamu bakal nurut?" Nania balik bertanya.


"Tidak juga, ahahaha." Pria itu tertawa lagi, dan kemudian menarik lepas pakaian bagian atasnya. Sementara Nania menyambutnya ketika Daryl kembali mendekat dan mulai mencumbu.


Dua bibir itu saling memagut begitu intens dengan tangan Daryl yang menyentuh leher Nania. Suara decapannya bahkan terdengar cukup nyaring dan mereka sangat menikmati momen itu.


Perlahan ia mendorong Nania hingga bisa mengungkungnya di bawah tanpa melepaskan pagutan, dengan perempuan itu yang memeluk pundaknya.


Tangan Daryl sudah merayap menyentuh setiap inci bagian tubuh Nania yang masih berbalut pakaian tipis transparan itu. Dan dengan lihainya dia segera membuat perempuan itu terlena.


Nania menggeliat seiring sentuhannya yang semakin liar, dan suara des*han kini mulai terdengar. Apalagi ketika tangan hangat pria itu menyelinap ke bagian bawah tubuhnya dan dia menemukan miliknya yang sudah siap.


Daryl tersenyum dalam cumbuan, dan dengan nakalnya dia menekan bagian itu sehingga membuat Nania melenguh.


"Ummmmhhh!" Lagi-lagi Nania menggeliat saat merasakan sengatan hebat yang menyebar di sekujur tubuhnya.


Dadanya berdebar dan adrenalinnya berpacu cepat. Hasratnya bangkit dengan mudah hanya dengan sentuhan seperti itu saja.


Lalu dia mengerang lagi ketika merasakan sentuhan itu semakin dalam dan bahkan kini menerobos inti tubuhnya.


Nania mendesis kemudian mendes*h ketika Daryl mulai menggerakkan tangannya, dan itu membuatnya tak bisa melakukan apa pun. Dia pasrah dibawah kendali suaminya yang dengan pandainya membangkitnya keinginannya untuk bercinta.


"Daddyyy!" des*h Nania ketika Daryl juga menyesap puncak dadanya, dan sensasi lain ia rasakan.


Dia meremat rambut pria itu yang sudah memanjang lalu menekan kepalanya, dan membuat sesapannya semakin dalam. Sementara pergerakan tangannya di bawah sana menjadi semakin liar saja.


"Mmmhhh …." Nania mengerang ketika dirasakannya aktivitas ini semakin gila saja. Dan sepertinya dia sudah tak tahan lagi.


Inti tubuhnya berdenyut-denyut dan dia hampir saja mencapai klim*ks ketika tiba-tiba saja Daryl menarik lepas tangannya.


"Daddy!" Tentu saja membuatnya bereaksi.


Tetapi Daryl dengan cepat melepaskan celananya, dan tampaklah Eragon yang sudah tegak berdiri, gagah menantang dan siap untuk apa yang akan terjadi.


Nania menatapnya sambil menggigit bibir bawahnya dengan kencang, dan dia pun bersiap untuk terjangan berikutnya.


Pria itu kembali menunduk seraya mengarahkan senjatanya pada milik Nania, kemudian dia membenamkan benda itu perlahan hingga terasa ketika kulit mereka saling bersentuhan.


"Aahh!" Nania memejamkan mata dengan mulut yang terbuka pada saat Daryl menekan miliknya hingga masuk seluruhnya. Kemudian pria itu berhenti sejenak untuk merasakan kenyamanan pada alat tempurnya di dalam sana.


Dia tersenyum sebelum akhirnya menarik dan mendorong secara perlahan yang membuat Nania merintih dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


Daryl membungkam mulutnya dengan cumbuan sehingga rintihan itu tertahan. Kemudian ia mulai menghentak.


Sebelah tangannya menahan bobot tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih Nania, sementara sebelah tangannya yang lain menahan kaki perempuan itu. Membuat pertautan tubuh tersebut berlangsung dengan begitu sempurna.


"Aahh, Daddyy!" Nania terus mengerang setelah Daryl melepaskan cumbuannya.


Kedua matanya terbuka dan tertutup secara perlahan dan suara desisan terus terdengar. Dia sesekali merintih ketika hujaman di bawah sana terasa terlalu dalam seraya menahan dada pria yang sedang berpacu di atasnya.


"Ummhh …." Semakin lama suaranya terdengar semakin erotis saja, dan mereka terus saling menyentuh.


Dadanya yang mulai membesar tampak bergerak bebas seiring hentakan Daryl yang semakin keras.


"Ohhh, Daddyy!" Perempuan itu sedikit menjerit ketika dia merasakan pelepasannya hampir tiba, dan Daryl merasakan jika benda di bawah berdenyut semakin kencang.


Wajah Nania memerah dan napasnya semakin menderu, apalagi saat pria itu mempercepat hentakannya. Lalu di detik berikutnya Daryl menghujam dalam-dalam dan di saat yang bersamaan Nania tiba pada klim*ksnya.


"Aarrggghh!" Mereka mencapai pelepasan bersama.


💞


💞


💞

__ADS_1


Bersambung ...


duh😳


__ADS_2