The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Biang Kerusuhan


__ADS_3

💕


💕


"Akhirnya kamu pulang juga?" Mela menyambut kedatangan Regan pada hampir malam. Setelah hampir satu minggu tak pulang ke rumah dengan alasan kesibukan yang tidak bisa ditunda, sang putra akhirnya menampakkan batang hidungnya juga.


"Pekerjaanmu selesai?" tanya nya yang mengikuti langkah Regan ke arah tangga menuju lantai dua.


"Mana ada? Pekerjaan di Nikolai Grup itu tidak akan pernah selesai, Bu. Setiap hari pasti akan selalu ada hal yang harus dikerjakan." Regan berhenti di tangga pertama.


"Maksud Ibu, setelah ini kamu akan bekerja seperti biasa, begitu? Pergi pagi pulang sore. Tidak sampai tidak pulang sampai satu minggu seperti ini."


"Tidak tahu." Lalu dia meneruskan langkah.


"Lalu kamu tidur dan makan di mana seminggu ini?" Sang ibu mengikutinya.


"Di mana saja gampang." Regan menjawab.


"Gan?"


"Ya Bu?" Regan berhenti lagi di tengah-tengah tangga kemudian menoleh.


"Ibu, ayah dan Mia menunggumu untuk makan malam, tapi karena kamu tidak pulang jadinya hanya kami bertiga saja."


"Ya, lalu?"


"Tidak ada. Hanya ingin mengatakannya saja." ucap sang ibu, yang tak mendapat tanggapan lagi dari Regan. Karena bahasan soal mantan ini hanya mengganggu pikirannya saja.


Dia lantas menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu tiba di dalam kamar. Memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa penat di kepala karena banyak hal yang ia pikirkan.


Pekerjaan? Tentu saja membuatnya lelah karena memang tak ada habisnya, tetapi hal lainnya lebih mengganggu karena memang mulai tak bisa dia kesampingkan.


Apalagi saat memeriksa ponsel dan lagi-lagi dia tak menemukan story whatsapp yang selama ini kerap kali menginterupsi hari-hainya, padahal sudah beberapa minggu brlakangan dia terbiasa dengan itu.


"Kenapa anak ini?" gumamnya yang menatap foto profil pada kontak Anandita.


"Masa hanya begitu saja marah? Lagipula aku tidak salah kan?" Hatinya berdenyut ngilu, dan dia merasakan sesuatu yang lain menyeruak dalam dada.


"Aarrggghh! Putrinya Arfan Sanjaya itu benar-benar membuat pusing!" katanya sambil mengusap wajahnya kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aaahhh … yes Baby, you are so good!" Daryl meremat paha Nania yang tengah berpacu di atasnya. Dan matanya tidak pernah bosan untuk menatap perempuan itu.


Wajahnya semakin memerah namun tubuhnya masih meliuk-liuk memanjakan alat tempurnya yang semakin lama semakin mengeras. Dia bahkan merasakan kegilaan ini malah semakin bertambah saja.


Nania semakin mahir dan kali ini dia tak mudah dihentikan, karena sejak pertama pergumulan tersebut terjadi perempuan itulah yang memulainya dan segera memegang kendali. Sedangkan Daryl hanya membiarkannya saja melakukan apa yang dia inginkan.


Rambut panjangnya berkibar ke sana kemari mengikuti gerakan tubuhnya, dan ekspresi wajahnya sungguh membuat dirinya semakin bergairah. Benar-benar cantik, terlihat seksi dan tampak menggiurkan dengan bibir merahnya yang bengkak dan matanya yang semakin sayu.


"Oohh … let me chum …." Daryl bangkit menegakkan tubuh seraya memeluk tubuhnya yang sudah sama-sama berkeringat. Dia mulai merasa tak tahan begitu juga dengan Nania yang mempercepat gerakannya.


"Let me chum, Baby. Let me …." Dia menghujam dalam-dalam sambil menekan pinggul Nania dengan keras saat pelepasan tiba, diikuti Nania yang tubuhnya mengejang ketika hal yang sama pun terjadi kepadanya.


"Ahhh!" Mereka sama-sama mendes*h keras dengan saling berpelukan.


***


"Kamu kapan mau mulai bekerja?" Kini mereka berada di bak mandi hangat penuh busa dan aroma terapi.


Nania terbenam di dalam air dan pelukan hangat Daryl yang enggan melepaskannya sama sekali.


"Kerja?" Perempuan itu mendongak.


"Ya, bekerja di Fia's Secret house. Denganku." 


"Emangnya udah boleh? Kan aku kuliah."


"Paruh waktu kan bisa." Pria itu mengusap-usap lengannya yang terdapat beberapa tanda merah karena ulahnya.


"Kerjanya pulang kuliah gitu?"


"Ya."


"Tapi kan nggak tentu. Kadang dosennya datang terlambat jadi aku pulangnya sore."


"Tidak apa-apa, yang penting kan bekerja."


Nania berpikir.

__ADS_1


"Ayolah, agar kita terus bersama-sama." 


Perempuan itu tertawa. "Emangnya nggak apa-apa gitu kalau kita kerjanya barengan? Kamu nggak akan terganggu?" Lalu dia kembali merebahkan kepala di dada suaminya.


"Memangnya kenapa? Kan bagus kalau suami istri bekerja bersama? Seperti seharian ini, hahaha."


"Ya, bagus. Biar bisa sering anuan." Dia kembali mendongak dan mendapati Daryl tertawa kemudian mengecup pelipisnya.


"Nanti kerjaan kamu nggak kelar-kelar karena ngerjain aku terus. Akunya nggak konsen karena digangguin kamu terus."


"Tapi aku senang melakukannya." Pria itu berbisik lalu mengecup daun telinganya. Dan kedua tangannya di bawah sana kembali bergerak menyentuh buah dadanya yang terasa begitu lembut.


 


"Aaaa … Daddy! Jangan lagi!" Nania merengek merasakan sensasi geli di tubuhnya.


"What? Bukankah kamu menyukainya? Aku pun menyukainya karena membuat nyaman." Daryl terkekeh lagi dan dia tetap mengusap-usap dada perempuan itu.


"Tapi nanti kita anuan lagi …."


"Haih … kenapa kamu menyebutnya anuan? Telingaku rasanya geli kalau mendengarnya!" Daryl menghentikan kegiatan tangannya.


Nania tertawa kemudian kembali mendongak dan tangannya menarik wajah pria itu sehingga dia bisa meraih ciumannya, dan mereka bercumbu untuk beberapa saat.


"You wanna start it again? Right here?" Daryl setengah berbisik, dan dia merasakan alat tempurnya kembali mengeras selama cumbuan itu berlangsung.


"Nggak. Aku cuma mau gini aja." Nania meneruskan cumbuan seakan hanya itulah yang dia inginkan.


Dia lantas sedikit memutar sehingga lebih mudah untuk mencumbu suaminya. Sementara tangannya mengusap benda yang sudah menegang di bawah air.


"Eragon, jangan baper ya. Aku cuma mau begini doang, nggak lebih. Dari tadi kan udah." katanya, yang membuat Daryl tertawa.


"Dasar konyol, mana bisa begitu?" 


"Bisa aja kalau nggak diturutin. Eragon kan begitu." katanya yang melepaskan genggamannya dari alat tempur suaminya.


Daryl tertawa lagi seraya mengeratkan pelukan sehingga tubuh telanjang mereka benar-benar menempel erat.


"Kasihan Eragon harus menahan diri, tapi demi kamu baiklah aku mengalah." Dia menciumi kepala dan wajah perempuan itu dengan penuh perasaan.


Dan mereka memutuskan untuk sama-sama menikmati suasana malam di bak mandi rooftop yang temaram itu sambil menatap langit Jakarta yang kelam. Tanpa des*han, tanpa pergumulan panas dan menggebu-gebu. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tante Nnnaaaaaaaaa!!" Teriakan anak-anak sudah mengganggu pagi mereka yang sepi. Dan dua sejoli itu masih asik di alam mimpi, di dalam tenda yang sengaja mereka dirikan di roof top tempat semalaman menghabiskan waktu.


"Tante Nnaaaaaaaaaa!" Suara itu terdengar lebih keras membuat Daryl dan Nania akhirnya terbangun.


"Tante Nnaaaa!"


"Astaga! Jam berapa ini? Kenapa biang kerusuhan sudah datang mengganggu?" Daryl mengusap wajahnya dengan kasar sementara Nania bangkit menyingkap selimutnya.


"Baby?"


"Aku turun  dulu sebentar, Yang. Nanti mereka semakin berisik kalau pintunya nggak aku buka." Nania menyugar rambutnya yang berantakan kemudian membuka tenda sedikit.


"Jangan lupa pakai bajumu, ini sudah pagi." Daryl sedikit bergumam namun dia masih berada di bawah selimut.


Nania tertawa, dan ya dia hampir lupa jika semalam setelah berendam dan membilas tubuh di tempat itu, mereka langsung masuk ke dalam tenda yang memang sengaja telah dipasang sebelumnya tanpa mengenakan apa-apa. Dan hanya sehelai selimut lah yang menjadi penutup tubuh.


"Kalau gitu pinjam selimutnya." Nania menarik benda yang menutupi tubuh telanjang suaminya.


"Hell no!" Namun Daryl menahannya.


"Terus aku gimana mau keluar?"


"Ya begitu saja."


"Masa aku masuk ke rumah telanjang gini?"


"Tidak apa, tidak akan ada yang melihat." 


"Nggak mau!"


Daryl tertawa.


"Ayo Dad, pinjam selimutnya. Nanti aku balikin." Nania kembali menarik selimut tersebut.


"Kamu tinggal lari dengan cepat ke dalam, tidak akan ada yang melihat. Kita ini di lantai tiga kan?"

__ADS_1


"Gila!"


"Bukankah semalam juga begitu?" Daryl mengingatkan, lalu dia tertawa lagi.


"Semalam gelap."


"Anggap saja sekarang juga gelap."


"Nggak. Gimana kalau ada yang lihat?"


"Tidak akan."


"Kalau ada drone lewat?"


"Tidak mungkin. Rumah ini anti drone, pesawat terbang ataupun helikopter. Jadi tidak mungkin ada yag lewat."


"Kalau ketangkap satelit Google Earth?"


Daryl mengerutkan dahi.


"Seluruh dunia akan bisa lihat badan telanjang aku, emang nya kamu rela?"


"Tidak mungkin."


"Ya makanya."


Pria itu kemudian melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya pada Nania. "Tapi ingat cepat kembali. Masa aku juga telanjang di dalam tenda?" katanya, setengah cemberut. Sementara Nania tertawa, dan dia segera keluar dengan selimut terlilit di dadanya.


"Tante Nna!!!"


"Ya …." Dia segera berlari ke lantai bawah setelah berpakaian di kamar kemudian membuka pintu.


Tampak dua bocah menggemaskan itu masih berdiri di teras dengan menggendong tas kecil mereka.


"Pagi-pagi udah ke sini aja?" katanya.


Dua anak itu menghambur memeluknya bersamaan.


"Oke oke, hahaha … kalian ini …."


"Aku mau ikut Opa ke Bogor. Tante mau ikut?" Anya kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa, diikuti Zenya.


"Ke Bogor?"


"Iya. Papa Arfan udah berangkat duluan."


"Ee … nggak tahu, Om Dernya masih tidur." Nania menatap ke arah tangga.


"Ih … jam segini masih tidur. Om Der kebluk."


"Hah? Kebluk?"


"Kata Mommy, yang suka telat bagun tidur namanya kebluk. Harus disiram air dingin biar bangun." Anya turun dari sofa lalu melangkah ke arah tangga.


"Eh, mau ke mana?"


"Bangunin Om Der biar kita sama-sama pergi ke Bogor." Anak itu kemudian berlari dan dengan cepat dia menaiki tangga.


"Eh, Anya … jangan!" Nania pun berlari mengejarnya.


Tapi terlambat, bocah perempuan itu dan saudara kembarnya sudah lebih dulu melesat ke lantai dua.


"Om Deeeeerrrr!!! Banguuuunnnn!" katanya, yang segera menghilang dari pandangan Nania. Dan sesaat kemudian terdengar teriakan dari lantai atas yang dipastikan itu adalah suara suaminya.


"Astaga!" Nania pun bergegas menuju ke asal suara.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Ayooo kerusuhan apa yag akan terjadi setelah ini? 😂😂😂


Mohon dukunganya terus untuk novel-novel Emak ya. Insya Allah sekuat mungkin akan bertahan demi kalian. Setidaknya untuk namatin novel ini. Syukur-syukur bisa update judul baru. Semoga Noveltoon/Mangatoon mengubah kebijakannya agar menjadi lebih mudah bagi kami yang konsisten membuat cerita yang tidak hanya sekedar menginginkan reward semata.


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2