
💕
💕
"Hari ini Mahira tidak ke kampus, Pak." Regan memberikan laporan begitu Daryl tiba di FSH.
"Apa?"
"Dia kurang enak badan." Sang asisten menambahkan.
"Jadi Nania di bazar sendirian?" Daryl bereaksi.
"Tidak juga. Kan ada pedagang lain, Pak."
"Maksudku di berjualan sendirian."
"Oh … kalau itu, iya."
Daryl terdiam sebentar.
"Jadwalku apa saja hari ini?" Lalu dia bertanya.
"Sebentar lagi ada pertemuan dengan orang dari Vice Jewelry, mereka yang ingin memasukkan produk perhiasannya di FSH. Lalu setelahnya dengan orang dari Axion Watch."
"Oh ya, produk jam tangan itu?"
"Benar, Pak." Regan mengangguk.
"Lalu kau?"
"Saya harus menggantikan Bapak menemui orang majalah sport untuk kerja sama, Pak."
"Jam berapa?"
"Sebentar lagi."
"Tidak bisa diundur nanti sore saja?"
"Tidak bisa, Pak. Ini sudah ketiga kalinya mereka membuat janji temu. Jika gagal lagi reputasi FSH dipertaruhkan."
"Haih, bagaimana si Dinna ini mengatur jadwal? Kenapa semuanya harus hari ini?" Pria itu menggerutu.
"Bukan Dinna, Pak. Memang orang-orang itu yang meminta jadwal di hari ini. Mereka juga punya banyak kepentingan."
"Ya, ya. Seolah hanya aku saja yang bersantai-santai." Daryl memutar bola matanya.
"Jadi bagaimana dengan Nania? Dia sendirian di bazar. Siapa yang akan membantunya?" Dia bergumam sambil menjatuhkan bokongnya di kursi.
"Tidak usah khawatir, Pak. Nania itu perempuan mandiri. Jadi jika hanya bazar saja tidak akan membuatnya kerepotan meski seramai apa pun."
"Justru itu ….."
"Maaf Pak?"
"Kalau dia terlalu mandiri, manisnya jadi hilang. Lucunya juga berkurang, manjanya apa lagi. Nanti dia jadi tidak membutuhkan siapa-siapa. Terlebih aku. Aarrgghh!" Daryl menghempaskan kepalanya pada sandaran kursi, mengingat perdebatan mereka pagi ini.
Drama apa lagi kali ini? Regan menghembuskan napas pelan.
"Pagi ini dia bahkan tidak mengambil uang bekalnya, dan tidak mau memelukku sebelum masuk ke dalam kampus. Padahal kan biasanya memberiku peluk cium. Ah, ini bencana!" Daryl mengusap wajahnya, kasar.
"Gara-gara satu kesalahan, duniaku diambang kehancuran." keluhnya, dengan nada sendu.
"Eee …." Regan berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari situasi ini. Karena pembicaraan soal urusan rumah tangga adalah hal yang sebenarnya paling dia hindari, terutama untuk atasannya.
"Baiklah, sepertinya harus membiarkan Nania sendiri dulu sebentar. Atau dia akan mengamuk jika aku memaksa menemaninya ya?" Daryl bangkit dari kursinya.
"Aku pergi sekarang, kau kapan?" Lalu dia bertanya kepada sang asisten.
__ADS_1
"Sekarang juga, Pak. Agar yang lainnya bisa diselesaikan hari ini.
"Baiklah. Apa kita searah?"
"Tidak juga, Pak. Bapak ke Selatan, sementara saya ke utara."
"Oh baiklah kalau begitu."
Dua pria itu berjalan bersisian hingga mereka berada di luar dan menuju mobil masing-masing untuk segera menghadiri pertemuan yang sudah ditentukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini semuanya hadir ya?" Nania memberanikan diri mendatangi tenda yang di diami para panitia bazar.
"Oh iya, gitu deh." Yura yang sedang membereskan tugasnya menjawab.
"Aku ada sedikit makanan. Semoga Kakak suka." Lalu Nania meletakkan tas berisi lima kotak makanan di meja.
"Duh? Repot-repot amat?" Yura menghentikan kegiatannya, kemudian bangkit untuk memeriksa.
"Nggak kok, cuma sedikit."Â
"Sedikit apaan? Ini sih cukup untuk semua panitia yang ada hari ini." Dirga yang baru saja tiba datang mendekat, diikuti Mahendra di belakang.
"Okelah kalau gitu." Nania mengangguk-anggukkan kepala. "Aku pamit, Kak. Mau balik lagi ke tenan." ucap Nania yang segera berbalik.
"Terima kasih ya, Nania?" Dirga menyahut yang dibalas senyuman oleh perempuan itu.
"Dalam rangka apa dia ngasih ginian?" Lalu pria berambut cepak itu mengambil salah satu kotak makan untuk dirinya. "Kebetulan banget gue belum sarapan dah ah. Rezeki anak soleh." Dia masuk sambil tertawa.
"Punya lu ambil, Mahen." Yura berujar, seraya menyerahkan kotak lainnya kepada Mahendra, yang segera diterima oleh pemuda itu.
"Ah, kayaknya dia lagi ulang tahun makanya bagi-bagi ginian? Enak bener masakannya. Pantes si Mahen kagak lupa biar udah lama juga." Dirga kembali berbicara sambil menikmati makanan yang baru saja didapatnya.
"Sayangnya bukan jodoh elu, Mahen. Makanya kalian baru ketemu lagi setelah dia punya suami." Dirga tertawa.
"Berisik, pea!" Dan Mahendra mendorong kepala temannya tersebut dengan rasa kesal di dada.
"Konsep lu soa jodoh itu ngawur, Dirga." Mahendra menjawab ocehannya.
"Ngawur apaan? Jelas-jelas lu sama dia kagak jodoh."
"Jodoh itu bukan tentang dua orang yang ketemu terus bisa sama-sama. Tapi pertemuan yang entah bakalan bikin lu deket sama dia atau sekedar lewat gitu aja. Ada yang jodohnya panjang bahkan sampai seumur hidup kayak orang nikah gitu, ada yang jodohnya sebatas ketemu aja. Semuanya tergantung gimana lu menyikapinya."
"Weyyyy … berat banget bahasa lu, Mahen. Sejak kapan lu jadi ahli jodoh? Sejak ketemu lagi sama Nania ya? Ahahah."
Mahendra menatap stand di mana Nania berada yang sudah melayani pembeli.
"Mungkin begitu. Tapi itu nggak bikin gue jadi ahli jodoh juga kan. Cuma, sampai sini gue ngerti sesuatu."
"Apaan?"
"Lu harus ketemu banyak orang biar ngerti gimana harus bersikap."
"Dan sekarang lu ngerti kalau lu nggak berjodoh sama Nania?" tanya Dirga.
"Jodoh gue cuma sampai ketemu dan sebatas kenal aja."
"Cieeeee … dia nyerah." Dirga meninju lengan teman sekelasnya itu.
Gue yang nyerah, tapi perasaan gue nggak. Dosa nggak yah? Batin Mahendra berbicara.
Lalu dia duduk di kursi yang tersedia seperti juga teman-temannya, kemudian menikmati makanan yang mereka dapat.
Dan ya, rasanya memang enak. Dia seperti dibawa kembali pada masa itu, saat mendapatkan makanan milik Nania yang waktu itu diserahkan karena rasa takut.
Tiba-tiba saja Mahendra merasa tenggorokannya seperti tercekat. Entah mengapa rasa sesal juga turut hadir di benaknya.Â
__ADS_1
Meski begitu, dia sadar bahwa tak boleh terus memupuk rasa yang mustahil direalisasikan ini, karena keadaannya memang tidak memungkinkan.
***
"Kamu sendiri?" Mahendra berhenti di depan stand parfum Nania saat berpatroli, seperti biasa.
"Iya, Kak. Hari ini Mahira sakit." Dan perempuan itu baru saja selesai melayani pembeli yang hari itu cukup ramai.
"Tapi bisa?" Pemuda itu mendekat.
"Bisa. Udah biasa kok. Sebelumnya juga pernah kayak gini."
Mahendra mengangguk-anggukkan kepala. Percakapan ini berlangsung lebih lama dari biasanya, dan dia senang akan hal itu.
"Suami kamu atau bodyguard nya nggak datang membantu?" Lalu Mahendra mendekat setelah memastikan tak ada siapa pun selain Nania di sana.
"Ah, mereka pada sibuk, Kak. Apalagi kalau hari biasa kayak gini. Kalau week end, baru bisa bantu."
"Hmm …."
"Oh iya, bekelnya udah dimakan?" Nania mengalihkan topik pembicaraan, yang membuat Mahendra tetap berada di sana.
"Udah. Makanannya enak, makasih."
Nania tersenyum.
"Rasanya sama kayak yang dulu kamu kasih, padahal makanannya beda." Dia pun tertawa.
"Masa? Hahaha."
"Ya." Mahendra semakin mendekat. "Maaf, Nania. Kalau aku pernah kasar sama kamu." katanya, dan hal itu membuat Nania tertegun untuk beberapa saat.
"Waktu itu kamu kayaknya ketakutan, jadi memberikan bekal yang kamu punya." Mahendra tertawa lagi.
"Oh ya? Kok aku bener-bener nggak inget ya? Aneh banget deh. Mungkin aku sedikit amnesia soal itu, Kak."
"Nggak apa-apa. Memang ada sebagian orang yang nggak mungkin ingat dengan hal-hal sepele, dan itu lumrah. Tapi ada juga orang seperti aku yang nggak bisa lupa dengan hal kecil yang aku alami meski udah bertahun-tahun yang lalu kejadiannya. Dan itu juga lumrah."
Nania mendengarkan dia berbicara.
"Dan aku bahagia kita bisa bertemu lagi, meski dalam kondisi yang berbeda."
Senyuman perlahan muncul di bibir Nania.
"Dan aku juga bahagia karena mengetahui kalau kamu baik-baik aja."
"Umm … ya, aku baik."
"Thank God!" ucap Mahendra, dan senyum yang sama juga terukir di bibirnya. "Baiklah, selamat berjualan. Panggil panitia kalau ada kesulitan." Lalu dia mundur dua langkah ke belakang.
"Ya, Kakak juga."
Mahendra pun beranjak dari tempatnya semula.
"Kak Mahen?" Namun panggilan Nania menghentikan langkahnya.
"Ya?"
"Maaf." ucap Nania, untuk hal yang tak dia ingat sama sekali.
"It's oke." Mahendra menjawab, kemudian dia meneruskan langkahnya untuk berkeliling seperti biasanya.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ...
Nggak apa-apa ya, Kak Mahen. Yang penting Nania baik-baik ajaðŸ¤