
💕
💕
Saat ini tak ada yang Nania lakukan selain diam saja memperhatikan Daryl yang makan nasi kuning pesanannya dengan lahap dan riang gembira.
Senyuman tak pernah hilang dari wajahnya sejak mereka menginjakkan kaki di pelataran parkir pasar terbesar di Jakarta. Dan pria itu dengan semangatnya menarik Nania masuk ke dalam untuk berburu jajanan dan kue basah yang diingatnya.
Benar saja, dua kresek berukuran sedang berhasil mereka dapatkan setelah menyusuri lorong-lorong ramai pada subuh itu. Lalu setelahnya, mereka menjadi pembeli pertama untuk pedagang nasi kuning di parkiran pasar.
"Kamu beneran laper ya?" Mania mengusap pundak suaminya.
Daryl tak menjawab karena dia sibuk dengan makanan di mulutnya.
"Ya udah, makan deh yang banyak." Katanya lagi, dan dia pun melakukan hal yang sama.
***
"Udah?" Nania berbicara lagi setelah mereka menyelesaikan kegiatan makannya.
"Sudah."
"Terus sekarang mau apa lagi?"
"Sepertinya pulang saja. Aku harus siap-siap untuk bekerja, kan?" Daryl tertawa sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.
Bukan hanya makan di pedagang kaki lima, tapi dia juga menikmati suasana ramai yang lain dari pada biasanya. Dan ini terasa cukup menyenangkan. Setidaknya, itulah yang Daryl rasakan.
"Ya udah, ayo kita pulang. Nanti kesiangan." Nania bangkit untuk membayar makanan yang mereka beli."
Lalu kedua orang itu segera pergi setelah memastikan perut mereka kenyang dan apa yang diinginkan sudah semua didapatkan.
***
"Kamu yakin udah bisa kerja?" Nania memastikan keadaan suaminya sebelum turun.
Setelah pulang ke rumah terlebih dahulu, mereka kembali menjalani rutinitas hariannya seperti biasa. Daryl pergi bekerja, dan Nania kuliah.
"Ya. Masa aku mau di rumah terus?" Daryl menjawab.
"Ya kali kamu masih pusing dan mual gitu." Perempuan itu tertawa.
"Senang ya kamu? Hamil tapi tidak mengalami gejalanya. Malah aku yang merasakan." Daryl mengacak rambut di kepalanya.
"Kan udah aku bilang kalau ini gotong royong. Mereka tahu kalau aku butuh bantuan soal itu." Nania meng usap-usap perutnya yang tiga janin sedang tumbuh di dalamnya.
"Yeah, right."
"Kata emak-emak jangan cuma mau enaknya doang, Dadd. Tapi nggak enaknya juga harus rela. Itu suami yang baik." Nania setengah berbisil.
"Haha … ya baiklah."
Nania tersenyum. "Aku turun ya? Tapi kamu nggak usah. Kamu hati-hati aja kerjanya."
Daryl menganggukkan kepala.
"Bekal?" Lalu dia mengeluarkan dompetnya.
"Oh iy, lupa. Nanti jajan apa kalau nggak bawa bekal ya?" Nania tertawa sambil menerima dua lembar uang kertas berwarna merah dari tangan suaminya.
"Sudah aku suruh bawa kue pasarnya kan?" ucap pria itu.
"Nggak mau ah, ribet." Nania mendorong pintu untuk keluar.
"Tidak ribet. Dan itu juga enak, tahu?"
"Iya iya tahu. Makanya subuh-subuh kamu sampai rela pergi ke pasar."
__ADS_1
Daryl pun tertawa.
"By Dadd?" Dan perempuan itu pun hampir turun ketika Daryl menarik tangannya.
"Apaan?"
"Kiss and hugg?" Daryl mencondongkan tubuhnya.
"Oh iya, lupa. Hahaha." Nania tertawa lagi. Kemudian dia kembali ke dalam dan melakukan apa yang suaminya minta.
Memeluknya untuk beberapa saat kemudian menciumnya seperti biasa.
"Sekarang pergilah. Kalau tidak, maka aku akan membawamu kembali ke rumah." Daryl melepaskan pelukannya, lalu menepuk bokong Nania sehingga perempuan itu turun dari mobilnya.
Lalu dia pergi setelah memastikan jika istrinya tersebut masuk ke dalam area kampus bersama Mahira yang menunggu di depan gerbang.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Tidak biasanya kau datang terlambat?" Daryl meraih dokumem yang diletkkan Ragan di meja kerjanya.
"Ya, Pak. Maaf." Regan memastikan jika semua yang dibutuhkan oleh atasannya tersebut sudah tersedia di meja, sehingga dia tak akan mengganggunya untuk alasan itu.
"Ada masalah?" Daryl menatap wajah asistennya yang pagi itu ta se semangat biasanya.
"Tidak, Pak."
"Benar?" Daryl tampak menyelidik.
"Ya, Pak. Hanya saja, mungkin untuk beberapa hari ini saya mohon izin untuk tidak lembur atau yang lainnya. Dan sudah saya periksa juga jika jadwal kita normal saja di FSH. Atau jika ada sesuatu yang darurat saya akan meminta rekan yang lain untuk mengerjakan." Regan menerangkan.
"Baik. Memangnya kenapa?"
"Saya harus mengurus beberapa hal di rumah."
"Hal apa? Sepertinya ini cukup serius untukmu?"
"Ibu saya sedang sakit, Pak. Jadi mungkin pekerjaan saya akan sedikit terhambat, jadi …."
"Ya." Regan mengangguk.
"Memangnya yang lain tidak bisa?"
"Saya tidak punya suaudara, Pak. Jadi sudah pasti hanya saya dan ayah yang harus mengurusnya."
"Begitu?"
"Ya Pak."
"Baiklaj, urus saja dulu keluargamu,"
Regan hampir saja beranjak dari hadapan Daryl.
"Ibumu sakit parah?" Namun pria itu lantas bertanya.
"Lumayan, Pak." Regan memgurungkan niatnya.
"Sakit apa?"
Sang asisten terdiam sebentar, lalu dia menatap wajah atasannya.
"Kanker darah, Pak. Stadium tiga." Lalu dia menjawab.
"Apa?"
"Ya. Ini membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mengurusnya, jadi …."
"Sudah dibawa ke rumah sakit? Berobat atau yang lainnya?"
__ADS_1
"Sudah, Pak. Jadwal pemeriksaan lanjutan siang ini, jadi saya akan meminta izin untuk keluar sebentar." Sekalian saja Regan meminta izin untuk pergi.
"Rumah sakit mana? NMC?"
"Tidak, Pak. Yang di dekat rumah saja." jawab Regan.
"Kenapa tidak ke NMC saja? Di sana ibumu akan ditangani dengan baik. Dan bukankah itu memang khusus untuk staf Nikolai Grup?"
Regan terdiam.
"Hubungi Galang, dan bawa ibumu ke sana." Titah Daryl yang berniat akan memulai pekerjaannya.
"Cepat. Penyakit ibumu harus segera ditangani." ucap Daryl lagi.
"Baik, Pak." Regan pun segera keluar dan melakukan apa yang atasannya katakan.
***
"Stadium tiga bukan akhir dari segalanya. Banyak pasien yang bahkan sudah mencapai stadium empat, tetapi mereka bisa melewati itu dan mampu bertahan dan akhirnya sembuh." Dokter memberikan penjelasan setelah semua prosedur pemeriksaan dilakukan kepada Mella.
"Berapa persen?" Regan bertanya.
"Banyak."
"Saya tanya berapa persen? 90? 80? 50? Berapa persen, Dokter?" Dia menatap pria dengan jas putih itu yang duduk di depannya. Sementara sang ibu dibiarkan berbaring di blangkar pemeriksaan untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah menjalani serangkaian pemeriksaan.
Dokter terdiam.
"Saya harus tahu kemungkinannya bagi ibu untuk sembuh agar bisa mengusahakan semua yang diperlukan." ucap Regan lagi yang menoleh kepada Mella.
"Memang tidak sebesar yang kita harapkan, tetapi segala kungkinan bisa saja terjadi, Pak Regan. Dengan usaha keras apa pun bisa terjadi."
"Termasuk menyembuhkan ibu saya?"
"Ya. Tetapi harus sabar."
"Sesabar apa?"
"Sangat-sangat sabar. Karena prosesnya lambat dan rumit. Kebanyakan pasien merasa frustasi terlebih dahulu padahal mereka ingin sembuh. Kehilangan semangat hidup dan putus asa, jadi ya … kita harus benar-benar sabar dalam hal ini."
Kini Regan yang terdiam.
"Apa saja yang harus dilakukan?" Lalu dia bertanya.
"Saat ini yang paling memungkinkan adalah kemotherapi. Bisa dalam bentuk obat untuk diminum atau suntikan. Salah satunya chlorambucil. Ada juga radioterapi, dan Bapak bisa memilih yang mana saja tapi itu sesuai dengan tingkat keparahan kanker di tubuh Ibu Anda."
"Dan mana dari pengobatan itu yang paling baik untuk ibu saya?" Regan bertanya lagi.
"Karena sudah mencapai stadium tiga, maka dua-duanua bisa dilakukan. Tapi harus bertahap."
Regan menoleh kepada ibunya yang masih di tempatnya semula.
"Kapan harus dimulai, Dokter?" tanya nya lagi.
"Secepatnya, Pak."
"Besok?"
"Bisa. Kami akan siapkan dari sekarang."
"Baik."
Lalu sesi konsultasi itu pun berakhir.
💕
💕
__ADS_1
💕
Bersambung ...