The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Laporan


__ADS_3

💕


💕


"Kamu lagi ada masalah ya?" Nania menatap curiga kepada Mahira.


"Nggak." Gadis itu menjawab sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya, setelah dia mengirim laporan kepada Regan.


"Dari tadi kamu lihatin hape melulu?" Nania menatap wajah teman sekelasnya itu.


"Umm … cuma lihat jam." Mahira menjawab.


"Masa sering banget? Atau lagi nunggu orang?" Nania mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.


"Nggak ih, biasa aja. Hehehe." Mahira tertawa, sedangkan Nania melahap bekalnya seperti biasa.


"Eh, sekarang onigirinya lucu benget." Gadis itu menatap kotak makan berisi nasi kepal warna-warni dengan segala toping dan lauknya. "Siapa sih yang suka bikinin kamu bekal? Kreatif amat." Lalu dia mengambil satu, seperti biasa.


"Mbak Mima."


"Pegawainya mertua kamu?"


Nania menganggukkan kepala.


"Keren lah, keren. Dedikasinya super." Mahira bertepuk tangan dengan begitu riangnya.


"Iya, kalau biasa aja bisa diomel." Nania menyuapkan nasi berisi potongan ikan yang dibalut dengan rumput laut itu, kemudian mengunyahnya dengan cepat.


"Pak Daryl ya?"


Perempuan itu mengangguk lagi.


"Duh, kenapa sih suami kamu senengnya ngomel-ngomel? Nggak bisa gitu ngomongnya biasa aja?" Mahira ingat percakapan terakhirnya dengan Daryl, dan dia merasa heran mengapa Nania mau menikah dengan pria yang kelihatannya galak dan tidak ramah itu? Hanya saja dia punya nilai plus tampan dan kaya raya, sepertinya bisa dimaafkan.


"Kalau nggak ngomel bukan dia." Kemudian Nania meneguk air dari dalam tumbler saat dia merasa sudah selesai dengan makanannya.


"Maksudnya?"


"Omelannya itu ciri khas. Kalau dia nggak ngomel berarti lagi ada masalah besar. Dan itu bahaya."


"Oh, aneh deh?"


"Memang. Tapi kan bagus."


"Bagus apaan?" Mahira tertawa sambil kembali mengambil nasi kepal dari kotak makan Nania. Isinya memang cukup banyak karena sengaja disediakan untuk mereka berdua.


"Hey, nanti ada bazar kampus. Kalian mau berpartisipasi?" seorang teman sekelas datang menghampiri lalu duduk di kursi yang tersedia.


"Bazar kampus?"


"Ya. Untuk event hari jadi kampus. Ada pensi juga pameran produk kreatif. Bisa produk fashion atau kuliner. Terus kalian bisa jualan barang yang nanti hasilnya bisa disumbangkan untuk kepentingan kampus atau temen-temen mahasiswa yang kurang mampu."


"Wow. Kapan?" Nania antusias.


"Pendaftarannya bisa dimulai besok, dan acaranya minggu depan." Gadis dengan kerudung panjang itu menyerahkan sebuah selebaran yang didapatnya dari pusat informasi kampus.


"Bagus. Kamu mau ikut?"  Mahira bertanya pada Nania.


"Nanti tanya suami aku dulu." Dan perempuan itu menjawab.


"Oke."


"Ini urusan kampus, kenapa tanya suami?" Hampir semua teman sekelas Nania tahu bahwa dia telah bersuami, dan tak ada yang bersikap aneh soal itu.

__ADS_1


"Kamu nggak paham ya, perempuan yang udah nikah apa-apa harus izin suaminya dulu, tahu?" Mahira menyela.


"Tahu."


"Terus kenapa tanya?"


"Ya kali urusan kampus?"


"Sama aja, Lia ."


"Ini nih, makanya jangan nikah dulu. Jadinya nggak bebas kan? apa-apa harus bilang suami. Hadeh, ribet-ribet." Lia menggelengkan kepala.


"Dih, yang nikah orang yang ribet dia. Aneh."


"Udah ah, aku mau daftar dulu biar masuk list." Gadis bernama Lia itu beranjak dari tempatnya.


"Kamu mau ikut jualan?" Mahira bertanya sebelum dia pergi.


"Iya."


"Jualan apa?"


"Makanan lah, apa lagi?" Kemudian dia pergi.


"Kamu kalau ikutan bazar mau apa?" Mahira beralih kepada Nania.


Perempuan itu menatap kepergian Lia. "Nggak tahu, kan belum bilang. Belum tentu di izinin juga kan?" jawabnya, dan kini dia tidak terlalu antusias.


"Tapi kamu mau ikut?"


"Kalau di izinin ya mau, tapi kan nggak tahu." Nania menjawab.


"Aku tanya, mau ikutan apa nggak?"


"Oke."


"Maksudnya?" Nania mengerutkan dahi.


"Nggak ada, mudah-mudahan aja suami kamu izinin ya?"


"Iya. Tapi aku nggak yakin. Hahaha."


"Yakin aja dulu, Nna. Siapa tahu mood suami kamu lagi bagus, terus ngasih izin." Mahira menatap teman sekelasnya itu sambil menyesap minuman miliknya.


"Ya, semoga." Sementara Nania membereskan bekas makannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Minggu depan ada bazar di kampus, Pak." Regan membaca pesan yang masuk dari nomor Mahira.


"Bazar apa?"


"Acara hari jadi kampus."


"Lalu?"


"Apa Bapak akan mengizinkan jika Nania meminta untuk ikut berpartisipasi?" Regan melontarkan pertanyaan yang membuat Daryl menghentikan pekerjaannya.


"Apa harus?"


"Tidak juga, hanya jika Nania mau."


"Apa Nania mau ikut?"

__ADS_1


"Dari laporan Mahira sepertinya ya."


Daryl terdiam sebentar. "Tidak." jawabnya kemudian. "Lagipula partisipasinya akan berbentuk apa? Mau berjualan atau sumbangan? Kalau sumbangan bisa kita kirim saja langsung ke kampus, tapi Nania tidak usah ikut."


"Bisa apa saja, Pak."


"Pokoknya tidak." ucap Daryl lagi, dan Regan meresponnya dengan anggukkan.


"Kapan kau menjemput Nania?" Lalu Daryl melihat jam tangannya. "Dia bilang jadwal hari ini tepat, jadi sudah dipastikan akan segera pulang juga."


"Ya, laporan Mahira juga begitu. Jadi sepertinya saya pergi sekarang?"


"Ya, pergilah."


"Baik." Kemudian Regan segera keluar dari ruang kerjanya Daryl.


***


"Hey, apa kalian sudah tahu kalau kampus akan mengadakan bazar untuk hari jadi?" Mahendra tiba-tiba saja berhenti di depan Nania dan Mahira yang tengah menunggu jemputan.


Tidak biasanya Regan terlambat padahal mereka sudah mengirimkan pesan beberapa saat sebelumnya.


"Udah, Kak. Tadi ada yang ngasih tahu." Mahira menjawab. Tentu saja dia segera pasang badan untuk menghalangi Nania dan menciptakan jarak aman di antara mereka.


"Oh ya? Tadinya saya mau memberikan pamfletnya." Pria itu mengeluarkan kertas-kertas bergambar dari tasnya.


"Oh, udah dapat juga Kak. Tadi ada temen yang ngasih." Mahira menjawab lagi.


"Umm … kalian mau ikut berpartisipasi? Bentuknya bisa apa saja dan hasilnya akan kita sumbangkan untuk kegiatan sosial."


"Ya Kak, mungkin nanti. Kami rundingkan dulu." Gadis itu menjawab lagi.


Mahendra terdiam. Lalu dia menatap Mahira dan Nania secara bergantian.


"Ya … kalau berminat besok sudah bisa daftar." ujar pria itu lagi, dan dia membagi-bagikan pamflet pada beberapa orang yang melintas.


"Baik, Kak."


"Daftarnya ke ruang BEM aja, udah tahu kan?" katanya lagi yang kemudian melirik ke arah gerbang ketika Rubicon yang dia hafal memasuki area kampus dan mendekat ke arah mereka.


"Ya." Mahira menjawab lagi.


Lalu percakapan itu terhenti ketika Regan turun dan berjalan mendekat.


"Masih ada kegiatan?" Pria dengan stelan jas rapinya itu segera menyapa.


"Nggak, udah mau pulang kok." Dan Mahira segera menjawab.


"Ya sudah." Regan lantas mundur ke dekat mobil dan membuka pintu bagian penumpang.


Dia kemudian menyentakkan kepala, memberi isyarat pada dua perempuan itu untuk masuk.


"Ayo Nna." Dan Mahira pun mendorong Nania untuk memasuki mobil.


"Pulang duluan, Kak. Sampai ketemu lagi." Nania berpamitan kepada Mahendra yang terpaku di tempatnya.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


Duh, jangan macem-macem🤣


__ADS_2