
💕
💕
"Besok mau bawa berapa kotak?" Regan bertanya begitu mereka selesai clossing pada hampir petang.
"Nggak tahu, baiknya berapa banyak?" Nania balik bertanya.
"Menurutku bisa lebih banyak dari hari ini. Bukankah besok akhir pekan dan mungkin kesempatan kita akan lebih besar. Pengunjung juga mungkin lebih banyak?" Daryl menyahut.
"Gitu ya?"
"Ya."
"Kalau nggak ramai gimana?"
"Ya tidak apa. Barang tidak basi, jadi kita tidak akan rugi."
"Benar juga."
"Memang. Anggap saja sambil santai." Daryl terkekeh.
"Santai sambil panas-panasan ya?" Nania pun sama.
"Begitulah."
"Permisi?" Mahendra bersama rekannya datang menghampiri.
"Ya Kak, ada masalah?" Mahira menjawab sapaan pria itu.
"Saya lihat tenan ini sudah beres-beres, apa mau tutup sekarang?" Dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, Kak. Kan udah sore."
"Duh, sayang sekali. Padahal makin malam bazarnya makin ramai. Karena kebanyakan pengunjung akan datang di malam hari." ujar pria itu yang menatap sekeliling area.
Memang benar, saat itu keadaan menjadi semakin ramai saja. Orang-orang seperti sengaja memilih waktu sore untuk datang karena mungkin sudah selesai dengan pekerjaan di siang harinya.
"Umm …." Mahira menatap tiga orang didekatnya secara bergantian. "Iya Kak. Kayaknya mau tutup aja, karena kalau malam kita nggak bisa jualan." katanya.
"Begitu ya?"
"Iya. Lagian hari ini penjualan kita kayaknya udah cukup, jadi ya … mau prepare untuk besok aja." Gadis itu melanjutkan.
"Oh, baik. Tapi kemungkinan besar besok akan lebih ramai karena akhir pekan, jadi diharapkan bisa buka lebih pagi ya?" Mahendra kembali berbicara.
"Emangnya kalau pagi-pagi udah ada yang beli parfum ya?" celetuk Nania sambil tertawa.
"Bisa ya, bisa juga nggak. Tapi lebih baik kita buka pagi-pagi serentak kan?" Pria itu menanggapi ucapan Nania.
"Hmm …."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi?" ucap pria itu yang segera berlalu dari hadapan mereka.
"Dia itu siapa?" Daryl mengikutinya dengan pandangan.
"Ketua BEM." Nania menjawab.
"Ketua BEM?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Untuk apa dia mengatakan hal itu kepadamu? Apa urusannya?"
"Dia juga panitia bazarnya, Dadd."
"Terus kenapa juga dia berkeliling seperti itu?" Mereka memperhatikan Mahendra yang mendatangi satu persatu tenan yang ada di tempat tersebut.
"Nggak tahu, mungkin kerjaannya?" Nania menarik tas selempang yang diletakkan di meja. "Ayo pulang? Aku udah capek, Daddy." Nania merangkul lengan kekar pria itu dan menariknya keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Besok kayaknya aku nggak ke rumah baca deh." Nania menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ya jangan, kamu kan harus berjualan." Daryl pun merebahkan kepalanya ketika perempuan itu bergeser ke dekatnya.
"Hu'um." Lalu Nania menyelinap di bawah ketiaknya. "Kalau kamu besok ada acara?" Dia lalu mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Tidak, aku kan mau menemanimu berjualan di kampus." Pandangan Daryl tertuju pada layar televisi yang menyala sementara sebelah tangannya yang berada di atas kepala Nania merayap untuk merangkul perempuan itu.
"Beneran?"
Pria itu menganggukkan kepala.
"Di sana kan panas."
"Nggak apa-apa."
"Nanti kamu capek."
"Lebih capek memikirkanmu dikelilingi orang asing dan dekat dengan sembarang orang daripada pergi ke sana untuk menemanimu."
Nania terkekeh.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Nanti kamu jadi pusat perhatian di bazar."
"Aku sudah biasa."
"Banyak orang yang ngelihatin kamu."
__ADS_1
"Itu juga biasa."
"Kalau ada yang minta foto gimana?"Â
"Tidak akan, memangnya aku artis?"
"Kan kamu ganteng. Biasanya orang ganteng suka jadi pusat perhatian, habis itu dimintain foto biar bukan artis juga."
"Tidak akan, hahaha. Kamu ngaco." Pria itu mengeratkan rangkulan tangannya sehingga tubuh mereka semakin merapat.
"Kenapa ya aku merasa kalau kamu sedang merayuku?" Pria itu menggerak-gerakkan tangannya sehingga Nania semakin tenggelam dalam pelukannya.
"Dih, kamu kegeeran." Namun Nania membiarkannya berbuat hal tersebut, karena itu artinya Daryl sedang merasa senang.
"Ya. Kamu memang selalu membuatku kegeeran, Malyshka." Dia mengacak rambut Nania dengan perasaan gemas.
Entahlah, meski pernikahan ini sudah berlangsung selama satu tahun, tapi perasaannya pada perempuan itu semakin menggebu-gebu saja. Seperti tak ada hal lain yang bisa dia pikirkan selain Nania dan segala yang ada padanya.
Entah itu saat dia melakukan sesuatu atau hanya diam saja seperti ini juga tetap membuatnya merasa jika itu menyenangkan.
"Daddy, hari ini penjualan parfumnya cukup bagus deh. Tapi nggak tahu besok." Nania mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku yakin besok juga akan bagus, percayalah."
"Nggak tahu juga sih. Kan yang namanya juga dagang, ada rame ada sepi. Mungkin hari ini kita rame sampai barang dagangannya habis, tapi besoknya malah sepi."
"Itu kamu tahu?"
"Iya, soalnya aku ngalamin pas jualan tisu. Hehehe." Nania tertawa.
"Jualan tisu? Memangnya kamu pernah?"
"Pernah."
"Kapan?"Â
"Waktu berhenti jadi baby sitter. Pas aku lagi keliling nyari kerjaan baru aku lihat mbak-mbak jualan tisu di lampu merah, terus aku tanya-tanya eh malah diajakin jualan waktu itu juga. Ya udah, aku ikut aja."
"Duh?"
"Serius deh, waktu pertama rame banget. Karena hari itu macet parah pas malam tahun baru. Tapi setelah satu minggu makin sepi sampai-sampai si mbaknya berhenti dan ninggalin aku jualan sendiri."
Daryl menghembuskan napas kasar. Terbayang di pikirannya bagaimana Nania berjuang saat-saat itu. Ada sedikit sesak di dada namun dia senang karena telah menemukannya.
"Terus pernah juga nyoba jualan minuman di pinggir jalan, ya sama juga. Pas cuaca panas rame nya minta ampun sampai aku pernah ngalamin lost order. Tapi pas musim hujan sepi banget sampai pernah kehujanan sendirian." Nania tertawa lagi.
"Banyak sekali ya pekerjaan yang pernah kamu alami? Lalu setelah itu apa lagi?" Daryl sempat merasa sedih. Tapi dia tahu jika dengan bercerita seperti itu, Nania akan merasa lebih baik. Jadi, dia pun membiarkannya saja.
"Jual permen kapas di festival, kerja di toko baju, di rumah makan. Terus di mana lagi ya aku lupa. Pokoknya terakhir nemu lowongan di Amara's Love."
"Bagus juga ya idenya Ara membuka kedai itu? Kita kan jadi bertemu." Daryl melingkarkan kedua tangannya di tubuh Nania.
"Hmm … iya."
"Siapa bilang? Berat banget tahu. Dengan tanggung jawab sebesar itu tapi bayaran yang aku terima kecil banget."
"Oh ya?"
"Iya. Mana sering kena omel majikan kalau ada yang salah atau anaknya sakit, apalagi kalau salah makan. Bisa dimaki habis-habisan. Padahal bukan salah aku, kan anaknya sendiri yang mau."
"Ish, siapa juga yang berani memakimu? Rumahnya akan aku ratakan dengan tanah!" Daryl menggeram.
"Waktu itu kita belum kenal, Dadd. Kan aku kerja jadi baby sitternya pas putus sekolah di kelas dua SMP."
"Oh iya, lupa. Mungkin waktu itu aku masih di Moscow ya?" Daryl kemudian tertawa.
"Iya. Mungkin masih pacar-pacaran sama cewek di sana."
"Apa sih kamu ini? Hahaha."
"Ya kan aku nggak tahu."
"Terus dengan pekerjaan seberat itu, kamu dibayar berapa?"Â
"Harusnya sejuta."
"Tapi?"
"Tapi aku nerimanya 600."
"Lho, kenapa?"
"Yang 400 dipotong buat agen."
"Agen apa?"
"Penyalur. Yang bawa aku ke majikan."
"Kok begitu?"
"Ya nggak tahu. Katanya aku harus bayar jasa karena udah dikasih kerjaan."
"Berapa lama gajimu dipotong sebanyak itu?"
"Ya selama enam bulan kerja di sana."
"Banyak sekali yang mereka ambil?" ucap Daryl yang ikut memikirkan hal tersebut.
"Makanya aku berhenti. Kan capek, tapi nggak menghasilkan banyak hal. Mana itu harus dikirim ke ibu lagi?" Nania menutup mulutnya ketika tanpa sengaja dia menyebutkan soal ibunya.
"Ish!" Yang tentu saja mrmbuat Daryl tampak kesal.
__ADS_1
"Maaf, Dadd. Aku nggak sengaja. Maksud aku, kan duit segitu untuk kebutuhan sebulan juga nggak cukup ya apalagi harus dipotong jasa. Ya udah mending aku berhenti aja. Untuk cuma teken kontrak enam bulan. Coba kalau tiga tahun, aku bisa mati." Dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudahlah, lebih baik kita tidur. Bukankah besok harus buka stand pagi-pagi?" Daryl mematikan televisi dan lampu utama, lalu menyalakan lampu tidur di atas nakas.
"Nggak juga ah, berangkat jam delapan juga bisa kayaknya. Sampai sana jan sembilan, tuh pas untuk jualan. Nggak usah dengerin Kak Mahen, dia mah kadang suka ngasal."
"Apa?"
"Iya, nggak usah nurutin omongannya Kak Mahen … soalnya …."
"Siapa itu Mahen?" Daryl membelalakan matanya.
"Ketua BEM yang tadi."
"Pria gondrong itu?"
"Iya, dia panitia bazar juga."
"Aku tidak perlu tahu dia siapa!"
"Ih, kan tadi kamu tanya."
"Ya, karena kamu menyebutkan namanya."
"Terus salahnya di mana?"
"Ck! Kamu menyebut nama laki-laki lain!"
"Lah, kita kan lagi ngobrol?"
"Iya, tapi kamu menyebutkan laki-laki lain!" ulamg Daryl.
Astaga, mulai! Nania memutar bola matanya.
"Kalau aku sebut nama Regan kamu nggak apa-apa?" Nania membalikkan perkataannya.
"Regan itu pegawaiku."
"Pak Arfan."
"Dia kakak iparku."
"Pak Galang, Arkhan, Aksa, Zenya."
"Mereka keponakanku."
Nania terdiam.
"Kak Mahen kan cuma kakak kelas aku?"
"Haih!! Dia orang asing!"
"Tapi aku kan kenal dia di kampus?"
"Itu tidak sama dengan Regan, Om Arfan, ataupun keponakan-keponakanku."
"Ish, kamu ribet deh."
"Nggak ribet kalau kamu tidak berhubungan dengan orang lain."
"Aku nggak berhubungan sama orang lain, aku cuma kenal kakak kelas di kampus, terus di mana masalahnya?"
"Masalahnya dia itu orang asing dan kita tidak benar-benar mengenalnya."
"Arrgghhh! Kamu ribet!" Nania bergeser dan mencari tempat ternyaman untuk tidur.
"Hey, Malyshka. Makaudku …."
"Udah ah jangan ngomong terus, aku mau tidur."
"Tapi aku belum selesai bicara."
"Nggak usah. Nggak penting juga. Nanti kita malah berantem." Nania menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Tapi, Malyshka …."
"Udah, stop! Aku ngantuk." Perempuan itu berbalik ke sisi lain sehingga dia memunggungi suaminya.
"Hey, kenapa kamu menghadap sana? Biasanya kita tidur berpelukan?" Daryl menarik pundaknya, namun Nania tolak.
Dia mendengus kasar kemudian menarik paksa Nania, lalu membalikkannya sehingga kini mereka kembali berhadapan.
"Kenapa kamu begitu? Aku kan hanya merasa tidak senang mendengarmu menyebut nama pria itu?"
"Tapi dengan begitu kamu kayak nggak percaya sama aku."
"Tidak percaya untuk masalah apa? Aku hanya tidak suka kamu melakukannya."
"Ah, terserah aja lah." Nania menyurukkan wajahnya di dada pria itu.
"Dengar, Malyshka …."
"Udah, katanya mau tidur tapi kok ngomong melulu? Jangan bahas hal nggak penting lah, nanti kita malah berantem!" Nania memperingatkan.
Dia lantas memeluk tubuh suaminya da berusaha memejamkan mata. Daryl hampir saja meneruskan kalimatnya tapi dia tak lagi mendengar perempuan itu berbicara. Yang akhirnya membuat dia mengurungkan niatnya saja.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ...
Nah lu ... ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤