The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hati


__ADS_3

💕


💕


"Hey, apa kamu tidak akan pergi kuliah?" Daryl duduk di pinggiran tempat tidur setelah mengenakan pakaian yang Nania pilihkan. Sementara perempuan itu malah kembali meringkuk di bawah selimut tebalnya.


"Kayaknya aku mau bolos deh." Nania menjawab.


"Kenapa? Kamu sakit?" Daryl menyentuh kening Nania untuk memeriksa keadaannya.


"Nggak." Dia menggelengkan kepala.


"Terus kenapa?"


"Kayaknya aku kecapean." Mereka berdua tertawa. "Udah ah, sana kalau mau kerja. Jangan deket-deket dulu nanti kamu malah nggak pergi." Lalu Nania mendorong dadanya ketika Daryl merunduk.


"Masih pagi, dan aku mau menciummu dulu." Namun pria itu sudah mendaratkan kecupannya di telingan Nania.


"Heheh …." kekehan pelan pun terdengar dan perempuan itu merasa tubuhnya meremang. Kemudian dia merangkul pundak suaminya dengan erat.


"Eragon kan baperan." katanya, dan dia kembali menikmati cumbuan pria itu di wajahnya.


"Umm … serius?" Lalu Daryl berhenti ketika terasa Nania menyentuh miliknya.


"Eh …." Perempuan itu tertawa lagi.


"Sudah izin kepada dosenmu?" Lalu Daryl benar-benar bangkit dan membenahi pakaiannya. Dan dia berusaha untuk menangkal godaan perempuan itu.


"Udah."


"Baiklah kalau begitu, mau aku bawakan sesuatu?" Daryl bersiap untuk pergi.


"Nggak usah, nanti aku turun aja kalau mau."


"Oke."


"Kamu nggak apa-apa sarapannya di rumah Mama?" Nania membenahi posisi kepalanya agar lebih nyaman.


"Tidak apa."


"Yaudah."


"Aku pergi, Malyshka. Telfon kalau ada apa-apa ya?"


Nania menganggukkan kepala sebelum akhirnya pria itu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nanti Ibu mau mengundang Mia makan malam." ucapan Mela menghentikan langkah Regan di ambang pintu.


"Apa Bu?" Sang anak menoleh ke arah ibunya.


"Ibu mau mengundang Mia makan malam, Gan." Dan perempuan itu membenahi letak dasi yang sudah terlilit rapi di bawah kerah kemeja putranya.


"Ya undang saja, kenapa mengatakannya kepadaku?" jawab Regan dengan salah satu alisnya yang terangkat ke atas.


Mela tersenyum. "Kamu bisa kan kalau malam ini pulang lebih awal?" pintanya kepada sang putra.

__ADS_1


"Tidak janji, karena pekerjaanku sangat banyak." Regan menjawab.


"Ck! Alasan." ucap Mela dengan nada tidak suka.


"Tidak, memang pekerjaanku cukup banyak hari ini, kemarin-kemarin juga dan besok. Ya, aku sangat sibuk, Bu." ucap Regan lagi yang mencium punggung tangan ibunya.


"Aku pergi." Dan kemudian dia pamit.


"Regan?" panggil Mela lagi saat putranya masuk ke dalam mobil.


"Ya Bu?"


"Serius kamu tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk kehidupan pribadi?"


Regan mengerutkan dahi, "Tidak." Lalu dia  mengglengkan kepala. "Aku ini staf Nikolai Grup, dan bekerja adalah kehidupan pribadiku." katanya lagi, kemudian dia pergi.


Sengaja dia memutar arah agar perjalanan menjadi lebih jauh dan melewati jalan yang biasanya tak dilewati saat pergi bekerja. Namun hal itu menjadi tutinitas yang menyenangkan akhir-akhir ini.


Apalagi jika bukan menyusuri jalan kampus Nania yang nantinya tembus ke area di mana Anandita bersekolah.


Dan ya, waktunya memang selalu bertepatan dengan gadis itu yang turun dari mobil Arfan Sanjaya ataupun dibonceng oleh saudara kembarnya, Arkhan.


Rupanya Regan memang sudah memperhitungkan segalanya. Dari kemungkinan jam berapa Anandita pergi dari rumah, resiko kemacetan dan hal-hal tak terduga lainnya. Menjadikannya memiliki waktu yang tepat untuk melintas meski hanya sekedar melihat gadis itu sekilas.


Anandita tampak melambai ketika Pajero putih milik Arfan Sanjaya pergi, kemudian menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul menunggunya di depan gerbang. 


Dan ini saatnya bagi Regan untuk kembali melaju melewati sekolah SMA terkenal di Jakarta itu, bersamaan dengan Anandita yang kini menyadari keberadaannya.


Gadis itu melambai dengan riang yang dibalas olehnya dengan sekejap menyalakan pampu jauh. Lalu dia melewatinya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Siapa Ann?" Salah satu temannya bertanya setelah mobil milik Regan melintas.


 


"Gebetan?"


"Tapi bo'ong!! Hahaha." Lalu dia merangkul pundak temannya, kemudian menariknya ke dalam area sekolah. 


"Serius, Ann?"


"Udah dibilangin bohong juga." jawab Anandita.


"Ish, kirain bener?"


"Bercanda ya? Bisa digantung Papa kalau beneran." Gadis itu tertawa lagi. "Eh tunggu!" Lalu dia berhenti sebelum mereka masuk ke dalam kelas.


Dia merogoh ponsel di dalam tas lalu mengetikkan sesuatu di aplikasi chatnya.


"Good morning, Sarangheo." Dengan tanda finger heart di bawah seperti biasa.


"Apa sih gunanya bikin story tapi nggak ada yang bisa lihat? Kamu aneh deh." Teman sekelasnya itu mengintip apa yang tengah Anandita lakukan.


"Nggak apa-apa, tapi aku tetep bikin story. Dari pada banyak yang lihat tapi nggak bikin. Eh, apa sih? Hahaha." Dia tertawa sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian segera duduk di bangkunya untuk memulai kegiatan hari itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tumben kamu sendiri?" Mahendra mensejajarkan langkah dengan Mahira saat dia melihatnya melintas.

__ADS_1


Gadis itu menatapnya penuh selidik dan dia sedikit memelankan langkahnya.


"Ke mana anak asuhmu?" ucap pemuda itu lagi yang melakukan hal sama.


"Maksud Kakak?"


"Nania hari ini nggak masuk?" Mahendra memperjelas pertanyaannya, yang membuat Mahira menghentikan langkah.


"Kenapa?" Dan dia pun berhenti.


"Kak, udah aku peringatkan minggu lalu apa nggak cukup?" Gadis itu bereaksi.


"Apa? Hahaha …." Mahendra tertawa. "Aku kan cuma tanya, kenapa reaksimu kayak gitu? Aneh, sister complex!" Lalu dia bergumam.


"Ya jelas, tugas aku memang menjaga agar sesuatu yang buruk nggak terjadi di sekitar Nania. Dan karena sikap Kakak yang begini, membuat aku memganggap Kakak sebagai ancaman."


"Hah?" Mahendra mengerutkan dahi.


"Serius, yang akan Kakak hadapi bukan cuma aku kalau tetep nekat untuk deketin Nania. Tapi tembok pertama itu bodyguard yang kemarin. Belum sampai udah babak belur duluan kali. Dan kalau masih nggak denger, nanti Pak Regan atau Pak Daryl sendiri yang maju, dan Kakak nggak akan tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti, aku nggak mau berhadapan sama salah satu dari mereka." Gadis itu bergidik ngeri.


"Aku tahu, mereka itu nomor satu kalau dalam hal ancam-mengancam. Nikolai kan terkenal kayak gitu." Mahendra menjawab ucapannya.


"Ya bagus kalau udah tahu, makanya … mundur!" Mahira mendorong dada pria itu dengan ujung jarinya. Mendadak dia merasa memiliki keberanian lebih untuk menghadapi ketua BEM di kampusnya itu.


"Hey! Berani-beraninya kamu!" Mahendra pun bereaksi.


"Iya lah, kenapa? Nggak boleh?" Mahira menjawab.


"Aku ini ketua BEM kampus, tahu? Kamu lupa?"


"Ya terus?" Gadis itu melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu akan dapat masalah kalau berani kepadaku!"


"Masa?"


"Iyalah. Aku bisa saja membuatmu menghadapi masalah sulit di kampus, jadi jangan macam-macam!" Pemuda itu memperingatkan.


"Dan Kakak akan dapat masalah besar kalau berani macam-macam dengan aku." Mahira menjawab lagi. "Ini bukan ancaman lho, tapi beneran."


Mahendra menatapnya dengan tajam.


"Lagian, yang singel aja banyak ngapain sih seneng ngejar yang udah punya suami? Kakak aneh deh." katanya lagi, sedikit mencibir.


"Apa kamu bilang?" Mahendra membulatkan kedua matanya.


"Ya emang Kakak aneh. Udah tahu Nania istri orang, malah dikejar-kejar. Nggak bakalan mau!" Gadis itu mundur.


"Apa?" Mahendra setengah berteriak, membuat Mahira segera berlari ke dalam kelasnya sambil tertawa.


💕


💕


💕


Bersambung .....

__ADS_1


Meet Mahira



__ADS_2